RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 112. Ahjussi


__ADS_3

Aleesa dan Restu duduk berdampingan di dalam pesawat yang sudah membawa mereka kembali ke negara asal mereka. Tangan mereka tak pernah terlepas barang sedetik pun. Aleesa sudah meletakkan kepalanya di bahu sang kekasih.


"Kenapa?" Aleesa menggeleng. Restu mengecup ujung kepala Aleesa dengan begitu mesra. Mereka berdua seakan menikmati perjalanan kembali menuju Indonesia.


Aksa dan Aska hanya menggelengkan kepala mereka. "Kayaknya kita bakalan semakin tua," ujar Aska kepada sang Abang.


"Lu aja sendiri yang tua. Jangan ajak-ajak gua." Aksa menjawab dengan kalimat super menyebalkan.


Lima jam terbang, Restu mulai sedikit mengerang kesakitan. Aleesa yang asyik bergelayut manja di lengan sang kekasih mulai sedikit panik.


"Sakit lagi?" Restu mengangguk. Aleesa sudah hendak bangkit dan mengecek luka sang kekasih. Namun, Restu malah menarik tangan Aleesa hingga Aleesa terjatuh di pangkuan Restu.


"I need your kiss." Aleesa berdecak dan malah tertawa. Dia mencubit gemas pipi Restu hingga membuat Restu menekuk wajahnya.


"Ada banyak security di sini," bisik Aleesa. "Kamu mau nanti diblacklist oleh mereka."


"Dikit aja," bujuk Restu.


"Enggak."



Di mata orang lain wajah Restu menyeramkan, beda jika di mata Aleesa. Itu terlihat sangat menggemaskan. Dia mencium pipi Restu dengan begitu cepat dan membuat Restu mengerang kesal.


"Aku gak mau itu," erangnya dengan cukup kencang hingga semua orang yang berada di di pesawat pribadi itu menoleh ke arahnya.


Aleesa meletakkan jari telunjuknya di bibir. Menatap ke arah Restu dengan tatapan tajam.


"Biarin!" Aleesa malah tertawa. Restu seperti bayi jika sudah merajuk.


Di sepanjang perjalanan, Restu terus merajuk. Aleesa membiarkannya saja karena semarah-marahnya Restu tetap saja pria itu tak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Aleesa.


"Entah aku harus senang atau kesal sama sikap kamu ini," batin Aleesa seraya menatap ke arah tangannya yang digenggam Restu.


"Terima kasih Tuhan telah mengirimkan pria ini untukku. Berasa di sampingnya semua sakitku terasa hilang seketika. Dia bagaikan obat penawar dari segala rasa sakit di hati dan tubuhku."


Aleesa menatap ke arah Restu dengan senyum yang sangat cantik. "Aku sangat beruntung memiliki kamu." Restu pun menoleh, dan wajah Aleesa sangat cantik hari ini. "Love you."


Senyum pun akhirnya terukir di wajah Restu. Dia membenarkan rambut Aleesa bagian depan. "Aku lebih beruntung memiliki kamu. Wanita yang mampu menerima aku dan masa laluku." Aleesa memeluk tubuh Restu dengan begitu erat. Sang pria mengecup ujung kepala Aleesa berkali-kali.


"Ya, kita harus segera terikat dalam sebuah hubungan yang serius. Kembalinya kamu ke Jakarta sudah pasti akan disambut oleh laki-laki di masa lalumu itu lagi."


.

__ADS_1


Tibanya di bandara mereka disambut oleh semua keluarga besar Aleesa. Restu menggelengkan kepalanya.


"Busett, berasa pulang umroh disambut sama rombongan," kelakar Askara.


"Ayah!" Empat orang anak sudah berteriak kompak.


Radit dan Echa sudah tersenyum ke arah Aleesa. Begitu juga dengan Nesha dan Rindra yang sudah menatap haru ke arah Restu. Nesha sudah mendekat ke arah Restu dan segera memeluk tubuh putra pertamanya.


"Mamih sangat bahagia dan bersyukur bisa ketemu kamu lagi, Nak. Mamih sudah pasrah jika kamu akan tinggal bersama ibu kan--"


"Aku akan tetap menjadi anak Mamih dan Papih. Aku Restu Ranendra putra dari Rindra Addhitama." Nesha benar-benar terharu dan air matanya pun tak kuasa dibendung.


Rio malah salah fokus kepada tangan dua insan yang seperti perangko ini. Dia sudah melipat kedua tangannya.


