
Satria menangis ketika Kalfa datang menemuinya di penjara. Namun, kedatangannya bukan untuk menjenguknya melainkan untuk berpamitan kepada ayahnya.
"Jangan cari aku, Pih. Biarkan aku kaya dulu lagi yang tak memiliki siapapun."
Satria terdiam. Hatinya semakin sekit mendengar apa yang dikatakan oleh putranya sendiri. Ingin rasanya dia melarang, tapi mulutnya sulit untuk dibuka.
"Semoga Papih baik-baik saja dan sehat selalu," ucap Kalfa. "Terima kasih sudah menjadi pahlawan untukku selama lima belas tahun ini. Terima kasih sudah menyayangi aku dengan begitu tulus dan banyak cinta. Terima kasih, Pih."
Sekuat tenaga Kalfa menhan air matanya. Jujur, dia tidak tega melihat ayahnya, tapi dia harus melakukan ini agar dia bisa melupakan rasa kecewa dan sedihnya. Kalfa mulai berdiri, dia memberikan senyum manis sebelum dia pergi. Dia tidak tega melihat ayahnya yang hanya terdiam dengan sorot mata penuh kepedihan. Juga air mata yang sudah menganak dan hampir luruh membasahi pipi.
"Aku pergi, Pih."
.
Bukan hanya kepada Satria dia berpamitan. Kepada Ratu pun dia pamit. Dia masih menghargai wanita yang sudah melahirkannya. Ratu yang tidak tahu apa-apa menyambutnya dengan senyum bahagia.
"Tinggallah di sini, Nak."
Ratu kira Kalfa tidak memiliki rumah lagi karena rumah Satria sudah disita oleh pihak bank. Rumah yang dia bangun menggunakan uang korupsi perusahaan sang kakak.
"Kedatangan aku ke sini ingin pamit pergi kepada Ibu." Kalfa berkata dengan sangat sopan.
__ADS_1
Kalimat Kalfa mampu membuat Ratu terkejut. Dia tidak bisa berkata dan air mata langsung meluncur begitu saja membasahi pipinya.
"Kenapa, Nak?" Suara Ratu bergetar. "Maafkan Ibu."
Kalfa menggeleng. Dia tersenyum ke arah wanita yang duduk di kursi roda. Dia mulai bersimpuh di hadapan sang ibu.
"Makasih sudah melahirkan aku ke dunia ini. Terima kasih juga sudah membongkar fakta yang tidka aku ketahui. Terima kasih banyak, Ibu." Kalfa menatap sang ibu dengan begitu dalam.
"Ijinkan aku pergi untuk menghilangkan rasa kecewa dan rasa sedih yang sekarang sedang aku rasakan. Ijinkan aku menyendiri sejenak. Sejujurnya, kenyataan ini sangat membuat mental aku berantakan."
Kalfa mengatakan apa yang dia rasakan. Psikisnya benar-benar terguncang. Namun, bisa dia sembunyikan dengan sangat baik. Dia marah dia kecewa, dia sedih, dia menangis keras. Itu semua dia lakukan jika dia tengah sendiri. Jika, di hadapan orang lain dia mampu menyembunyikannya dan mencoba sekuat tenaga untuk terlihat baik-baik saja.
Kalfa menggeleng. Dia yang ragu mulai menyentuh tangan sang ibu. Dia menggenggam tangan wanita di depannya. Getaran hangat mampu dia rasakan. Begitu juga dengan Ratu yang sudah meneteskan air mata.
"Biarkan aku pergi. Aku ingin berlaku adil," paparnya. "Ketika aku memutuskan meninggalkan Papih, aku juga harus meninggalkan Ibu. Bagaimanapun kalian adalah orang tua aku. Walaupun aku baru tahu itu sekarang., tetap sja aku tak ingin berpihak ke sebelah pihak."
"Ijinkan Ibu bersama kamu untuk sejenak, Nak. Ibu ingin memeluk kamu."
Tanpa Ratu duga Kalfa memeluk tubuh Ratu dan tangis yang begitu lirih keluar dari mulut Ratu. Dia terisak dan membalas pelukan Kalfa dengan sangat
erat.
__ADS_1
"Maafkan Ibu, Nak."
Hati Kalfa tersentuh dan pedih ketika mendengar kalimat penuh penyesalan dari seorang wanita, Dia hanya bisa menghela napas berat.
"Jangan pernah salahkan diri Ibu. Ini sudah menjadi tulisan takdir aku, Bu." Kalfa masih mencoba berbicara denagn bijak.
Tak lama, pelukan itu Kalfa urai dan dia menghapus air mata di wajah sang ibu. Dia tersenyum dengan begitu mais.
"Jangan nagis, Bu. Sampai kapanpun Ibu akan tetap menjadi Ibu aku, dan aku akan tetap menjadi putra Ibu."
Kalfa tidak ingin membuat ibunya semakin nersedih, Dia mulai beranjka dari bersimpuhnya.
"Aku pergi ya, Bu. Aku janji jika semuanya sudah baik-baik saja aku akankembali memeluk Ibu."
Kalfa membalikkan tubhnya dan mulai menjauhi Ratu. Keputusan yang Kalfa ambil sudah sangat bulat. Tidak ada yang bisa menghalangi keputusannya.
"Kalfa!"
...***To Be Continue***...
Komen dong
__ADS_1