
Rio sudah tiba di Bandara Zurich. Dia tersenyum begitu lebar. Seseorang sudah menunggunya di Bandara, yakni sang papi. Rindra Addhitama.
Rio segera memeluk tubuh ayahnya. Dia teramat bahagia. Akhirnya, dia bisa bertemu dengan sang ayah. Sudah hampir enam bulan dia tidak bertemu.
"Kamu gak hubungi Restu?" Rio pun menggeleng.
"Sibuk banget kayaknya dia. Udah lupain Iyo." Rindra terkekeh, putranya ini masih saja seperti anak kecil.
"Restu sudah jadi orang hebat sekarang." Rio dapat melihat ayahnya begitu tulus mengatakan itu semua. Terlihat mata ayahnya berkaca-kaca..
Apa Rio cemburu? Tentu tidak. Dia pun ikut bahagia mendengarnya. Dia yang menjadi saksi bisu perjalanan kehidupan Restu Ranendra.
"Iyo ingin segera bertemu dengannya. Papih terlihat sangat bangga dan bahagia. Itu membuat Iyo ikut bahagia."
"Setidaknya dia tidak dianggap seperti batu kerikil. Dia sudah menjadi berlian hitam sekarang." Rindra berkata dengan sangat bangga.
.
Tibanya di rumah, semua penghuni rumah sudah terlelap. Kedatangan Rio pun tak Rindra beritahukan kepada keluarganya. Begitu juga kepada sang istri. Dia ingin memberikan kejutan kepada mereka semua.
Mendengar cerita sang ayah perihal Aleesa ketika di perjalanan menuju rumah, dada Rio terasa sesak. Dia segera menghampiri kamar Aleesa dan benar saja sepupunya itu belum tidur. Dia masih terjaga dengan tubuh yang bersandar di kepala ranjang. Melihat pintu kamar terbuka membuat Aleesa segera menoleh.
"Kak Iyo!"
Aleesa turun dari tempat tidur dan langsung berlari memeluk tubuh Rio.
"Aku kangen."
"Kak Iyo juga kangen kamu, Sa." Tangan Aleesa melingkar begitu erat di pinggang Rio. Dada Rio terasa sakit ketika isakan kecil keluar dari bibir Aleesa.
"Sabar ya, Sa. Perbedaan keyakinan tidak bisa kita lawan. Keluarga kita menjunjung tinggi sebuah keimanan." Aleesa mengangguk setuju.
Sedang melepas rindu bersama sang sepupu, tiba-tiba bahu Rio ada yang menarik dengan cukup keras hingga pelukannya kepada Aleesa terlepas. Juga tubuhnya mundur beberapa langkah ke belakang.
Wajah garang seseorang dapat dia lihat. Urat-urat kemarahannya sudah timbul. Tangannya pun sudah menggantung. Namun, dia tidak takut. Dia malah mendorong tubuh orang itu hingga mundur ke belakang.
"Ternyata udah jadi rubah nakal lu, ya. Masuk ke kamar perawan tengah malam lewat balkon." Restu pun berdecak kesal dan menatap tidak suka ke arah Rio.
__ADS_1
"Kapan lu balik?" tanya Restu.
"Sejak kapan lu jadi penyelinap?"
"Udah, Kak Iyo. Udah."
Lama tidak berjumpa mereka malah beradu sengit. Aleesa menatap lekat wajah Restu dan dia pun meninggalkan dua laki-laki itu hingga mata Restu dan Rio mengikuti langkah Aleesa. Aleesa meraih kotak berukuran sedang yang ada di atas meja. Dia membawanya ke arah sang sepupu juga sahabat dari sepupunya tersebut. Menarik tangan Restu hingga membuat Rio melebarkan mata.
Restu pun terduduk di sofa kecil bersama Aleesa. Tanpa banyak kata, Aleesa mengeluarkan antiseptik untuk luka di wajah Restu dan mengoleskannya dengan pelan ke arah wajah.
"Ssh!"
Terdengar ringisan kecil. Aleesa menghentikannya sejenak. Rio mendekat dan menarik dagu Restu dengan cukup kasar untuk melihat lukanya.
"Sakit, Setan!" pekiknya.
Aleesa pun memukul tangan Rio hingga Rio mengaduh. "Sejak kapan kalian jadi kompak sih?" Rio mulai menaruh curiga.
