RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 262. Coretan Krayon


__ADS_3

Mendekati masa HPL membuat Restu tidak mau jauh dari istrinya. Sang putra pun seakan menjaga sang ibu ketika ayahnya kerja.


"Abang, kalau mau main, main aja." Aleesa berkata dengan sangat lembut. Namun, Abang Er menggeleng.


"Ban mu ma emih."


Tangannya pun mulai mengusap lembut perut sang ibu dan mampu membuat hati Aleesa mencelos. Sungguh putranya ini sangat luar biasa. Restu sudah mengajarkan tanggung jawab kepada Abang Er sedari kecil dan anak itu mampu mencernanya dengan baik.


.


Restu terus mengumpat kesal ketika pekerjaannya tak ada habisnya. Malah semakin banyak. Belum lagi Zenth Corporation memerlukan dirinya. Umpatan demi umpatan kasar keluar dari mulutnya.


"Saya tidak bisa meninggalkan istri saya."


Dia berbicara dengan sangat tegas kepada Gemke. Dia tidak ingin meninggalkan istrinya di saat hamil tua. Dia ingin selalu mendampingi istrinya. Namun, keadaan Zenth Corporation pun sedang sedikit genting. Di mana banyak yang ingin menjatuhkan perusahaan besar tersebut.


"Akan saya pikirkan kembali. Nanti akan saya kabari."


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Restu. Dia memijat keningnya yang teras pusing. Pergi ke Zurich memakan waktu paling sedikit lima hari. Belum tentu semua masalah selesai dalam waktu lima hari.


.


Abang Er berteriak senang ketika Agha datang ke rumahnya. Dia langsung berlari menuju Agha. Sungguh Aleesa bahagia melihat Agha dan Abang Er yang sangat akrab.


Ketika bosan dan ingin bermain, Bang Er pasti meminta sang ibu untuk menghubungi Agha dan menyuruhnya ke sini. Namun, kali ini ada yang membuat Aleesa mengulum senyum. Agha datang tidak sendiri. Melainkan dengan seorang remaja cantik. Perempuan yang bersama Agha tersenyum sopan ke arah Aleesa. Sedangkan Abang Er menatapnya dengan penuh kekerungan.

__ADS_1


"Hai, kamu tampan sekali." Remaja cantik itu sudah mengajak bicara Abang Er yang memasang wajah tak bersahabat. Percis seperti ayahnya ketika ada orang yang sok kenal dan sok dekat


Abang Er masih diam. Dia perlahan mundur. Itu menandakan dia tidak ingin disentuh oleh perempuan itu. Agha merasa ada yang aneh dari Abang Er.


"Hei! Kamu kenapa?" Agha Bertanya kepada Abang Er yang sudah mengambil kertas dan crayon. Baru berusia empat belas bulan Abang Er sudah senang dengan dua benda itu.


"Sasa, ini bocah kenapa?" Agha mulai bingung. Tidak biasanya Abang Er seperti ini.


"Dia lagi pengen gambar kalau begitu.


"Kamu bisa gambar?" Si perempuan yang bernama Syafa itu bertanya kepada Abang Er.


"Aarrgh!!"


Jawaban penuh kemarahan Abang Er tunjukkan. Wajahnya sudah sangat tidak bersahabat. Menandakan dia tidak suka dengan teman dari Agha tersebut.


Sang ibu mulai memberitahu. Namun, Abang Er tak mau mendengar. Dia malah menjauh dari Agha dan temannya dan masuk ke dalam kamar.


"Kenapa dengan balita itu?" batin teman Agha.


"Maaf, ya. Abang Er lagi gak mood."


Aleesa menghampiri sang putra yang sudah dalam posisi tengkurap di lantai. Usapan lembut Aleesa berikan.


"Abang," panggil sang ibu. Balita itu masih asyik mencorat-coret kertas.

__ADS_1


"Katanya mau main sama Mas. Kok Abang malah menjauh?" Abang Er hanya menggelengkan kepala.


"Abang gak suka sama Kakak yang bareng Mas?" Anak itu mengangguk


"Kenapa?"


Abang Er menunjukkan gambar yang dia corat-coret kepada sang mami. Sebagai seorang ibu Aleesa pasti mengerti dengan kebiasaan Abang Er. Aleesa melihat kertas tersebut.


"Emih, nenn. Bo-bo."


Aleesa meletakan kembali kertas yang ada di tangannya. Dia membuatkan susu untuk Abang Er. Dia juga tidak perlu ke dapur karena di kamar Abang Er sudah ada pantry mini untuk membuat susu. Juga kulkas kecil untuk menyimpan makanan ringan sang putra.


Aleesa memberikan Abang Er susu dan anak itu naik ke atas tempat tidurnya. Mencari posisi nyaman untuknya menikmati susu. Aleesa hanya tersenyum melihat kemandirian sang putra.


"Bobo yang nyenyak ya, Bang." Sang putra yang sudah berada di dua alam hanya mengangguk lemah. Tak lupa Aleesa membubuhkan kecupan hangat di kening Abang Er.


Aleesa mengambil kembali kertas yang sudah Abang Er coret-coret. Sekaligus merapihkan krayon yang ada di lantai. Dahi Aleesa mengkerut ketika melihat coretan Abang Erzan. Ada tiga lingkaran yang tak beraturan di sana. Kemudian dua lingkaran itu dicoret-coret olehnya.


"Gambar apa ini, Bang?" gumam Aleesa.


Dia melirik ke arah tempat tidur dan sang putra sudah tertidur dengan begitu pulas. Aleesa memilih untuk keluar dari sana. Menutup pintu dengan sangat pelan. Langkah Aleesa terhenti ketika bukan hanya Agha juga Syafa yang ada di sana.


"Ahlam?"


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2