RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 25. Aritmia


__ADS_3

Aleesa tidak bisa berkata-kata. Dia menatap dalam wajah Restu yang teramat serius padanya. Tanpa Aleesa duga, Restu memakaikan kalung yang berliontinkan dua cincin mas putih yang sangat sederhana, tapi indah.


"Aku akan titipkan sepasang cincin ini di kamu. Cincin yang akan selalu menempel di hati kamu dan akan terus merasakan denyut jantung kamu." Aleesa terpaku. Sungguh mulutnya kelu.


"Aku mencintai kamu, Aleesa. Aku ingin kamu menjadi yang pertama dan terakhir untuk aku."


Aleesa berhambur memeluk tubuh Restu dengan begitu erat. Dia menitikan air mata kebahagiaan karena merasa diperlakukan amat spesial oleh seorang Restu Ranendra.


Ketika pelukan itu terurai, Restu melihat wajah Aleesa yang terlihat pucat. Dia mengusap lembut wajah perempuan yang ada di depannya.


"Kamu udah makan?" Aleesa menggeleng. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Restu.


"Ya udah, aku buatin makanan dulu, ya." Baru saja Restu ingin pergi, Aleesa sudah memeluknya dari belakang membuat langkah Restu terhenti.


"Jangan tinggalin aku." Restu membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Aleesa dengan seulas senyum.


"Enggak, Lovely. Aku akan bersama kamu. Menyembuhkan luka kamu." Restu begitu tulus. Wajah brandalnya seakan hilang jika tengah bersama Aleesa.


"Tunggu di sini, ya." Aleesa menggeleng.


"Mau ikut ke dapur?" Barulah Aleesa mengangguk membuat Restu tersenyum. Dia baru melihat sikap asli Aleesa yang begitu manja.


Restu tengah sibuk memasak sedangkan Aleesa tengah merasakan dadanya yang mulai sesak. Dia memejamkan matanya sejenak. Menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi meja makan.


"Sa, kamu mau pedas apa gak?" Aleesa tidak menjawab sama sekali. Dadanya semakin sesak.


Tidak ada jawaban dari Aleesa membuat Restu menoleh ke belakang. Dia terkejut ketika melihat Aleesa semakin sulit bernapas.


"Sa!"


Kompor pun segera dia matikan dan beralih kepada Aleesa. Tanpa banyak bertanya, Restu segera membawa Aleesa ke kamarnya. Dia teringat akan obat yang sebelumnya Radit berikan kepada Aleesa.


"Berikan ini kepada Aleesa ketika sesaknya kambuh. Saya akan terus memantau kalian."


Restu mengambil obat yang dia letakkan di dalam laci samping tempat tidur. Dia memberikannya kepada Aleesa. Wajah Restu lebih cemas dari yang tadi. Dia juga belum tahu obat apa yang ayah Aleesa berikan. Restu belum tahu perihal sakit Aleesa.


"Jangan buat aku khawatir, Sa." Restu sudah mengusap lembut rambut Aleesa.

__ADS_1


"Maaf." Suara Aleesa begitu lemah.


"Sekarang makan dulu, ya. Aku gak mau lihat kamu kayak gini." Aleesa tersenyum dan dia mengusap lembut wajah Restu


"Aku gak apa-apa."


Di lain tempat, Echa sudah menitikan air mata. Mereka yang melihat Aritmia Aleesa kambuh ingin segera pergi ke apartment Restu. Mereka tidak sanggup melihatnya. Namun, Radit melarangnya.


"Jika, kita ke sana dan menunjukkan wajah khawatir, sesak di dada Aleesa akan semakin parah."


"Tapi, Uncle--"


"Tunggu reaksi obatnya dulu."


Seorang ayah yang tahu akan psikis anaknya pasti tidak akan gegabah dalam bertindak. Radit tahu jikalau Aleesa tengah menyembunyikan semuanya dari mereka. Radit tidak ingin muncul sebelum kondisi kesehatan anaknya membaik.


Namun, melihat perlakuan Restu membuat mereka yang ada di rumah merasa lega. Restu teramat telaten menjaga Aleesa hingga mau menyuapi anak dari Raditya Addhitama tersebut.


