
Nesha dan Echa menyunggingkan senyum yang begitu lebar ketika mengetahui jenis kelamin dari cucu mereka berdua. Mereka berpelukan bagai Teletubbies.
"Apapun jenis kelaminnya yang paling penting Aleesa dan anaknya selamat dan juga sehat. Itu sudah lebih dari cukup." Radit selalu berbicara dengan bijak.
"Maaf ya nyonya, bayi ini akan kami bawa ke ruang perawatan bayi untuk diperiksa selanjutnya."
Setelah dibawa ke ruang khusus bayi mereka menunggu Aleesa yang tengah menjalani serangkaian pengobatan di dalam. Restu tetap setia mendampingi Aleesa, dan dia merasa kasihan ketika Aleesa sedikit menjerit jika benang ditarik oleh dokter.
"Masih lama nggak, Dok?"
Pertanyaan itu-itu saja yang selalu Aleesa lontarkan. Dia sudah sangat kesakitan. Restu tidak bisa berkata apapun. Dia hanya bisa mengusap lembut rambut Aleesa dan tangannya tak pernah lepas dari tangan sang istri tercinta.
Setengah jam berlalu semuanya pun selesai. Aleeaa bisa bernafas lega, tapi kepalanya terasa berat dan bawaannya ingin memejamkan mata. Namun, dokter dan juga perawat tidak memperbolehkan Aleesa untuk meminjamkan mata karena itu bisa berakibat fatal nantinya.
Terus mengajak berbicara Aleesa hingga Aleeza pun akhirnya terjaga dia tidak ingin terjadi sesuatu apapun kepada istrinya.
"Setengah jam lagi Nyonya akan kita pindahkan ke ruang perawatan yang sebelumnya Nyonya tempati."
Restu dari tadi terus mengucapkan terima kasih Tanti. Dia merasa sangat bahagia yang tidak bisa diungkapkan dengan kata ketika mendengar tangisan anaknya untuk pertama kalinya. Restu yang begitu tangguh bisa menangis hanya karena mengadzami sang buah hati. Dia terisak dan hampir tidak bisa berkata.
"Makasih ya lovely sudah mau berjuang melahirkan anak kita sudah mau bersusah payah menjaga anak kita selama 9 bulan di dalam kandungan terima kasih."
Suara Restu sangat bergetar Aleesa pun ikut melow.
"Tidak perlu berterima kasih bi. Kodratku sebagai perempuan yaitu melahirkan. Aku hanya ingin kita bahagia bersama anak kita nantinya dan selamanya."
Mereka hanya saling pandang dengan senyuman terus merekah. Sudah habis kata untuk mengungkapkan segala perasaan mereka berdua.
"Aku janji aku akan terus berada di samping kamu menjaga kamu dan juga menjaga anak kita."
.
kabar perihal melahirkannya istri dari seorang Resty renendra sudah terdengar hingga ke telinga aki-aki tua. Dia memiliki rencana buruk terhadap anak dari Aleesa dan juga Restu. Dia dendam karena putranya kini tidak ada bersamanya putranya memilih untuk pergi meninggalkannya sendirian di dalam jeruji besi yang dingin.
"Kalian tidak boleh bahagia dan bersenang-senang di atas penderitaanku."
Hati yang busuk tidak akan pernah berubah menjadi buah segar. Kebusukan yang semakin menjadi tatkala ada orang yang mengusik dirinya.
"Bawa kabur anak itu."
Kalimat sederhana tapi mampu dilaksanakan oleh orang yang bekerja di rumah sakit di mana Aleesa melahirkan. Seorang perawat laki-laki pun menuruti Apa kata dari Satria.
Dia masuk ke ruang perawatan bayi. Tidak ada yang mencurigai karena dia bekerja di sana. Dia juga biasa mengurus bayi-bayi yang ada di sana untuk dibersihkan dan dimandikan. Semua bayi akan terdiam jika berada di tangannya dan ini akan memudahkan dia untuk mengambil salah satu bayi yang berada di ruang perawatan bayi tersebut. Apalagi imbalannya cukup menggiurkan.
