RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 206. Emosi


__ADS_3

Kalfa Putra Satria, sedari tadi dia mengunci diri di dalam kamar. Pikirannya masih tertuju pada berita yang sedang hangat dan sekarang menjadi trending topik.


Seorang pria pura-pura mengangkat seorang anak jalanan untuk dia adopsi. Faktanya, anak itu adalah anak kandungnya sendiri dari hasil hubungan terlarang dengan wanita malam. Sungguh ayah yang jahat.


"Apa ini yang namanya karma?" gumam Kalfa dengan air mata yang sudah menganak.


Kalfa menunduk dalam. Punggungnya bergetar. Dia masih gamang, siapa sebenarnya dia? Hatinya sangat sakit. Dia merasa dibohongi oleh ayahnya sendiri jika memang semua ini adalah fakta sebenarnya.


"Siapa yang berbohong? Papih atau Restu." Pikiran Kalfa sangat kalut sekali.


Sang ayah berkali-kali menghubunginya dan mengatakan jika dia tidak boleh percaya pada kabar di luaran sana. Kalfa menjawab iya, tapi di lubuk hatinya terdalam dia juga penasaran akan siapa dirinya sebenarnya? Dia juga merasa jika ayahnya seperti menutupi sesuatu darinya.


.


Satria mengerang kesal ketika kalah telak dengan bukti yang Restu pegang. Sungguh anak itu bukan lawannya. Dia mampu membongkar semua dosanya.


"Sekarang yang paling meyakinkan Kalfa jika berita ini tidak benar."


.


Di negara yang berbeda, Aleesa merasa terganggu dengan ponselnya yang terus bergetar. Matanya enggan untuk terbuka, tapi getaran itu sangat mengganggu mimpi indahnya.


"Halo." Suara Aleesa parau. Matanya masih terpejam..

__ADS_1


"Bilang ke suami lu jangan terus membuat Kalfa sedih."


Mendengar nama Kalfa membuat mata Aleesa terbuka. Otaknya belum mengerti dengan apa yang dikatakan adiknya.


"Maksud lu apa? Kenapa lu bawa laki gua."


"Lu gak usah berlagak bego deh. Lu pasti udah tahu rencana jahat laki lu itu," sergah Aleeya. "Sama aja laki lu ngebongkar aib keluarga sendiri. Dia juga termasuk ke dalam keluarga Addhitama 'kan."


"Kenapa lu salahin laki gua? Yang pertama bongkar aib siapa?"


"Itu semua karena laki lu yang main kasar." Aleeya terdengar berteriak. "Selalu merasa jagoan. Dilaporin malah gak terima dan malah nyerang balik. Laki lu itu egois."


"JAGA MULUT LU!!"


"Lovely." Restu hanya takut jika sakit Aleesa kambuh lagi.


"Lu berjodoh dengan laki-laki yang gak baik yang cuma bisa merusak keharmonisan keluarga kita. Semua ini gara-gara lu, Sasa. Apa lu gak merasa bersalah, hah?"


Wajah Restu mulai merah padam ketika dia mendengar jelas ucapan tak sopan dari Aleeya. Sedangkan Aleesa sudah tidak bisa berkata. Dia tidak bisa menahan rasa sesak di dada karena rasa kesal dan marah. Disalahkan oleh adiknya sendiri dengan bentakan yang sangat mengiris hati.


"Udah kasih sayang Baba dan Bubu lu ambil dari gua. Juga mulut laki lu yang sangat dipercaya sama keluarga. Kebrandalan dia berguna di negeri orang, tapi tidak di negara ini. Bisa busuk di penjara laki lu!"


"CUKUP ALEEYA!!"

__ADS_1


Restu Sudah membuka suara. Dia mengubah panggilan suara menjadi panggilan video. Dia menatap Aleeya dengan penuh emosi. Ucapan Aleeya sudah sangat keterlaluan.


"Kalau lu gak suka sama gua bilang langsung sama gua. Jangan beraninya ngomelin kakak lu yang gak tahu apa-apa." Suara Restu mulai meninggi.


"Lu cuma perempuan be-go yang terus ngebela manusia salah. Manusia penuh dusta. Tanpa lu buka mata lu dengan lebar kalau manusia itu udah bohongin kakek lu sendiri!" Restu masih dalam keadaan emosi berat sambil menunjuk layar ponsel.


"Jangan bawa-bawa kakek gua." Aleeya menimpali.


"Aleeya! Itu Kakak ipar lu! Lu boleh gak sopan sama gua, tapi gua gak terima dengan sikap lu yang gak sopan sama laki gua." Aleesa benar-benar marah.


"Laki lu duluan yang gak sopan sama gua, Sasa!"


Restu sudah menarik lembut tubuh Aleesa ke belakang. Dia menggelengkan kepalanya dengan pelan.


"I'm okay." Mata Aleesa berkaca-kaca ketika mendengarnya. Restu pun kembali menatap ke arah layar ponsel sang istri.


"Gua gak akan pernah tinggal diam sama orang yang udah ngebuat istri gua marah. Sekalipun itu saudaranya. Ingat, gua bukan orang baik. Gua manusia jahat, dan bisa buat laki-laki yang lu bela sampe ke ubun-ubun gantung diri." Senyum tipis pun terukir di wajah Restu setelah mengancam Aleeya.


"Satu hal lagi, kalau terjadi apa-apa sama lu. Gua gak akan pernah mau bantuin lu walaupun kedua mertua juga para Om gua memohon. Camkan itu!"


...***To Be Continue***...


Komen dong

__ADS_1


__ADS_2