
Yansen yang memang tengah menemui Iyan untuk menanyakan perihal kebenaran hubungan Aleesa dan Yansen tak sengaja mendengar jikalau Aleesa dan keluarganya akan tiba hari ini di Jakarta. Dia mencoba untuk mencuri dengar dengan lebih jelas percakapan Iyan dan kakak iparnya, yakni Aksa.
"Iyan gak bisa jemput, Bang. Nanti, Iyan langsung ke rumah Kak Echa aja."
Ada rasa bahagia yang Yansen rasakan. Walaupun dia tidak mendapat jawaban pasti dari om Aleesa. Semuanya seakan menutup mulut mereka dengan begitu rapat.
"My Sasa kembali." Begitulah gumaman penuh kebahagiaan. Yansen mencoba mencari tahu kepada Agha, sepupu Aleesa. Namun, remaja itu ikut menutup mulut. Alhasil, Yansen mencari tahu sendiri tentang penerbangan Aleesa dan rela menunggu dari tiga jam lalu.
Benar ucapan paman dari Aleesa, keluarga Aksara menjemput Aleesa. Agha dan adiknya pun ikut bersama kedua orang tua mereka. Yansen sedikit menjauh dari mereka. Dia tidak ingin terlihat oleh paman Aleesa yang kejam itu.
Mata Yansen berbinar ketika dia melihat wanita yang masih sangat dia cintai datang bersama laki-laki yang dia kenali, yaitu Rio. Dia tersenyum ketika melihat Aleesa yang tersenyum ketika melihat dan menyapa keluarga pamannya. Juga wajah Aleesa yang secerah mentari ketika bersama Agha. Inilah saatnya dia keluar dari persembunyian.
"My Sasa!"
Panggilannya membuat langkah semua orang terhenti. Juga seseorang yang tengah berada di sambungan video terdiam. Suasana mendadak hening ketika langkahnya mulai mendekat. Namun, Aleesa tak berani untuk menoleh. Dia malah memandang wajah yang ada di sambungan video. Mata Aleesa sudah berkaca-kaca.
"Forget him and always remember me."
Agha yang berada di samping Aleesa dan mendengar ucapan pria yang dia tahu sangar itu ikut tercengang mendengarnya.
"Dari mana tuh orang dapat kata-kata itu?" batin Agha, dan dia mulai melihat ke arah Aleesa yang membeku.
Kepekaannya terhadap Aleesa membuat Agha mendekat dan menggenggam erat tangan Aleesa. Sang sepupu pun menoleh ke arah Agha yang mengangguk pelan. Pria yang berada di sambungan video itu menatap Agha dengan tatapan yang berbeda dari tatapan awal. Sorot matanya seakan meminta bantuan. Tajamnya sorot mata Agha pun berubah lembut. Dua pria itu tidak berkata, tapi sorot mata mereka lah yang berbicara.
"Aku kangen kamu, Sa." Kini, Yansen sudah ada di depan Aleesa.
Ponsel Aleesa yang tengah dia genggam pun beralih pada Agha. Sepupu laki-laki Aleesa tersebut mengubah sambungan video menjadi sambungan telepon. Dia tahu si tukang tawuran itu ingin mendengar apa yang dikatakan oleh Yansen kepada Aleesa. Sesungguhnya keluarga besar Wiguna, Addhitama dan Rion Juanda sudah tahu akan hubungan Aleesa dan Restu.
Aleesa malah terdiam. Dia tidak ingin menatap wajah Yansen. Wajah Yansen yang tengah bertunangan dengan Nathalie masih memutari kepalanya. Rio hendak mendekat ke arah Aleesa, tapi sang ayah mencegah. Gelengan kepala Rindra seperti larangan keras untuknya. Mau tidak mau Rio pun harus menurut kepada sang papih.
Aksa sudah menatap ke arah sang Abang ipar. Radit hanya tersenyum. Mereka tengah menunggu keputusan seorang Raditya Addhitama sebagai ayah dari Aleesa Addhitama.
"Sa," panggil sang ayah. Aleesa pun segera menatap ke arah sang baba.
__ADS_1
"Mau melepas rindunya di sini atau di rumah?" Semua orang terkejut dengan ucapan Radit. Mata Aksa dan Rindra melebar mendengarnya. Rindra ingin sekali mencekik leher adik bungsunya itu.
