RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 182. Pov Grace


__ADS_3

POV. GRACE


Setelah ditemukannya baju dan juga kalung salib milik Yansen hatiku sakit tak terkira. Aku masih menaruh asa. Aku masih menaruh harap pada mukjizat Tuhan yang nyata.


Aku baca kembali surat terakhir yang Yansen tuliskan untukku. Hatiku perih ketika membaca kalimat terakhir yang mengandung arti berbeda. Sekuat tenaga aku menolak kenyataan pahit ini.


Mataku terpejam karena pengaruh obat, tapi pikiranku berkeliaran ke sana ke mari. Memikirkan bagaimana kondisi adikku. Melihat berita yang ada, kecil kemungkinan adikku pun bisa selamat. Namun, aku tetap menaruh harap yang besar kepada Tuhan, kepada Bapak yang selalu menjagaku dan juga Yansen.


Aku bermimpi bertemu dengan Yansen juga mamiku. Mereka tersenyum begitu lebar kepadaku. Wajah mereka begitu bersinar. Tak ada kata yang mereka ucapkan. Mereka hanya menatapku dengan mata yang penuh cinta.


"Kamu masih hidup kan. Kamu enggak akan ninggalin Kakak kan."


Kalimat itu yang aku ucapkan. Kalimat LP itu yang aku katakan kepada adikku yang tengah memeluk tubuh ibuku. Yansen masih tersenyum, belum ada kata yang keluar dari mulutnya.


"Jika, kamu pergi ... bawa serta Kakak. Jangan tinggalkan Kakak sendiri karena kakak tidak sanggup hidup sendiri di sini, tanpa saudara, tanpa kamu. Ingatlah pada janji kita kita akan terus bersama."


Aku melihat mata Yansen mulai berair. Senyum di bibir ibuku mulai memudar. Ibuku menunjukkan wajah sendunya. Ibuku menunjukkan wajah sedihnya. Dia menggeleng pelan menandakan sepertinya aku tidak boleh ikut. Aku belum boleh berkumpul bersama mereka untuk sekarang.


"Aku juga ingin pergi bersama kalian, berkumpul bersama kalian."


Yansen mendekat dan dia memeluk tubuhku. Aku menangis di dalam dekapannya. Hal yang tak pernah aku lakukan selama hidupku bersama dengan Yansen.


"Jangan mendahului takdir Tuhan, Kak." itulah yang dikatakan oleh Yansen. Dia mengurai pelukannya, menatap wajahku dengan begitu dalam. Dia tersenyum sembari menggelengkan kepalanya perlahan.


"Aku memang sudah harus pergi sedangkan Kakak masih harus tetap di sini. Tunggu sampai Bapak menjemput kakak."


"Kakak tidak ingin sendirian. Kakak sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Harta yang paling berharga yang kakak miliki adalah kamu. Jika, kamu pergi Kakak pun harus pergi."


Aku masih keras kepala dan aku masih tetap dengan pendirianku, juga keinginanku, yaitu ikut bersama mereka. Aku rindu ibuku Aku juga ingin memeluk tubuhnya. Akuningin dipeluk olehnya karena sudah sangat lama aku tidak merasakan pelukan hangat seorang ibu. Aku juga ingin mengobati luka atas kepergian ibuku untuk selama-lamanya. Luka yang semakin hari semakin dalam dan sulit untuk diobati.


"Jangan lakukan itu, Kak." Yansen melarangku.


"Banyak orang yang masih sayang sama Kakak. Banyak yang masih mau berada di samping Kakak ketika Kakak seperti ini. Sebenarnya, kakak dikelilingi oleh orang-orang tulus. Orang-orang yang mampu merangkul Kakak dan menyayangi Kakak tanpa Kakak duga."


Aku terdiam sejenak. Apa yang dikatakan oleh Yansen memang benar. Ketulusan itu aku dapatkan dari kedua orang tua Aleesa, mantan kekasih Yansen. Mereka berdua sangat tulus menyayangiku dan juga menjagaku. Walaupun aku telah berbuat jahat mereka masih saja berbuat baik.


Aku tak banyak berkata kepada Yansen. Hingga dia melambaikan tangan dan berpamitan kepadaku. Aku terus menjerit kencang melarangnya. Akan tetapi, aku tak bisa menghentikan langkah adikku bersama adikku.


"Yansen!"


Aku terbangun dari tidurku. Polisi yang berjaga di luar panik dan langsung masuk ke kamar perawatan.


"Kamu tidak apa-apa?" Grace menggeleng. Dia mencari dua sosok yang dia temui di dalam mimpi. Sayangnya, tidak ada.


