RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 185. Jaga Barang Mahal


__ADS_3

Di dalam kamar pengantin, Restu sedang memijat tubuh istrinya yang sudah tanpa busana bagian atas.


"Enak gak pijatan aku?" Aleesa pun mengangguk. Namun, kini tangan Restu mulai nakal dan mulai meraih pepaya mengkal yang menggantung.


"Bie--"


"Ini juga perlu dipijat, Lovely." Aleesa hanya bisa memejamkan matanya sembari menggigit bibir bawah. Sungguh sang suami sangat naka, tapi dia suka.


Bukan hanya tangannya yang nakal, bibirnya pun mulai bergerilya ke sana ke mari. Suara le nguhan pun akhirnya terdengar. Kulit putih Aleesa semakin membuat Restu panas. Terlebih, kini rambut Restu sudah dijambak mesra oleh Aleesa.


Suara antara adu bibir dan kulit Aleesa membuat suasana menjadi semakin panas. Tubuh Aleesa yang kurang sehat pun kini sudah bercucuran keringat. Aleesa sudah tak berdaya. Hingga sang suami mamangkunya di sofa panjang sambil menonton tutorial. Mata Aleesa melebar dan sulit untuk berkedip.


Restu tersenyum kecil ketika melihat Aleesa yang terpana. Dia mulai mencium pipi Aleesa dengan begitu lembut dan terlihat bulu kuduknya meremang.


"Bie--" Aleesa menoleh ke arah sang suami dan Restu sudah tersnyum. Dia menarik dagu Aleesa dan mulai mengecupnya dengan begitu lembut. Tangan yang awalnya diam kini mulai bermain ke sana ke mari.


Deru napas Aleesa mulai cepat dan Restu tak menyiakan kesempatan ini. Tangannya mulai mengusap lembut bagian pangkal paha Aleesa yang memang menggunakan hot pants malam ini. Desisan pun keluar dari mulutnya. Sekarang mulai masuk ke dalam celah celana dan tubuh istrinya seperti kesetanan.


Tak lama bermain di sana, dia mulai merebahkan tubuh istrinya di sofa. Terus membuat istrinya melayang hingga dia berhasil meloloskan kain yang menutupi bagian bawah perut sang istri. Restu hanya bisa menelan ludah ketika melihat keindahan yang ada.


Baru telapak tangannya menyentuh kulit segitiga, sang istri sudah menjerit kecil. Bagaimana jika dia bermain-main di sana. Aroma khas membuat Restu tak sabar ingin menikmatinya. Ketika dia ingin melahapnya, Aleesa melarang.


"Jorok, Bie." Restu malah tertawa. Sepertinya dia harus sabar sekarang.


Restu mengajak Aleesa untuk menonton tutorial kembali. Namun, di bagian yang berbeda. Aleesa pun terkejut dan tak berkedip melihatnya.


"Justru itu yang bisa bikin kamu keenakan, Lovely," bisik Restu. Aleesa menoleh ke arah Restu yang sudah menatapnya nakal.


"Mau dicoba?"


"Kamu gak jijik?" Restu pun menggeleng. "Malah itu bagian terenaknya, Lovely."


"Emangnya kamu pernah nyoba?" Restu menggeleng.


"Tapi, banyak yang bilang seperti itu. Titik pusat ternikmat katanya."


"Mau?" Aleesa pun mengangguk dan Restu sangat bergembira. Namun, suara ketukan pintu membuat semangat empat lima mengendur begitu saja.


"Aarrghh!" erang Restu.


Aleesa mulai mengumpulkan pakaiannya dan menuju kamar mandi. Restu terus mengumpat kesal. Dia pun memakai kaosnya dan melangkahkan kaki menuju pintu. Senyum menyebalkan Restu terima dari Rio.


"Bang sat!"


"Kenapa lu?" Rio mulai menelisik. Barulah dia mengerti.


"Udah dicelupin belum?"


"Lu kira teh celup!" Rio pun tertawa terbahak-bahak.


Kedua pria itu menoleh ke arah Aleesa yang baru keluar dari kamar mandi. Dia juga masih memakai celana super pendek.


"Set dah sepupu gua." Aleesa tersenyum dan menghampiri sang suami.

__ADS_1


"Biang kerok nih datang!" Restu mengumpat kesal sedangkan Aleesa hanya tertawa.


"Kak Iyo mau ajak suami kamu keluar, ya." Dahi Aleesa mengkerut.


"Nongkrong doang sambil ngopi." Aleesa mulai menatap ke arah sang suami.


"Tidur di luar malam ini." Rio terbahak sedangkan Restu sudah kalang kabut. Baru menikah tiga hari saja sudah termasuk ikatan suami takut istri.


.


Setelah Rio pulang, Restu menghampiri strinya di atas tempat tidur. "Maaf, ya." Aleesa hanya menggeleng. Restu mengecup kening Aleesa dengan begitu lembut.


"Bie, apa kamu ingin cepat punya anak?" Pertanyaan Aleesa membuat Restu menoleh.


"Kenapa?" Restu menatap dalam wajah Aleesa. "Kamu belum siap?" Aleesa mengangguk.


"Kita tunda satu atau dua tahun, ya." Aleesa mulai memohon.


"Aku sih gak masalah. Asal malam pertama kita tidak dihalangi apapun." Aleesa pun mengangguk.


