RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 58. Menyalahkan


__ADS_3

Hati Restu berdegup sangat kencang ketika mendengar Yansen mengatakan sayang yang begitu tulus kepada Aleesa. Tatapannya sudah tak terbaca. Dia takut hati Aleesa goyah. Dia takut Aleesa kembali kepada perasaannya yang terdahulu. Restu juga sadar jika dia hanya kekasih bayangan. Dia juga tahu hubungan Aleesa dan Yansen belum berakhir.


Restu melihat Yansen menggenggam tangan kiri Aleesa. Namun, seketika pandangan Yansen tertuju pada cincin yang belum dua puluh empat jam Restu sematkan di jari Aleesa. Aleesa nampak terkejut dan dia segera melepaskan tangan Yansen dari tangannya. Itu mampu Restu lihat dengan jelas.


"Apa kamu akan jujur, Sa? Atau malah kamu berbohong." Restu sudah membatin dan menunggu jawaban dari Aleesa. Hati Restu sudah tak karuan, cemburu, tidak terima, dan menanti kejujuran.


Yansen menatap ke arah Aleesa dengan mata yang berkaca. Sedangkan Aleesa sudah memalingkan wajahnya. Dia tahu apa yang akan Yansen katakan.


"It's true?" Yansen bertanya dengan suara terbata.


Agha semakin seru mengarahkan ponselnya ke arah Yansen dan Aleesa. Dia ikut berdebar melihatnya. Dia teringat akan sosok yang tengah terhubung dengan nomor Aleesa. Di mana ponsel Aleesa tengah dipegang olehnya.


"Kayaknya si Badung nih yang lebih tegang dari gua." Lagi-lagi Agha membatin.


Aleesa masih membisu. Suasana pun mendadak hening. Sedangkan Yansen terus menatap Aleesa dengan begitu dalam.


"Kenapa kamu diam aja, Sa?" Yansen sudah bertanya dengan air mata yang hampir menetes. Aleesa masih memalingkan wajahnya.


"Jawab aku, Sa!" Yansen pun mengeluarkan suara tinggi dan membuat Agha terkejut. Semua orang yang ada di kedai kopi tersebut pun menatap ke meja mereka.


"Ck, untung jantung gua ditempelnya gak pake lem serebuan. Jadinya masih aman," batin Agha lagi.


Di balik sambungan video tersebut Restu sudah mengepalkan tangannya dengan sangat erat dan urat-urat kemarahannya sudah hadir di wajah tampannya.


"Beraninya lu bentak calon istri gua!" erangnya dalam hati. Dia tahu diri dia sedang berada di kediaman Madam dan masih bertugas.

__ADS_1


"JAWAB AKU, SA!" bentak Yansen dengan penuh penekanan.


Aleesa menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum menoleh ke arah Yansen. Dia tengah mengumpulkan kekuatan untuk menjawab pertanyaan Yansen. Sepersekian detik kemudian Aleesa mulai menatap Yansen. Dia melihat wajah sendu Yansen. Juga wajah frustasi laki-laki yang sudah menjadi sahabatnya sedari kecil itu.


"Iya."


Satu kata yang membuat hati Yansen hancur berkeping-keping, dan akhirnya tangisnya pun tak terbendung. Laki-laki itupun menunduk dalam. Terdengar helaan napas kasar yang keluar dari mulutnya.


"Kenapa kamu tega, Sa?" tanyanya dengan suara begitu lemah. Kepalanya masih menunduk. "Kenapa kamu tega?" Kini, Yansen menegakkan kepala dengan deraian air mata.


"Aihh," keluh Aksa. "Kalau Mommy nonton ini pasti tisu satu pak abis. Nguras emosi dan air mata." Lagi, lagi dan lagi Aksa membatin melihat adegan demi adegan yang seperti di drama Korea ataupun drama China. Drama yang sering membuat sang mommy tertawa sendiri, marah sendiri, dan menangis sendiri.


Di belahan dunia sana pun Restu belum merasa tenang. Apalagi ada air mata yang jatuh dari seorang laki-laki yang biasanya lebih kuat dibandingkan perempuan. Itu menandakan bahwa sayang dan cinta yang dia miliki amatlah besar.


"Apa kamu akan luluh?" Restu masih menyimak dengan gumaman-gumaman yang hanya bisa dia ungkapkan di dalam hati.


Sekuat hati Aleesa menahan sesak di dada melihat Yansen seperti ini. Namun, ucapan yang begitu menyakitkan yang Grace lontarkan kepadanya membuat hatinya menjadi sedikit kuat. Sudah terlalu sakit hati Aleesa.


"Karena aku hanya wanita jalaang yang tidak pantas untuk kamu."


Bukan hanya Yansen yang terkejut mendengar jawaban dari Aleesa. Agha ikut melongo mendengarnya. Sedangkan Restu hanya menghembuskan napas kasar. Dia tahu akan hal itu.


"Aku wanita murahan. Aku juga rendahan. Aku wanita yang HANYA pantas untuk dihina, padahal aku yang dipaksa mundur dan menjauh oleh mereka," jawab Aleesa. Sorot matanya menunjukkan sebuah kemarahan.


"Tapi, ketika aku mundur, ketika aku menjauh ... mereka tetap menyerang ku. Mereka mengatai ku. Mereka menyalahkan ku. Padahal, pengkhianatan dan kesakitan yang aku rasakan bermula karena ulah mereka." Yansen tak dapat berkata mendengar penuturan Aleesa. Dia tidak menyangka jika kakaknya dan Nathalie bisa sejahat itu kepada Aleesa.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak bilang kepadaku?" Aleesa menatap tajam ke arah Yansen yang seolah menyalahkannya. "Harusnya kamu jujur supaya aku bisa berbicara empat mata dengan Kak Grace." Aleesa tersenyum sinis.


"Sekarang, kamu juga menyalahkan ku?" sergah Aleesa.


"Bukan begitu maksud aku, Sa," elak Yansen.


"Ya, semua salah aku. Aku pembawa masalah. Sekarang, silahkan kamu menyalahkan ku sesuka hati kamu. Aku terima, dan biarlah kebenarannya hanya aku yang tahu." Aleesa sudah tidak ingin berdebat. Dia pun sudah berdiri dan hendak beranjak dari sana. Agha nampak terkejut, dia pun ikut berdiri.


Tanpa kata pamit, Aleesa pun pergi. Es kopi yang Yansen pesankan pun tak dia sentuh sama sekali. Agha masih seperti camera man. Ponsel Aleesa masih tersambung dengan Restu.


"Apakah yang akan terjadi, pemirsah?" ucap Agha pelan.


Belum juga kering ucapan Agha, Yansen sudah berlari mengejar Aleesa yang berjalan dengan langkah lebar. Restu yang masih melihat sang kekasih dengan pacar sesungguhnya hanya dapat meremas botol air mineral yang sudah kosong. Ada kemarahan juga kecemburuan yang bersarang di dada. Apalagi Yansen sudah mencekal tangan wanita yang dia cinta.


"Maafkan aku, Sa. Aku gak bermaksud--"


"Asal kamu tahu, Sen. Aku diam karena aku gak mau merusak hubungan kamu dengan kakak kamu. Aku diam karena aku tahu kamu sangat menyayangi Kak Grace. Aku bukan orang jahat dan tak punya hati yang akan membuat hubungan kamu dengan kakak kandung kamu sendiri retak," jelas Aleesa dengan menggebu-gebu. Tidak ada air mata di sana. Aleesa seakan tengah mengungkapkan semua isi hatinya juga perlakuan kakak dari Yansen yang selama ini tidak Yansen ketahui. Marahnya orang diam seperti ini.


"Aku lelah diteror terus menerus. Aku disuruh mundur, aku disuruh pergi," papar Aleesa. Dia pun tersenyum kecil sebelum melanjutkan ucapannya. "Namun, ketika aku mulai mundur dan pergi, aku tetap saja jadi incarannya, menuduhku mengkhianati kamu. Padahal, aku yang dikhianati terlebih dahulu."


Yansen terdiam, tubuhnya membeku. Kalimat terkahir yang Aleesa katakan seperti menyindir dirinya habis-habisan.


"Hati aku sakit, Sen. Hati aku terluka." Mata Aleesa mulai berkaca-kaca. "Bahkan, jantungku pun ikut serta merasakannya. Bukankah itu yang dinamakan sakit luar dalam?" Suara Aleesa mulai terdengar berat. Sedangkan Yansen sudah tak bisa berkata.


"Maaf. Jika, aku telah menyakiti kamu. Mengkhianati kamu," ujar Aleesa. "Aku juga berhak bahagia, begitu juga dengan kamu."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ....


__ADS_2