
Kediaman Raditya Addhitama tengah dilanda bahagia yang tak terkira. Senyum dan tawa terukir di bibir mereka semua. Mereka ikut berbahagia karena ada sepasang kekasih yang baru saja resmi menjadi sepasang suami-istri.
Beda halnya dengan penghuni pohon mangga. Mereka semua menunduk dalam ketika kata sah yang diucapkan para saksi terdengar. Mereka mendengar teriakan yang amat jelas.
"Tuhan Yesus!"
Mereka masih menunduk dalam sembari memejamkan mata. Mereka melihat ada yang terjun ke dasar lautan hingga menuju ke titik terbawah.
"Tak sanggup." Begitulah yang dikatakan oleh Jojo.
Teman Jojo yang lain hanya terdiam. Mulut mereka tertutup dengan begitu rapat. Namun, mata Om Uwo tertuju pada Aleesa yang dikelilingi keluarganya yang telah tiada.
"Kenapa bisa berbarengan seperti ini?"
Kalimat yang keluar dari mulut Om Uwo membuat teman-teman Iyan dan Aleesa yang tak kasat mata ikut menatap ke arah pandangan Om Uwo..
"Engkong," ujar Jojo.
"Pipo dan Mimo," tambah Om Poci.
"Kakek Genta dan Opa." Anteu Pocita pun menyebutkan yang lain.
"Mereka datang sekaligus untuk menghibur dan memang ingin menyaksikan cucu dan cicit pertama mereka menikah." Suara perempuan membuat mereka menoleh. Ternyata ibu sudah ada di sana.
"Bagaimana jika--"
"Aleesa sudah diberi firasat, tapi dia belum menyadarinya." Ibu pun menjelaskan.
"Bukankah ini akan menyakitkan?" Jojo sudah menatap sang ibu.
"Semuanya beriringan dan seimbang. Di balik suka pasti ada duka."
Mereka semua pun terdiam. Mereka tidak ingin melihat Aleesa menangis di hari bahagianya. Bukan hanya Aleesa yang sakit, pasti suaminya pun ikut sakit jika Aleesa menangisi mantan kekasihnya. Ini sangat tidak adil untuk mereka berdua.
.
Aleesa meremas tangan Restu yang tengah menggenggam tangannya ketika berbincang dengan keluarga besar. Restu menoleh dan wajah yang sudah berubah Aleesa tunjukkan.
"Bie--" Restu sedikit terkejut dan dia langsung tahu apa yang harus dia lakukan.
"Boleh gak kita istirahat dulu." Kalimat Restu membuat semua orang terdiam. Mereka menatap nakal ke arah menantu Radit tersebut.
"Bukan begitu ...."
__ADS_1
"Jangan macam-macam RESTU RANENDRA!" Khodam sang ibu sudah keluar. Restu pun berdecak.
"Aku dan Aleesa 'kan sama-sama gak tidur semalam. Boleh ya satu jam aja kami rebahan dan istirahat tanpa kebisingan." Restu mulai memohon. "Biarkan para juri potret makan dulu. Juga tamu undangan berbincang dengan kalian. Semua undangan 'kan kolega kalian."
Akhirnya, semua orang pun mengangguk setuju. Restu dan Aleesa menuju kamar pengantin dan mereka berdua terkejut dengan dekorasi yang sangat cantik.
"Kamu kenapa, Lovely?" Restu sudah membantu Aleesa duduk di sofa. Bukannya menjawab, Aleesa malah memeluk pinggang Restu dengan begitu erat.
"Ada yang sakit?" Kini, Restu Sudah mulai cemas. Namun, Aleesa menggeleng.
"Lovely--"
"Tiba-tiba dada aku sesak, Bie. Kayak ada beban berat yang menindih dada aku." Dahi Restu mengkerut. Dia menatap Aleesa dengan begitu dalam.
"Aku gak tahu kenapa dan ini bukan seperti aritmiaku yang kambuh." Aleesa berkata jujur dan Restu semakin memeluk erat tubuh Aleesa.
"Sekarang, kamu istirahat, ya. Aku akan temenin kamu di sini dan peluk kamu." Aleesa mendongakkan kepalanya. Dia menatap dalam wajah sang suami.
Restu tersenyum dan mendekatkan kepalanya ke wajah Aleesa. Mencium bibir Aleesa dengan begitu lembut. Aleesa pun membalasnya dengan tak kalah lembut. Mereka sudah sah. Mau melakukan apapun bebas.
"Love you my wife." Restu mengusap lembut bibir Aleesa yang basah.
"Love you more, my husband."
.
"Kakak kangen kamu, Sen." Grace mendekap hangat goody bag yang Yansen berikan. Setiap kali Yansen mengirimkan makanan, dia akan menyemprotkan parfum yang sering dirinya pakai ke goody bag tersebut agar sang kakak bisa merasa dekat dengannya.
"Maafin Kakak ya, Sen. Harusnya Kakak bersama kamu sekarang."
Penyesalan memang datang terlambat. Itulah yang tengah Grace rasakan. Andaikan dia tidak egois sudah pasti hidupnnya akan damai. Namun, hasutan orang lain dan keegoisannya membuatnya menyeburkan diri ke dasar sumur yang sangat dalam.
