
"Siapa nama cucu kembar Papih?" Rindra sudah menodong nama kepada sang putra.
"Reyn Salqa Ranendra," sahut Restu seraya menowel pipi anak keduanya yang merah.
"Yang ini?" tanya sang ayah mertua kepada cucu ketiganya.
"Rayyan Rajendra."
"Rajendra?" Radit dan Rindra berucap dengan sangat kompak. Restu menganggukkan kepala.
"Setelah lahirnya Reyn, tiba-tiba aku keinget sama panggilan Madam Zenith kepadaku ketika kecil. Raje," ucapnya.
Radit dan Rindra tidak bisa berkata apapun. Mereka juga tidak bisa melarang Restu untuk memberikan nama kepada kedua anaknya.
.
Aleesa nampak kewalahan merawat anak kembarnya. Ditambah Abang Er yang masih ingin bermanja dengan sang mami.
"Baby sitter aja, ya." Restu memberi ide.
Restu sangat kasihan melihat istrinya yang harus memompa ASI secara bergantian. Juga waktu istirahatnya sangat kurang karena Reyn dan Rayyan akan membuat mata secara bergantian. Namun, untuk kesekian kalinya Aleesa menolak.
"Pi, bisa tolong jagain Rayyan dulu gak? Mata Mami udah lengket banget."
Restu mengusap lembut rambut sang istri. Dia mengangguk pelan. "Tanpa Mami minta, Papi pasti akan bantu Mami."
Ada kelegaan di hati Aleesa. Akhirnya, dia bisa tertidur juga. Restu yang kini menjaga Rayyan. Dia sengaja memvideokan putranya yang berusia satu bulan tangah terjaga. Dia kirimkan kepada sang ibu.
__ADS_1
Ketika pagi hari, Aleesa dikejutkan karena sang putra sudah tak ada di boks bayi. Dia hampir berteriak, tapi keburu suaminya terbangun.
"Rayyan, Pi. Rayyan."
Wajah panik Aleesa nampak sekali terlihat. Restu menarik tangan istrinya hingga terduduk di tepian tempat tidur. Dia memeluk perut istrinya.
"Rayyan sama Mamih."
Jantung yang hampir copot kini kembali ke tempat semula. Aleesa pun mulai tenang.
"Semalam Mamih ke sini. Mamih bawa Rayyan ke rumahnya karena gak tega melihat Maminya Rayyan kelelahan."
Aleesa terdiam mendengarnya. Dia masih mencerna ucapan sang suami.
"Mamih bersedia mengasuh Rayyan. Jadi, Mami cukup jaga Abang Er dan Reyn." Restu menjelaskan.
Ada ketakutan di hati Aleesa. Dia takut jika putranya tak mengenalinya ketika dia beranjak besar.
"Mamih hanya ingin mengasuh Rayyan tanpa memutuskan hubungan ibu dan anak." Restu menjelaskan kepada sang istri.
Aleesa pun bisa mengerti karena sang ibu masih sibuk dengan usaha peninggalan sang engkong yang tak bisa ditanggalkan.
.
Waktu seakan cepat berlalu. Abang Er sudah beruusia empat tahun dan adiknya berusia dua tahun lebih. Walaupun diasuh oleh sang Oma, Rayyan sangat mengenali sang ibu dan seakan tak mau jauh. Restu dan Aleesa sudah tak tinggal di rumah besar. Mereka tinggal di apartment mewah nan mahal pemberian Restu. Ketiga anaknya sangat bahagia tinggal di sana.
"Ray, sama Abang dan kakak dulu gih. Mami mau cuci piring dulu." Aleena memilih mengerjakan semuanya sendiri. Dia tidak ingin ada orang asing masuk ke unitnya.
__ADS_1
Akan tetapi, Rayyan tak mau turun dari gendongan sang ibu. Dia malah semakin mengeratkan tangannya pada leher Aleesa.
"Dek, Tini!"
Suara lembut sang kakak perempuan terdengar. Namun, Rayyan tetap menggantung di leher sang ibu layaknya anak monyet.
"Rayyan, anak bontot Mami. Jangan nakal dong. Cucian piring numpuk. Botol susu Ray juga belum dicuci. Nanti Ray mau minum susu pakai apa kalau botol susunya kotor?"
"Dak mau!"
Mendengar suara adiknya sedikit meninggi yang membuat Abang Er yang tengah asyik dengan tablet di tangannya menoleh. Dia melihat Rayyan terus merengek kepada ibunya. Abang Er pun menuju ke dapur.
"Ray!"
Rengekan itu berhenti. Tubuh Rayyan kecil menegang ketika mendengar suara sang Abang. Perlahan dia pun menoleh dan tatapan tajam sang Abang membuat kepalanya menunduk. Aleesa bingung, tiba-tiba si bungsu yang manja perlahan mengendurkan tangannya pada leher dirinya. Abang Er pun tak mengatakan apapun. Hanya memanggil nama sang adik seperti biasa.
"Tu-lun."
Suara lemah Rayyan membuat Aleesa menurunkan Rayyan dari gendongannya. Kepala Rayyan masih menunduk. Aleesa masih memperhatikan si sulung dan si bungsu. Apa yang akan terjadi? Dia belum pernah melihat sikap Abang Er kepada Rayyan. Jika, kepada Reyn Abang Er sangat melindungi.
Tangan Rayyan dipegang oleh Abang Er . Kemudian, dia menariknya dan membawanya menuju ruang keluarga.
"Jangan ganggu Mami!"
...***To Be Continue***...
Komen dong....
__ADS_1