
Fitting baju harus dibatalkan karena Restu harus pergi ke kantor. Untungnya saja Aleesa tidak marah. Dia sangat mengerti dengan pekerjaan Restu. Mantan bodyguard itu tahu diri dia sudah melakukan kesalahan. Sebelum berangkat dia menghampiri Aleesa di rumahnya.
"Sasa di kamar." Echa seakan menyuruh Restu untuk menghampiri Aleesa. Restu pun tersenyum.
Seperti biasa Restu tidak akan pernah mengetuk pintu jika ke kamar Aleesa. Dia melihat gorden masih tertutup rapat dan lampu temaram masih menyala. Laki-laki itu hanya tersenyum. Dia duduk di samping ranjang sambil mengusap lembut rambut Aleesa.
"Lovely," panggilnya dengan begitu lembut. "Suami kamu ini mau berangkat kerja loh."
"Aku masih lajang belum menikah." Restu pun tergelak mendengar jawaban dari Aleesa dengan suara paraunya. Aleesa malah menutup sebagian wajahnya ketika melihat Restu.
"Kenapa ditutupin?" Restu menarik paksa selimut yang menutupi wajah Aleesa.
"Jangan, Bie."
Tetap saja Restu memaksa. Dia melengkungkan senyum yang sangat indah ketika melihat pillow face Aleesa.
"Beautiful." Restu berkata dengan begitu jujur. Tak segan dia mengecup bibir Aleesa hingga membuat matanya melebar.
"Biar nanti gak kaget." Setelah itu dia mencium kening Aleesa dengan begitu dalam. Sang perempuan itupun memeluk pinggang Restu dengan begitu erat.
"Cuci muka gih. Antar aku sampai bawah." Aleesa terkejut. Dia menatap ke arah Restu.
"Latihan dulu, Lovely," kata Restu. "Kalau kita udah menikah pasti akan seperti ini terus."
Menggandeng tangan Restu dengan menggunakan piyama pendek. Wajahnya masih terlihat mengantuk. Kemesraan mereka membuat Aleeya mengerang kesal.
"Masih pagi, woiy!" Aleesa tak menghiraukan.
"Bie, mau bubur ayam di depan." Mode manja Aleesa keluar. Sudah pasti Restu tak bisa menolak.
"Restu mau ke kantor, Sa." Sang ibu sudah bersuara. Namun, Aleesa tak menghiraukan. Dia masih berharap Restu mau mengikuti keinginannya.
"Gak apa-apa, Tante. Nanti aku ijin sama Papih."
Radit tersenyum bahagia karena sang calon menantu adalah pria yang sigap untuk putrinya. Selalu menyempatkan waktu disela kesibukannya.
"Ganti celana dulu," titah Restu.
"Ke depan doang, Bie." Tatapan tajam Restu membuat Aleesa tak berkutik.
__ADS_1
Memeluk erat pinggang Restu itulah yang sedang Aleesa lakukan ketika dia berada di atas motor. Sang calon suami sudah rapi dengan kemejanya sedangkan Aleesa masih memakai piyama. Tibanya di tenda tukang bubur Restu menjadi pusat perhatian yang membuat Aleesa semakin merangkul mesra lengan Restu.
Mereka duduk di bangku panjang dengan tangan Aleesa yang tak mau lepas dari Restu. Bukannya risih Restu malah tertawa.
"Adeknya lagi sakit, ya." Sang tukang bubur berceletuk sembari membawakan dua mangkuk bubur untuk Aleesa dan Restu.
"Ini istri saya. Dia lagi ngidam makanya wajahnya terlihat pucat." Aleesa menatap ke arah Restu yang tengah tersenyum kepadanya.
"Owalah!"
Para perempuan yang sedang ada di sana pun menoleh kepada Restu dan Aleesa. Apalagi Restu yang tak segan bersikap manis kepada Aleesa.
"Jangan nakal ya, Nak." Tangan Restu sudah mengusap lembut perut Aleesa.
Dua insan itu tengah berdrama ria sedangkan di kantor tengah terjadi bisik-bisik manja antar karyawan. Di mana mereka mendengar selentingan bahwa hari ini akan ada pengumuman penting dari pemilik perusahaan. Dikabarkan juga semua anak-anak pemilik perusahaan pertama akan hadir. Jika, sudah begini bakal ada yang penting. Perihal apa mereka pun tahu tahu.
"Pemecatan si Restu kali," celetuk Andi.
"Mudah-mudahan," jawab yang lain.
Rio sudah bersungut ria karena sang kakak mulai tak tahu diri. Memperlambat datang. Dia pun memprotes kepada sang ayah.
"Biarin aja sih, Yo. Harusnya emang Restu gak ke kantor sampai selesai bulan madu. Harusnya juga dia fitting baju hari ini."
