
Yansen, dia tengah memandang foto dirinya bersama Aleesa perempuan yang sangat dia cintai.
"Kenapa aku masih merasakan sedih dan sakit ketika mendengar nama Kak Restu? Padahal, dulu aku yang menginginkan mereka bersama." Yansen berkata sendiri. Terlalu banyak kenangan manis bersama Aleesa yang tak mungkin bisa dia lupakan.
"Kenapa kamu begitu cepat melupakan aku, Sa? Apakah memang sejujurnya hati kamu untuknya?"
Tengah asyik melamun, dia mendengar ada suara orang di bawah. Yansen segera turun dan terlihat ada seorang pria dan juga wanita yang tengah berbincang dengan Jerome. Dari kemarin malam Jerome menemani Grace karena psikis Grace yang tengah terguncang. Apalagi, laporan dari Grace tidak bisa dicabut.
"Kak," panggil Yansen ketika dia tiba di ruang tamu. Jalannya masih tertatih dan tangannya masih memakai arm Sling.
"Sen, ini ada orang yang katanya akan menjadi pengacara dari Grace juga psikiater pendamping Grace." Yansen terkejut.
Pengacara pendamping itu adalah pengacara ternama juga psikiater terbagus setahunya. Namun, yang menjadi pertanyaannya siapa yang menyewanya? Kakaknya tidak mungkin bisa menyewa mereka dikarenakan bayarannya pun sudah pasti sangat mahal.
"Kakak dan Grace gak merasa menyewa mereka berdua."
Yansen segera membuka ponselnya. Ada pesan dari nomor luar yang masuk ketika dia menghubungi Aleesa.
"Sudah saya kirimkan pengacara juga psikiater. Pengacara itu akan meringankan hukuman Grace, juga psikiater itu akan menyembuhkan psikis Grace. Saya ikhlas membantu kamu. Jangan pernah kamu anggap ini sebagai barteran untuk kamu menjauhi Aleesa. Tidak seperti itu, Sen. Inipun tidak diketahui banyak orang. Hanya saya dan kamu. Jangan sampai orang lain tahu."
Yansen tidak bisa berkata. Membaca pesan dari ayah Aleesa membuat hatinya tersentuh juga tertampar. Definisi ikhlas sebenarnya yang diperlihatkan Radit. Pria yang tidak banyak bicara, tapi selalu mengedepankan tindakan. Dia benar-benar tidak menyangka. Padahal, Radit sudah dikecewakan oleh Grace. Akan tetapi, dia masih mau menolong Grace. Sungguh malaikat tak bersayap yang sebenarnya.
"Sen, ini gimana?" tanya Jerome.
"Bapak pengacara dan ibu psikiater ini bantuan dari ayah teman aku, Kak. Dia akan membantu proses hukum Kak Grace yang pastinya tidak mudah karena melawan keluarga besar Wiguna juga Addhitama. Juga Ibu psikolog yang akan membantu menata psikis Kak Grace yang telah hancur berantakan."
Jerome tidak banyak bertanya. Dia hanya mengangguk. Dia sangat bersyukur atas bantuan yang Tuhan berikan melalui tangan baik manusia yang tidak dia ketahui siapa.q
.
Sambungan video antara Aleesa dan Restu harus berakhir ketika Restu dipanggil oleh rekannya dengan menunjukkan raut yang berbeda. Aleesa tidak mengerti dengan apa yang tengah mereka bicarakan.
__ADS_1
"Aku tutup dulu, ya. Nanti aku hubungi lagi." Aleesa terkejut ketika sambungan video itu berakhir. Perasaannya mulai tidak enak dan dia menghampiri Rio yang masih berada di balkon.
"Kak Iyo--"
"Kalau dia begitu tandanya dia lagi ada tugas penting dan genting."
Deg.
Pikirannya tengah berkelana. Pikiran jelek tengah berkeliaran di kepala.
"Kak, aku takut terjadi apa-apa dengan Kak Restu."
Rio malah tertawa dan menarik Aleesa berdiri di sampingnya.
"Pacar kamu kerjaannya memang menantang bahaya. Jadi, cukup doakan dia dan support dia. Jadikan diri kamu sebagai semangatnya untuk terus hidup."
"Jangan buat aku takut, Kak." Wajah Aleesa sudah sendu. Rio memeluk tubuh sepupunya. Jika, Restu melihat sudah pasti laki-laki posesif itu akan marah padanya.
.
Jerman.
Restu benar-benar murka ketika ada secarik kertas yang dia terima juga. Bukan hanya dia, sebelumnya madam Zenith menerima kertas ancaman.
"Kita ke Zurich sekarang. Bawa Madam pergi dari sini." Restu memerintahkan kepada Gemke. Untung saja dia memiliki banyak link di negara Eropa. Bukan hanya para bodyguard yang dia turunkan untuk mengawal madam Zenith. Polisi yang bekerja di pasukan khusus pun dia kerahkan.
Sebelum pergi, Restu menghubungi ayah angkatnya. Wajahnya sangat serius dan juga cemas.
"Kenapa, Nak?" Suara Rindra terdengar.
"Pih, aku sudah kerahkan anak buahku untuk jaga di rumah. Aku juga akan memerintahkan beberapa orang untuk berjaga di balkon kamar Aleesa."
__ADS_1
"Dia mulai mengincar Aleesa?" Restu menjawab iya.
"Papih akan melapisi rumah ini dengan anak buah Papin. Kamu jangan khawatir."
"Iya, Pih. Malam ini juga aku akan kembali ke Zurich. Banyak ancaman di sini." Restu berbicara dengan sangat tegas.
"Hati-hati, Nak. Jaga diri kamu baik-baik dan kembalilah dengan selamat." Pesan yang selalu Rindra katakan kepada Restu.
"Pasti, Pih."
Di balkon kamar dua orang yang masih berpelukan terkejut ketika melihat beberapa orang berbaju gelap naik bagai maling ke balkon. Rio memeluk erat tubuh Aleesa untuk melindunginya.
"Kami disuruh Mr. R." Rio pun bisa bernapas lega.
"Siapa?" tanya Aleesa nampak ketakutan.
"Orang suruhan Papih. Yuk, masuk." Rio berbohong. Rio mengajak Aleesa masuk dan mengunci rapat pintu menuju balkon.
"Kak, aku takut."
"Kak Iyo akan tidur di sofa nemenin kamu."
Tanpa diberi tahu Rio sudah mengerti maksud dan tujuan Restu. Dia sudah khatam dengan cara berfikir Restu.
Benar saja, ketika Aleesa sudah tertidur Rio mengecek ponselnya. Sebuah pesan dikirim oleh Restu.
"Jaga Aleesa. Jangan tinggalin dia. Ketika gua udah sampai Zurich gua akan langsung ke rumah."
"Jaga nyawa lu untuk Aleesa, Res."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...