Jika, mengingat mimpi itu air mata tak bisa aku tahan. Aku mencoba untuk tidak mempercayainya. Aku masih berharap Yansen akan selamat. Sebuah doA dan harapan yang aku panjatkan kepada sang pemilik semesta.


Banyak orang yang memprediksikan bahwa tidak akan ada korban yang selamat. Hatiku semakin hancur, dan asa semakin tipis. Harapanku pada Tuhan bagai candaan.


"Aku harus tetap percaya jika Yansen masih hidup." Aku tersenyum sambil bergumam. Namun, mataku tak bisa mendustai siapapun.


Setiap kali mendengar berita pesawat jatuh, ingin rasanya aku menjadi orang tuli. Aku tidak ingin mendengar berita buruk, tetapi setiap kali pihak kepolisian menyebutkan nama korban yang sudah teridentifikasi. Aku malah takut, dan aku berharap Yansen tidak ada di dalam daftar korban meninggal.


"Masih ada asa yang aku genggam."

__ADS_1


Aku sangat melihat pihak kepolisian yang menjagaku tidak yakin dengan asa yang aku genggam dan aku yang sering aku katakan, tapi tidak ada salahnya aku berharap. Tidak ada salahnya aku menunggu mukjizat. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini Ketika Tuhan sudah berkehendak.


Aku keras kepala karena dia adalah saudara satu-satunya yang aku miliki. hanya dia Keluarga yang aku miliki di dunia ini karena sedari kecil aku hanya hidup berdua tanpa ada sanak saudara yang menjenguk kami. Jika, dia memang tidak ada aku akan menjadi anak sebatang kara yang tak tahu harus mengandung kepada siapa. Dia adalah alasan untuk aku bertahan sampai pada usiaku sekarang.


Asa yang aku genggam setiap hari semakin menipis. Korban yang teridentifikasi mulai banyak, tapi belum ada nama adikku. Aku berharap dia selamat. Setidaknya dia tidak ikut terbang dengan pesawat tersebut. Namun, baju-baju dan kalung salib miliknya ditemukan terlebih dahulu sebelum pada korban ditemukan. Aku masih menggelengkan kepala. Aku masih mencoba untuk tidak percaya. Mencoba untuk berdiri dan mencoba untuk kuat. Juga tidak menyerah. Aku masih berharap Tuhan berbaik hati kepadaku, masih mengasihaniku untuk terus bersama adikku.


Menggenggam asa dalam hati yang tak biasa membuat aku harus terus bertahan dengan keyakinanku. Walaupun sulit dan semakin tipis, tapi aku mencoba untuk yakin bahwa adikku masih hidup. Adikku selamat dan tidak menjadi korban dari pesawat tersebut. Aku bukan menentang takdir, tapi aku belum menemukan sebuah kepastian yang menyatakan bahwa adikku masih hidup atau sudah meninggal. Aku hanya ingin sebuah kejelasan bukan hanya terkaan.


Ketika keyakinanku mulai tumbuh kembali, aku malah didatangi keluarga Aleesa. Aku terkejut dan aku merasa ketakutan. Apalagi ditatap oleh suami Aleesa dengan begitu tajam dan penuh dendam. aku merasa terpojokan. Aku merasa tengah di sidang. Namun, Om Radit menyapaku dengan sangat sopan dan lembut. Juga senyum yang mengembang begitu tulus di wajahnya, tapi tidak dengan menantunya yang menatap bagi musuh. Selalu ada rasa bersalah di hatiku jika melihat Aleesa.


Tak kuduga kedatangan mereka menjengukku hanya untuk memberikan sesuatu. Secarik kertas yang di dalamnya berisi tulisan-tulisan yang menyayat hati. Aku disuruh membaca tulisan tersebut. Aku bingung. Aku tidak tahu awalnya. Siapa yang menulis itu? Terpaksa aku membaca tulisan tangan tersebut. Tulisan tangan yang sangat aku kenali, tulisan tangan yang sudah tiga hari ini aku baca berulang. Ya, itu tulisan tangan adikku, yakni Yansen.


Mataku mulai membaca kata demi kata yang ada di atas kertas tersebut. membaca kata pertama saja hati aku sudah sangat sakit. Ingin rasanya aku membuang surat itu


Bapa, aku sudah siap.


Membaca itu saja pun hati aku sudah sakit. Aku tahu akan kelebihan adikku. Aku juga tahu dia satu frekuensi dengan Aleesa, tapi aku tidak menyangka jika dia sudah memiliki firasat tentang kepergiannya hingga meninggalkan coretan tinta unt orang yang dia sayang.


Peluklah aku dan sembunyikan aku di belakang punggung kekar-Mu agar mereka tak bisa melihatku.


