RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 159. Hingga Luka Mengering


__ADS_3

Mata Restu yang masih terpejam harus terbuka karena silauan cahaya mentari dari balik jendela. Dia pun mengerang kecil dan membuat seseorang tertawa. Perlahan matanya terbuka dan sudah ada si cantik yang menyambut paginya.


"Bangun, yuk!" Aleesa sudah mendekat dan duduk di tepian tempat tidur.


Bukannya beranjak, Restu malah memeluk perut Aleesa dengan begitu erat. Enggan untuk turun dari tempat tidur.


"Yang lain udah pada di bawah. Uncle Aksa udah nanyain kamu, Bie."


Restu sedikit terkejut mendengarnya. Semalam dia melihat Aksa pergi seorang diri. Dia ingin mengikuti, tapi hati kecilnya mengatakan hal lain. Akhirnya, dia memilih untuk memejamkan mata.


"Bie, ayo!" Aleesa sudah menarik tangan Restu agar turun dari tempat tidur.


"Cepat mandi!"


"Mandiin," sahut Restu dengan begitu manja.


"Sini gua mandiin pake air mendidih." Askara sudah berkacak pinggang dan menatap tajam ke arah Restu dan membuat calon keponakannya itu langsung lari ke dalam kamar mandi. Sontak Aleesa pun tertawa.


Restu sudah bergabung dengan semua anggota keluarga Aleesa dari pihak Wiguna. Dia melihat tidak ada lagi duka. Wajah mereka semua pun sudah seperti biasa.


Sarapan pagi dengan makan lesehan di lantai. Meja makan tidak cukup karena terlalu banyak manusianya.


"Bie!" Aleesa sudah menepuk lantai yang berada di sampingnya. Restu pun mengangguk.


Namun, mata Restu memicing ketika melihat ada space kosong di sana. Tidak ada yang menduduki, tapi si kuartet berebut untuk meletakkan lauk di sana.


"Mimo suka itu!" Balqis berkata. Hati Restu mencelos. Ketika dia melirik ke arah lain, adik dari Agha seakan tengah berbicara sendiri.


"Makan udang beneran dulu ya, Kong. Entar kalau kembali ke Jakarta kita makan pake bayi udang."


Restu tak percaya. Kakek dan nenek mereka sudah tiada, tapi mereka selalu menganggap ada dan bersama mereka. Sungguh keadaan yang baru dia lihat dan rasakan. Bukannya merasa aneh, Restu merasa bangga. Betapa kuatnya rasa sayang dan cinta di antara mereka semua.


"Kenapa bengong?" Aleesa menegur Restu. Sang calon suami hanya tersenyum.


Mereka menikmati sarapan pagi dengan tenang dan tak banyak bicara. Sesekali keributan terjadi di antara si kuartet perihal berebut makanan.


"Kamu harus terbiasa akan hal ini." Restu hanya tersenyum.


Selesai sarapan mereka semua pergi ke pantai yang begitu indah untuk melepas penat. Restu selalu digelayuti oleh sepupu Aleesa. Siapa lagi jika bukan si kuartet.


"Ahjussi ayo kita berenang ke tengah." Apang sudah mengajak calon kakak sepupunya.


"Elleh, kayak berani aja," cibir Ahlam. "Baru kena ombak aja udah teriak-teriak." Sang Abang malah mengejek dan mampu membuat Restu dan Aleesa tertawa. Wajah Apang pun ditekuk.


Melihat banyak peselancar di sana membuat Restu melengkungkan senyum. Aleesa masih merangkul lengan Restu dan berjalan di sampingnya.

__ADS_1


"Udah lama gak berselancar." Seketika Aleesa menoleh ke arah Restu. Sedangkan Restu masih menatap ke arah pantai.


"Lakukanlah apa yang buat kamu senang." Ucapan Aleesa membuat Restu menoleh dan tersenyum ke arahnya.


"Kamu ngijinin?" Aleesa mengangguk. Senyum pun melengkung begitu indah di bibir Restu.


Aleeya dan Aleena yang terus memperhatikan Restu dan Aleena di jarak yang cukup jauh pun tersnyum melihat Aleesa dan Restu.


"Kakak gak nyesel dilangkahin Kakak Sa." Aleena menggeleng.


"Sasa berhak bahagia dengan orang yang emang sangat tulus mencintai dia." Aleena berkata jujur.


"Kakak kapan bahagianya?" Pertanyaan Aleeya membuat Aleena menoleh kepada adiknya. Sorot matanya begitu sulit untuk diartikan.


"Biarkan bahagia datang sendiri kepada Kakak," jawabnya dengan senyum yang begitu perih. Namun, Aleena kini menatap ke arah langit biru seperti tengah menunggu sesuatu di sana.


Aleesa bergabung dengan kedua saudaranya. Dia merangkul lengan kakak dan adiknya.


"Calon suami kamu mana?" Aleena mencari Restu.


"Lagi ganti baju mau surfing."


"Emang dia bisa?" Aleesa mengangguk. Dia duduk di atas pasir tanpa alas apapun dan diikuti oleh Aleena dan Aleeya.


