
SIdang pertama Satria, Kalfa tidak hadir. Pengacara yang awalnya membela Satria kini berubah arah menjadi membela Rifal dan Raja. Mereka muak dengan kebohongan yang dilakukan oleh Satria. Mereka benar-benar merasa tertipu. Bentuk kecewa mereka ditunjukkan dengan cara beralih kubu tanpa diminta.
Satria sekarang hanya sendiri. Sang putra yang dia banggakan pun tidak pernah menjenguknya. Padahal dia sangat merindukan Kalfa. Di tengah persidangan dia terus menanti kehadiran sang putra hingga sidang selesai. Namun, Kalfa tak kunjung datang. Raut kecewa pi terlihat jelas di wajah Satria.
Bukannya Kalfa tidak hadir sebenarnya dia ada di sana. Hanya saja dia lebih memilih melihat ayahnya dari jauh. Terlalu banyak kejahatan yang telah ayahnya lakukan. Pasal berat pun sudah menanti Satria. Ditambah bukti yang sangat kuat mampu para pelapor tunjukkan. Kalfa tidak bisa berbuat apa-apa. Sudah tidak ada pengacara yang mau membela Satria.
"Maaf, Pih. Bukannya aku tega, tapi aku juga sakit dan kecewA Papih bohongi selama ini."
Mata Kalfa nanar. Dia membalikkan tubuhnya dan tak mampu berkata. Dia ingin membela ayahnya, tapi di sisi lain rasa kecewa dan sakitnya belum bisa terobati. Masih terasa sampai saat ini. Dia memilih untuk diam dan menjadi penonton. Di arah menuju ruang persidangan Restu berpapasan dengan Kalfa. Tidak ada respon dari Kalfa begitu juga dengan Restu. Hari ini Restu datang sendiri. Dia melarang Aleesa datang.
.
Dua Minggu berlalu, persidangan masih berlanjut. Vonis hukuman akan dijatuhkan oleh hakim kepada terdakwa Satria. Bukti yang sudah masuk ternyata banyak sekali. Banyak penggelapan uang yang dia lakukan. Banyak tindakan kriminal dengan direncanakan yang dia lakukan. Banyak bukti valid yang akan memberatkan vonis hukuman Satria.
Hari itu memang hari di mana keputusan hidup atau matinya Satria. Namun, dia merasa bahagia karena bisa melihat kehadiran Kalfa di sana. Dia tersenyum ke arah sang putra. Beda halnya dengan Kalfa yang menunjukkan wajah tidak bersahabat kepada sang ayah. Bukannya dia durhaka, rasa kecewa masih bersarang di dada.
Semua keluarga Addhitama sudah berkumpul. Begitu juga dengan para menantunya. Mereka tengah menunggu keputusan dari hakim tentang vonis yang pantas untuk Satria. Kalfa duduk menjauh dari keluarga Addhitama. Dia dikejutkan dengan suara seseorang.
"Apa kamu tidak ingin membela ayah kamu?" Rindra berkata dengan sangat ketus kepada Kalfa.
Tubuhnya menegang. Dia tahu itu suara siapa. Perlahan dia menoleh ke arah sampingnya. Dia menghela napas kasar ketika Rindra ada di sampingnya. Anak dari Satria itu hanya terdiam. Dia tidak menjawab apapun.
Kalfa masih fokus pada persidangan. Sekilas dia melihat ada Aleena di sana. Namun, ketika dia menoleh, Aleena tengah tertawa bersama Khairan. Ada rasa bersalah di hatinya. Kini, dia merasakan sakit yang pernah Aleena rasakan. Dia pernah menyakiti Aleena dan kini dia disakiti oleh kenyataan yang ada.
".... dua puluh tahun penjara."
Hakim pun mengetuk palu. Ada senyum bahagia yang terukir di wajah keluarga Addhitama. Beda halnya dengan Kalfa yang hanya terdiam. Ada rasa sedih di wajahnya apalagi ketika sang ayah menatap ke arahnya. Hatinya sangat ngilu. Ayahnya tersenyum penuh kesedihan.
"Nak," panggil seseorang.
Kalfa yang tengah menatap ke arah sang ayah menoleh. Wanita yang berada di kursi roda tersenyum bahagia ke arahnya. Dia didorong oleh adiknya, Raja. Ratu menyerahkan sebuah amplop putih dengan bertuliskan nama rumah sakit di mana mereka berdua melakukan tes DNA.