Setelah memanjakan calon istrinya, Restu mengantar pulang Aleesa. Ketika dia hendak pergi, sang calon ibu mertua melarangnya. Langkah Restu terhenti dan dia melihat Echa membawakannya jas hitam dan juga dasi.
"Pakai ini!" Dahi Restu mengkerut. "Ini disuruh Mamih kamu." Memang benar, itu disuruh oleh Nesha.
"Emang ada apaan?" Bagi Restu memakai jas ketika kerja di kantoran karena ada acara formal.
"Enggak tahu. Pakai saja, nanti Mamih kamu ngamuk."
Aleesa membantu Restu memakaikan jas dan bibirnya melengkungkan senyum indah ketika melihat ketampanan calon suaminya yang berlipat ganda walaupun wajahnya merengut.
"Ganteng banget deh." Aleesa memuji Restu, tapi dia hanya melirik tanpa membalas. Bagi Aleesa marahnya Restu itu lucu..
Seperti yang diinginkan oleh Restu, Aleesa mengantar Restu hingga ke tempat dia memarkirkan motor. Dia pun memeluk tubuh Restu sebelum Restu pergi.
__ADS_1
"Hati-hati!" Restu mengangguk. Bibirnya sudah mengecup hangat kening Aleesa.
"Jaga anak kita." Aleesa malah terkekeh. Dia mencubit gemas perut Restu.
Tibanya di kantor, Restu diminta masuk ke sebuah ruangan. Itu perintah langsung dari Rindra. Ketika dia membuka pintu ruangan tersebut dia sedikit syok karena ada empat pria berjas hitam di sana.
"Jam berapa ini woiy!" Pekikan suara Rio membuat Restu berdecih kesal. Restu menukikkan kedua alisnya ketika Rio mengenakan pakaian yang sangat formal dengan kacamata hitam.
"Ngapa lu? Terpesona sama ketampanan gua?" Restu tak menghiraukan. Dia memilih mendekat ke arah sang ayah. Di sampingnya ada Rifal dan juga calon mertuanya. Mereka semua kompak mengenakan jas berwarna hitam.
"Tumben ngumpul semua?" Restu mulai memberanikan diri bertanya. Dia pun menyalami kedua adik dari ayah angkatnya tersebut.
Tiga pria itu hanya tersenyum tanpa memberikan jawaban. Restu menatap ke arah Rio. Sahabatnya itu malah menggedikkan bahu. Rindra sudah beranjak dari duduknya. Itu diikuti oleh Rifal dan Radit. Restu yang baru hendak duduk merasa bingung. Ditambah Rio pun sudah berdiri dan membenarkan pakaiannya. Anggukan kecil menjadi kode untuk kedua adik Rindra. Mereka berjalan saling mengikuti. Begitu juga dengan Rio. Mau tidak mau Restu pun ikut di belakang Rio.
Perwakilan beberapa karyawan dari beberapa divisi sudah menunggu kehadiran mereka. Rindra berjalan paling depan, diikuti oleh Rifal dan barulah Radit. Di belakang Radit ada putra dari Rindra Addhitama, Rio Pranathan Addhitama. Namun, semua mata memicing ketika Restu berada di paling belakang barisan pemilik perusahaan dan mengikuti mereka semua. Perwakilan dari beberapa divisi mulai berbisik-bisik perihal anak baru di perusahaan itu. Selain terkenal tampan, anak baru itu terbilang menjengkelkan.
Andi tak segan menarik tangan Restu karena sudah lancang mengikuti para petinggi sekaligus pemilik perusahaan. Restu menatapnya dengan tatapan tajam dan kesal.
"Ngapain lu di sini? Balik kerja sono!"
Suara Andi membuat langkah Rindra terhenti. Juga dengan Rifal, Radit dan Rio. Mereka berempat kompak menatap ke arah Andi.
"Maaf, Pak. Karyawan baru ini emang lancang." Radit dan Rindra menukikkan kedua alis mereka.
"Saya yang menyuruhnya." Andi kini terdiam ketika mendengar ucapan Rindra.
Lima orang pria gagah berjas hitam sudah berdiri sejajar. Rindra sudah membuka suaranya dan semua orang pun terdiam. Kalimat pembuka sudah Rindra katakan hingga sebuah kalimat penting membuat semua orang terkejut.
"Perusahaan yang masih di bawah naungan AdT. Grup ini dan akan bekerja sama dengan perusahaan besar Eropa, yakni Zenth Corporation Swiss." Restu terdiam. Dia menatap ke arah Rindra yang sedang berbicara.
"Suatu kehormatan juga karena pemilik Zenth Corporation hadir pada hari ini."
Para karyawan itu mencari-cari di mana pemilik Zenth Corporation. Hingga satu nama Rindra sebutkan.
"Tuan Restu Ranendra. Beliau adalah pemilik Zenth Corporation yang juga akan menjadi direktur utama di perusahaan ini mulai hari ini."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...