Restu tak mempermasalahkan perihal momongan. Dia juga masih ingin berduaan dengan sang istri.


.


baru saja hendak menyentuh sang istri ketukan pintu kembali terdengar untuk kesekian kalinya Restu mengarang sangat kesal.


"Siapa lagi sih?"


Aleesa tertawa melihat suaminya yang sangat murka. Dia mengusap pundak Restu. Aleesa membuka pintu kamar dan dia melihat sang sepupu sudah basah karena di luar hujan.


"Kamu kenapa?" Restu sudah mendekat dan Aleesa sudah mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhnya yang basah.


"Aku buat susu hangat dulu, ya." Aleesa mengangguk.


"Kamu kenapa?" Apang terisak. Dia tidak menjawab apapun..


"Pang --"


"Apang gak sengaja rusakin hape Kak Iam." Aleesa menghela napas kasar.


"Apang apain hapenya?" Aleesa mulai mencari tahu.


"Apang gak tahu kalau Kak Iam lagi pegang hape. Apang bercanda dan ngejogrogin dia. Eh hapenya ancur. Kak Iam marah besar. Apang disuruh benerin hapenya yang rusak. Apang udah jalan ke konter depan, gak bisa benerin. Ke konter yang lebih jauh juga udah, tapi pada gak bisa dibenerin. Apang gak berani pulang." Aleees menghela napas kasar.


"Nih, minum!" Restu memberikan susu hangat kepada sepupunya.


Kedua orang tua Apang memang sedang keluar rumah bersama kedua orang tuanya juga. Menghadiri acara kolega mereka.


"Ganti baju dulu gih! Pake baju Ahjussi dulu." Restu tidak tega melihat anak ini. Wajahnya sangat imut dan menggemaskan. Juga, memang Restu menyayangi semua sepupu Aleesa. Namun, dalam cara yang berbeda.


Aleesa memberikan baju Restu kepada Apang untuk dia gunakan. Setelah berganti pakaian, Apang duduk bersama Aleesa dan Restu kembali.


"Ponselnya merk apa?" tanya sang Ahjussi. Apang menunjukkan ponsel yang hancur.

__ADS_1


"Apang udah coba bujuk Kak Iam untuk pake hape Apang dulu, tapi Kaka Iam gak mau."


"Pasti kamu nanti dimarahi Bunda juga 'kan." Apang mengangguk.


"Palingan hape Apang disita dan uang jajan dipotong lima puluh persen selama sebulan."


Tangan Restu mengusap lembut kepala Apang. dia kasihan kepada anak ini. Anak ini sudah berusaha datang ke counter terdekat, tapi semuanya tidak bisa memperbaiki ponsel milik kakaknya. Dia takut pulang karena sang kakak mengatakan jika dia tidak boleh pulang sebelum ponselnya kembali utuh.


"Ya udah, kita ke storenya aja." Enteng sekali Restu berucap. Aleesa melihat jam yang sudah menunjukkan pukul jam sembilan malam.


"Keburu tutup, Bie. Mana hujan."


"Aku buat janji dulu, pemilik tokonya teman aku."


Aleesa mengusap lembut rambut Apang. "Jangan petakilan lagi, ya. Udah harus bisa jaga sikap." Apang pun mengangguk.


"Udah beres. Kita tinggal ambil barang aja."


Apang terkejut. Dia menatap tak percaya kepada Ahjussi-nya.


"Kita ke mall sekarang."


"Beneran?" Restu mengangguk.


Mereka menuju mall yang tak jauh dari kediaman Aleesa. Restu masih dengan keposesifannya menggenggam tangan Aleesa.


Kedatangan Restu disambut oleh karyawan di sana. Mereka sudah menyiapkan ponsel yang sama percis dengan milik Ahlam. Restu sudah mengeluarkan kartu debit di mana dia membeli ponsel itu dengan cara cash.


"Sasa, ini mahal banget." Apang berbisik kepada Sasa ketika mengetahui harga ponselnya. Pantas saja Ahlam marah besar.


"Gak apa-apa." Sasa mengusap lembut ujung kepala Ahlam.


Setelah transaksi selesai, Restu menyerahkan ponsel tersebut kepada Apang. "Kasih ke Kak Iam, ya." Apang malah terdiam. Dia menggeleng pelan.


"Loh kenapa?"


"Bagaimana Apang ganti uangnya? Apang gak punya uang sebanyak itu." Aleesa tertawa begitu juga dengan Restu..


"Mau gak Apang kerja sama Ahjussi?" Apang menegakkan kepalanya menatap Restu. Dahi Aleesa mengkerut.


"Ini 'kan ponsel mahal." Apang mengangguk. "Kerjaan Apang jaga barang mahal juga."


"Apa?" tanya anak itu. "Tapi, Apang 'kan sekolah. Gak bisa kerja full."


"Apang cukup kerja setelah pulang sekolah sampai malam tiba. Jaga barang mahal Ahjussi biar gak lecet." Apang mengangguk lagi.


"Barang apa Ahjussi?" Apang penasaran. Sama halnya dengan Aleesa.


"Jagain istri Ahjussi." Aleesa terkejut. Juga Apang yang menatap bingung ke arah Restu.


"Emangnya mau ke mana?" Aleesa dan Apang kompak bertanya. Wajah Aleesa nampak sendu.


"Aku harus ke Zurich. Ada pertemuan penting di sana selama tiga hari."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2