__ADS_1
Ragu bersarang di hati Kalfa. Sang ayah masih menatap ke arah Kalfa. Dia mencoba untuk sedatar mungkin dan tidak ingin menunjukkan apa yang tengah dia rasakan. Ketika dia membuka amplop tersebut, tubuhnya hampir limbung. Ternyata bukan hanya tes DNA dirinya dan juga Ratu, ada juga hasil tes DNA dirinya dengan Satria. Kalfa tersenyum dengan menunduk dalam. Dia tidak tahu harus bahagia atau bagaimana. Dia hanya merasakan kesakitan yang sulit untuk dikatakan.
"Saya ibu kandung kamu, Nak." Suara wanita itu pun bergetar.
Bukannya Kalfa memeluk tubuh Ratu, dia malah menghampiri sang ayah. Dia menatap tajam wajah ayahnya yang sudah sangat sedih.
"Kenapa, Pih? KENAPA?"
Tangis Kalfa pun pecah. Dia menunjukkan hasil dari tes DNA tersebut. Kepalanya pun menggeleng dengan pelan.
"Kenapa harus membohongiku? Apa sehina itu aku di mata Papih?" Urat kemarahan sudah terlihat jelas. Satria tidak bisa berkata. Sungguh karma untuknya. Mental Satria pun sekarang dihajar.
"Apa aku harus membenci Papih?"
Satria terkejut. Dia pun menggelengkan kepala. "Jangan."
Kalfa yang sudah menitikan air mata dan meninggalkan Satria begitu saja. Hasil dari tes DNA Kalfa bawa keluar dari ruang persidangan. Restu tersenyum bahagia melihat Satria kena mental. Akhirnya peluru yang dia miliki mampu membunuh musuhnya.
"Mental dibayar mental."
..
Sehari setelah persidangan sang ayah dia memilih untuk meninggalkan rumah yang dia huni dengan ayahnya. Sebelumnya, dia ingin bertemu dengan Aleena untuk meminta maaf. Namun, bukan Aleena yang ada di rumah.
"Kakak Na sudah terbang." sahut Aleeya dengan sangat ketus.
Kalfa menatap dalam Aleeya. Sikap Aleeya sangat berubah. Tidak seperti Aleeya yang dia kenal. Aleeya sekarang sangatlah dingin.
"Ya, aku--"
"Sudah ya, Fa. Ada Kak Restu di dalam. Kalau Kak Restu tahu ada kamu di sini sudah pasti kamu akan diusir bahkan dihajar olehnya."
__ADS_1
Aleeya yang dulu membela Kalfa, kini malah berubah arah. Dia malah takut pada sang kakak ipar.
"Kok aku seperti tidak mengenal kamu." ujar Kalfa.
Aleeya hanya tersenyum kecil. Dia menatap Kalfa dengan tatapan benci.
"Lebih baik kita tidak saling kenal karena sekarang aku sadar jika kamu dan ayah kamu hanya menginginkan harta aku bukan sepenuhnya mencintai aku."
Kalfa menghela napas kasar. Ternyata ini alasan kenapa Aleeya menjauhinya. Aleeya ternyata sudah tahu semuanya.
"Aku minta maaf."
"Sebuah kata maaf tidak akan pernah bisa menghilangkan rasa kecewa aku."
Kalfa meresponnya dengan tersenyum. Dia masih menatap dalam wajah Aleeya. Cukup lama mereka berdua hanya saling pandang.
"Maafkan aku, aku berjanji setelah ini aku akan pergi jauh dari hidup kamu dan tidak akan mengganggu kamu lagi."
"Pergilah yang jauh." Suara Restu sudah menggema. Dia datang bersama Aleesa. Tatapannya bagai elang.
"Maafkan aku juga, Kak."
"Kata maaf lu udah gak berlaku buat gua."
Mana ada Restu akan berkata manis kepada Kalfa. Dia sangat membenci Kalfa hingga ke tulang. Aleesa hanya diam karena dia sangat tahu bagaimana suaminya jika sudah membenci orang.
"Aku pamit, Ya." Dia masih sempat melempar senyum kepada Aleeya.
"Jika. kita bertemu lagi anggap kita tidak pernah kenal."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong