
Restu tiba di Jakarta jam enam pagi. Dia mengajak istrinya untuk beristirahat di apartment miliknya. Begitu juga dengan Rio. Mereka dijemput oleh seorang pria berbadan tegap dengan menggunakan baju serba hitam. Pria itu menunduk hormat kepada Restu. Jika, sudah begitu Rio dan Aleesa tahu bahwa pria itu adalah anak buah Restu.
"Lu di depan." Rio pun mengangguk.
Rio terkejut ketika mobil berhenti di apartment mewah nan mahal. Dia tidak percaya dan menatap ke arah Restu.
"Gua beli salah satu unit di sini." Rio pun terkejut dengan mata yang melebar. Restu seakan tahu apa yang dipikirkan olehnya.
Antara percaya dan tidak mendengar ucapan dari Restu. Namun, melihat Restu dan Aleesa yang sudah turun membuat Rio mulai percaya.
"Istirahat sebentar di sini atau besok baru ke rumah Bubu?" Aleesa sudah menatap ke arah sang suami. Restu merangkul pundak Aleesa.
"Honeymoon lagi di sini." Aleesa malah menekuk wajahnya dan itu membuat Restu tertawa dan mencium Aleesa dengan begitu gemas.
"Aku ingin tidur dengan tenang, Bie."
Rio hanya menggelengkan kepala mendengar obrolan pasutri baru di depannya itu. Dia memilih memasang air pod di telinganya agar tidak mendengar apapun. Bahaya telinganya jika terus mendengar ucapan Restu yang terus menjurus.
Rio terkesima ketika masuk ke dalam apartment Restu. Sungguh sangat mewah dan sudah dipastikan harga apartemen ini tidak main-main.
__ADS_1
"Kalau mau istirahat, di kamar situ." Restu menunjuk ke arah kamar yang tak jauh dari ruang tamu.
Rio terus menggelengkan kepala melihat unit apartment dari kakak angkatnya tersebut. Sungguh luar biasa bagusnya.
"Mana viewsnya bagus banget," ujar Rio sambil berdecak.
Suara bel terdengar. Rio mulai melangkah kakinya menuju pintu depan. Rio melihat dari kamera yang terhubung ke bel. Dahinya menukik tajam ketika melihat siapa yang bertamu ke unit apartment milik Restu.
"Itu 'kan--"
Rio masih ingat siapa orang itu. Pria yang masih gagah di usia yang sudah tak lagi muda. Dia masih ingat ketika Restu sering beradu mulut dan beradu jotos dengan pria yang menjadi pelindung untuk seorang anak angkat yang sama seperti dirinya.
Disela gumamannya, dia dikejutkan dengan suara Restu.
"Siapa yang datang?" Restu sudah menatap ke arah Rio. Tak ada jawaban, Restu langsung melihat ke arah kamera bel. Dia tersenyum kecil dan itu tak luput dari penglihatan Rio.
Tangannya pun langsung membuka pintu tersebut. Itu semakin membuat Rio tidak mengerti. Ketika kunci sudah terbuka, Rio langsung menahan tangan Restu. Dia menatap ke arah Restu dengan penuh tanya.
"Lu akan tahu nanti."
__ADS_1
Rio hanya terdiam, pria berbadan kekar itu masuk dan menganggukkan kepalanya dengan sopan kepada Restu. itu membuat Rio semakin tidak mengerti.
"Duduklah!" Restu mengambilkan soda yang ada di dalam lemari pendingin. Rio juga ikut duduk di sana dengan hati dan pikiran penuh tanya.
"Dia menanyakan perihal sudah dibuang atau belum." Pria itu mengadu kepada Restu. "Saya jawab, sudah." Pria itu menyerahkan sesuatu kepada Restu dan Restu terima dengan wajah datar.
"Saya tidak akan berbohong, Tuan." Rio terkejut dengan apa yang dia dengar.
"Tuan, apa maksudnya? Apa orang itu sudah berubah haluan? Dan bekerja sama dengan Restu."
Banyak tanya di kepala Rio sekarang. Apalagi pria itu bersikap sangat sopan kepada Restu.
"Jam berapa saya bertemu dia?" Dahi Rio mengkerut mendengar pertanyaan Restu.
"Dia? Siapa?"
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1