
Pria yang tengah asyik memakan cemilan dan juga menyeruput kopi dikejutkan dengan terbukanya pintu ruangan itu. Mata orang yang baru saja masuk melebar melihat tingkah pria itu.
"Pake ada acara pengganggu segala," cerocos Aska..
"Kenapa--"
"Ngapa lu nunjuk-nunjuk gua?" Aska lebih galak dari wanita itu. "Kenapa dia dibawa ke sini?" tanya Aska yang bingung. Dia pengawal menarik paksa wanita itu.
"Disuruh Mr. Gemke. Boroknya ketahuan, arwah adiknya tadi masuk ke dalam tubuh seseorang dan membeberkan semuanya."
"MAMPOESS!!" Tidak ada kalimat manis yang keluar dari mulut Askara.
"Bang ke mah tetep aja bau, gak akan harum kayak bunga mawar," ujar Aska. Dokter Kaira menatap tajam ke arah Aska. Wajahnya benar-benar mirip dengan Aksa hingga mereka berdua terkecoh.
"Iket dia!" titah Aska dengan nada kejam. "Kalau bisa Belit pake kabel yang tersambung aliran listrik." Mulut Aska pasti akan sangat berbisa jika mengenai hal ini.
"Jaga mulut Anda!!" Masih bisa dokter Kaira berbicara kasar kepada Askara. Itu membuat Aska tersenyum tipis ke arah Kaira.
"Mau bapak lu gua bunuh." Aska menunjukkan video ayahnya yang sudah dicekik oleh seseorang. Napasnya sudah tersengal dan tunggal di tenggorokan.
"Ayah!" Aska malah tertawa.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, dan itu benar adanya. Lu sangat mirip si Jordan Edan." Aska berbicara sangat tajam dan kejam.
Ingin rasanya dokter Kaira menampar mulut Aska, tapi tubuhnya sudah diikat di sebuah kursi besi dengan ikatan yang sangat menyesakkan dada.
"Sesak!!" jeritnya. Dua pengawal itu tidak menghiraukan. Mereka makin mengencangkan ikatan kepada tubuh dokter Kaira. Aska pun tertawa puas.
Dia malah duduk kembali di sofa panjang yang ada di sana dengan kaki yang dia naikkan ke atas meja, tangannya mengambil anggur hijau segar lalu memakannya. Wajahnya sungguh menyebalkan di mata dokter Kaira. Lagaknya bagai bos besar.
"Kenapa Anda bisa--"
"Karena gua lebih pinter dari lu dan teman jahat lu," potong Aska. "Sumbu otak kalian emang pendek." Sudah dua kali dia mendengar ejekan tersebut hari ini.
"Si alan!" umpatnya. Aska malah terbahak mendengarnya.
"Dasar saudara kembar, sama aja wataknya."
Aska segera menghubungi seseorang. Ternyata dia menghubungi Rindra. Aska segera mengarahkan kamera pada wajah dokter Kaira.
"Kenapa gak langsung dibakar?" Lebih parah ucapan dari Rindra. "Siksa kayak bapaknya!" Terlihat Rindra sangat murka.
__ADS_1
"Makanya Abang ke sini. Puas-puasin deh siksa nih si Ijah."
"Nama gua Kaira!" Masih bisa dia menimpali.
"Lu itu Ijah," tekan Askara. "IBLIS JAHAT!!"
Rindra yang murka pun tertawa mendengar ucapan dari Aska. Ada saja panggilan yang menggelitik yang keluar dari mulut Askara.
Pintu terbuka lagi, Aska dan dokter Kaira menoleh. Aska tertawa sangat keras ketika melihat ibu kandung Restu dibawa oleh pengawal dengan diborgol.
"Bang, biangnya ditangkep juga." Rindra malah tertawa ketika melihat wajah Zenith Andrea yang terlihat berantakan.
"Berhasilkah rencana Anda, Madam?" Kalimat penuh penekanan yang keluar dari mulut Rindra. Senyum penuh amarah pun terukir di wajahnya.
"Putra saya bukan orang bodoh," tekan Rindra lagi.
"Dia putra saya!!" Madam Zenith tidak mau kalah. Rindra malah tertawa mengejek.
"Perempuan Ijah itu yang pantas menjadi anak Anda, BUKAN RESTU!"
Rindra benar-benar murka. Apalagi ketika dokter Rocki mengatakan bahwa dokter Kaira akan memberikan obat perusak syaraf. Itu membuat hatinya sangat hancur.
