
Restu tiba di rumah sakit di mana jenazah Philip masih berada di sana. Gemke sudah menyambutnya dan terlihat wajah kehilangan terukir di wajah garangnya.
"Kejadian itu--" Restu mengangkat tangan kanannya, menandakan bahwa dia tidak ingin mendengar apapun dari Gemke. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan.
Hanya dengan sebuah kode seperti itu Gemke dapat mengerti. Dia menganggukkan kepalanya dan membawa Restu menuju kamar jenazah.
Hati Restu sangat sakit ketika dia melihat jasad Philip yang sangat mengenaskan. Ingin dia menitikan air mata karena dia membayangkan jika ini terjadi padanya. Restu mengembuskan napas kasar. Dia memejamkan matanya sejenak dan mengusap lembut wajah Philip.
"Kamu adalah pahlawan hebat." Suara Restu bergetar. Gemke yang berada di belakang Restu menundukkan kepalanya. Dia pun merasa sakit ketika mendengar Restu mengatakan itu. Sangat perih hatinya.
Lima tahun bekerja sama sudah pasti sudah sangat dekat. Restu teringat ketika pertemuannya terakhir dengan Philip. Dia menegur Restu ketika dia membawa Aleesa ke rumah besar madam Zenith.
"Mau Anda tutupi semua wajah wanita Anda, saya tahu siapa wanitanya." Restu hanya menatap tajam Philip dengan tangan yang semakin menggenggam tangan Aleesa.
"Baru kali ini saya melihat seorang Mr. R ketakutan," kelakarnya. Restu tidak menjawab, tapi tatapannya sangatlah tajam dan tidak bersahabat.
"Tenang saja, Mr. Saya tidak akan mengambil wanita Anda karena saya hanya memiliki satu nyawa."
Itulah pertemuan Restu terakhir dengan Philip. Dia pun menyuruh pihak rumah sakit untuk memasukkan Philip ke peti mati yang sudah dia siapkan. Dia juga menemui keluarga Philip. Ayahnya tersenyum hangat kepada Restu.
"Akhirnya, anak itu bisa berbuat baik juga." Suara ayah dari Philip bergetar. Restu tersnyum dan mengulurkan tangan kepada pria paruh baya itu.
"Dia anak hebat," puji Restu dengan senyum yang begitu tulus. "Tidak selamanya anak nakal itu tidak bisa berbuat baik."
Pria paruh baya itu mengangguk dan seketika dia menunduk. Tubuhnya bergetar hebat menandakan pria itu menangis.
Philip dan Gemke adalah anak yang sama dengan Restu. Memiliki basic nakal dan senang berkelahi. Dibuang oleh keluarga karena dianggap anak brutal. Namun, bersama Restu mereka berdua bisa berubah. Kenakalan mereka ditempatkan pada tempat yang tepat. Hubungan dengan keluarga mereka
pun sedikit demi sedikit membaik.
"Saya bangga memiliki teman juga rekan kerja seperti Philip. Anak Anda sangat hebat dan luar biasa." Restu memeluk tubuh renta itu.
"Makasih sudah membuat putraku berubah." Restu mengangguk.
Philip pun segera dimakamkan, Restu dan Gemke ikut pergi mengantarkan ke pemakaman. Restu belum menanyakan perihal madam Zenith. Dia tahu apa yabg sebenarnya terjadi.
"Tenang di sana, Phil." Restu mengusap lembut nisan Philip.
"Kami akan merindukan kamu, Phil." Gemke ikut membuka suara. Restu menepuk pundak Gemke dan mengajaknya untuk pergi dari sana.
__ADS_1
Gemke pun melajukan mobil menuju tempat madam Zenith. Wanita itu sangat syok dengan apa yang terjadi. Sedari tadi dia tidak ingin bertemu dengan siapapun, termasuk Gemke.
Restu mengajak Gemke untuk masuk ke dalam rumah klasik di mana madam Zenith berada. Namun, Gemke menggelengkan kepala. Restu tetap memaksa hingga Gemke tidak bisa menolak.
Ketukan pintu pada kamar madam Zenith membuat wanita itu menoleh. Dia enggan membukakan hingga dia mendengar suara Restu dari luar.
"Mr. R." Madam Zenith beranjak dari sofa dan segera membukakan pintu untuk Restu. Tanpa Restu duga Madam Zenith berhambur memeluk tubuhnya.
"Saya takut."
Tubuh Restu menegang dan Gemke terkejut dengan apa yang dilakukan oleh bosnya itu.