Aleesa dan Restu tidak menggubris. Aleesa kembali fokus pada luka di wajah Restu. Luka yang sudah merah dan harus menerima penanganan khusus. Tidak ada kata di antara mereka berdua. Sedangkan Rio tengah melihat adegan demi adegan dengan tangan yang dilipat di depan dada.
Mata Restu pun masih tertuju pada Aleesa. Dia tidak berkedip sama sekali ketika tangan Aleesa terus mengobati lukanya.
Jengah menatap keuwuan dua insan di depan matanya, Rio pun berdehem dan membuat Aleesa segera membereskan kotak obat tersebut.
"Lu kena apa sampe luka begitu. Itu kayak--" Mata Restu sudah memberikan kode agar Rio menghentikan ucapannya. Dia tidak mau Aleesa mendengarnya.
Melihat Rio menghentikan ucapannya, Aleesa menatap penuh tanya ke arah sepupunya itu. Rio hanya tersenyum dan menggeleng pelan, dan hembusan napas kasar kini yang keluar dari mulut Rio.
"Gua yang datang di waktu yang salah atau emang lu datang di waktu yang tepat?" sergah Rio kepada Restu.
"Kayaknya gua yang datang di waktu yang salah sampe kegep sama lu." Rio pun tertawa sedangkan Aleesa sudah beranjak dari tempatnya untuk mengembalikan kotak obat pada tempatnya.
Rio mendekat ke arah Restu. Dia mendekatkan wajahnya di telinga sang sahabat.
"Lu berhutang penjelasan sama gua." Restu pun mengangguk.
"Sa, Kak Iyo sama si brandal pergi dulu, ya." Restu menukikkan kedua alisnya ke arah Rio.
"Udah malam. Mau ngapain lu di kamar anak perawan? Gua bilangin Uncle loh." Rio sudah mengancam Restu dan membuat Restu menghela napas tak ikhlas.
__ADS_1
Rio sudah melangkahkan kaki keluar dari kamar Aleesa. Ketika dia menekan gagang pintu Restu malah masih terdiam di dalam kamar Aleesa.
"Lu ngapain di sana? Cepat pulang!" Rio sudah bersungut-sungut.
"Gua lewat balkon." Rio pun menghela napas kasar. Dia malah berdiri mematung di depan pintu yang belum terbuka.
"Keluar cepetan! Gua tahu lu itu kayak si kancil, idenya banyak." Kini, Restu yang berdecak kesal.
Akhirnya, Restu pun keluar dari kamar Aleesa melalui pintu balkon. Rio pun menekan gagang pintu dan keluar dari kamar Aleesa. Sepupu dari Rio itu terus memandangi punggung Restu yang semakin menjauh. Ketika Restu hendak turun dari balkon. Aleesa memanggilnya dengan teramat pelan.
"Kak Restu."
Tubuh Restu berbalik, dia melihat Aleesa yang berjalan cepat ke arahnya dan Restu tersenyum seraya merentangkan tangan. Mereka pun berpelukan.
"Jaga diri Kakak. Jangan sampai terluka." Sebuah kalimat yang membuat Restu tersenyum. Ada kehangatan yang menjalar di hatinya sekarang.
Restu mengendurkan pelukannya. Menatap lekat wajah sang perempuan.
"Makasih." Aleesa pun mengangguk. "Maaf, ya. Malam ini gak bisa nemenin kamu tidur." Lagi-lagi Aleesa mengangguk. Restu membenarkan rambut Aleesa dengan tatapan begitu dalam.
"Jangan ke mana-mana. Langsung pulang." Tangan Aleesa masih melingkar di pinggang Restu. Sang pria itupun mengangguk.
Dia sudah memajukan wajahnya berniat ingin mengecup kening Aleesa. Namun, sebuah ranting kayu mengenai bagian belakang kepalanya hingga dia mengaduh.
Dari bawah Rio sudah menatap Restu dengan begitu tajam. Tangannya sudah bergerak di depan leher layaknya orang yang tengah menyayatkan pisau.
"Pengganggu!" Aleesa pun tertawa.
"Aku pergi sekarang, ya. Jangan lupa tutup pintu balkon. Terus kunci."
"Iya."
Restu pun sudah hendak melompat ke bawah pun mengurungkan niatnya. Dia membalikkan tubuhnya kembali ke arah Aleesa.
"Jangan lupa mimpiin aku.
...***To Be Continue***...
Komen Banyak nanti malam UP lagi.
__ADS_1