
Aleesa hanya tertawa setiap kali Restu menagncamnya. Beberapa hari bersama Restu dia tahu bagaimana watak Restu sesungguhnya.
"Kamu lucu deh kalau cemburu." Aleesa menatap Restu dengan begitu dalam. Namun, Restu menangkapnya bahwa sang kekasih tengah menutupi kesedihannya.
"Kamu sedih?" Tatapan Aleesa kini berubah. "Apa kamu takut bertemu dengan dia? Karena merasa telah mengkhianati dia." Mata Aleesa mulai berkaca-kaca mendengarnya. Restu pun memeluk tubuh kekasihnya.
"Hubungan kita memang salah, tapi dia juga salah sudah bertunangan dengan wanita lain ketika masih berstatus kekasih kamu." Restu berkata dengan sangat lembut. Dia tahu Aleesa tidak mau pulang tanpa didampingi dirinya. Itu terbukti sedari tadi Aleesa masih melingkarkan tangannya di perut Restu.
"Kamu takut diserang?" Aleesa semakin mengeratkan pelukannya menandakan dia masih trauma dengan perkataan kakak dari Yansen pada waktu itu yang menyebut dirinya wanita tidak benar.
"Walaupun aku jauh, aku akan melindungi kamu." Air mata kini meleleh membasahi wajah Aleesa. Tangan Restu terus mengusap lembut rambut bagian belakang Aleesa. Mencoba menenangkan kekasihnya.
"Kamu percaya sama aku 'kan?" Perlahan Restu memundurkan tubuh Aleesa dan wajah Aleesa sudah basah.
"Aku ingin kamu ikut pulang." Restu tersenyum dan menggeleng.
"Aku masih ada tugas di sini, Lovely." Wajah Aleesa semakin sendu. Restu menangkup wajah Aleesa dan menatapnya dengan sangat dalam..
"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu walaupun kita terhalang oleh jarak. Percayalah, aku akan selalu ada di samping kamu. Terutama di hati kamu." Tangan Restu meraih kalung yang melingkar di leher Aleesa. Di mana di sana ada dua cincin yang bisa menyatu yang menjadi liontin.
"Berjanjilah kepadaku, Bie," ucap Aleesa.
"Apa?"
"Kamu akan selalu jawab panggilan telepon aku karena ketika aku menghubungi kamu, aku sedang tidak baik-baik saja."
__ADS_1
"Iya, Lovely. Aku janji."
Dua jam hanya dihabiskan dengan memeluk satu sama lain. Terkadang memulai kecupan kecil nan lembut seakan mereka berdua akan berpisah sangat lama.
Pelukan mereka terurai ketika ponsel Restu berdering dan Rindra lah yang menghubunginya.
"Kami ada di bawah. Kalian turun."
Restu mengajak Aleesa untuk turun dan mengatakan jika keluarganya sudah ada di bawah. Restu hendak menggenggam tangan Aleesa, tapi dihindari oleh kekasihnya. Sontak Restu menatap tajam ke arah Aleesa. Hanya gelengan kepala yang Aleesa berikan.
"Apa kamu yakin kedua orang tua kamu tidak mengetahui hubungan kita yang sesungguhnya?" Aleesa pun terdiam. Restu menggunakan kesempatan itu untuk menggenggam tangan Aleesa dengan begitu erat dan menariknya menuju tempat di mana keluarga Aleesa berada.
"Bie--"
Rengekan Aleesa tak Restu dengar. Dia masih menggenggam erat tangan Aleesa. Melihat tangan dua insan manusia itu yang bertaut, lima orang yang ada di sana menatap tajam ke arah Restu dan Aleesa.
Radit dan Echa pun menatap ke arah Restu yang terlihat sangat gagah dengan baju dinasnya.
"Ada apa?" Radit lah yang menjawab.
"Sejujurnya, aku mencintai anak Om an Tante." Mata Aleesa melebar mendengarnya. Begitu juga dengan Rio, Rindra dan Nesha yang sudah saling tatap.
"Aku ingin dia menjadi kekasihku." Radit sudah melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap Restu dengan serius.
"Aleesa sudah memiliki kekasih." Pancing Radit.
__ADS_1
"Baru kekasih 'kan Om," balas Restu. "Sebelum kata sah terucap dan buku nikah di tangan, masih bisa aku tikung, Om."
"Anjaii! Ilmu begal keluar," sahut Rio seraya meledek. Radit dan Echa pun tertawa. Sedangkan Rio sudah dipukul oleh sang ibu.
"Percaya diri sekali kamu." Radit masih memancing Restu.
"Harus, Om," jawab tegas Restu.
"Memangnya kamu punya apa berani mencintai putri kedua saya."
"Aku hanya punya cinta dan sayang, juga keseriusan." Restu mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan kotak kecil berwarna merah sudah ada di tangannya. Semua orang pun terkejut, termasuk Aleesa.
Kini, Restu berhadapan dengan Aleesa dan memperlihatkan isi di dalam kotak merah tersebut. Cincin mas putih yang sangat cantik.
"Aku sangat yakin kedua orang tua kamu sudah tahu perihal hubungan kita." Aleesa segera menatap ke arah Bubu dan Babanya dan hanya seulas senyum yang mereka berikan.
"Baba dan Bubu tahu jika kamu juga memiliki perasaan yang sama terhadap Restu. Jika, kamu bahagia bersamanya lanjutkanlah. Baba dan Bubu merestui."
Aleesa tercengang dan matanya sudah berkaca-kaca. Sama halnya dengan Restu yang sangat bahagia.
"I love you so much, Aleesa Addhitama." Restu berkata seraya bersimpuh di depan Aleesa. Dia pun memasangkan sebuah cincin yang begitu manis berwarna putih dengan ukiran cantik.
"Tunggu aku datang ke Indonesia untuk melamar kamu." Aleesa tidak bisa berkata dan dia juga tidak bisa menahan ingin memeluk tubuh Restu. Aleesa berhambur memeluk tubuh Restu. Semua orang pun ikut merasa bahagia melihat Aleesa seperti ini.
"Saya tunggu kamu di rumah dan membawa putri saya menuju pelaminan."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen atuh ...