RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 146. Cinta Tak Bersyarat


__ADS_3

Hanya seorang Restu Ranendra yang bahagia ketika terciduk oleh kedua orang tua Aleesa. Hanya dia juga yang tak takut untuk menikahi Aleesa walaupun dadakan. Restu sudah memeluk tubuh Aleesa dari belakang setelah Aleesa selesai mandi.


"Hari ini aku ijin kerja, kamu juga harus ijin kuliah. Kita urus-urus pernikahan kita." Restu sudah meletakkan dagunya di pundak Aleesa.


"Kenapa secepat ini sih, Bie?" Aleesa menoleh ke arah kiri di mana wajah Restu sudah ada di bahunya.


"Karena aku ingin tetap bersama kamu dari membuka mata hingga memejamkan mata." Aleesa hanya berdecih dan itu membuat Restu semakin erat memeluknya.


"Ayo kita ke apartment, aku ingin bebas memeluk dan mencium kamu."


Begitulah Restu, manja dan bucin jika di depan Aleesa. Dia bagai anak kecil yang tidak bisa terlepas dari sang ibu. Beda halnya jika dia di luaran. Dingin, angkuh dan kejam.


"Bubu, Sasa pergi dulu, ya." Echa pun mengangguk. Restu mencium tangan calon ibu mertuanya.


"Jaga Sasa. Kalau sampai diunboxing duluan Tante denda kamu!" Restu malah tertawa.


"Ya gak bakal lah, Tan. Aku juga gak mau pas malam pertama ngerasain hal yang udah pernah aku rasain."

__ADS_1


Plak!


Aleesa memukul pundak Restu dan ditanggapi dengan sebuah tawa. Echa hanya menggelengkan kepala. Namun, dia juga merasa bahagia karena sang putri sudah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Mereka berdua ke apartment Restu terlebih dahulu. Di mana Restu merealisasikan ucapannya, yakni mencium Aleesa tanpa ampun. Dia bagai orang kecanduan dan tidak membiarkan Aleesa mengambil napas walau sebentar. Hingga wajah Aleesa merengut karena keganasan tunangannya.


"Maaf, ya."


Restu kini sudah memangku Aleesa dan mengecup singkat bibir sang kekasih yang terlihat lebih besar dari sebelumnya.


"Inilah alasan aku kenapa ingin segera menghalalkan kamu," papar Restu. Dahi Aleesa mengkerut.


"Aku gak mau pisah sama kamu. Aku ingin bebas berduaan bersama kamu dan aku takut jika terlalu lama kamu akan bosan dan berpaling dari aku."


"Enggak gitu, Bie," sahut Aleesa ketika mendengar penuturan Restu yang terakhir. "Aku kalau udah sayang sama seseorang selamanya akan sayang."


Restu tersenyum. Dia mengendurkan pelukannya. Dia menatap dalam wajah Aleesa. "Kamu mau 'kan menikah sama aku? Aku gak mau menunda terlalu lama. Apapun persyaratan yang kamu ajukan, pasti akan aku ikuti."

__ADS_1


"Kenapa harus memakai syarat, Bie?" tanya Aleesa. "Menikah itu ibadah. Cinta itu tak bersyarat, Bie." Lagi-lagi Restu tersenyum mendengarnya.


"Jadi, kamu mau menikah dengan aku tanpa mengajukan syarat apapun?" Aleesa mengangguk.


"Mahar?" Aleesa malah menghela napas kasar. Dia menatap ke arah Restu dengan serius.


"Mahar hanya sebuah syarat nikah, yang paling penting sah-nya kan." Restu kembali tersenyum. "Aku bukan wanita matre, Bie. Perihal harta kedua orang tuaku sudah memberikannya. Aku hanya menginginkan sebuah kebahagiaan dari orang yang memang benar-benar tulus mencintai aku karena aku bukan wanita sempurna. Suatu saat aku akan merepotkanmu karena penyakit yang masih bersarang di tubuhku."


"Aku tidak peduli dengan sakit kamu, yang paling penting aku akan terus membuat kamu bahagia dalam situasi apapun. Aku akan tetap menggenggam tangan kamu, memeluk kamu dan menjaga kamu hingga maut yang akan memisahkan kita."


Hati Aleesa mencelos mendengarnya. Betapa tulusnya seorang Restu Ranendra. Pria yang tak Aleesa sangka akan menjadi pendampingnya.


"Haram hukumnya kamu menitikan air mata di depan aku dan ketika kamu sudah menjadi istriku." Aleesa tak bisa berkata. Mulutnya kelu, dia hanya membisu dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Aleesa memeluk tubuh Restu dan mengucapkan terima kasih dengan nada yang lirih.


"Aku sangat beruntung bisa bersama kamu." Restu tersnyum bahagia. Namun, seketika Aleesa teringat akan sesuatu. Dia mulai memundurkan tubuhnya dan menatap dalam wajah Restu.


"Bagaimana dengan ibu kandung kamu? Bukankah kita harus meminta ijin kepadanya juga?"

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2