RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 46. Tanpa Pamrih


__ADS_3

Radit sudah diberitahukan oleh Aksa bahwasannya Grace sudah semakin berulah. Bukan hanya dirinya yang dilibatkan, melainkan sudah membawa keluarga. Radit sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Kesabarannya pun sudah sirna. Sekarang, dia Membiarkan Aksa bertindak karena dia sangat tahu bagaimana sifat Aksa jika sudah membawa keluarga.


Aksa juga mengatakan bahwa dia akan menggandeng semual pengacara terbaik keluarganya. Masing-masing anggota keluarganya didampingi seorang pengacara berkompeten. Radit hanya mengiyakan. Aksa pun merasa sangat lega. Bagaimanapun sebelum bertindak dia harus berembuk dengan anggota keluarganya. Namun, ada hal yang membuat Aksa mengernyitkan dahi. Sang Abang ipar meminta syarat.


"Kok pake syarat segala?" sergah Aksa bingung.


"Syaratnya mudah kok," jawab Radit.


"Apa?"


"Jangan libatkan Yansen dalam hal ini." Aksa terkejut ketika mendengarnya. Baru saja Aksa hendak bertanya lagi, Radit mulai menjelaskan. "Yansen anak baik. Dia tidak ada sangkut pautnya dalam hal ini. Ini murni kesalahan kakaknya."


Dalam hal ini Aksa setuju. Dia tahu Yansen anak baik. Apalagi anak itu rela datang tengah malam dengan kondisi yang masih sakit hanya untuk meminta maaf kepada Aksa.


"Baiklah. Akan Abang seret Grace saja." Radit pun mengangguk.


Alasan yang mendasari Radit melakukan ini karena dia sudah mengenal Yansen dengan sangat baik. Apalagi Yansen sudah dia anggap seperti anaknya sendiri. Anak itu adalah sahabat terbaik Aleesa.


Satu jam berselang, Radit mengadakan meeting keluarga secara virtual. Adik-adik Radit terkejut dengan apa yang dia lakukan.


"Kenapa?" Itulah yang Aska tanyakan. "Aleesa dan Abang udah difitnah sama kakaknya, kenapa Abang masih baik sama Yansen?" Aska benar-benar tidak percaya.


"Biaya Studi S1 itu gak murah, Bandit!" geram Aksa. Radit hanya tersenyum. Dia menantu Iyan berbicara. Namun, pria itu hanya terdiam saja dengan mimik yang sulit diartikan.


"Dengarkan semua, Yansen adalah anak baik. Kita semua tahu bagaimana Yansen. Dia hanya didorong paksa masuk ke dalam jurang kehancuran oleh kakaknya. Dia juga tidak mau, tapi dipaksa dan sudah tercebur. Dia bisa apa?" Semua adiknya pun terdiam.


"Ini adalah keputusan Abang. Tolong hargai. Psikis Yansen sedang tidak baik-baik saja."

__ADS_1


Radit memang memiliki hati bagai malaikat. Sebelum bertindak dia selalu memikirkan konsekuensinya. Apalagi dia seorang psikolog. Dia harus memikirkan psikis Yansen. Radit pun bukan orang yang pamrih. Dia akan membangun siapapun yang menurutnya memang perlu dibantu. Bukannya dia memaafkan Grace, dia hanya sedang menempatkan kepada siapa dia harus marah, dan tidak boleh membawa orang lain dalam kemarahannya.


Rindra yang mengetahui hal ini langsung menghampiri Radit. Dia menggebrak meja kerja adiknya dengan wajah yang penuh emosi.


"Kenapa lu masih baik sama anak ini?" Rindra sudah menunjukkan foto Yansen kepada Radit.


"Dia gak salah, Bang. Kakaknya yang gila," jawab Radit dengan santai.


"Lu yang gila!" seru Rindra. "Anak yang ini juga udah nyakitin anak lu. Apa lu gak kasihan sama Aleesa?"


"Bang, sekarang, besok atau lusa pasti Aleesa akan tersakiti oleh cintanya yang berbeda itu. Lebih baik Aleesa sakit sekarang dari pada nanti ketika dia jatuh cinta sangat dalam dia harus dipaksa berpisah oleh keadaan." Rindra pun terdiam.


"Yansen sama seperti putra angkat Abang, Restu. Dia sudah Radit anggap seperti anak Radit sendiri. Kesulitan apapun yang tengah dia hadapi pasti akan Radit bantu. Tanpa dia minta, Radit akan mengulurkan tangan Radit. Dia anak baik."


Rindra pun terdiam. Dia juga merasakan apa yang Radit rasakan. Walaupun semua orang mengatakan bahwa Restu adalah si pembunuh cilik, tapi Rindra tetap yakin bahwasannya Restu hanyalah korban fitnah ayah kandung Restu yang durjana yang tak lain adalah menantu dari Wiratama.


.


Setelah drama tidak ingin ditinggal. Akhirnya, Restu bisa pergi dengan hati yang tenang. Aleesa mengijinkannya untuk pergi selama dua sampai tiga hari ke depan.


"Pulanglah dengan selamat. Aku menanti kamu pulang cepat."


Kalimat biasa, tapi bagi Restu itu adalah kalimat yang begitu manis yang wanitanya katakan. Itu menandakan bahwa Aleesa memang tidak ingin ditinggalkan olehnya. Dia juga menanti dirinya. Senyum melengkung di bibir Restu ketika dia baru masuk ke dalam mobil.


"Aku janji aku akan pulang dengan selamat, tapi aku tidak janji akan pulang dengan cepat," gumamnya seraya menatap wajah cantik Aleesa yang menjadi wallpaper di ponsel miliknya.


__ADS_1


"I Will Miss you, Lovely."


Baru saja bergumam, ponsel Restu berdenting dan bibirnya melengkung ketika siapa yang mengirimnya pesan.


❤️


Jangan buat aku rindu terlalu lama karena kata Dilan rindu itu berat.


Restu pun tertawa membacanya. Terkadang kekasihnya ini sulit ditebak. Namun, itulah yang dia suka.


Restu tidak membalas pesan dari Aleesa. Melainkan menghubunginya.


"Jangan buat aku berat meninggalkan kamu, Lovely." Aleesa malah tertawa.


"Aku tugas dulu, ya. Jangan merindukan aku, biarkan aku saja yang merindukan kamu."


"I Will Miss you so much, my brandal." Restu terbahak mendengar panggilannya dari Aleesa.


"Miss you more, my lovely. Aku akan tetap hidup untuk kamu."


Manis sekali dua insan ini. Namun, Restu harus segera pergi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan super. Jerman-Zurich hanya menempuh waktu sebentat. Maka dari itu dia mengendarai mobil bagai setan. Dia ingin segera melihat jasad Philip dan dia juga ingin melihat secara langsung kondisi madam Zenith.


Kefokusan Restu sedikit terganggu ketika ucapan dari ayah angkatnya mulai hadir di kepala. Namun, dia belum bisa mencerna apa arti sesungguhnya dari perkataan Rindra.


"Musuh madammu adalah orang yang sama dengan musuh yang tengah mengincarmu."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen atuh ...


__ADS_2