RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 109. Saling Menuduh


__ADS_3

Aksa maupun Aska yang kini memegang kendali atas Jordan Genea masih ingin bermain-main dengan pria itu. Mereka masih ingin melihat Jordan sekarat dan mendapat azab. Mereka geram dengan sikap Dajjal Jordan. Seorang ayah yang tidak memiliki hati nurani sama sekali. Malah senang menyakiti putranya sendiri.


"Jordan Genea meninggal."


Terkejut sudah pasti yang Aksa rasakan. Dia tidak menyuruh anak buahnya untuk membunuh Jordan dengan cara cepat. Dia ingin melihat Jordan sekarat lebih lama. Aksa segera menghubungi Askara yang juga tengah terkejut dengan kabar yang baru saja dia terima.


"Lu apa-apaan!" pekik sang Abang.


"Lah? Gua kira itu perbuatan lu." Mereka berdua saling menuduh. Kini, dua saudara kembar itu saling diam. Mencoba berpikir dalam.


"Terus, ini perbuatan siapa?" Aska bertanya lagi. Bukannya menjawab, sang Abang malah mematikan sambungan telepon.


"Dih, bang ke emang!"


Kaira menatap ke arah Aska dengan tatapan menyelidik. Sedangkan Zenith Andrea dia masih tenggelam dalam rasa sedihnya. Perasaan Kaira sudah sangat tidak enak. Pikirannya tertuju pada sang ayah. Baginya, sang ayah adalah pria baik dan penyayang. Walaupun kepada Kiara Jordan bersikap membedakan. Apalagi mengetahui Kiara tuna wicara. Dia malah enggan memperlihatkan Kiara kepada semua orang. Malu, itulah yang Jordan rasakan. Image-nya akan berubah jika dia membawa Kiara.


Di kamar perawatan Restu, Aleesa dan Restu saling tatap karena melihat Aksa yang tak hentinya menghubungi orang lain. Begitu juga dengan Iyan yang menaruh curiga kepada sang Abang.


"Ya." Jawaban dari Rindra.


"Lu udah tahu kabar terbaru?"


"Udah," jawab Rindra. "Ini gua mau ngadain acara syukuran atas meninggalnya orang gila itu," sahut Rindra begitu santai. Aksa pun berdecak kesal. Parah sekali ayah angkat dari Restu ini.


"Lu yang bertindak?" tanya Aksa lagi.


"Sembarangan lu kalau ngomong," balas Rindra tak mau disalahkan. "Gua kira lu yang lakuin."


Mereka pun berpikir cukup keras. Tidak ada yang membunuh Jordan di antara mereka bertiga. Restu, tidak mungkin melakukannya. Ponselnya pun tidak ada di tangannya.


.


Pov Jordan Genea.


"Tuhan, jangan siksa aku seperti ini." Aku berkata di dalam hati dengan napas yang tersengal. Ternyata sangat sakit sekali menghadapi siksaan ini.


Tiba-tiba bayang wajah putraku muncul di kepala. Wajah Rajendra yang berteriak meminta ampun dan kesakitan. Putraku yang sudah tersungkur masih aku pukul dengan tongkat kayu yang aku miliki. Tubuhnya yang semakin lemah tak membuatku menghentikan pukulan kepadanya. Aku semakin membabi-buta. Melihat Rajendra bagai ikan kepanasan di darat malah membuatku tertawa.


"Kenapa aku begitu kejam?" Tak terasa air mata mengalir di ujung mata ini..


Semakin bayang wajah Rajendra hadir, orang berbaju hitam dengan postur sangat tinggi semakin menyiksaku seperti aku menyiksa Rajendra. Aku berteriak, tapi suaraku tidak bisa keluar. Dendam Rajendra seperti tengah dibalas oleh orang berjubah hitam itu.


"Sa-kit!" Aku sudah menjerit sekuat tenaga, tapi hanya mulutku yang bergerak tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

__ADS_1


"Rajendra, maafkan Papih."


"Sudah terlambat, Ayah." Aku terkejut ketika mendengar suara seorang perempuan. Aku mencoba melihat ke arah samping di mana asal suara itu berada. Walaupun susah, aku tetap mencoba berusaha untuk menggerakkan kepalaku.


Seorang perempuan seusia Rajendra tersenyum ke arahku. Wajahnya pucat, darah mengalir di pelipisnya, dan mulutnya berbuih.


"Ki-ara."


"Ayah senang 'kan Kia sekarang udah mati. Ini juga salah satu rencana Ayah sama Kak Kaira 'kan." Kiara berbicara dengan air mata yang berwarna merah.


"Kenapa kalian tega? Pantas saja Restu ingin membunuh Ayah. Ayah sangat kejam dan tidak pantas dipanggil ayah."