"Udah, Bang. Mending hubungi Restu dan Aleesa. Terus bawa pulang mereka berdua. Jauhkan mereka dari dua Ijah ini." Amarah Rindra hampir sama seperti Aksara. Tidak bisa terkendalikan.
.
Restu masih menatap ke arah Aleesa yang masih belum tersadar. Dia takut, dia merasa bersalah. Aksa dan Iyan yang melihat Restu hanya bisa menghela napas kasar.
"Dia baik-baik saja." Aksa sudah membuka suara.
"Dia belum sadar aja," tambah Iyan.
Mereka berdua kasihan kepada Restu. Harusnya Restu beristirahat, tapi dia malah terus menggenggam tangan Aleesa dan tak henti menatap wajah Aleesa.
Ponsel Aksa berdering, dia tersenyum ketika Rindra menghubunginya. Dia segera memberikan ponselnya kepada Restu.
"Nak--" Rindra menatap dalam wajah Restu dan tak mampu melanjutkan ucapannya. Restu tersenyum dan menahan tangis sekuat tenaganya. Dia tidak sanggup berkata. Telihat jelas wajah cemas sang ayah. Tanpa Rindra berkata, Restu dapat merasakan.
Tiba-tiba wajah sang ayah tidak ada dan berganti dengan wajah Nesha. Wanita itu memandang Restu dengan mata yang berkaca-kaca..
"Nak, itu kamu 'kan, Nak." Restu mengangguk dan dia tidak kuasa menahan air matanya ketika melihat air mata Nesha menetes membasahi pipinya. Dia teringat ketika dia hampir mati dan menyerah, Nesha lah yang memeluk tubuhnya. Dialah yang menitikan air mata sangat banyak untuknya.
__ADS_1
"Mamih kangen kamu, Nak. Mamih rindu," ucapnya dengan suara yang bergetar. Restu pun menarik napas berat dan mencoba untuk tetap tersenyum. Mengusap air matanya yang terjatuh walaupun tidak banyak.
"Aku juga kangen Mamih. Tunggu aku pulang ya, Mih." Restu sangat merasakan betapa tulusnya kasih sayang seorang Nesha kepada dirinya. Delapan belas tahun bukan waktu yang singkat. Dari memanggil Nesha dengan sebutan Tante hingga sekarang dia memanggil Nesha dengan sebutan Mamih.
"Bie--"
Suara Aleesa membuat Restu menoleh dan Aleesa sudah membuka mata.
"Kenapa nangis?" Aleesa mencoba untuk duduk, tapi Restu larang. Aksa dan Iyan segera bangkit dan membantu Aleesa untuk duduk.
"Jangan banyak bergerak dulu, Sa." Aksa sudah memperingatkan.
"Makan, ya." Iyan sudah membuka makanan yang sudah disediakan. Aleesa pun menggeleng.
"Kamu harus banyak makan, Lovely. Aku gak mau terjadi sesuatu sama kamu." Terdengar suara yang sangat khawatir dari mulut Restu. Wajah Restu pun terlihat sangat cemas.
"Mulutku pait."
Restu mencoba untuk bangkit dari tempat tidur. Dokter Rocki segera membantunya. Sungguh pasiennya yang satu itu sangat nakal.
"Jangan banyak gerak, Restu!" pekik dokter Rocki.
"Aku hanya ingin ke Aleesa." Dokter Rocki menghela napas kasar. Dia pun membantu Restu dan kini pria itu duduk di samping Aleesa.
Dia menatap Aleesa dengan begitu dalam dan dengan rasa bersalah sangat besar. "Jangan buat aku semakin merasa bersalah. Aku gak mau kamu kayak gini." Ucapan yang begitu tulus yang keluar dari mulut Restu.
"Makan, ya," pinta Restu. Iyan sudah menyerahkan makanan yang sudah disediakan kepada Restu. "Aku suapin."
Melihat Restu yang begitu tulus membuat Aleesa tidak tega. Refleks kepalanya mengangguk. Restu pun melengkungkan senyum bahagia.
Di balik sambungan video ada dua orang yang sudah mengerungkan kedua alis mereka dengan sangat kompak.
"Makan aja pake ada drama segala." Ketus sekali suaranya.
Suara dari sambungan video membuat Restu dan Aleesa kompak menoleh. Aksa sudah menunjukkan ponselnya ke arah sepasang kekasih yang tengah dirawat. Ternyata itu suara Rio. Dia tidak sendiri, tenyata bersama Agha. Mereka berdua kompak menatap sangar ke arah Aleesa dan Restu..
"Dasar pasangan buncit!!"
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen atuhlah ...