
Aleesa melihat jika Agha dan Ahlam sangat akrab dengan Syafa. Tidak biasanya Tom and Jerry keluarga Wiguna bisa akur seperti itu. Namun, dia melihat ada yang lain dari tatapan Syafa kepada Ahlam. Begitu juga dengan Ahlam.
"Apa hanya perasaan aku aja?"
.
Ketika malam tiba, tidak biasanya Aleesa ingin memeriksa kamar sang putra. Dia melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sedangkan suaminya belum pulang karena harus menyelesaikan pekerjaan.
Aleesa tidak pernah menyimpan curiga kepada sang suami karena dia memiliki prinsip, bangkai mau disembunyikan di manapun pasti akan terendus baunya. Dia juga tidak takut jika suaminya main belakang karena dia dan Restu sudah membuat sebuah perjanjian di atas materai.
Jika, pihak suami diketahui bermain belakang. Maka, semua harta yang dimiliki sang suami akan menjadi milik sang istri. Baik itu harta yang diketahui maupun berupa aset. Juga, nama Restu Ranendra akan dicoret dari daftar keluarga besar Addhitama.
Perjanjian yang membuat pengacara menggelengkan kepala. Perjanjian itu dibuat bukan atas permintaan dari Aleesa melainkan dari Restu sendiri.
Aleesa mulai membuka pintu kamar sang putra dengan sangat pelan. Tubuhnya seketika menegang ketika melihat sang putra tengah asyik bermain dengan raut yang begitu ceria di bawah cahaya temaram.
"Pi-po, bolla."
Air mata Aleesa sudah menganak. Tubuh Aleesa membeku.
"Ton, bolla."
Seperti mimpi untuk Aleesa di mana dia melihat kedua kakeknya tengah bermain dengan sang putra. Dia melihat jelas wajah tampan sang pipo dan engkongnya seperti ketika mereka masih hidup.
"Putra kamu akan selalu kami jaga." Sontak Aleesa menoleh ke asal suara. Kini, air matanya menetes karena senyum sang mimo menyambutnya.
"Abang Er adalah cicit pertama kami. Baik Mimo, Pipo dan Engkong akan selalu menjaga dia. Bermain bersama dia dan akan melindungi dia. Dia anak spesial. Bukan hanya kami yang akan menjaga Abang Er, tapi--"
Sang mimo menunjuk ke arah luar jendela kamar Abang Er. Para sahabat tak kasat mata Aleesa pun ternyata sedang tertawa melihat tingkah lucu putra pertamanya itu.
"Mereka juga akan menjaga putra kamu karena putra kamu adalah anak yang berbeda."
Aleesa sama sekali tak bisa menyahuti ucapan sang mimo. Hanya air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Tangan sang mimo mulai menyentuh perut Aleesa. Senyum begitu lebar melengkung di sana.
"Kelak, anak-anak inipun akan menjadi anak hebat."
__ADS_1
Seketika perut Aleesa mulai terasa sakit. Dia memegang perutnya yang memang sudah sangat besar. Ringisan mulai keluar
"Ya Tuhan, sakit sekali."
Aleesa mencoba untuk bersandar di dinding. Dia mengatur napasnya agar rasa sakitnya menghilang. Lima menit berselang, rasa sakitnya sedikit menghilang. Dia mulai berjalan menuju kamar. Mengambil ponselnya. Namun, rasa sakit itu kembali datang. Tangannya pun sampai tak bisa mencari kontak sang suami.
"Nak, jangan nakal dong." Suara Aleesa sedikit bergetar karena menahan sakit.
Baru saja hendak menghubungi Restu, suara deru mesin mobil terdengar. Aleesa mencoba untuk bangkit dan berjalan dengan rasa sakit yang sudah tidak tertahan.
"Iya, Nak. Itu Papi pulang."
Sesekali Aleesa menghentikan langkahnya karena rasa sakit yang tak terkira. Mencoba mengatur napasnya agar sakitnya sedikit reda. Namun, kali ini rasa sakit itu semakin tak terkira. Semakin menjalar hingga ringisan sedikit keras terdengar.
Restu yang baru membuka pintu segera berlari ketika mendengar suara istrinya. Dia terkejut ketika melihat Aleesa sudah menahan sakit.
"Mami!"