"Lepas kangen sama orang tua, tapi tuh tangan gak terlepas. Konsepnya macam mana?" Sindiran keras dari seorang Rio Pranathan Addhitama kepada Restu dan Aleesa. Orang tua mereka pun mulai fokus pada tangan dua insan tersebut. Mereka hanya menggelengkan kepala.


"Benar ini mah kudu cepat-cepat." Rindra sudah menggelengkan kepalanya sambil menarik napas berat.


"Aku siap kok, Pih." Tak segan Rio menoyor kepala Restu.


"Cepet konek lu kalau hal kayak gini mah." Semua orang pun tertawa.


Disela bahagia mereka ada seorang anak laki-laki yang mulai mendekat ke arah Aleesa. Dia menelisik setiap inchi wajah dari laki-laki yang tengah menggenggam tangan Aleesa.


"Iya, dia siapa Sasa?" Kini, ada lagi anak laki-laki dan perempuan yang lain ikut mendekat.


Aleesa pun berdecak kesal. Anak dari sang paman tidak ada sopan santunnya. Selalu saja memanggilnya tanpa embel-embel kakak.


"Itu calon suami Kak Sasa." Sang ayah sudah membuka suara.


"Hah?" Kompak sekali tiga anak itu.


"Bukannya pacarnya Sasa itu Kak Sensen?" Bala-bala atau Balqis sudah membuka suara.


Mendengar nama Yansen pasti akan membuat wajah Restu datar sedatarnya. Rio sudah mengulum senyum.


"Selamat menikmati punya sepupu kecil, tapi menyebalkan."


"Iya, kenapa pacarnya Sasa malah Ahjussi (Om) begini?" Ahlam ikut membuka suara. Riana dan Jingga yang tahu arti dari Ahjussi malah tertawa. Begitu juga dengan Aleesa. Jangan ditanya bagaimana wajah Restu.


"Om, punya apa berani pacarin Sasa?" Si anak pendiam kini sudah membuka suara, siapa lagi jika bukan Dalla. Tatapannya begitu tajam.


Terlihat Restu menghela napas kasar. Dia mendekatkan diri ke telinga Aleesa.

__ADS_1


"Boleh gak empat anak ini aku karungun terus aku buang ke sungai." Aleesa malah tertawa dan mengusap lembut lengan sang kekasih.


"Sa-bar."


Semua anggota keluarga Wiguna hanya mengulum senyum melihat respon Restu. Dari mimik wajahnya mereka sangat melihat betapa kesalnya seorang Restu Ranendra.


"Dengar ya para kuamplet," ujar Aleesa. "Ahjussi ini punya cinta yang tulus dan besar banget buat Sasa."


"Hari gini emang kenyang makan cinta doang." Kini, anak kedua Aksa yang menimpali, Ghea.


"Ya Tuhan ... kenapa Aleesa bisa punya sepupu kecil yang menyebalkan seperti ini?" erang Restu di dalam hati.


"Kalian mau apa? Mau kereta? Atau mau kapal pesiar?" Restu mulai membuka suara.


"Ahjussi bisa beliin itu?" Balqis nampak terkejut.


"Bisa." Begitu serius jawaban dari Restu membuat kelima anak berusia dua belas tahun itu mulai mendekat.


"Beneran?" Mata mereka sudah berbinar. Restu pun mengangguk.


"Tapi, kereta dan kapal pesiar mainan." Restu menarik tangan Aleesa untuk menjauhi sepupu kecilnya. Semua orang pun tertawa. Sedangkan kelima anak itu malah memasang wajah geram karena kecewa.


"AHJUSSI!!!!"


Kelima sepupu Aleesa tengah menahan marah dan mereka mulai berunding dengan membuat lingkaran. Aksa dan Aska menggelengkan kepala. Begitu juga dengan Rindra dan Radit.


"Masuk ke keluarga Wiguna ternyata harus melewati rintangan lima kurcaci ini." Rindra menggelengkan kepala tak percaya.


.


Aleesa masih tertawa melihat jahilnya sang kekasih kepada kelima sepupunya. Tangan Restu masih menggenggam tangan Aleesa menuju pintu keluar bandara.


"Jahat ih," ujar Aleesa.


"Suruh siapa ngeselin." Restu pun tertawa dan tawa itu menular kepada Aleesa.


Langkah mereka terhenti ketika ada seseorang yang menghadang langkah mereka berdua.


"Restu Ranendra--"


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2