RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 67. Pindah Rumah Sakit


__ADS_3

Madam Zenith tersenyum bahagia ketika mendapat kabar dari Gemke bahwa Mr. R sudah dibawa ke ruang perawatan. Gemke juga memberi video suasana kamar perawatan Mr. R.


"Ternyata dia bukan Raje," gumam pilu madam Zenith.


Video yang memperlihatkan betapa hangatnya keluarga dari Mr. R. Mereka tertawa bersama, dan terlihat ibu dari Mr. R sangat menyayanginya. Sedari tadi wanita yang umurnya tak jauh dengannya terus membenarkan posisi duduk Mr. R. Ditambah kekasih hati Mr. R yang terus menggenggam tangannya.


"Aku ingin ke sana. Aku ingin merasakan kehangatan keluarga mereka." Namun, ada tanya besar di hati madam Zenith. "Kenapa mereka mengijinkan Mr. R menjadi seorang bodyguard? Jelas-jelas itu sangat membahaykan dan nyawa yang menjadi taruhan."


Gemke yang sedari tadi berdiri di depan pintu pun ikut bahagia melihat bagaimana kehangatan yang keluarga Restu berikan. Dia ikut bahagia.


Datanglah seorang dokter yang mengatakan bahwa Restu sudah boleh dipindahkan ke rumah sakit yang ada di Jakarta. Gemke terkejut dan menghampiri Restu. Restu menjelaskan semuanya kepada Gemke dan Gemke hanya terdiam.


"Anak orang kaya dan berpengaruh masih mau menjadi bodyguard di negara orang," ejeknya pada Restu dengan bahasa yang mereka tak mengerti. Restu hanya membalasnya dengan seulas senyum.


Madam Zenith pun terkejut, tapi dia tidak mempermasalahkan. Dia akan mengikuti apa yang diinginkan oleh keluarga Mr. R. Dia akan mengatur waktu untuk bertema dengan keluarga pengawalnya itu.


"Kenapa gak pake ambulance aja?" Rio sudah angkat bicara.


"Gua gak mau, RIO!" tegas Restu. Rio hanya mencebikkan bibirnya.


"Sa, ini nih dorong kekasih bayangan kamu yang manja banget kayak bocil," ujar Rio.


"Jangan, Lovely," cegah Restu. Dia semakin erat menggenggam tangan Aleesa. "Tugas adik nolong kakaknya. Jangan pengen dijaga aja."


Rindra dan Nesha tertawa mendengar perdebatan dari dua anak laki-laki mereka. Kedua anak itu selalu beradu argumen setiap kali bertemu. Momen yang sudah jarang mereka lihat seakan mengobati kerinduan mereka sekarang.


"Kakak laknat lu!"


Aleesa hanya tertawa mendengar perdebatan sepupunya dengan kekasihnya. Rindra dan Rio membantu Restu untuk turun dari kursi roda dan masuk ke dalam mobil. Aleesa duduk di samping Restu yang sedari tadi tak bisa ingin jauh darinya. Kedua orang tua angkat Restu hanya menggelengkan kepala.


"Maaf ya, harusnya aku yang jaga kamu. Bukan kamu yang jaga aku," ujar Restu. Aleesa hanya tersenyum. Dia tidak banyak berkata hari ini.


Setiap kali Restu menggenggam tangannya, dia melihat banyak mata yang tengah mengincar kekasihnya itu. Ada ketakutan yang menjalar di hatinya. Namun, sebisa mungkin dia tahan.


"Bie, kenapa orang-orang mengincar kamu? Apa salah kamu?" batin Aleesa.


Tiba sudah mereka di rumah sakit di mana Restu akan dirawat. Ternyata rumah sakit yang masih bekerja sama dengan AdT. corp. Ruang VVIP yang Restu tempati.


"Kamu memiliki dokter khusus yang akan memantau kondisi kamu. Papih sudah mengerahkan dokter terbaik untuk kamu." Restu hanya mengangguk.

__ADS_1


Perihal madam Zenith, Restu sudah yakin aman. Dia mengerahkan anak buahnya yang ada di Jakarta untuk menjaga madam Zenith. Ada beberapa oknum juga yang ikut serta. Semuanya akan mudah jika sudah diberi cuan.


"Pih, untuk malam ini ... boleh 'kan aku ditemani Aleesa?" Restu meminta ijin kepada ayahnya. Sedangkan Rio sudah berdecih.


"Eleh, mau mesoem 'kan lu," tebak Rio. Tubuh Aleesa menegang mendengarnya. Seakan sepupunya ini tahu akan kebobrokan mereka berdua.


"Jangan dikasih, Pih. Bahaya tuh congor si brandal," tambah Rio.