Sekuat tenaga aku menahan laju air mata. Sekuat tenaga aku menahan sesak di dada. Membaca surat ini lebih menyakitkan dibandingkan surat yang Yansen berikan untukku. Ketika aku membaca, tersirat begitu dalam makna yang kalimat tersebut. Akan lebih sakit lagi ketika kalimat itu menjadi kenyataan.


Leburlah aku bersama air laut agar tidak terdengar suara tangisan dari mereka


Aku mengerti maksudnya. Aku tahu artinya, tapi lagi-lagi aku menolak untuk percaya aku masih meyakini jika Yansen masih hidup. Dia tidak mungkin pergi meninggalkanku yang masih ada di sini seorang diri.


Jadikanlah air laut sebagai penawar rindu Untuk mereka ketika mengingatku.


Kenapa harus air laut? itulah yang ada di benakku. Kenapa tak berada di bawah bumi saja agar ketika kami merindukanmu kami bisa datang menemuimu. Jika di bawah air laut apa yang bisa kami lakukan? Hanya memandang air laut yang tenang dan terkadang bergelombang karena sapuan ombak yang cukup besar.


Jujur aku tak kuasa menahan tangis ketika membaca nama dari si penulis tersebut. Aku menunduk dalam. Tubuhku bergetar dan untungnya Tante Echa memelukku. Aku merasakan kehangatan walau Hanya sekejap. Aku merasa disayangi walau hanya sebentar.


"Jangan merasa sendiri karena ada Tante dan Om Radit yang akan terus menjaga kamu dan berada di samping kamu. Kamu adalah anak Om dan Tante."


Malaikat Tak bersayap yang Tuhan kirimkan di dalam kehidupanku. Mereka selalu ada disampingku ketika aku membutuhkan uluran tangan seseorang. Mereka tak pernah lelah, mereka tak pernah bosan, dan juga mereka tak pernah membenciku. Walaupun aku sudah sangat jahat terhadap anaknya. Aku pernah bertanya kenapa mereka masih baik kepadaku. Padahal aku sudah jahat kepada mereka. Jawaban mereka membuat hatiku sakit membuat hatiku nyeri.


"Sebuah kejahatan Jangan pernah dibalas dengan kejahatan yang sama, tapi balaslah dengan sebuah kebaikan karena kebaikan itu akan membawamu pada karena baik nantinya."


Rasa tenang hanya bertahan sebentar. Ketika keluarga Aleesa pergi hatiku mulai dilanda kecemasan. Aku mulai merasa takut akan coretan tinta yang menjadi kenyataan.


"Apa benar kamu sudah tiada, Sen? Kenapa Kakak tidak percaya?"


Aku sudah melupakan segala sedihku ke psikiater yang menangani aku. Aku berharap beban hati ini menghilang. Ternyata aku salah. Beban dan rasa sakit ini masih ada. Hingga pada akhirnya aku menyerah dan memilih memejamkan mata.


Aku bertemu lagi dengan Yansen. Kini, dia sendirian. Dia menghampiri aku dengan memakai baju yang ditemukan oleh tim Sar. Tiba-tiba mataku berkaca-kaca. Apalagi ketika tangan dinginnnya menggenggam tanganku.


"Buanglah asa Kakak. Jangan siksa diri Kakak sendiri."


Aku menggeleng dengan pelan. Aku mulai menyentuh wajah Yansen yang dingin bagai es. Kepalanya menggeleng.


"Aku sudah dipeluk oleh Bapak. Aku sudah bersama Mamih. Jadi, letakkan asa Kakak. Jangan berharap lebih tentang aku. Cukup ikhlaskan aku dan berhentilah menangisiku."


Air mata yang sekuat tenaga aku tahan meluncur dengan begitu derasnya. Perkataan Yansen kali ini membuat aku membisu. Mulut aku terasa kelu dan gak bisa menjawab apapun. Hatiku bagai dihantam bebatuan besar mendengarnya.

__ADS_1


"Coretan tinta yang aku tuliskan mengandung sebuah arti, yakni perpisahan. Bapa sudah menjemputku. Bapa sudah mengulurkan tangan kepadaku. Tidak ada alasan untukku membantah-Nya." Aku hanya bisa menggeleng pelan dengan air mata yang tak bisa ditahan.


"Ini sudah jalan hidupku. Ini sudah menjadi takdirku. Aku harus menghadapinya." Adikku semakin menatap dalam kepadaku.


