RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 256. Hotel Mewah


__ADS_3

Aleesa yang sedang mengejar skripsi dibuat stres di usia kandungan yang menginjak enam bulan. Lingkar hitam di bawah matanya sudah sangat jelas terlihat. Begitu juga dengan wajahnya yang nampak kusam karena hampir seharian dia habiskan di depan komputer.


"Mi."


Sang suami sudah memeluk Aleesa dari belakang. Mengecup ujung kepala Aleesa dengan begitu lembut.


"Udah dulu, ya. Kita makan dulu."


Wajah lelah Aleesa sangat kentara. Itu membuat Restu tidak tega. Dia bersimpuh di depan sang istri dan menatapnya dengan begitu dalam.


"Jangan terlalu diporsir, Mi. Papi gak mau liat Mami Sakit dan nantinya akan berimbas pada anak kita." Tangan Restu mengusap lembut perut Aleesa yang sudah terlihat membukit.


"Dua bulan lagi, Pi," sahut Aleesa. "Mami ingin cepat lulus kuliah dan fokus menjaga anak-anak. Mami sudah kehilangan waktu bersama Abang Er."


Perkataan yang menyayat hati. Restu memeluk tubuh Aleesa dan mengucapkan kata maaf kepadanya.


"Papi gak salah, ini adalah rejeki dari Tuhan yang tidak bisa kita tolak."


.


Ulang tahun pertama Erzan Akhtar Ranendra diadakan sangat meriah di salah satu hotel berbintang. Para kolega Restu banyak yang hadir begitu juga dengan dua teman Aleesa, Kemala dan Raina.


"Ya ampun, udah satu tahun aja keponakan gua." Kemala sangat gemas ketika melihat Abang Er yang dituntun oleh Aleesa.


Namun, respon Abang Er malah menunjukkan wajah garang. Seakan dia tidak suka dengan perkataan teman dari ibunya itu. Riana yang mencoba mengusap lembut pipi Abang Er malah digigit oleh anak Restu hingga dia menjerit. Semua mata pun tertuju pada anak yang tengah berulang tahun itu.

__ADS_1


Aleesa menarik Abang Er dengan lembut dan menggoyangkan jari telunjuknya.


"Enggak boleh, Bang." Aleesa mengingatkan dengan suara lembut.


"Maaf ya, Rai." Aleesa merasa tidak enak.


"Abang Er adalah anak yang memiliki sifat berjaga. Siapa orang yang tidak dia kenal menyentuhnya, pasti akan dia gigit ataupun pukul." Restu menjelaskan bagaimana watak sang putra.


Anak pertama dari Restu dan Aleesa itu berlari ke arah sang ayah dan meminta digendong. Dia merangkulkan kedua lengannya di leher sang ayah.


"Enggak apa-apa, Bang. Mami gak marah sama Abang."


Raina tersenyum melihat kelembutan suara Restu yang berbicara kepada putranya. Bukan hanya Raina, Kemala pun ikut melengkungkan senyum. Pria yang mereka berdua anggap kejam dan tak memiliki hati malah sangat lembut kepada putranya.


"Bawa teman istri saya ke klinik. Obat luka bekas gigitan Tuan muda."


Raina terkejut mendengarnya. Dia langsung melambaikan kedua tangannya menandakan dia tidak apa-apa.


"Enggak apa-apa, Rai. Takut infeksi."


"Gigi anak lu gak kaya pisau karatan, Sa. Jangan lebay." Aleesa malah tertawa. Rania pun menolak diajak ke klinik dan memilih betah berada di acara ulang tahun anak sultan. Di mana semua orang yang hadir dilarang membawa kado.


"Intinya, kami selaku kedua orang tua Erzan hanya meminta doa kepada semua yang hadir supaya Abang Er bisa menjadi anak yang Soleh, membanggakan dan berbakti kepada orang tua."


Penuturan Restu diamini oleh semua yang hadir di sana. Setelah acara selesai, tinggal keluarga inti yang masih ada di hotel tersebut. Mereka juga tidak membawa apa-apa.

__ADS_1


"Ini kalian datang benar-benar gak bawa apa-apa?" Restu mulai menggoda empat sepupu Aleesa, anak dari Aska dan Jingga.


"Lah, di note-nya aja dilarang membawa kado. Ahjussi gimana sih?" Balqis yang menimpali ucapan Restu.


"Apang bawa kok." Dia menunjukkan permen kaki berwarna merah dua biji. Semua orang pun tertawa.


"Ini dari Opa." Rindra memberikan sebuah kartu platinum di mana ada nama sang cucu di sana.


Radit tidak mau kalah, dia memberikan dua kartu sekaligus di mana kartu yang satu untuk jajan Abang Er dan satunya untuk biaya pendidikan.


"Dari Daddy Uncle mah dollar aja, ya." Aksa memberikan buket berisi dollar.


Sungguh anak itu sangat beruntung. Sedangkan Aska sudah mengirimkan sepeda juga motor yang bisa Abang Er gunakan untuk main di rumah. Abang Er yang hanya melihat gambarnya saja sudah bertepuk tangan bahagia.


"Bilang apa, Bang?"


"Ma-ma-tih."


Anak itu terus tertawa seakan dia tengah merasakan kebahagiaan tak terkira di hari ulang tahunnya. Hingga dia menunjuk ke satu arah.


"Ton! Ipo! Imo!"


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2