Bukannya marah Rindra malah tertawa. Dia mengacak-acak rambut sang putra. Nesha tak berhenti terkekeh mendengar ucapan anak tunggalnya.


"Namanya juga cowok, mana ada pacaran cuma diem-dieman." Sang ayah malah seakan mendukung tindakan Restu. Sedangkan wajah Aleesa sudah memerah dan membuat Restu tertawa.


Nesha malah memukul pundak sang suami hingga Rindra mengaduh. Kemudian, dia tertawa. Tawa Rinda terhenti ketika melihat adik bersama istrinya datang. Mereka menatap Restu dengan penuh iba.


"Jangan khawatir, Om. Hanya luka kecil."


Plak!


Restu mengaduh cukup kencang ketika Aleesa memukul luka di punggung kanannya tepat pada luka tembakan yang baru mendapat tindakan.


"Sasa!" teriak semua orang.


"Biarin! Biar gak sok-sok-an kuat mulu." Aleesa geram sendiri. Sedari tadi kekasihnya mengeluh sakit kepadanya. Ketika di depan orang tuanya berlagak sok kuat.


"Lovely, sumpah ini sakit banget." Bukannya mengusap lembut, Aleesa malah menghampiri sang ayah dan bergelayut manja di lengannya.


"Baba, nanti aku ikut pulang bareng Baba, ya." Rasa sakit yang Restu alami hilang begitu saja ketika mendengar ucapan dari Aleesa. Malam ini dia ingin menghabiskan waktu bersama Aleesa.


"Iya, Uncle. Bawa pulang Aleesa. Jangan dikasih nginep di sini. Bahaya," timpal Rio. Semua orang pun tertawa.


Melihat Restu yang memang merasakan kesakitan, Aleesa jadi tidak tega dan dia berlari menghampiri kekasihnya kembali.


"Bie," panggil Aleesa.


"Sakit, Lovely." Tubuh Restu sudah membungkuk dan mata Aleesa melebar ketika melihat bercak merah di punggung Restu tepat di lukanya.


"Bie." Suara Aleesa bergetar dan darah itu merembes ke pakaian rumah sakit yang Restu kenakan.


"Baba!"

__ADS_1


Kedua orang tua Aleesa dan Restu mendekat dan Radit segera menekan tombol emergency.


"Bie, maafkan aku, Bie." Aleesa memeluk tubuh Restu yang kesakitan.


Hanya Rio yang menatap kesal ke arah kakaknya tersebut. "Eleh, akting lu bagus bener, Restu. Semua orang ketipu sama pura-pura lu." Begitulah batin Rio berkata.


Pintu perawatan terbuka dan ternyata seorang dokter wanita cantik yang datang. Sontak mata Aleesa melebar.


"Dokternya cewek?" Pertanyaan bodoh yang keluar dari mulut Aleesa.


"Iya." Sang ayah sudah menjawab.


"Permisi, saya periksa dulu, ya."


Suara yang lembut membuat Aleesa terdiam. Sedangkan Rio sudah mengulum senyum. Dia senang karena akan terjadi cemburu-cemburuan di sini.


Dokter itu hendak menutup tirai yang ada di sana dan menyuruh keluarga pasien untuk mundur sejenak. Namun, tangan Aleesa mencegahnya.


"Saya mau menemani calon suami saya."


Terkejut, sudah pasti. Apalagi Restu yang sedari tadi memeluk tubuh Aleesa kini menatap kekasihnya dengan lekat.


"Maaf, Nona. Saya hanya akan memeriksa pasien." Dokter wanita itu membalasnya lagi.


"Dan saya akan tetap berada di sini untuk melihat Anda memeriksa calon suami saya. Saya juga berhak tahu luka suami saya." Keadaan mendadak panas.


Radit dan Echa hanya menggelengkan kepala. Sedangkan Rindra dan Nesha hanya menahan tawa.


"Tapi--"


"Apa Anda mau mempertaruhkan pekerjaan Anda di sini?" Wajah Aleesa sudah nampak menyeramkan. "Saya adalah cucu dari dokter Addhitama, pendiri dari rumah sakit ini yang tak lain adalah putri dari Raditya Addhitama. Juga keponakan dari Rindra Addhitama." Mata dokter wanita itupun berkedip begitu cepat.


"Apa masih berani membantah?" Tatapan tajam Aleesa berikan.


"Tidak, Nona," balas dokter tersebut. "Saya tidak keberatan Anda menemani calon suami Anda." Senyum terpaksa dokter wanita itu berikan kepada Aleesa.


"Ternyata calon istriku sangat garang dan menakutkan," bisik Restu.


"Kamu aja bisa aku bunuh jika kamu mencoba melirik dokter yang ada di samping kamu."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2