RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 141. Pertemuan


__ADS_3

Pertemuan dengan kedua teman Aleesa akan terjadi malam ini. Restu sudah siap dengan penampilannya dan tengah menunggu sang tunangan yang belum turun dari lantai dua. Sudah setengah jam Restu menunggu Aleesa di ruang keluarga sambil menonton film kartun.


"Ke kamarnya aja, Res." Calon mertuanya sudah menyuruh Restu untuk naik ke atas. Restu pun mengangguk. Sejujurnya dia sudah bosan menonton film kartun duo bocah botak.


"Kalau punya anak jangan kayak begitu deh." Restu mengusap perutnya sendiri.


Tibanya di kamar, Restu segera memeluk tubuh Aleesa dari belakang. Aleesa hanya tersenyum. Dia tidak merasa terganggu akan pelukan dari pria yang dia cintai. Pelukannya sangat erat dan hembusan napas Restu mulai membuat bulu kuduknya terbangun.


"Masih lama?" Restu sudah mulai meletakkan dagunya di bahu Aleesa.


"Sebentar lagi." Restu tak mau melepaskan pelukannya dari belakang. Sesekali dia mencium pipi Aleesa.


"Selesai." Restu membalikkan tubuh Aleesa. Dia menelisik penampilan sang tunangan dari atas sampai bawah. Aleesa menunjukkan senyumnya dan Restu mengecup singkat bibir Aleesa.


"Cantik." Aleesa pun tertawa dan merangkul lengan Restu dengan begitu erat.


Mereka pun menuju restoran mewah di mana itu adalah restoran pilihan Restu. Aleesa sempat protes, tapi tatapan tajam Restu membuatnya membungkam mulut.


"Bie, aku gak pernah ngasih tau siapa aku kepada dua teman aku itu." Aleesa baru berterus terang kepada Restu di tengah perjalanan mereka.


"Aku yakin mereka pasti terkejut."


.


Apa yang dikatakan Aleesa benar. Kemala dan Raina terkejut dengan tempat di mana mereka harus bertemu dengan Aleesa juga calon suaminya. Restoran yang benar-benar mahal untuk mereka berdua.


"Na, gua gak berani masuk. Harga makanannya di atas tiga ratus semua. Segitu diskon." Jiwa miskin mereka berteriak Kemala dan Raina hanyalah anak dari keluarga biasa-biasa saja. Melihat hal ini sudah pasti mereka gelagapan dan ketakutan.


"Gua takut si Sasa ngerjain kita doang." Raina setuju dengan apa yang diucapkan oleh Kemala. Setahu mereka Aleesa adalah anak orang biasa karena dia tidak menunjukkan kemewahan sama sekali. Makan pun bisa di mana saja dan yang paling penting Aleesa pun senang makanan dan barang diskonan. Itu sama seperti mereka.


Raina pun menghubungi Aleesa. Dia takut Aleesa membohonginya juga Kemala. Panggilannya pun tak lama dijawab oleh Aleesa. Raina bukan melakukan panggilan biasa melainkan panggilan video. Terlihat Aleesa memang berada di dalam mobil.


"Lu masih di mana?"


"Di jalan sebentar lagi juga sampe." Aleesa pun menjawab.


"Lu serius ketemu di restoran itu?" tanya Kemala..


"Iya. Kenapa emang?"

__ADS_1


"Gua takut lu tipu." Kemala yang menjawab. Aleesa malah tertawa.


"Tuh 'kan Bie, apa aku bilang?" Aleesa nampak menoleh dan berbicara dengan seseorang yang ada di sampingnya.


Kemala dan Raina bisa melihat ada tangan yang mengusap lembut rambut Aleesa dan itu membuat Riana dan Kemala berteriak.


"Sa, itu calonnya?" Kemala sangat antusias. Padahal dia hanya melihat tangan Restu dan Aleesa hanya tersenyum.


"Liat, Sa!" Raina tidak sabar. Dia ingin melihat wajah dari tunangan Aleesa yang bisa mengalahkan Yansen.


"Nanti juga kalian liat. Udah, ya." Sambungan video pun terputus. Itu membuat dua teman Aleesa berteriak tidak rela.


"Ih anjir, tangannya aja udah begitu gimana mukanya." Kemala benar-benar tidak sabar.


"Pasti ganteng banget," timpal Raina.