Dia tersenyum ketika di tangan si bayi tertera nama Aleesa Addhitama dan juga Restu Ranendra Itulah target yang sesungguhnya.
Tanpa rasa takut dan dengan cekatan dia meraih tubuh bayi tersebut. Bayi yang masih merah dan tengah terpejam dengan begitu lelap. Dia tersenyum ketika sudah bisa menggendong bayi tersebut. Namun, tiba-tiba bayi itu membuka mata dan yang mengejutkan bola matanya berwarna merah mengeluarkan darah. Seringai muncul di wajahnya dan keluar taring dari sana.
Sungguh membuat si penculik itu terkejut bukan main. Hampir saja dia melempar anak itu. Dia pun akhirnya meletakkan kembali anak itu dan meninggalkannya dengan rasa takut yang tak terkira.
"Itu mah bukan anak manusia."
.
Aleesa sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Dia mulai beristirahat efek dari tindakan tadi. Restu tak pernah beranjak dari sana.
Kedua orang tua Aleesa maupun Restu tersenyum bahagia ketika melihat Restu yang benar-benar menjaga dan menjadi ayah yang selalu siaga.
"Makan dulu, Res."
Sang ibu sudah memberikan makanan sehat yang selalu Restu inginkan. Dia mengambilnya, tapi belum dia makan.
"Makan dulu. Jangan sampai kamu sakit. Aleesa biarkan kami yang menjaganya." Echa sudah berkata dan akhirnya Restu mau beranjak dari sana juga.
Namun, baru saja Restu pergi beberapa langkah, Aleesa terdengar berteriak.
"Jangan sentuh anakku!"
Semua mata tertuju pada Aleesa yang terpejam. Restu berlari menuju ke arah sang istri. Radit dan Rindra saling pandang hingga mereka berlari keluar ruangan Aleesa.
"Dit--"
"Kalau Aleesa seperti itu takutnya terjadi apa-apa sama anaknya."
Rindra mengikuti langkah lebar Radit. Ayah dari Aleesa semakin mempercepat jalannya hingga matanya memicing ketika melihat seorang pria keluar dari ruang perawatan bayi.
"Bang, ikuti pria itu." Radit menunjuk ke arah pria yang masih belum jauh. Rindra pun mengerti. Sedangkan Radit menghubungi pihak penjaga ruangan bayi untuk melihat ke dalam, dia ingin memastikan keadaan cucunya.
Rindra mengikuti dari belakang dengan mengendap-endap. Langkahnya terhenti dan dia bersembunyi ketika pria mencurigakan itu menghentikan langkahnya. Dahi Rindra mengkerut ketika dia mendengar ucapan dari pria itu.
"Dia bukan anak manusia, Pak. Masa matanya mengeluarkan darah."
__ADS_1
Rindra belum mengerti dengan apa yang dikatakan oleh pria itu. Namun, dia masih menguping hingga pria itu menyebut nama nama sang putra dan juga menantu. Dada Rindra sudah bergemuruh hebat. Sia mulai mencari tahu tentang pria itu. Sepuluh menit berselang Rindra mendapat kabar jika pamannya lah yang menyuruhnya untuk menghabisi cucunya.
"Tidak akan gua biarkan lu hidup dengan tenang, tua bangka."
Rindra benar-benar geram. Tanpa berkompromi dengan siapapun dia memutuskan untuk memindahkan Aleesa dari rumah sakit itu. Dia sudah mencari rumah sakit yang bisa .elindunbi menangu juga cucunya.
Ketika Rindra dan Radit kembali ke ruang perawatan, Aleesa sedang menangis dipelukan sang suami.
"Gimana, Ba?" tanya Aleesa dengan mata yang sembab.
"Kita pindah rumah sakit." Rindra lah yang menjawab. Sontak semua orang terkejut mendengar jawaban dari Rindra..
"Kenapa, Pih?" Hanya Restu yang mengerti akan hal ini. Dia menatap tajam ke arah sang ayah.
"Satria mencoba untuk mencelakai anak kamu."
Tanpa ada debat mereka pun langsung pergi dari rumah sakit itu dengan pengawalan ketat. Restu pun sudah meminta pengawalan yang ketat untuk di rumah sakit tersebut.
