RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
210. Bertindak Dalam Diam


__ADS_3

"Tidak sudi!"


Suara seseorang jelas terdengar. Semua orang menoleh dan ternyata Aksara yang baru saja datang. Pria yang memiiki wajah sangat tegas itu berjalan menuju sang kakak ipar.


"Anda ingin menjodohkan Kalfa dengan keponakan saya karena Anda ingin menguasai perusahaan dari cucu keempat Addhitama 'kan." Aksa sudah menatap tajam ke arah Satria.


"Anda memang tengah mengincar perusahaan yang Opa Addhitama berikan kepada Aleeya 'kan." Senyum kecil Aksa membuat Satria terdiam.


Radit tercengang mendengarnya. Begitu juga dengan Echa, kedua putrinya dan juga Khairan. Tubuh mereka menegang. Kini, Radit menoleh ke arah Aksara.


"Dari awal gua udah mengendus niat terselubung dari paman gak ada akhlak lu itu." Aksa tak segan menunjuk ke arah Satria. Sopan santunnya sudah tidak ada jika berhadapan dengan orang seperti Satria.


"Selain dia iri, dia juga ingin menguasai perusahaan yang Opa Addhhitama berikan untuk Aleeya karna usaha itu yang diincar oleh paman lu yang minus akhlak. Sedangkan Opa Addhitama tidak memberikan apa yang dia inginkan. Makanya, dia bersikukuh ingin Kalfa sama Aleeya. Kalau sama Aleena dia gak akan bisa berkutik. Perusahaan yang diberikan untuk Aleena sudah memblokir nama Satria karena kasus yang tak dipublikasikan oleh Opa. Bukan hanya orang lain yang tak tahu, anak-anaknya pun tak tahu."


Radit terkejut dengan apa yang dijelaskan oleh Aksara. Dia menatap ke arah Satria sekarang. Terlihat jelas dia seperti orang yang ketakutan.


"Kalau gua gak buka buku catatan almarhum kakek, gua juga gak akan pernah tahu."


Almarhum Genta Wiguna dan mendiang Addhitama memang bersahabat baik. Mereka berdua selalu saling terbuka dalam hal apapun. Apalagi dalam bisnis, mereka biasa sharing dan bertukar pikiran.


"Apa benar, Om?" Radit sudah menatap serius ke arah sang paman. Lagi-lagi Satria terdiam.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Radit. Dia menggelengkan kepala tak percaya dengan tujuan Satria sesungguhnya.


"Kalau Om mau perusahaan yang Papih berikan kepada Aleeya, kenapa gak bilang dari awal?" Radit bertanya sembari menahan emosi. "Jangan melakukan hal seperti ini," lanjutnya lagi yang kini menunjukkan mimik marah.


"Radit bukan orang yang serakah. Kalau Om meminta dengan baik akan Radit berikan karena Radit tidak mengajarkan anak-anak Radit untuk menjadi anak yang haus akan harta." Penjelasan yang penuh sindiran.


Di lantai dua, Echa sudah menatap Aleeya. Bukan hanya Echa, Aleena dan Khairan pun menatapnya juga. Aleeya mulai menundukkan kepalanya.


"Kamu dengar itu, Ya?" Suara Echa terdengar sangat tegas. "Bubu harap, ketika kamu mendengar kenyataan yang ada kamu bisa interospkesi diri."


Echa memilih pergi. Begitu juga dengan Aleena. Hanya ada Khairan dan Aleeya sekarang di sana.


"Mau sampai kapan lu jadi manusia dablek bin bodoh?" tekan Khairan. "Gua aja yang orang baru di sini udah bisa menilai bagaimana tuh mantan Aleena dan bapaknya. Masa lu gak bisa lihat sih? Lu gak buta 'kan?" Khairan mendekat ke arah Aleeya. Dia mendekatkan wajahnya di telinga Aleeya.

__ADS_1


"Apa perlu diruqyah biar sadar?" Khairan pun meninggalkan Aleeya, dan sebelumnya dia menepuk pundak adik dari Aleena tersebut.


"Sadar, Neng."


.


"Tugas kita udah selesai. Kita kembali ke Jakarta." Restu berkata setelah dia menuntaskan hasratnya kepada sang istri.


"Aku ikut aja." Suara Aleesa begitu lemah dan tangannya sudah melingkar di perut Restu. Aleesa jadi anak yang sangat penurut jika sudah bersama Restu.


"Kamu istirahat, ya." Aleesa mengangguk dan semakin erat memeluk tubuh Restu.


Selama tiga hari di Zurich dia tidak keluar rumah sama sekali. Hanya berdiam diri di kamar karena Restu selalu membuat Aleesa tak berdaya setiap malam. Ketika pagi datang tubuhnya akan sangat lemah tak berdaya.


