
Di sebuah kamar ada yang tak bisa tidur karena tidak bisa menahan gejolak aneh yang dia rasakan. Setelah ritual Mimi susu, belalai imut milik Restu tidak bisa kembali normal. Masih menegang sampai pagi menjelang hingga menyiksanya karrna tidak tertidur.
"Gila, cuma karena ngeliat seh langkangan istri gua yang putih bersih jadi begini." Dia bergumam di dalam hati sambil mengusap belalai imut yang dia miliki. Semakin dia Mimi susu belalai ini semakin mengeluarkan tegangan tinggi. Jika, dia tidak mimi susu dia tidak bisa tidur.
"Sumpah nyiksa banget!" erangnya lagi di dalam hati.
Ingin rasanya dia meraih tangan Aleesa untuk memegang belalai imut miliknya. Namun, sudah pasti Aleesa akan terbangun karena rasa hangat semu panas yang berada di belalai itu.
Tubuh bagian atas Aleesa yang tak tertutup sehelai benang pun membuat Restu semakin menjadi.."Oh, Tuhan! Aku suamimu, tapi kenapa aku belum bisa memiliki kamu seutuhnya?"
Restu memilih mengguyur tubuhnya di dini hari karen tubuhnya masih panas dan tak kunjung reda. Panas yang Restu rasakan bukanlah panas demam. Dia menghela napas kasar ketika melihat ke arah belalai imut yang masih belum berpengalaman.
"Sabatr, ya. Belalai imut." Dia mengusap lembut bagian panjang di bawah perut. "Nanti kamu akan menemukan rumah tuanmu."
Ketika dia keluar dari kamar mandi, tubuh sang istri sudah ditutup dengan selimut olehnya. Bahaya jika masih tetap terbuka. Belalainya bisa langsung mengamuk dan mendobrak pintu masuk dengan ganas.
Ketika subuh menjelang, Restu yang baru memejamkan mata harus terbangun karena sentuhan dari sang istri tercinta. Tangan istrinya sudah menyentuh bagian dada yang kini menjadi daerah sensitif untuknya. Restu mengerang kecil.
"Kenapa sensitif banget sih?" Keluhnya pada diri sendiri.
Pada akhirnya Restu tak bisa memejamkan mata. Dia masih asyik memandang wajah sang istri tecinta. Ingin menerkamnya, tapi tidak tega..
"Kapan aku bis menyentuh kamu seutuhnya?" Restu bergumam di dalam hati.
Sepuluh menit kemudian mata Aleesa mulai mengerjap. Sang suami sudah menatapnya dengan mata yang segar.
"Udah bangun?" Restu tersenyum menjawab pertanyaan Aleesa, dan dia membenarkan rambut sang istri tercinta.
"Gak bisa tidur." Aleesa terkejut dengan jawaban Restu.
"Kenapa? Aku tidurnya berisik?" Restu menggeleng.
"Terus, kenapa?" Aleesa mulai penasaran.
Restu meraih tangan Aleesa dan menuntunnya masuk ke dalam celana bokser yang dia gunakan. Aleesa terkejut dengan mata yang tak bisa berkedip.
"Sedari semalam berdiri terus. Gak mau tidur."
Walaupun tak menyentuh langsung, rasa hangat dapat Aleesa rasakan. Kini, Restu menatap ke arah Aleesa dengan penuh harap.
"Boleh kita melakukannya?"
Aleesa merasa sangat bersalah kepada suaminya. Secara tidak langsung dia sudah menyiksa batin sang suami.
"Tapi, kalau gak boleh juga gak apa-apa." Restu berkta lagi karena sedari tadi Aleesa tidak menjawab. Aleesa pun menggeleng. Senyum pun akhirnya mengembang di wajah Restu.
"Kita perkenalan dulu aja, ya." Restu bagai pemain handal yang akan mengajari istrinya.
Mereka saling meraba dan menyentuh satu sama lain. Baru disentuh sedikit sana bulu kuduk Aleesa sudah meremang. Sedangkan tangan Aleesa tak boleh beranjak dari belalai imut.