Aleesa masih sempat tersenyum, tapi wajah kesakitannya tak bisa dihilangkan.
"Pi--" Aleesa menunjuk ke arah bagian dalam kakinya yang sudah sedikit basah.
"Sabar ya, Nak. Papi ambil Abang Er dulu."
Restu mengusap lembut perut sang istri tercinta. Kemudian, berlari ke kamar Abang Er yang tenyata sedang tertidur. Dengan sangat berhati-hati Restu menggendong tubuh Abang Er dan membawanya ke dalam mobil. Sit car baby selalu terpasang di kursi penumpang mobilnya. Itu sengaja Restu lakukan supaya ketika keadaan urgent dia bisa langsung meletakkan Abang Er di sana.
Abang Er membuka matanya ketika sang ayah meletakkannya ke sit car yang biasa dia duduki. Dia tersenyum begitu manis.
"Kita ke rumah sakit, ya. Adeknya Abang udah mau keluar." Balita itu mengangguk pelan, lalu menutup matanya kembali.
Tangan Restu tak pernah terlepas dari tangan Aleesa. Dia sangat tidak tega ketika melihat Aleesa meringis kesakitan hingga menggenggam erat tangan Restu.
"Sebentar lagi kita sampai, Mi."
Sambil mengemudi, Restu menghubungi orang tuanya agar segera menyusulnya ke rumah sakit. Sesekali dia melihat ke arah istrinya yang sudah berkeringat.
"Mamih dan Papih cepat ke sana, ya. Sebentar lagi aku sampai."
__ADS_1
Jika, tidak membawa Abang Er Restu tidak akan menghubungi ibu dan ayahnya. Mertuanya sedang berada di Swiss karena lamaran sang kakak ipar diadakan di sana. Mereka pergi karena perkiraan dokter masih lama. Ternyata, bayi yang ada di dalam kandungan Aleesa sudah tak sabar ingin melihat dunia.
Ketika tiba di rumah sakit, kedua orang tua Restu belum sampai hingga membuat Restu harus menggendong Abang Er sambil menemani sang istri. Untung saja sang putra tidak rewel.
Pembukaan yang belum sempurna membuat Restu menatap sedih ke arah istrinya. Di mana wajahnya sudah sangat pucat dan tangannya terus tak mau terlepas dari tangan Restu.
"Operasi aja, ya." Restu sudah tidak sanggup melihat istrinya seperti ini. Namun, Aleesa menggeleng.
"Tiga jam lagi," sahut lemah Aleesa.
Di luar ruang bersalin, sang putra masih tidur nyenyak di gendongan sang opa. Sedangkan Nesha sudah tak mau diam. Dia benar-benar cemas.
"Tenang, Mih." Rindra sudah membuka suaranya.
Aska dan Jingga pun sudah tiba di rumah sakit. Mereka masih menunggu Aleesa di depan ruang persalinan. Sudah satu jam, tapi belum ada tanda-tanda Aleesa sudah melahirkan.
Restu masih setia menemani sang istri yang sudah kesakitan luar biasa. Dia sungguh tidak tega. Namun, Aleesa sama sekali tidak pernah mengeluh. Setiap kali sakit itu datang, dia terus membuang napas dengan tangan yang menggenggam erat tangan suaminya.
"Mi," panggil Restu. Dia sudah menyeka keringat sang istri. Aleesa masih bisa tersenyum dan itu membuat Restu benar-benar tidak tega.
"Sempurna." Begitulah kata dokter.
Inilah momen di mana Restu harus menguatkan hati. Melihat pengorbanan istrinya yang benar-benar berjuang di antara hidup dan mati demi melahirkan buah cinta mereka. Tak sedikit pun Restu menolehkan pandangannya dari Aleesa. Dia akan selalu mengingat momen ini di memori otaknya agar dia selalu mencintai istrinya.
Suara tangis bayi terdengar. Kecemasan mulai menguar.
"De-de Atik, Aten, aban iyen."
Balita yang tengah digendong dengan mata terpejam malah mengigau.
"Bo-tah na-tal."
Mereka semua mengerutkan dahi dengan ocehan Abang Er. Tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh putra pertama Restu yang memang belum lancar berbicara.
"Yeay! Kawin!" Suara yang Aska dengar dari balik sambungan telepon.
"Ini lahiran, Serangga! Bukan kawinan!"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ....