RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 111. Bersujud


__ADS_3

Restu sudah menggenggam tangan Aleesa karena mereka akan terbang ke Jakarta. Mereka akan pulang ke negara di mana mereka dilahirkan. Urusan madam Zenith dan Kaira itu urusan Gemke. Gemke sudah menghubungi pihak yang berwajib atas perilaku mereka berdua.


Dokter Kaira, setelah ayahnya meninggal dia seperti orang depresi. Dia akan berteriak sendiri dan berkata tidak mau. Di penglihatannya sang ayah dan juga sang adik selalu melambaikan tangan untuk mengajaknya pergi. Namun, dia tidak mau.


"Gemke, saya ingin berbicara dengan putra saya sebelum dia pergi." Perkataan penuh permohonan dengan nada yang sangat lemah. Gemke menimbang-nimbang, dan karena ragu akhirnya dia menghubungi Aksara. Orang yang memiliki wewenang penuh.


"Bawa ke sini dengan pengamanan yang ketat. Kalau perlu tangannya juga diborgol." Sangat sadis seorang Aksara berkata. Madam Zenith pun pasrah saja, yang paling penting sekarang dia bisa bertemu dengan sang putra.


Ada rasa bahagia yang tak terkira yang madam Zenith rasakan. Dia akan bertemu dengan putranya lagi.


.


Dokter Rocki tidak pernah melihat Restu semanja ini kepada seseorang. Termasuk kepada ibu angkatnya. Namun, beda jika kepada Aleesa. Sedari tadi Restu seakan ingin terus bersandar di bahu kecil Aleesa.


"Nunggu apa lagi sih?" tanya Aska sudah tidak sabaran. Aleesa sependapat dengan sang paman sekarang. Mereka sudah kumpul semua, tapi masih menunggu orang lain.


"Ada yang mau ketemu katanya." Aksa berbicara apa adanya. Namun, semua orang malah mengerutkan dahi mereka.


Belum juga kering ucapan dari Aksa, suara langkah seseorang terdengar. Mereka semua menoleh, ternyata Gemke. Namun, di belakangnya ada seseorang yang sangat tidak ingin Restu temui.


"Ngapain si Ijah ke sini?" pekik Aska dengan begitu lantang. Semua orang mencari sosok Ijah yang dimaksud oleh Aska. Namun, mereka tidak menemukan wanita itu.


"Itu loh, si Jin Demit. Ijah namanya, iblis jahat." Semua orang hanya ber-oh ria. Sedangkan Restu sudah tidak ingin berlama di sana. Dia bangkit dari duduknya dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Aleesa.


"Ayo, Lovely." Aleesa mendongak ke arah sang kekasih yang sudah berdiri. Dia bingung harus berbuat apa. Akhirnya, Aleesa pun berdiri.


"Nak, Mamih ingin bicara sama kamu akan hal penting. Mamih ingin bicara empat mata."


Aleesa yang sudah berdiri pun kini menatap ke arah Restu untuk kesekian kalian. Terlihat senyum sinis di sana.


"Saya tidak ingin bicara dengan Anda." Begitu tegas ucapan dari Restu tersebut. Tidak bisa dibantah.


"Bie." Aleesa mencoba untuk membujuk kekasihnya itu. Dia tidak tega melihat wajah madam Zenith yang sangat memelas.


"Aku tidak ingin, Lovely." Masih tegas ucapannya. Aleesa pun tidak bisa berkata apapun.

__ADS_1


Sekarang, Restu sudah menarik tangan Aleesa untuk menjauh dari sana. Dia sudah tidak ingin melihat wajah ibu kandungnya. Tanpa semua orang mengira, Zenith Andrea bersujud di kaki Restu seraya menangis.


"Maafkan Mamih, Nak." Sontak langkah Restu pun terhenti. Aleesa segera menurunkan tubuhnya dan tanpa bisa Restu kontrol emosi dia membentak Aleesa hingga semua orang terkejut. Begitu juga dengan Aleesa.


"ALEESA!!"


Aleesa terdiam sejenak dan dia menatap nanar ke arah Restu. Dia pun menunduk dalam dan menghentikan pergerakannya. Perlahan, Aleesa melepaskan genggaman tangan Restu dan itu membuat Restu menarik tangan Aleesa hingga dia jatuh ke dalam dekapan Restu.


"Maafkan aku, Lovely." Kalimat penuh penyesalan yang keluar dari mulut Restu.


"Lepas, Kak!"