Sedangkan di dalam mobil Aleesa sudah menatap Restu dengan wajah ditekuk. Restu melirik sekilas dan menggenggam tangan Aleesa tanpa menoleh.


"Sudah waktunya mereka tahu siapa kamu sesungguhnya." Restu membawa punggung tangan Aleesa menuju bibirnya. Dia mengecup tangan Aleesa dengan begitu dalam..


"Kok aku takut, ya." Kini, Restu menoleh ke arah Aleesa. Dahinya mengkerut. Apa.uanh Aleesa takutkan?


"Tandanya aku itu ganteng." Aleesa malah tertawa dan mencium pipi kiri Restu.


"Aku maunya kiss di bibir, Lovely." Aleesa malah tertawa dan menggelengkan kepala.


Mereka berdua tiba di restoran yang Restu pilihkan. Kedua alis Aleesa menukik dengan tajam ketika melihat Raina dan Kemala ada di depan restoran. Belum masuk ke dalam.


"Ya ampun, mereka benar-benar ketakutan," ujar Aleesa. Restu tak mendengar ucapan Aleesa karena dia tengah menjawab telepon dari Aksara.


"Bie," panggil Aleesa ketika dia sudah membuka seatbelt.


"Kamu duluan aja." Aleesa pun mengangguk.


Kemala dan Raina segera menghampiri Aleesa dan mereka mencari seseorang. "Calon laki lu mana?" tanya Raina.


"Udah mending kita masuk dulu."


Aleesa sudah membuka buku menu dan kedua temannya nampak terkejut melihat harga yang tertera di sana. Kemala dan Raina saling meyenggolkan tangan mereka.

__ADS_1


"Silahkan pilih kalian mau yang mana?" Aleesa sudah membuka suara. Aleesa sudah memesan apa yang dia inginkan beda halnya dengan Kemala dan juga Raina. Cukup lama mereka melihat buku menu alhasil mereka berdua kompak memesan menu yang paling murah si sana. Mereka berdua adalah tipe teman yang tahu diri.


"Calon suami lu belum ke sini?" Raina bertanya lagi.


"Tadi sih lagi angkat telepon. Mungkin belum selesai." Baru juga selesai berbicara, bibir Aleesa terangkat dengan sempurna dan membuat Kemala dan Raina saling menatap. Mereka berdua pun mengikuti arah pandangan Aleesa. Sontak mata mereka melebar. Pria tampan dengan senyum menawan menghampiri meja mereka.



Riana dan Kemalal tidak bisa berkata-kata. Mereka membeku terlebih ketika pria itu mendekat ke arah Aleesa dan mencium ujung kepala Aleesa di depan mereka. Ingin rasanya mereka menjerit, tapi suara mereka tercekat.


"Ganteng banget."


"Gantengnya gak kaleng-kaleng."


"Udah pesan?" Suaranya pun terdengar sangat merdu di telinga Raina dan Kemala.


"Udah. Aku pesenin kamu apa yang aku pesan juga." Restu pun mengangguk. Di tidak akan mempermasalahkannya.


Akhirnya Aleesa mengenalkan Restu kepada Raina dan Kemala. "Ini Kak Restu yang insha Allah akan menjadi imam untukku." Restu hanya menganggukkan kepala padahal dua teman Aleesa sudah mengulurkan tangan.


"Bie--" Tatapan Restu hanya mampu membuat Aleesa menghela napas kasar.


Dua teman Aleesa nampak harus terbiasa dengan sikap Restu. Sudah terlihat bagaimana watak Restu yang sesungguhnya.


"Kak Restu kerja atau masih kuliah, Sa?" Aleesa menoleh ke arah Restu yang asyik memakan steak.


"Kak Restu lagi magang di sebuah perusahaan."


"Magang?" Begitulah batin mereka.


Mereka berdua pun nampak tak percaya. Bukan tanpa sebab, mana ada karyawan magang mengajak makan di restoran mahal. Tidak banyak yang mereka obrolkan karena Restu yang cenderung diam dan menjawab seperlunya.


Restu meminta bill ketika mereka semua sudah selesai makan. Sudah pasti total makanannya menguras kantong. Alangkah terkejutnya dua teman Aleesa ketika Restu menyodorkan black card. Raina dan Kemala saling pandang.


"Pasti bukan orang sembarangan."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2