Bibir Aleesa tersungging dengan sempurna ketika melihat Restu sudah membawa papan selancar dan melambaikan tangan ke arahnya. Aleena menatap adiknya yang terlihat begitu bahagia.


"Di balik brandalnya dia, menyimpan kehangatan juga ketulusan yang luar biasa. Itu yang membuat hati Sasa yang hancur bisa kembali utuh." Aleena tersenyum dan memeluk tubuh adiknya. Pelukan yang banyak mengandung banyak arti.


"Sasa juga selalu berdoa untuk kebahagiaan Kakak Na." Dua saudara itu saling berpelukan sambil melepas rindu. Aleeya pun ikut memeluk mereka berdua.


"Jangan pernah kembali pada seseorang yang tak menghargai perasaan Kakak." Aleesa berkata itu kepada Aleena, tapi Aleeya merasa tersentil. "Lebih baik pergi karena pasti akan ada tempat di mana Kakak akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya." Aleena mengangguk. Aleeya hanya terdiam. Dia merasa tersindir atas ucapan Aleesa.


"Sasa yakin pasti akan ada laki-laki tulus yang menggenggam tangan Kakak dan membawa Kakak menuju sebuah kebahagiaan yang sesungguhnya." Senyum Aleeena kali ini begitu lepas. Tak lupa dia mengaminkan apa yang Aleesa ucapkan di dalam hati.


Dari jarak beberapa meter seorang remaja tampan menatap si triplets. Dia melipat kedua tangannya di depan dada. Namun, pandangannya tertuju pada Aleena.


"Kenapa liatin kakak triplek?" Agha paling benci dengan ucapan itu. Siapa lagi jika bukan Abdalla yang berkata. Sebenarnya dia bukan anak pendiam, tapi anak yang menyebalkan sama dengan Ahlam. Hanya saja Abdalla tidak terlu menunjukkan.


"Nyebur sonoh biar bisa bilang triplets." Agha bersungut ria. Dia pun mengusir adik sepupunya itu. Abdalla masih bergeming di tempatnya.


"Males, ah. Entar kulit Mas gosong."


Agha pun mengerang kesal. Keempat anak sang paman sungguh tidak ada yang menyenangkan. Semunya sangat menyebalkan.


Teriakan ketiga anak Aska lain membuat si triplets menoleh. Ternyata Restu sangat mahir berselancar hingga mereka bertepuk tangan. Aleesa pun berdiri dan tersenyum melihatnya. Momen ini mengingatkan dia ketika berada di Swiss.

__ADS_1


Aleena memalingkan wajahnya ketika mendapat tatapan dari Agha. Tatapan yang begitu tajam bagai elang. Niat hati untuk berlindung pada Aleeya, tapi Aleeya pergi karena ada telepon masuk.dan memilih meninggalkan Aleena. Agha pun mendekati Aleena. Sebelumnya dia menatap penuh ancaman kepada Abdalla dan membuat anak itu mundur.


Tak ada perkataan dari Agha. Namun, tatapannya masih begitu tajam. Aleena hanya menunduk dalam.


"Jangan beri tahu di mana aku berada."


"Apa Nana sudah tahu perihal Kak Rangga?" Aleena pun mengangguk.


"Dia jadi pilot terkenal sekarang. Pasti banyak wanita yang--"


"Dia masih mencari Nana." Aleena menggeleng pelan.


"Jika, kita berjodoh ... pasti kita akan dipertemukan dengan cara yang indah." Aleena mencoba untuk tersnyum.


"Apa karena laki-laki ini?" Agha menunjukkan sebuah foto kepada Aleena



Dahi Aleena mengkerut. Dia hanya tersenyum. Kemudian, menggeleng.


"Lalu?" Aleena tidak menjawab perihal laki-laki itu.


"Tolong jangan beritahukan kepadanya. Biarkan semesta yang akan mempertemukan dan menjodohkan kita jika memang sudah menjadi suratan takdir kita berdua."


Ada rindu yang Aleena pendam, ada senyum yang masih belum hilang dari ingatan. Akan tetapi, ada hal yang membuatnya tak berani membuka hati.


.


Aleesa sudah memberitahukan perihal pernikahannya kepada sang kakak. Dia juga menjelaskan jika dia tidak ingin mengadakan resepsi terlebih dahulu.


"Jangan begitu, Sa." Aleena merasa keberatan.


"Kita dilahirkan secara berbarengan walaupun hanya beda beberapa menit. Sasa ingin kita juga bahagia bersama. Berada di atas pelaminan bertiga." Sebuah keinginan yang membuat mata Aleena berair. Dia terharu dengan ucapan Aleesa yang begitu tulus.


"Kakak Na ikut ke Jakarta, ya. Kita fitting baju untuk acara akad. Walaupun tidak ada resepsi, Sasa tetap ingin ada foto keluarga lengkap."


Aleena memandang sendu ke arah Aleesa. Dia menggenggam tangan adiknya dengan begitu erat.


"Maafkan Kakak Na. Kakak Na tidak bisa hadir." Aleesa pun terkejut.


"Tapi--"


"Kakak Na tidak akan pulang sebelum luka ini mengering."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2