Aku melihat wajah Kiara sudah berubah. Wajahnya berubah merah, dadanya sudah turun-naik seperti orang yang tengah memendam marah tahunan. Dia pun melangkah ke arah ku dan senyum yang begitu menyeramkan terukir di wajahnya. Orang berjubah hitam malah menyingkir dan membiarkan putriku mendekat ke arahku.


"To-long A-yah."


Kiara malah tertawa menyeramkan. Dia menelisik setiap inchi wajahku. Hingga dia tersenyum begitu manis.


"Kamu mau bantu Ayah?" Kiara pun mengangguk. Aku bisa bernapas lega. Namun, ternyata Kiara malah mencekik ku.


"Kia akan bantu Ayah menghadap Tuhan."


#Off.


.


"Edan lu!" pekik Aksa. Rindra malah tertawa.


"Udah, gua mau nyiapin acara syukuran entar malam. Gua minta doa anak yatim supaya tuh orang dimasukin ke api neraka dengan jalur ninja ekspress." Aksa malah terbahak.


Aleesa dan Restu menatap penuh tanya ke arah sang paman ketika Aksa sudah measukkan ponselnya.


"Bapaknya Restu mati." Aleesa terkejut, tapi beda dengan Restu yang tersenyum tipis.


"Alhamdulillah." Sontak Aleesa memukul pundak sang kekasih.


"Gak boleh gitu!" Aleesa mencoba menasihati. "Bagaimanapun dia itu Ayah kamu."


"Bapak aku udah mati dan masuk neraka." Aleesa pun tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Terlihat Restu sudah malas membahas hal seperti itu lagi. Dia memilih memainkan punggung tangan Aleesa.


Beda halnya dengan Kaira yang menangis dan menjerit ketika mendengar kenyataan bahwa ayahnya telah meninggal. Dia terus menyalahkan Restu.


"Ini gara-gara Restu." Itulah yang Kaira katakan. Madam Zenith tidak terima dan dia segera menimpali ucapan Kaira.

__ADS_1


"Ayahmu pantas mendapatkan itu!" Suara madam Zenith meninggi. Aska hanya menjadi penonton untuk hal ini.


"Anak istri tua dan ibu tiri akur. Sama-sama kejam lagi," cibir Aska. Itu membuat Kaira dan madam Zenith menatap tajam ke arahnya.


"Kenapa? Gak terima?" Aska malah lebih songong. Dia mendekat ke arah Kaira dan juga madam Zenith. Dia tersenyum penuh misteri kepada dua perempuan itu.


"Siapa lagi yang akan menyusul Jordan Genea?" Tatapannya amatlah menyeramkan.


.


Restu tidak merasa sedih sama sekali atas meninggalnya sang ayah. Aleesa yang ingin berbicara lagi pun dilarang oleh Aksara. Diamnya Restu karena rasa sakit yang tak bisa dia ungkapkan dengan apapun, dan kini rasa itu sudah terbayar. Luka dan rasa sakit yang ayahnya berikan tidak akan pernah hilang seumur hidupnya.


Ponsel Aksa berdering, dari pihak kepolisian lagi. Aksa pun segera menjawabnya.


"Bagaimana dengan pemakamannya?" Aksa menghela napas kasar.


"Saya rundingkan dulu." Tidak biasanya Aksa berkata seperti itu. Jawaban Aksa tersebut membuat Iyan menoleh ke arah sang kakak ipar.


"Kenapa?" Lagi-lagi Aksa menarik napas panjang.


"Itu pemakaman bapak lu gimana?" Restu yang tangah asyik memainkan tangan Aleesa hanya menggedikkan bahu.


"Om aja yang urusin."


"KAGAK MAU!" tolak Aksa dengan tegas. "Sodara lu aja gua yang ngurusin. Sekarang bapak lu kudu gua juga yang ngurusin. Lu kira gua tukang gali kubur." Iyan malah tertawa.


"Sabar, Bang. Sabar." Iyan sudah mengusap lembut pundak sang kakak ipar. "Perbanyak amal, Bang."


"Udah kebanyakan amal gua!" Jawaban itu membuat Restu, Aleesa dan Iyan tertawa. Aksa pun menghubungi seseorang. Tentu saja ayah angkat dari Restu.


"Lu tanggung biaya pemakaman si Jordan." Aksa tak mau basa-basi.


"OGAHH!!"


"Lah terus itu mayatnya mau digimanain?" Aksa sudah kesal.


"Buang aja ke hutan atau ke jurang. Pengen tahu gua para binatang buas masih mau makan dagingnya kagak."


"Bapak sama anak emang kejam lu pada. Klop banget, KLOP!" Aksa sudah dibuat emosi.


"Baba yang akan tanggung jawab atas pemakaman ayahnya Kak Restu." Semua orang pun terkejut.


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2