RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 13. Sadap


__ADS_3

Sebelum lanjut ke cerit, Boleh minta tolong gak? Karena sistem yang membag-gongkan, aku harap kalian baca ceritanya sampai bawah, ya. Jangan discroll doang karena itu gak akan masuk ke views. Intinya, baca yang benar ya, guys. Itung-itung kalian memberikan perakan rupiah pada karya ini. Makasih ..🙏


...----------------...


Setelah Aleesa terlelap. Restu mulai turun dari tempat tidur dan tidak ingin mengganggu Aleesa. Dia duduk di sofa kecil yang ada di kamar Aleesa. Membuka ponsel Aleesa yang ternyata tanpa sandi.


Dahi Restu mengkerut ketika pesan yang masih terbuka adalah pesan dari Grace. Dia melihat profil nomor itu dan kedua alisnya menukik dengan begitu tajam. Dia sama sekali tidak mengenali perempuan itu. Hingga akhirnya, dia langsung mengirim foto juga nomor ponsel tersebut ke komputer yang ada di kamarnya. Sebelumnya dia menyadap ponsel Aleesa agar bisa selalu dia pantau.


Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Harusnya dia beristirahat, tapi demi mencari tahu siapa Grace dia rela begadang malam ini.


Restu menghampiri Aleesa yang sudah terlelap dengan begitu damai.


"Aku pergi dulu ya, Sa." Sebuah kecupan hangat di kening Restu berikan. Dia menatap lekat wajah Aleesa untuk sesaat. Kemudian, keluar dari kamar Aleesa melalui balkon lagi. Orang berbaju hitam di sana menganggukkan kepala mereka dengan hormat kepada Restu. Hanya dijawab lirikan saja oleh pria yang kini hanya menggunakan kemeja berwarna putih.


Tubuhnya sudah berada di depan komputer yang biasa dia gunakan untuk menyadap ataupun mencari informasi tentang musuh-musuh dari orang-orang yang akan dia jaga. Decakan kesal keluar dari mulut Restu. Seringai mematikan dia tunjukkan. Tangannya mulai mengetikkan sesuatu dan dia kirim kepada nomor yang tadi mengirimkan foto pada Aleesa. Juga ternyata banyak kalimat perintah yang menyakitkan di pesan sebelumnya yang perempuan itu kirim kepada Aleesa.


"Dalam satu langkah saja lu bisa hancur," gumam Restu dengan senyuman menakutkan.


Dia kembali melihat ponselnya. Membaca semua pesan yang dikirimkan kepada Aleesa. Dia membaca pesan dari Yansen dengan seksama. Begitu manis dan juga sangat perhatian. Yansen begitu tulus mencintai Aleesa. Dia memejamkan matanya sejenak. Dia menarik napas panjang. Lalu, menghembuskannya dengan kasar.


Aleesa tidak pernah menolak jika dirinya memeluk tubuhnya. Malah sebaliknya, Aleesa selalu bersikap manis dan jauh dari dugaannya. Mampu membuat hati Restu berbunga dan melayang. Jangan ditanya perihal kenyamanan. Berada di samping Aleesa membawa kenyamanan tersendiri untuknya.


Dia melihat kembali pesan dari Grace. Membacanya dari atas hingga bawah.


"Harusnya gua dukung nih orang buat jauhin Aleesa dan Yansen, tapi gua gak mau pake cara kotor buat dapetin perempuan yang sudah tiga tahun ini jadi alasan untuk gua menjadi orang yang lebih kuat dan juga disegani. Gua akan berjuang. Gua bukan pecundang yang akan bermain curang."


.

__ADS_1


Grace kalang kabut sendiri setelah menerima pesan ancaman dari nomor yang tidak dia kenal. Dia terlihat ketakutan dan mimik wajah Grace tak luput dari perhatian Yansen.


"Kakak kenapa?" Grace menoleh ke arah Yansen. Dia ingin bercerita kepada adiknya, tapi ketika dia sadar ini menyangkut Aleesa sudah pasti Yansen tidak akan membelanya. Dia malah akan marah kepada Grace.


"Enggak apa-apa kok." Yansen pun mengangguk. Dia tidak ingin mengorek apapun dari sang kakak.