"Tuh bocah bengal kenapa bisa manis begitu?" Nesha dan Rindra hanya tertawa.


"Makanya coba untuk jatuh cinta. Batu pun bisa terbelah oleh yang namanya cinta." Rio hanya berdecih.


.


Grace melebarkan mata melihat kedatangan seorang pria yang dia takutkan.


"P-pak Ak-sara."


"Saya ingin bicara dengan kamu."


Mencekam, itulah yang dirasakan oleh Grace. Untung saja ada Jerome yang terus menenangkan Grace.


"Saya tidak ingin basa-basi," tukasnya. Wajah Grace mulai memucat.


"Jessica Grace, ternyata kamu punya banyak nyawa juga," sindir Aksara. "Berani meneror keponakan saya terus-terusan."


Mata Grace melebar mendengar penuturan dari Aksara. Dari mana dia tahu? Aksa menggelengkan kepalanya dengan pelan.

__ADS_1


"Saya diam bukan karena saya takut, tapi saya menghargai perintah kakak ipar saya yang melarang saya juga adik saya untuk bertindak. Kurang baik apa Abang saya kepada kamu dan keluarga kamu?"


Deg.


Grace terdiam seketika. Otaknya berputar ke waktu lima belas tahun yang lalu.


"Jangan anggap saya tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan kepada Aleesa. Justru tindakan verbal yang lebih melekat di hati." Aksa menatap tajam Grace.


"Ingat Grace, kamu hanya butiran debu untuk keluarga Wiguna, Rion Juanda, juga Addhitama. Harusnya kamu insaf, ketika saya menjentikan jari saja kamu bisa lenyap dalam waktu kurang dari satu menit." Sikap garang Aksara Sudah muncul.


"Menurut kamu, Aleesa tidak pantas untuk Yansen. Apalagi untuk kelurga besar kami. Siapa kalian? Martabat kalian saja tidak lebih baik dari keset Welcome yang ada di depan rumah kami."


Jika, Aksara sudah berkata pasti akan dikuliti hingga ke akar. Sakit hati yang pastinya akan dirasakan. Mulutnya sangat tajam, dan sangat berbisa melebihi ular cobra.


"Kamu membanggakan keluarga calon besan kamu karena kekayaannya juga keyakinannya. Asal kamu tahu, perusahaan mereka masih di bawah naungan AdT corp." Seringai pun muncul di wajah Aksa.


"Satu lagi, jangan syok ketika kamu melihat Aleesa akan bersanding dengan seorang pria luar biasa. Harga diri kamu saja bisa dia beli."


Pedas sekali ucapan seorang Ghassan Aksara Wiguna. Mulutnya sangat lancar mengeluarkan bisa yang mematikan.


"Sekali lagi kamu meneror Aleesa, saya pastikan kamu tidak akan pernah bisa melihat keindahan dunia ini lagi."


Aksa pun mulai menjauh dan pergi dari sana. Namun, langkahnya terhenti ketika Jerome membuka suara.


"Ancaman Anda sudah saya rekam, dan akan saya jadikan barang bukti yang kuat agar Anda dijebloskan ke dalam penjara." Mata Grace melebar mendengarnya. Dia menggeleng ke arah Jerome.


Bukannya takut, Aksa malah tertawa sangat keras. Dia mendekat ke arah Jerome yang sedang mengangkat ponselnya.


"Silahkan beri ke pihak yang berwajib. Siapkan lawyer yang kuat untum menghadapi saya karena saya pastikan bukan saya yang akan masuk ke dalam penjara melainkan kekasih Anda." Aksa menatap tajam ke arah Jerome.


"Bukti yang saya pegang sangat kuat. Dari awal teror hingga teror terakhir sudah saya pegang. Jika, masih menantang saya, saya tunggu di pengadilan." Kini, Jerome menatap ke arah Grace yang sudah menunduk.


"Anda ahli IT, tapi saya memiliki peretas ulung yang bisa melacak apapun tanpa bisa Anda lacak." Kalah, sudah pasti Jerome kalah menghadapi Aksa.


"Ingat, jangan bangunkan keluarga harimau putih yang sedang tidur. Auman saja bisa membuat kamu kehilangan nyawa."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2