"Bie--"
Hanya menyentuh di lapisan kain saja istrinya sudah seperti ini. Bagaimana menyentuh secara langsung?
"Enak?" Aleesa tak menjawab. Dia malah membenamkan wajahnya di dada bidang Restu. Namun, Restu melarangnya. Dia memagut bibir Aleesa hingga tubuh Aleesa seperti tersengat aliran listrik.
Aleesa mendesis kecil setelah melepaskan pagutan. Itu membuat Restu tersenyum bahagia. Dia pun tak menyiakan kesempatan untuk menjelajahi leher jenjang sang istri. Itu semakin membuat Aleesa menggila..
"Bie." Lagi-lagi Aleesa memanggil suaminya.
"Nikmati, Lovely." Restu sangat bahagia ketika istrinya seperti ini. Dia tinggal mengajak istri mudanya untuk menonton tutorial dan sudah dipastikan dia akan semakin terbuai.
"Udah basah," bisik Restu. Ada sesuatu yang tak bisa Aleesa tahan hingga dia mulai menggigit kecil leher sang suami. Restu terkejut dengan sebuah rasa yang tak terkira.
"Bie." Panggilan yang begitu manja dan membuat Restu mengecup kembali bibir sang istri.
"Keluarkan aja, Lovely."
"Bie!"
"Iya, Lovely. Keluarin aja." Tangan Restu pun basah karena cukup banyak yang Aleesa keluarkan. Untuk pemula dan pertama dirangsang seperti ini saja sudah sangat mujarab dan nikmat.
Restu mengecup manja bibir Aleesa. Dia tersenyum ke arah sang istri. "Lega 'kan." Aleesa pun mengangguk dan memeluk tubuh Restu dengan malu.
"Lemas, Bie." Restu pun tertawa.
"Pasti dong, Lovely. Setelah keluar pasti akan lemas." Aleesa masih betah membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Kapan giliran aku dimanja sama kamu?" Wajah Aleesa pun bersemu.
__ADS_1
"Malu, Bie. Aku belum wax." Restu malah tertawa.
"Emang kenapa kalau belum wax?" tanya Restu.
"Kata orang-orang lebih enak dan memuaskan jika tanpa bulu." Restu mencubit gemas pipi Aleesa.
"Itu balik lagi ke selera, Lovely." Restu menjelaskan semuanya. Memberikan sedikit edukasi kepada istrinya hingga mereka berdua akhirnya memutuskan untuk menonton video tutorial. Baru saja membuka laptop, ponsel Aleesa berdering. Mata Restu memicing dan Aleesa pun menggedikkan bahu.
"Baba," ucapnya.
Kedua alis Restu menekuk tajam. Ada apa sang ayah mertua menghubunginya di pagi hari. Kenapa tak langsung mengeruk pintu kamar.
"Iya, Ba."
...
Restu ikut diam. Dia melihat ke arah Aleesa yang sudah membeku.
"Iya, Sasa ke rumah sakit sekarang."
"Kenapa?" Mendengar rumah sakit membuat Restu penasaran.
"Kak Grace--"
.
Psikiater masuk ke dalam ruang perawatan Grace. Dahinya mengkerut ketika dia tidak melihat Grace di ranjangnya. Dia memanggil-manggil nama Grace. Namun, tak ada yang menyahut. Hingga dia mencari di kamar mandi. Ketika dia membuka kamar mandi dia berteriak kencang karena melihat tangan Grace sudah mengeluarkan darah dengan begitu deras. Di sampingnya ada pisau buah.
.
Perawat memberitahukan Radit, Echa dan psikiater untuk berdoa. Itu menandakan bahwa kondisi Grace tidak baik:baik saja. Sepuluh menit berselang, dokter keluar dengan mengeluarkan napas kasar.
"Maaf, pasien tidak bisa diselamatkan."
Tubuh mereka bertiga menegang. Mereka kompak bersandar di dinding.
"Kenapa kamu melakukan ini, Grace?" Echa bergumam dengan begitu lirih..
Bentuk sebuah kesedihan yang mendalam. Ditambah tidak memiliki siapapun di dunia ini membuatnya nekat melakukan aksi bunuh diri. Radit tak bisa berkata begitu juga dengan Echa.