Jangan ditanya bagaimana reaksi seorang Restu Ranendra ketika mendengar ucapan dari ayah kekasihnya itu. Beda halnya dengan Agha yang ingin tertawa keras. Andaikan dia tidak mengubah sambungan video tersebut sudah Pasti dia akan melihat wajah Restu.
"Kalau nih si Badung ada di sini, Baba pasti kena bogem." Agha membatin dengan menahan senyum. Sama halnya dengan Rio yang ingin sekali mengejek sang sahabat.
"Boleh aku bicara sama Sasa di sini aja, Om?" Yansen seperti mendapat lampu hijau dari Radit. Akhirnya, dia berani bertanya kepada ayah dari kekasihnya yang masih sangat tampan.
"Boleh."
Aleesa menatap ke arah ayahnya dengan tatapan tajam dan penuh penolakan. Radit hanya tersenyum.
"Makasih, Om." Yansen sangat bahagia.
"Sasa ditemani Agha. Kalian tidak boleh berdua." Radit hanya melambungkan hati Yansen dan pada akhirnya dijatuhkan dengan cara tak terduga. Baru kali ini Aleesa dilarang berdua dengan seorang Yansen Geremy oleh Radit.
Aksa dan Rindra mengulum senyum. Dia kira Radit akan menjadi manusia plin-plan. Nyatanya dia teramat cerdas.
"Ba--" Aleesa merengek.
"Mas, temani Sasa, ya." Agha pun mengangguk. Dia tidak berani menolak ucapan dari Radit. Beda halnya jika kepada Aska. Sebelum Aska bicara pun pasti sudah dia tolak mentah-mentah.
"Bu--"
Yansen merasa sedih ketika dia melihat Aleesa tidak seperti biasanya. Echa hanya tersenyum dan mengusap lembut pipi sang putri sebelum dia pergi.
"Pak Joe akan mengawasi kalian." Lagi-lagi Yansen terkejut mendengarnya. Bukan hanya diprotect, ada penjagaan juga untuk Aleesa.
"Aku mau tidur duluan ya, Sa." Rio mengusap lembut rambut sang sepupu.
Keluarga Aleesa pun meninggalkan tiga orang anak manusia di sana. Agha seperti bodyguard Aleesa sekarang.
"Agha, boleh gak aku bicara sama Sasa berdua aja." Seketika Aleesa menggenggam tangan Agha dengan lebih erat membuat Agha melihat ke arah tangannya yang tengah bertaut.
__ADS_1
"Boleh aja." Aleesa menatap penuh ketajaman kepada Agha. Sedangkan Agha masih bersikap santai dan Yansen sudah tersenyum senang.
"Tapi, ditemani Pak Joe." Senyum Yansen pun menghilang seketika. Sudah pasti dari balik sambungan telepon Restu tertawa terbahak-bahak.
"Ditemani kamu aja, tapi kita bicara di sana." Yansen mengajak Aleesa dan Agha ke sebuah kedai kopi.
Segelas kopi dingin kesukaan Aleesa sudah ada di depan Aleesa. Yansen lah yang sudah memesankan.
"Diminum dulu, Sa." Yansen masih berkata dengan lembut. Beda halnya dengan Agha yang sudah meminum kopi yang dibelikan oleh Yansen.
"Apa yang mau kamu katakan?" Aleesa mulai membuka suara. Dia pun mulai menatap Yansen. Mereka duduk saling berhadapan.
Agha dapat membaca situasi. Dia mulai mengubah sambungan telepon ke dalam sambungan video. Wajah Restu sudah tegang dan tanpa bicara Agha mengubah kamera depan menjadi kamera belakang.
"Aku minta maaf." Yansen berkata dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak mencintainya. Aku dipaksa."
Agha yang berada di kursi samping di antara Aleesa dan Yansen yang saling berhadapan seperti tengah merekam adegan di drama-drama yang sering sang mommy tonton. Aleesa terdiam. Dia menatap Yansen dengan sorot mata yang datar.
Beda halnya dengan Yansen yang tengah menatap Aleesa dengan penuh penyesalan. Wajah Yansen terlihat sendu.
"Aku hanya mencintai kamu, Sa." Yansen meraih tangan kiri Aleesa, dan dia membeku ketika melihat ada sebuah cincin yang melingkar di jari manis Aleesa. Pandangannya tertuju pada cincin tersebut di mana ada inisial huruf R di sana. Walaupun kecil, tapi mampu Yansen lihat.
"Apa aku salah lihat?"
...***To Be Continue***...
Komen atuh ..
Mau up lagi nih.
__ADS_1