
Aleesa menggenggam si belalai itu. Si belalai bongsor begitulah sebutannya.
"Itu belum seberapa," jawab Restu. "Kamu elus kepalanya deh." Polosnya Aleesa dia mengikuti ucapan sang suami. Ternyata ukurannya semakin besar dan tegang. Uratnya lun terpampang nyata.
"Bie," panggil Aleesa bingung.
"Itu tandanya sudah tidak tahan." Restu sudah melepas genggaman tangan Aleesa pada belalai bongsor milikinya. Dia mengangkat tubuh Aleesa yang tengah duduk dan kini mereka sama-smaa berdiri.nl
Restu sudah meloemat bibir Aleesa dengan sangat ganas hingga Aleesa kewalahan untuk meladeni tingkah sang suami tercinta.
"Mmmh!"
Hanya itu yang bisa Aleesa keluarkan dari mulutnya. Sungguh dia tidak bisa berkutik. Apalagi tangan sang suami sudah menggerayangi area sen sitifnya. Sungguh Aleesa tak berdaya.
Usapan di pangkal pa ha membuat Aleesa mengerang, dan kini tangan Restu sudah menyentuh apa yang tak dipikirkan oleh Aleesa. Sungguh luar biasa nikmatnya. Jeritan kecil keluar dari mulut Aleesa apalagi mulut Restu tak mau diam. Almond yang berada di antara belahan kue apem mulai mengeras dan tubuhnya mulai aneh. Tiba-tiba Aleesa pipis dan menjerit memanggil suaminya.
"Bie!"
Teriakan itu membuat Restu tersenyum disela hasratnya yang menggebu. Tubuh Aleesa benar-benar lemas tak berdaya. Tulangnya seperti melunak.
Restu menahan tubuh sang istri dan perlahan menidurkan tubuh Aleesa kembali. Memberikan istrinya napas panjang terlebih dahulu sebelum melanjutkan. Melihat wajah istrinya kelelahan tanpa busana membuat Restu malah ingin menerkamnya.
"Lemas, Bie." Suaranya sudah melemah. Sebuah kecupan Restu berikan di kening.
Namun, Restu mengarahkan tangan Aleesa untuk membelai lembut si belalai miliknya yang sedikit melembek. Baru saja tersentuh telapak tangan Aleesa, urat-urat di belalainya sudah nampak dengan jelas. Ditambah rasa hangat semu panas Aleesa rasakan.
"Aku ingin merasakan yang namanya surga dunia," ucap Restu yang masih menatap Aleesa.
__ADS_1
"Aku ingin masuk ke goa yang kata orang akan membuat betah dan nyaman. Aku ingin pergi ke sana, Lovely."
Di keadaan lemahnya Aleesa tersenyum. Tangannya masih menggenggam si belalai tersebut dan sesekali dia mainkan.
"Lakukanlah, Bie!" Aleesa menjawab dengan lantang.
"Aku sudah sah menjadi milikmu. Tubuhku berhak kamu nikmati." Restu tersenyum mendengarnya. Dia mulai bermain di bibir juga pepaya muda yang sudah penuh dengan tanda. Tubuh Aleesa kembali memanas karena sentuhan lembut yang membuatnya terhanyut dan terbuai.
Kembali lembab, kembali menjambak rambut sang suami menandakan Aleesa sudah siap. Restu mengecup kening Aleesa sebelum belalainya mendobrak pintu goa.
"Ini akan sakit, Lovely."
Mata yang terpejam pun kini terbuka. Aleesa menatap sayu ke arah Restu yang sudah tak mampu menahan hasratnya.
"Aku akan tahan, Bie."
Si tamu yang memiliki belalai bongsor kini sudah ada di depan pintu goa. Perlahan dia maju, ternyata masih sangat rapat dan sulit untuk dimasuki. Si tamu sudah sangat siap dan kokoh. Tinggal si pengemudi yang harus lebih serius dan fokus agar bisa merobohkan tembok tebal tersebut.
"Lovely, tahan, ya."
Si tamu sudah mencoba untuk mendobrak, tapi masih belum mampu. Sedangkan sang istri sudah berteriak.
"Sakit?" Aleesa mengangguk.
"Ini belum masuk, Lovely.
"Kepala belalai kamu kayak payung pantai yang biasa dipake mamang telur gulung pinggir jalan, gede banget, Bie. Mana lancip ujungnya." Di saat seperti ini Aleesa masih menimpali dan Restu tertawa gemas dengan apa yang dikatakan oleh sang istri.
__ADS_1
"Aku coba lagi, ya." Restu tak mau menyerah.
Restu mulai fokus. Dia pun menghitung satu sampai tiga.
"Ti--"
"Aarrghh!!"
.
"Uhuk!"
Seseorang yang baru melewati kamar Aleesa dengan tangan membawa air minum terkejut mendengar teriakan yang membuatnya terbatuk. Teriakan penuh kesakitan yang mampu dia dengar, dan tanpa pikir panjang dia mengetuk pintu kamar Aleesa karena panik.
"Adik ipar, lu gak apa-apa 'kan di dalam."
Namun, tiba-tiba wajahnya merah dan tubuhnya menegang ketika mendengar suara setan.
"Ahh! Terus, Bie. Enak."
"Siyalan!"
...***To Be Continue***...
Suka gak nih? Lanjut jangan?
Gak komen keterlaluan! 😒
__ADS_1