"Grace tidak ingin ikut bersama Yansen."
"Bukannya kemarin gak apa-apa?" Aleesa menggelengkan kepala.
"Baba gak bilang kenapanya. Cuma nyuruh kita untuk ke sana." Restu menghela napas kasar.
"Maaf ya, Bie. Harus gagal lagi." Restu menoleh sekilas ke arah sang istri dan menjawab tidak apa-apa dengan begitu lemah. Untuk kesekian kalinya Aleesa merasa bersalah.
Tibanya di rumah sakit, Restu menggenggam tangan. Aleesa dengan begitu erat. Aleesa tersenyum. Mereka langsung menuju kamar jenazah dan sudah ada kedua orang tuanya di sana.
"Ba." Restu sudah memanggil ayah mertua. Terlihat wajah Radit yang sendu.
"Bukannya kemarin sehat?"
"Dia mengakhiri hidupnya dengan memotong urat nadi." Jawaban dari psikiater membuat Restu dan Aleesa terdiam. Restu merangkul pundak sang istri.
"Kenapa setragis itu?" tanya Aleesa bingung.
"Sepertinya dia merasa sendiri dan dia juga pernah memiliki janji dengan Yansen jika mereka akan selalu bersama."
Miris sekali. Aleesa malah melingkarkan tangannya di perut Restu. Ada rasa sedih di dadanya. Echa yang tengah ke ruang perawatan tak jua kembali. Dia tenaga duduk di tepian ranjang pesakitan dengan air mata yang sudah tak tertahan.
Untuk apa aku bertahan? Sedangkan adikku sudah dipanggil Tuhan. Sudah tak ada alasan untukku terus hidup karena yang menjadi alasanku untuk masih terus bertahan sudah lebih dulu pergi tanpa mengajak aku.
Aku mencoba menaruh asa, tapi adikku menyuruhku untuk membuangnya. Dia mengatakan bahwa dia sudah bahagia bersama Bapa di sana. Aku juga ingin kebahagiaan yang sama seperti adikku. Walaupun aku dilarang pergi, aku akan tetap pergi. Tidak ada alasan sekarang untukku tetap bertahan lagi.
Maafkan aku, Bapa.
Aku mendahului takdir-Mu. Sesungguhnya aku tak sanggup hidup sendiri di bumi ini. Aku sudah mengukir janji kepada adikku untuk terus bersama selamanya. Ketika adikku Engkau jemput, aku juga harusnya Kau ajak. Jangan hanya adikku yang Kau bawa. Maka dari itu, aku menjadi anak nakal sekarang. Sekali lagi maafkan aku, Bapa.
Bagaimana Echa tidak menangis membacanya. Demi sang adik dan karena rasa frustasi membuat Grace memilih jalan seperti ini.
"Kamu harusnya tak melakukan ini. Masih ada Tante dan Om Radit yang akan bersama kamu, menemani kamu." Bulir bening sudah mengalir deras.
Grace seusia Iyan, menanggung beban sedari dia masih sekolah dasar. Bertahan dalam keadaan serba kekurangan dan mencoba untuk berjuang demi adik semata wayang. Grace mencoba untuk kuat di balik kerapuhan yang dia miliki. Grace mencoba untuk tersenyum di balik tangis yang dia sembunyikan.
Kepergian sang ibu masih menyisakan luka sampai saat ini. Luka yang tak akan pernah sembuh dan kini dia bawa sampai mati. Echa melipat kembali surat yang telah dia baca. Ada satu lembar surat lagi yang ada di dalam goody bag pemberian Yansen.
Tante ... Om ...
__ADS_1
Ketika kalian baca ini sudah pasti aku sudah menutup mata. Maaf, aku melakukan ini. Aku sudah tak memilik gairah hidup lagi. Jika, aku memaksa tetap bertahan aku seperti raga kosong tanpa nyawa. Aku bagai mayat hidup karena roh ku sudah diambil oleh Tuhan.