Ada desiran aneh yang menjalar di hati Restu. Dia seperti dibawa kembali ke masa di mana dia berusia tiga tahun dan dipeluk erat oleh ibundanya. Rasanya sangat sama.
"Ini bukan salah Anda, Madam." Restu sudah membuka suara.
Restu tak membalas pelukan madam Zenith hingga wanita itu mulai memundurkan pelukannya. Dia menatap wajah Mr. R dengan seksama. Ada kemiripan dengan putranya, Rajendra.
"Philip sudah dimakamkan dan semuanya sudah selesai." Restu melaporkan kepada bos wanitanya tersebut.
"Bagaimana dengan keluarganya?" Madam Zenith masih takut jika keluarga Philip akan menuntutnya.
"Jika, saya tidak pindah ke mobil Gemke pasti saya pun akan bernasib sama dengan Philip." Restu hanya tersenyum. Dia juga tengah membayarkan jika dia bersikukuh pergi, sudah pasti dia yang meninggal.
"Semuanya sudah takdir." Restu mencoba untuk berkata bijak.
"Apa ini alasan wanitamu untuk melarang kamu untuk pergi?" Restu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh madam Zenith. Apalagi Gemke sudah menatap ke arah Restu. Restu pun mengangguk.
"Dia wanita yang berbeda," tukas Restu.
Zenith dan Gemke terkejut mendengarnya. Mereka berdua saling pandang.
"Apa kamu ke sini atas seijinnya?" Lagi-lagi Restu mengangguk.
Ada rasa tidak percaya di hati madam Zenith. Namun, ini benar-benar terjadi. Apalagi dia melihat sendiri bagaimana Aleesa melarang Restu pergi. Hingga perempuan itu menangis.
"Mungkin ini hanya kebetulan saja. Takdir Tuhan tidak ada yang tahu."
.
__ADS_1
Mimik wajah Restu tengah dilanda kemarahan luar biasa ketika mendapat info dalang dari kematian Philip.
"Orang ini mengincar Anda, Mister. Bukan Madam." Restu masih mendengarkan. Tangannya masih mencari tahu perihal pria ini. Ternyata itu adalah orang sewaan yang memang sengaja ditugaskan untuk membuatnya celaka.
"Jika, aku tahu siapa dalangnya, tidak akan aku beri hidup orang itu." Begitulah yang dikatakan oleh hati Restu.
Tak lama berselang, sebuah info dia dapatkan dan matanya melebar ketika melihat orang yang memakai baju tahanan berwarna orange seperti jeruk mandarin.
"Si alan! Bapak laknat!"
Gemke terkejut dengan umpatan Restu. Dia tidak mengerti bahasa yang diucapkan oleh Restu. Namun, dia melihat kemarahan yang luar biasa di wajah tampan ketua bodyguard itu.
"Gua akan bunuh lu dengan tangan gua sendiri." Tangan Restu mengepal dengan sangat erat dan penuh kemurkaan.
"Mr. R, are you okay?"
.
Aleesa masih menunggu kabar dari kekasihnya. Sedari tadi dia duduk di balkon menunggu Restu menghubunginya. Dia takut terjadi apa-apa dengan brandal kesayangannya itu. Apalagi dia bermimpi jika ada seorang pria yang tengah mengincar Restu.
"Apakah kamu baik-baik saja di sana?" Sekarang sudah hampir tengah malam, tapi Aleesa masih betah berada di balkon.
Ponselnya bergetar, Aleesa segera melihat ke arah ponsel. Namun, wajahnya berubah muram ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Sensen ❤️
Nama kontak yang belum Aleesa rubah. Dia ragu ingin menjawabnya atau tidak. Akan tetapi, dia merasa bersalah karena tidak pernah membalas pesan dari Yansen.
"Halo!" Akhirnya Aleesa menjawabnya.
"Sa, aku rindu kamu." Suara Yansen terdengar sangat bahagia, beda halnya dengan Aleesa yang hanya terdiam.
"Kenapa kamu tidak membalas pesanku? Dan kenapa telepon aku tidak pernah kamu jawab?" Yansen memberondong Aleesa dengan banyak pertanyaan. Belum juga menjawab, suara seseorang terdengar sangat nyaring.
"Sa, Restu telepon nih. Katanya ponsel kamu susah dihubungi makanya dia telepon Kak Iyo."
Tubuh Aleesa pun menegang, dan laki-laki yang berada di balik sambungan telepon itupun terdiam.
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen atuh ... Aku merindukan komenan kalian. 🥺