Restu mengusap lembut rambut Aleesa. Dia tidak ingin istrinya kepikiran. Padahal, Aleesa tengah menimbang apakah dia akan menerima penawaran Om Uwo perihal penjaga untuk anaknya.
"Om tidak akan menjahili anak kamu. Om akan menjaga dia."
Sedari anak Aleesa lahir, Om Uwo sudah bertekad untuk menjaga anak itu. Dia banyak berhutang Budi pada keluarga Aleesa.
Anggukan kecil dari Aleesa membuat Om Uwo tersenyum. Dialah yang akan menjadi penjaga untuk anak Aleesa dan Restu.
.
Aksa dan Aska bingung ketika resepsionis mengatakan bahwa Aleesa sudah pindah rumah sakit. Ditanya ke manapun pihak rumah sakit tak menjawab.
"Kayaknya ada yang gak beres."
Aksa sudah bisa menebak. Tidak mungkin mereka pindah rumah sakit tanpa alasan yang jelas. Dia segera menghubungi orang kepercayaannya dan benar dugaannya.
"Kenapa?" tanya Aska. Istri dari Aska dan juga Aksa pun menatap penuh tanya.
"Si tua Bangka berulah lagi."
Aska mendengkus kesal. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria tua itu.
"Enaknya kita apain?"
"Masukin ke api neraka."
Tibanya di rumah sakit, Aksa dan Aska saling pandang. Sangat ketat sekali penjagaan di sana.
"Ini sih kerjaan di Restu." Aska bisa menebak dan Aksa mengangguk.
"Kalau nyangkut anak pastinya gak akan pernah main-main." Aksa menimpali ucapan sang adik.
"Bener banget."
Di lantai teratas Aleesa berada. Mereka pun diantar staff rumah sakit khusus karena sudah banyak media yang tahu perihal Aleesa yang sudah melahirkan. Restu ingin menjaga privasi istrinya. Dia tidak ingi orang lain mengganggu anak dan istrinya.
Senyum pun mengembang di wajah Riana dan Jingga ketika memasuki ruang perawatan Aleesa. Sangat luas seperti kamar utama di rumah besar Wiguna.
"Mana nih baby-nya?"
Riana sudah tidak sabar dan dia melihat ada boks bayi di samping ranjang pesakitan Aleesa. Dia dan Jingga menuju boks bayi dan mereka terkejut dengan wajah si kecil yang putih bersih.
"Cakep amat."
Riana sudah memainkan pipi merah si bayi yang berisi. Diganggu seperti apapun, anak bayi itu tidak terganggu. Dia terlelap dengan begitu nyenyak.
"Anak lu cewek apa cowok?" Aksa sudah bertanya kepada Restu yang sedari tadi berada di samping Aleesa.
"Keluarga besar Wiguna penasaran, terutama anak-anak gua." Aska menambahkan. Restu hanya tersenyum. Dia malah menatap ke arah sang istri.
"Liat gelang warna apa yang Sasa pakai."
Kedua paman dan Tante Aleesa melirik ke arah tangan Aleesa dan mereka tersenyum begitu lebar.
"Pasti Bang Rindra rasa kecewa nih," tebak Aska. "Anaknya cowok, eh dapat cucu cowok juga."
"Enggak juga," sahut Rindra. "Justru kalau cowok bisa gua latih kuat dan kejam."
"Udah gak bener ini mah."
Mereka semua malah tertawa. Banyak yang mereka bincangkan. Banyak canda tawa hingga membuat perut Aleesa sakit.
"Bie, aku mau ke kamar mandi."
__ADS_1
Disela obrolan mereka permintaan Aleesa membuat mereka menoleh ke arah sepasang orang tua baru.
"Bisa jalan gak?"
"Aku akan coba."
Restu melarang, tapi Aleesa ingin mencobanya. Dia tidak ingin manja.
"Harus belajar, Bie. Pelan-pelan."
Aleesa yang mencoba untuk turun, mereka yang melihat yang meringis kesakitan.
"Hati-hati, Sa."
Restu berasa di samping Aleesa. Itu yang membuat keluarga Aleesa merasa tenang.