Aku meyakini Yansen masih hidup. Alasan aku terus semangat dan menjalani hidup ini adalah dia. Namun, asa ku redup ketika aku bermimpi didatangi Yansen. Yansen sudah bersama dengan mamiku. Mereka bahagia. Aku juga ingin seperti itu. Aku ingin berkumpul bersama mereka. Aku tidak ingin menjadi beban untuk Om dan Tante yang sangat baik padaku. Aku sudah tak pantas lagi menerima kebaikan kalian lagi.
Air mata menetes lagi dari pelupuk mata Echa. Hatinya kini benar-benar sakit membaca surat yang ditulis sendiri oleh Grace.
Tante ... Om ...
Aku boleh merepotkan kalian untuk terakhir kalinya gak? Aku tidak ingin dimakamkan di perut bumi. Aku ingin dilarung ke lautan. Aku ingin seperti adikku. Aku tidak ingin meninggalkan jejak jelek untuk orang-orang yang mengenalku. Biarkan aku mengikuti arus lautan yang membawaku terombang-ambing ke sana ke mari. Biarkan aku bertemu dan menyatu dengan adikku.
Sebagai ganti uang Tante untuk mengurus kepergianku, juallah rumahku yang ditempati aku dan Yansen dari kecil. Sertifkat rumah ada di dalam lemari pakaianku. Aku ikhlas, Tante. Uang penjualan itu tidak akan bisa menggantikan kebaikan Tante dan juga Om Radit selama ini kepada aku dan Yansen. Maaf, sudah menjadi orang jahat. Maaf, sudah mengecewakan Tante dan Om.
Terima kasih selama ini sudah menganggap aku dan Yansen seperti anak. Makasih atas segala kebaikan Tante dan Om kepadaku dan adikku. Kalian adalah malaikat tak bersayap untuk kami berdua. Kalian diutus Tuhan untuk menyelamatkan hidup kami. Terima kasih, Tante. Terima kasih, Om. Aku sayang kalian.
-Grace-
Sesak sekali dada Echa sekarang ini. Belum mendapat kepastian tentang Yansen kini sudah mendapat kabar mengejutkan lagi. Sungguh kesedihan yang datang bertubi-tubi. Dia masih terisak. Dia masih menunduk dengan tangan yang menggenggam surat dari Grace.
"Grace, Yansen, damailah bersama Tuhanmu di sana. Tante pasti akan merindukan kalian." Lirih dan pedih yang keluar dari mulut Echa. Hatinya yang selembut kapas, juga kebaikannya yang tak bisa diukur oleh apapun membuatnya mudah menangis dan tersentuh.
Radit sedikit khawatir ketika tak mendapati istrinya kembali dari ruang rawat. "Kenapa Bubu belum kembali?"
"Memangnya Bubu ke mana?" Aleesa bertanya dengan mimik bingung.
"Tadi ke ruang perawatan Grace."
"Biar Sasa ke sana." Baru saja hendak melangkah, sang ibu datang dengan langkah gontai. Terlihat wajahnya sangat sembab.
"Bubu!" panggil Radit dan Aleesa berbarengan.
Echa tak banyak bicara. Dia menyerahkan dua lembar kertas kepada Radit. Aleesa mengambil salah satu kertas di tangan ayahnya. Mereka berdua terdiam dan khusyuk ketika membacanya. Restu sudah mendekat dan ikut membaca kertas yang ada di tangan Aleesa. Kini, mereka berdua saling pandang.
Sedangkan Radit, dia membisu membaca coretan tinta yang Grace tuliskan. Hatinya perih. Dia membayangkan jika itu terjadi pada anak-anaknya. Tak ada kata, tak ada suara. Echa memeluk tubuh suaminya dengan air mata yang tak mampu dia tahan.
"Kenapa harus memilih jalan seperti ini?" Echa mulai bertanya kepada suaminya.
"Inilah titik lelah sesungguhnya dari Grace. Banyak hal yang tidak dia tunjukkan. Banyak luka yang dia pendam, hingga akhirnya ini yang dia pilih. Apa yang dia rasakan dia tutupi dengan sempurna agar adiknya tak tahu. Ketika adiknya pergi, inilah diri dia sesungguhnya. Dia lemah, dia rapuh, dan dia sudah tidak mampu."