Panggilan yang sudah tidak pernah terdengar kini memekik gendang telinga. Restu mengendurkan pelukannya dan menatap ke arah Aleesa.


"Maaf." Lagi dan lagi kata penuh penyesalan keluar dari mulut Restu. Aleesa hanya diam. Baru kali ini dia dibentak oleh Restu di depan banyak orang. Rasanya sangat sakit.


"Maafkan aku." Restu menarik tangan Aleesa ke dalam pelukannya lagi. "Kamu boleh membentak aku, memaki aku dan juga pukul aku. Kamu boleh lakukan semuanya." Aleesa tidak menjawab. Dia melingkarkan tangannya semakin erat di pinggang Restu.


"Berilah sedikit waktu kepada ibumu untuk berbicara dengan kamu." Restu pun menghela napas kasar. Jika, Aleesa sudah berbicara dia tidak akan pernah bisa menolak. Aleesa berusaha mempersatukan ini dan anak itu walaupun sangat tidak mungkin.


"Ya udah, tapi aku mau kamu tetap ada di samping aku."


Para pria dewasa yang menyaksikan drama kecil itu pun mulai jengah dan memilih untuk keluar dari ruang perawatan.


"Wis, angel." Aska sudah membuka suara.


Di ruang perawatan hanya ada empat orang. Madam Zenith ditemani oleh Gemke. Itupun atas perintah Restu. Sedangkan tangan Aleesa sedari tadi tidak pernah Restu lepaskan.


"Nak--"


"Jangan berbasa-basi. Saya hanya memberi Anda waktu lima menit." Masih saja kejam mulut Restu kepada ibu kandungnya.


"Gemke," panggil Madam Zenith. Gemke menyerahkan sesuatu kepada madam Zenith yang kini madam Zenith serahkan kepada Restu. Tak ada reaksi apapun dari Restu. Menyentuh map itu juga tidak.


Tidak ada respon dari Restu membuat madam Sebuah menghela napas berat. Akhirnya, dia yang membuka suara terlebih dahulu.

__ADS_1


"Semua aset yang Mamih miliki di Kota ini sudah Mamih balik namakan atas nama kamu." Restu hanya tersenyum tipis.


"Terima kasih sebelumnya, tapi saya tidak butuh itu." Restu sudah tidak ingin berlama-lama di sana. Dia mulai bangkit dan membuat Aleesa pun ikut bangkit.


"Gemke, saya tidak butuh itu semua juga warisan dari Kakek Wiratama karena sebuah kebahagiaan itu tidak bisa dibeli dengan uang. Kebahagiaan saya sekarang hanya bersama keluarga angkat saya dan juga calon istri saya."


Sakit sekali rasanya mendengar ucapan dari Restu yang sangat menusuk ulu hatinya. Restu memang bukan anak yang gila harta. Dia pun meninggalkan kamar perawatan dan menyisakan madam Zenith dan Gemke di sana. Bulir bening sudah membasahi wajah Zenith Andrea.


"Saya bilang apa. Mr. R tidak gila akan uang."


.


Di lain negara adik-kakak tengah berbincang berdua sambil menunggu kabar kembalinya anak-anak mereka.


"Gua pengennya pas Restu balik ke sini langsung ngiket Aleesa." Rindra sudah memulai pembicaraan sambil menyeruput kopi.


"Udah punya bekel apa emang?" Rindra berdecak kesal dan Radit tertawa.


"Kenapa persis mertua lu sekarang?" Radit dan Echa malah tertawa. "Lu mau minta mahar berapa emang?" Rindra mulai menantang.


"Aku mah cuma pengen Restu memberikan mahar pakai uangnya sendiri. Mau itu besar atau kecil yang penting pakai uang dia sendiri supaya dia bisa bertanggung jawab atas istrinya nanti." Pemikiran yang sangat luar biasa dari seorang Raditya Addhitama.


"Lah, kalo maharnya kecil gua yang malu." Rindra menimpali.


"Menikah itu bukan dari maharnya, tapi bagaimana ke depannya anak-anak kita menjalankan biduk rumah tangga sesungguhnya. Untuk apa mahar besar, tapi hanya beberapa bulan saja menikah. Paling utama itu tanggung jawab."


"Tuh denger, Pih." Rio sudah menimpali. "Iyo yakin Restu punya banyak uang. Dia juga tahu dirilah dia mencintai siapa."


.


"Lovely, aku ingin kita cepat menikah." Mata Aleesa lun melebar.


"Secepat itukah?"


...***To be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2