.
Ketika malam tiba, anaknya malah terjaga dan membuat Aleesa dan juga Restu harus ikut terjaga juga.
"Masih satu hari loh, kenapa gak mau tidur?" Sang nenek sudah menggendong cucu tampannya.
"Jangan jadi kalong kaya papi kamu dong." Radit sedikit menyindir sang menantu. Restu mencebikkan bibirnya dan membuat Aleesa tertawa.
Restu akan tertawa ketika melihat sang putra minum susu. Anak itu sangat rakus hingga membuat Aleesa meringis kesakitan.
"Pelan-pelan, Nak. Kasihan Mami."
Restu sudah memainkan pipi merah sang putra. Aleesa merasa tidak sendiri ketika Restu selalu ada untuknya. Ketik anaknya terbangun, Restu akan ikut bangun dan menemani sang istri.
"Kamu tidur aja, Bie." Restu menggeleng.
"Kita bikin berdua, jadi apapun harus berdua." Aleesa malah tertawa. Kedua orang tua Aleesa sudah tertidur. Mereka berdua tidak ingin mengganggu.
Tiga hari di rumah sakit, akhirnya Aleesa pulang ke rumah. Echa yang menggendong cucunya. Itupun harus melalu acara suit-sujtan bagai anak kecil. Suit itu dimenangkan oleh Echa. Jadi, dia yang menggendong cucunya.
Baru juga membuka pintu, sambutan hangat dari para sepupunya riuh terdengar. Aleesa tersenyum bahagia. Walaupun dia saudaranya tak bisa pulang, masih ada sepupu-sepupu tampan dan cantik yang menyambutnya.
"Ya ampun, ganteng banget." Ghea gemas dan ingin mencubit pipi anak dari kakak sepupunya itu.
"Putihnya Kayak Apang, ya."
Kakak dan adik Apang kompak menyoraki Apang hingga membuat Restu junior kaget dan menangis.
"Kebiasaan!" Restu yang mengomel.
Aleesa tidak menyangka jika keenam sepupunya memberikan hadiah untuk Restu junior. Barang yang mereka berikan pun bukan barang murah.
"Gegayaan nih bocil merah. Udah pake baju merk gentong pan." Agha membuka suara.
"Lah, lu aja ngasih sepatu merk kremes."
"Itu mah dapat doorprize."
Riana dan Aksa menggelengkan kepala mendengar ucapan dari sang putra. Anaknya memang bukan anak yang suka pamer. Padahal Agha membeli itu dengan uangnya sendiri.
Barang-barang dari sepupunya untuk Restu junior paling murah merk HeM. Aleesa sangat bahagia karena sepupunya itu sangat peduli padanya. Apalagi sekarang mereka sedang memainkan bayi tampan itu bagai boneka.
"Kalau udah gede Adek kekepin boleh?"
"Dih, buat Aqis. Gak boleh buat Kak Ghea."
Dua anak perempuan itu malah bertengkar. Mereka berdua tahu jika Restu junior adalah salah satu bibit unggul ketika dewasa.
Aleesa dan Restu hanya tertawa mendengar ucapan sepupu-sepupu mereka. Apang sibuk memotret Restu junior, tapi Restu melarang untuk meng-uploadnya ke media sosial.
"Apang mah gak suka post foto kalo di sosmed. Ini mah buat ngusir kecoa di kamar Apang."
Sontak Restu merangkul leher Apang hingga dia berteriak sambil tertawa.
"Ampun, Ahjussi. Ampun."
Meminta ampun, tapi dia tertawa keras. Restu malah menjitak kepala Apang tak henti dan itu semakin membuat Apang tertawa puas.
Aleesa tertawa ketika melihat suaminya sudah semakin dekat dengan adik-adik sepupunya. Tengah asyik bercanda suara seseorang membuat mereka semua menoleh.
Pria tampan dengan menjinjing paper bag merk ternama menghampiri mereka semua. Wajah Ghea sudah berubah bercahaya bagai matahari yang terik
"Hai, Adek cantik." Rio menyapa Ghea yang sekarang tersenyum sangat manis.
"Jangan jadi pedofil!"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ..m