
Dor.
Mata semua orang melebar karena Zenith Andrea benar-benar menarik pelatuk pistol yang dia genggam.
"Aleesa!!" Aksa berteriak dengan begitu kencang.
Namun, tubuh Aleesa sudah berada di atas tubuh Restu. Restu yang memiliki insting tinggi segera menarik tubuh Aleesa hingga mereka berdua terjatuh karena dia sudah tahu wanita gila itu tidak akan pernah main-main dengan ucapannya.
"Si alan!!!" Restu mengerang sangat kesal.
Gemke segera menahan Madam Zenith dan senjata yang dipegang olehnya Gemke ambil dengan paksa.
"Anda sudah keterlaluan Madam!" Gemke pun geram dengan tingkah laku atasannya itu. Restu sudah membantu Aleesa untuk berdiri. Tak dia hiraukan luka tembakan yang semakin sakit di punggungnya. Paling penting sekarang kekasihnya baik-baik saja.
Aleesa menangis dengan cukup keras karena dia benar-benar ketakutan. Restu memeluknya dengan begitu erat.
"Ada aku, Lovely." Tubuh Aleesa terlihat bergetar. Restu semakin erat bergetar dan dia pun berusaha sekuat tenaga untuk menahan amarahnya di depan Aleesa. Berkali-kali Restu mengecup ujung kepala Aleesa.
__ADS_1
Aksa menghampiri Aleesa dan Restu. Ketika dia memanggil sang keponakan, Aleesa segera memeluk tubuh Aksa dengan begitu erat.
"Om, bawa Aleesa pergi dari sini dulu." Aksa pun mengangguk.
"Darah di luka lu rembes." Restu hanya tersenyum. Sedangkan Aleesa segera menoleh ke arah Restu yang hanya menyunggingkan senyum. Pria itu menghampiri Aleesa dan mengusap lembut sang kekasih.
"Kamu istirahat, ya. Tenangin diri kamu dulu. Aku baik-baik aja kok."
"Tapi, Bie--"
"I'm okay." Restu menunjukkan wajah yang baik-baik saja.
Dokter Kaira yang hendak kabur pun dicekik oleh Iyan yang tengah dirasuki arwah adiknya dokter Kaira. "Jangan coba untuk kabur. Pertanggung jawabkan perbuatan kamu, Kak. Atau--" Cekikan Iyan semakin keras sehingga membuat dokter Kaira sedikit menjerit kesakitan.
"A-am-pun--" Iyan hanya menyunggingkan senyum kecut.
"Ikut aku yuk, Kak. Aku juga akan mengajak Ayah." Seringai seram terukir di wajah Iyan. Mata dokter Kaira pun melebar dan dengan cepat dia menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Aku tidak mau!!" Tawa menyeramkan pun terdengar. Arahan Gemke kepada anak buahnya yang lain mendapat anggukan dari mereka. Dua dari mereka memberingkus dokter Kaira yang terus berteriak dan memberontak. Namun, tenaganya kalah oleh dua orang berbadan tegap itu.
"Bawa ke tempat para sekapan." Mereka pun mengangguk mendengar perintah Gemke. Untuk kesekian kalinya dokter Kaira berteriak. Tepat pintu ditutup tubuh Iyan pun tergeletak begitu saja. Dokter Rocki segera menghampiri Iyan dan membantunya membawa ke sofa.
Sedangkan Restu dia sudah menatap madam Zenith dengan tatapan penuh amarah. Semenjak namanya diganti, dia sudah menganggap kedua orang tuanya mati. Orang tuanya kali ini adalah Rindra dan Nesha. Sepasang suami-istri yang membuatnya menjadi manusia kuat dan bisa berdiri tegap sampai sekarang ini. Delapan belas tahun hidup bersama mereka dan juga anak mereka membuat dia merasakan memiliki keluarga yang sesungguhnya.
Perlahan dia mendekat ke arah madam Zenith yang sudah ditahan Gemke. Sorot mata Restu membuat Gemke melepaskan madam Zenith.
"Nak--" Dia pun berhambur memeluk tubuh Restu. Namun, Restu malah membalikkan tubuh
Madam Zenith dengan lengan sudah mengunci leher wanita itu. Tangan satunya sudah menodongkan pistol ke pelipis ibu kandungnya. Pistol itu benar-benar menyentuh kulit madam Zenith.
"Pelatuk ini sudah setengah aku tarik. Siap-siap kamu mati wahai MAMIH."
...***To Be Continue**"...
__ADS_1
Komen dong ....