Setelah Aleesa terlelap, dia menemui Gemke dan juga Rio yang sudah ada di ruang keluarga.


"Udahan men the sahnya?" Rio mulai mencibir Restu.


"Udahanlah. Kasihan istri gua."


Gemke menggelengkan kepala ketika mendengar jawaban dari Restu. Di balik sangarnya wajah Restu, ada hal bobrok yang baru Gemke ketahui sekarang.


Namun, tak lama kemudian Restu tersenyum tipis dan membuat Rio menukikkan kedua alisnya. Dia sangat yakin Restu mengetahui hal ini.


"Apa sih yang ada di kepala lu sekarang?" tanya Rio penasaran. Restu menatap ke arah Rio tanpa jawaban.


"Cara membalas dendam terbaik adalah bergerak dalam diam. Tahu-tahu duar!" Restu pun tertawa.


Rio mulai menatap ke arah Gemke dan rekan kerja Restu sebagai bodyguard itupun menggelengkan kepala. Rio pun menghembuskan napas kasar.


"Lu tinggal liat aja apa yang akan gua lakuin." Restu mulai menatap ke arah Rio dengan senyum penuh arti.


"Satu hal lagi, gua cuma kerja sendiri tanpa melibatkan siapapun."


.

__ADS_1


Sesuai dengan rencana Restu, mereka bertiga kembali ke Jakarta. Sebelum pergi, Restu mengajak Aleesa ke kantor pusat Zenth Corporation. Aleesa awalnya tidak mau, tapi Restu tetap memaksa karena setelah pertemuannya dengan salah satu kolega mereka akan langsung bertolak ke Jakarta.


"Bie, aku gak pede." Aleesa masih merengek ketika Restu sudah mengunci pintu rumah. Sedangkan Rio sudah menunggu di dalam mobil.


"Kenapa? Kamu cantik," sahut Restu sambil memasukkan kunci rumahnya ke dalam saku.


"Pasti di kantor para karyawan kamu banyak lebih cantik dan modis dari aku." Aleesa memang wanita yang jarang mengenakan riasan make up dan terbilang tomboy.


"Aku 'kan udah bilang, jangan pernah menundukkan kepala kamu kepada siapapun. Tegakkan kepala kamu terlepas siapa kamu dan di manapun kamu berada."


Kalimat yang sering Restu ucapkan karena dia tidak ingin sang istri merasa minder dan lebih rendah dari orang lain. Di dalam prinsip hidup Restu tidak ada yang namanya si kuat dan si lemah. Si kaya, si miskin. Bagi Restu semuanya sama.


"Woi, cepet!" Rio sudah bersungut. Kedua manusia itu sudah terlalu lama berada di depan pintu.


Di dalam mobil Restu terus menggenggam tangan Aleesa. Istrinya adalah orang yang tidak suka dipublikasikan. Tibanya di kantor, semua karyawan hormat kepada Restu. Mereka menatap ke arah perempuan yang tengah digenggam tangannya oleh sang CEO.


Di luar negeri beda dengan di negara asal Aleesa. Di sana mereka semua tidak pernah mengurusi hidup orang lain. Jadi, Aleesa bisa bernapas lega.


.


Satria sudah tertawa puas ketika sudah dua hari ini Restu tidak merespon apapun. Dia pun tengah tertawa bahagia mengejek Rindra. Papih dari Restu sudah ingin menghajar Satria, tapi dia mendapat intruksi dari Restu agar tidak meladeni Satria.


"Kenapa kalian tidak membela diri? Apa kalian malu karena pada nyatanya anak angkat kamu hanya menyebarkan berita hoax." Seringai menyebalkan terukir di wajah Satria.


"Ingat, negara kita negara hukum. Saya sudah memprosesnya dan kita tunggu berapa lama anak kamu itu akan mendekam di penjara atas perbuatannya yang menyebarkan berita palsu."


Rindra hanya bisa menahan emosi dengan membuang napas secara kasar. Dia juga terus menggumamkan kata sabar, sabar dan sabar.


"Pengacara terbaik pun sudah berada di kubu saya. Jadi, siapkan mental kamu dan keluarga kamu."


"Jika, Restu mendekam di balik jeruji. Om juga harus mendekam di jeruji besi atas kasus penggelapan uang perusahaan Papih yang ada di Surabaya. Kasus yang baru aku ketahui dan sudah Papih simpan dengan sangat rapat lebih dari sepuluh tahun." Wajah penuh ketegasan terpampang jelas.


"Ingat, aku bukan orang yang tidak tegaan. Ingat 'kan bagaimana aku melakukan hal kejam kepada Radit, adikku sendiri. Apalagi kepada Om. Aku akan lebih tega." Mata Rindra bagai elang yang ingin menerkam mangsanya.


"Anak aku masuk penjara, berarti Om akan mati di penjara."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2