Psikiater yang bertugas mendampingi Grace pun setuju dengan apa yang dikatakan oleh Radit. Grace anak yang pandai membohongi dirinya juga orang lain. Asa yang dia genggam pun hanya asa yang semu. Padahal, dia sudah tahu jikalau Yansen tidak selamat.
Aksa dan Aska sudah datang. Juga Iyan yang sudah bergabung. Mereka memutusakan untuk mengkremasi jenazah Grace. Itu bukan keputusan Radit maupun yang lain, tapi permintaan dari Grace sendiri.
Dikremasi lalu menjadi abu. Kemudian, dilarung ke lautan. Itulah yang Grace inginkan. Dia ingin bersama adiknya di lautan lepas. Dia ingin tetap bersama Yansen.
Bertepatan dengan masuknya peti ke dalam oven pembakaran besar, pencarian hilangannya pesawat dinyatakan selesai karena sudah sembilan puluh delapan persen penumpang pesawat sudah teridentifikasi. Hanya dua orang yang tidak ditemukan jejak apapun. Hanya baju, Kalung salib dan Al kitab.
"Atas nama Yansen Geremy dan Albert Gundowo tidak bisa kami temukan. Besar kemungkinan tubuh mereka hancur tak tersisa ketika ledakan pesawat."
Iyan menghela napas kasar. Adik-kakak itu pergi bersamaan dengan cara yang berbeda. Itu bukti betapa Grace sangat menyayangi Yansen hingga dia rela mengakhiri hidup untuk bisa bersama terus dengan adiknya.
Iyan memperhatikan sang keponakan yang sedari tadi berada di pelukan Restu. Wajah sedihnya perlahan menguar. Sepertinya dia sudah mengikhlaskan kepergian Yansen.
Mereka semua masih setia menunggu proses kremasi Grace. Rela meninggalkan pekerjaan mereka demi menghormati almarhumah. Sambil menunggu hingga menjadi abu, mereka memutusakan untuk makan siang terlebih dahulu.
Aleesa menghela napas kasar ketika membaca headline news tentang pesawat jatuh. Di sana nama Yansen memang tidak ditemukan jasadnya. Hanya baju saja. Para keluarga korban pun akan mengadakan tabur bunga di perairan laut sana.
"Ba, Larung abunya di tempat di mana pesawat jatuh Saja. Sekalian tabur bunga untuk Sensen." Radit dan keluarga setuju dengan ide Aleesa.
Mereka membawa guci kecil berisi abu dari Grace menuju tempat di mana dinyatakannya pesawat jatuh dan ditemukannya para korban. Aleesa menggenggam erat tangan Restu ketika tiba di tempat tujuan. Di mana banyak para keluarga korban lainnya juga.
Restu mengusap punggung tangan Aleesa dan membuat perempuan muda itu menoleh. Restu menyunggingkan senyum yang begitu tulus. Aleesa pun memeluk tubuh suaminya.
"Dia sudah tenang." Aleesa mengangguk.
Ketika mendengar aba-aba untuk melakukan tabur bunga barulah Aleesa mengambil bunga yang dia bawa dan melemparkannya ke laut. Bunga yang berbeda dari yang lain. Bunga mawar kuning yang Aleesa beri untuk Yansen sebagai simbol persahabatan mereka.
"Tenang si sana, Sen. Damai bersama Tuhan. Kamu anak baik, surga menantimu."
Radit mulai menuangkan abu jenazah Grace ke lautan. Ada kesedihan yang Radit coba sembunyikan.
"Damai di sana bersama adikmu. Kami akan slalu menyayangi kamu."
Iyan menunjuk ke arah langit yang biru. Keluarganya menatap ke arah di mana jari Iyan menunjuk. Jika, sudah begini mereka akan saling menggenggam dan mampu melihat apa yang dilihat oleh Iyan.
Yansen dan Grace yang melambaikan tangan dengan senyum penuh kebahagiaan.
"Selamat tinggal!"
...***To Abe Continue***...
__ADS_1
Komen dong ....