Yansen malah mengirimkan pesan kepada Aleesa. Pesan yang begitu manis dan juga romantis. Hatinya tengah bahagia dan tidak terlalu menggubris sang kakak.


Grace bergegas menemui Jerome, kekasihnya. Dia adalah ahli IT di mana bisa mencari tahu perihal nomor yang telah menerornya.


"Kenapa bisa begini?" Jerome sedikit curiga. "Tidak akan ada asap jika tidak ada api." Dia berpikir sesuai logika. Grace hanya terdiam.


Jerome mulai mencari tahu tentang nomor tersebut. Kode negara sudah diketahui, tapi tidak untuk nomor ponselnya. Dia meyakini ini adalah nomor khusus penyadap internasional.


"Jangan main-main, Grace. Aku sangat yakin ini adalah orang profesional. Jejaknya sama sekali tidak ada. Juga, nomor ponselmu berhasil dia sadap." Mata Grace melebar mendengarnya.


.


Aleesa terbangun dengan tubuh yang segar. Dia mencari Restu dan pria itupun sudah tidak ada.


"Apa pergi lagi?" gumam Aleesa dengan nada sedih.


Aleesa terduduk di atas tempat tidur dan melihat jas Restu dia tindih. Bibirnya pun melengkung dengan sempurna. Dia meraih jas berwarna hitam itu dan memeluknya. Aroma tubuh Restu masih menempel di sana membuat Aleesa merasakan kenyamanan untuk kesekian kalinya.


Bergabung bersama keluarga dengan raut wajah segar dan ceria membuat orang dewasa yang ada di sana heran kepada Aleesa. Kemarin seperti bunga yang layu dan sekarang seperti bunga yang sedang mekar. Rindra hanya tersenyum tipis melihat keponakannya itu.


"Bahagia banget kayaknya," ujar Nesha.

__ADS_1


Aleesa hanya tersenyum dengan begitu manis. Kedua orang tua Aleesa ikut bahagia melihat putri mereka seperti ini. Bahagia dan selalu ceria.


Rindra mengetikkan sesuatu di ponselnya. Bibirnya melengkung dengan tangan yang terus menari-nari di atas benda pipih miliknya.


"Bunga yang kemarin layu sudah kembali mekar. Kamu beri pupuk apa?"


Orang yang dikirimkan pesan seperti itupun tersenyum disela merapihkan pakaiannya.


"Dia menjanjikan kebahagiaan. Aku pun sama, malah aku akan membuat kamu lebih bahagia," gumamnya seraya melihat dirinya di cermin.


.


Restu tengah duduk di kursi dengan ponsel di tangan. Dia tengah membaca pesan yang dikirimkan oleh Yansen. Hatinya tiba-tiba panas. Tak lama kemudian, dahi Restu mengkerut ketika melihat nomor Yansen menghubungi Aleesa.


Ternyata panggilan dari Yansen dijawab oleh Aleesa. Restu segera memasang earphone bluetooth untuk mendengarkan percakapan antara dua orang tersebut. Dua insan itu tengah berbincang biasa tidak ada yang aneh. Suara tawa mereka terdengar sangat renyah. Apalagi Yansen yang terus berkata manis dan lembut kepada Aleesa.


"My Sasa, aku kangen kamu."


Mendengar kalimat itu membuat Restu menghela napas kasar. Apalagi mendengar jawaban Aleesa yang ternyata merindukan Yansen juga.


Dia sebenarnya salah datang ke kehidupan Aleesa dan sekarang malah memiliki rasa pada sepupu sahabatnya. Namun, rasa itu tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Tidak pernah terpikir oleh Restu jika dia akan jatuh cinta pada Aleesa. Anak perempuan yang selalu beradu mulut dengannya. Tom and Jerry, itulah sebutan mereka berdua ketika mereka kecil hingga mereka beranjak remaja. Ternyata sekarang malah sebaliknya, Restu mencintai Aleesa. Sedangkan Aleesa sudah memiliki kekasih yang Restu juga tahu siapa orangnya. Sahabat sejati Aleesa sedari kecil.


"Apa gua bisa buat dia jatuh ke pelukan gua karena sebuah cinta? Bukan sebagai adik-kakak?" Restu menaruh kedua tangannya di atas meja dengan wajah yang terlihat sendu.



...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen banyak UP lagi.


__ADS_2