Grace membuka isi goody bag pemberian Yansen. Bibirnya melengkungkan senyum karena yang senang mengirimkan makanan kesukaannya juga satu buah album foto berukuran mini. Grace meraih album foto tersebut dia membukanya dan ternyata di dalamnya berisikan foto-foto mereka ketika mereka kecil.
Ada bahagia juga ada sedih di hati. Pada saat itu sang Ibu masih ada tetapi ketika Yansen berusia 7 tahun ibunya meninggal dunia. Pada saat itu dirinya benar-benar hancur. Grace tidak tahu harus pergi ke mana Grace tidak tahu harus mengadu kepada siapa sang ayah tidak tahu ada di mana. Begitu juga dengan keluarga sang ibu yang bisa Grace lakukan hanyalah menangis. Dia bingung harus bagaimana nantinya sedangkan adiknya masih kecil masih belum cukup mengerti akan artinya kepergian yang sesungguhnya.
Flashback On
Pov Grace.
Ketika ibuku pergi, aku bagai anak yang kehilangan arah. Tubuhku lemah, air mataku tak pernah surut. Aku takut, aku bingung dan aku tak tahu harus bagaimana. Aku selalu mengandalkan ibuku, dan sekarang ibuku sudah meninggalkan aku daa adikku hanya berdua di dunia ini. Bagaimana nasibku dan adikku?
"Tuhan, aku bingung harus berkata apa kepada Yansen?"
__ADS_1
Pikiranku benar-benar berkecamuk. Aku tak tahu harus bagaimana. Bagaimana aku harus menjelaskan. Aku hanya bisa terdiam dengan tubuh tegap dan menatap ibuku yang sudah tiada dngen wajah yang sudah dibanjiri air mata.
"Kenapa secepat ini?"
Aku menunduk dalam. Aku kebingungan, hingga sepasang tangan mengusap kedua pundakku dan aku menoleh. Tante Echa, dia memeluk tubuhku yang sudah seperti tak bertulang. Dia menenangkanku dan tangisku pun pecah pada saat itu.
"Jangan takut ya, Grace. Tante akan ada untuk kamu dan Yansen."
Aku masih ingat perkataan itu. Kalimat yang aku tidak percaya, tapi aku dengar dengan jelas. Bukan hanya bicara omong kosong semata, Tante Echa merealisasikan ucapannya. Beliau mengurus semua biaya rumah sakit ibuku dan juga pemakaman ibuku. Beliau bagai malaikat yang datang ke dalam kehidupanku. Namun, aku seperti iblis jahat yang berhasil membuat anaknya trauma.
Sekarang aku menyesal. Aku telah menyakiti orang yang sangat baik. Aku telah mengecewakan mereka. Namun, mereka tak pernah sekalipun membenci aku. Malah, Tante Echa sering mengirimkan makanan kepadaku. Aku menyesal sekarang. Aku sudah jahat kepada keluarganya.
Sekarang, aku hidup di dalam jeruji besi. Adikku terpaksa bekerja untuk biaya hidupnya. Dia menjadi tulang punggung sekarang.
"Maafkan Kakak, Sen."
#pov End.
Bukan hanya sebuah mini album yang ada di dalam goody bag. Ada sebuah amplop berwarna biru di sana . Grace meraihnya, lalu membukanya.
Dear. Kak Grace.
Maaf ya, Kak. Aku jarang nengok Kakak sekarang. Aku gak mau liat Kakak nangis kalau ketemu sama aku. Aku gak mau Kakak terus-terusan salahin diri Kakak. Semua ini adalah ujian untuk kita berdua. Kita harus hadapi sama-sama, Kak.
Kakak jangan beranggapan jika aku membenci Kakak. Aku sama sekali gak benci Kakak. Bagaimana bisa aku membenci orang yang sudah merawat aku ketika Mamih gak ada. Bagaimana bisa aku bisa menjauh dari Kakak. Kita adalah paket lengkap yang tak bisa terpisahkan.
Grace mengusap ujung matanya ketika membaca beberapa penggalan isi surat yang dituliskan Yansen. Dia terharu, dia sedih.
Sekarang, aku sudah besar. Aku sudah bisa cari uang sendiri. Aku juga sudah memiliki tabungan yang bisa Kakak gunakan nantinya. Aku gak akan pernah bisa balas jasa Kakak. Aku akan selalu sayang sama Kakak.
Hari ini, aku ke Samarinda, Kak. Hari ini juga pernikahan Sasa. Campur aduk Kak hati aku sekarang. Hehe ...
Tapi, aku bahagia kok. Akhirnya, My Sasa bisa menemukan pria yang lebih baik dari aku. Aku pernah bilang 'kan sama Kakak kalau cinta aku ke My Sasa akan aku bawa sampai mati. Di hari ini, aku akan membawa cinta itu Kak. Menguburnya ke dalam lautan luas bersama kenangan-kenangan yang pernah kami ukir. Setelah itu, aku akan damai dan terus dipeluk oleh Tuhan.
Aku pergi, Kak. Jangan menangisiku karena aku tak pantas ditangisi. Cukup doakan aku agar aku bisa selalu tersenyum dan bahagia di sana. Love You, Kak Grace ...
Hanya menyisakan coretan tinta di kala jiwa dan raga sudah tidak ada.
Adikmu, Yansen.
...***To Be Continue***....
Komen dong ...
__ADS_1