"Perihal laut ... sedari Mamih tiada ... aku memang memiliki keinginan jika aku pergi nanti aku tidak ingin meninggalkan jejak. Aku ingin dikremasi dan abunya dilarung ke laut. Aku tidak mau terus meninggalkan tangis jika aku berada di bawah bumi. Jika, aku berada di dalam lautan, kalian tidak bisa menangisiku terus-terusan karena aku tak memiliki tempat yang tetap. Aku terus berpindah-pindah dibawa oleh ombak."


Aku merasa terhipnotis ketika mendengar Yansen menjelaskan ini. Aku ingin menimpali, tapi mulutku sangat kelu. Mulutnya tertutup dengan begitu rapat..


"Aku mohon, letakkan asa Kakak dan terimalah kenyataan jika aku sudah bahagia bersama Bapa di sana. Maaf, aku tidak bisa menepati janjiku untuk selalu bersama Kakak. Maaf, aku pergi lebih dulu. Selamat tinggal Kakak. Aku sayang Kakak."


Mimpiku itu sangat begitu nyata hingga ketika aku bangun wajahku berair. Dadaku turun naik dengan begitu cepat. Aku mencari psikiater yang mendampingiku. Ternyata dia tidak ada. Aku pun menghela napas kasar. Aku mulai menegakkan dudukku. Mencerna mimpiku dengan baik. Meraih dua carik kertas yang diiisikan tulisan tangan penuh makna yang mendalam.


"Apa benar?" Aku masih tidak percaya.


Dibaca lagi dua keras itu hingga tak terasa air mataku menetes dengan begitu derasnya. Padahal, aku sudah hafal isi dari tulisan tangan sang adik, tapi tetap saja air mataku berlinang. Betapa sakitnya hatiku membacanya.


Aku mulai mengambil pulpen dan menuliskan sesuatu di balik surat yang Yansen tuliskan. Aku menulis dengan wajah yang datar, tapi dengan hati yang bergemuruh. Aku seperti tengah membalas surat cinta dari kekasihku. Kepalaku miring ke kanan dan ke kiri ketika membaca ulang tulisanku.


Aku meletakkan kembali kertas itu ke dalam goody bag. Kertas itu kini menjadi barang berharga untikku. Aku melihat di atas meja ada keranjang buah yang kecil. Bibirku mulai terangkat. Perlahan, aku turun dari ranjang pesakitan dan menuju sofa. Aku menatap keranjang buah tersebut hingga senyum penuh arti terukir di wajahku.


#Pov End.


"Pak, ke rumah sakit sekarang. Grace--".


Tubuh Radit menegang ketika mendapat berita yang mengejutkan. Dia yang belum mandi hanya mencuci wajahnya dan bergegas menuju rumah sakit.


"Ba, mau ke mana?"


"Ke rumah sakit." Dahi Echa mengkerut dengan penuh tanya.


"Grace." Kalimat lemah yang membuat tubuh Echa menegang. Dia tidak bisa berkata apapun.


"Bubu ikut."


Tibanya di sana, sang psikiater sedang menyandarkan tubuhnya di dinding. wajah penuh penyesalan terlihat jelas. Ketakutan pun nampak sekali. Dia menoleh ketika suara langkah kaki yang begitu keras terdengar. Tubuhnya mulai bergetar hebat.


"Kenapa bisa terjadi?"


Terdengar suara Raditya Addhitama begitu murka. Dia belum bisa menjawab. Dadanya masih bergetar hebat. Dia pun merasa ketakutan dengan apa yang dia lihat ketika dia baru tiba di ruang perawatan Grace.


"Apa kamu meninggalkan dia?" Begitu tegas dan garang kalimat tersebut.


Psikiater itu hanya terdiam. Radit kembali membentaknya lagi, dan itu membuat dia sangat-sangat terkejut. Echa sudah menenangkan suaminya. Namun, wajah gram masih kentara.


"Saya ditelepon jika Ibu saya kondisinya drop dan dilarikan ke rumah sakit. Pada saat itu saya tidak bisa berpikir jernih saya langsung pergi ketika Grace tertidur dengan begitu nyenyak. Saya kira dia tidak akan terbangun Ketika saya pergi." Helaan nafas kasar keluar dari mulut psikiater yang menangani Grace.


"Saya pikir juga saya tidak akan lama di rumah sakit di tempat Ibu saya dirawat, tapi nyatanya Ibu saya harus masuk uang ICU dan dirawat secara intens karena keadaannya kritis. Saya juga tidak bisa menghubungi siapapun karena ponsel saya benar-benar mati. Saya tidak bisa memikirkan apapun kecuali, ibu saya. Maafkan saya karena telah lalai menjaga grass hingga Grace seperti ini." Kepala sigater itu masih menunduk dalam menandakan dia benar-benar menyesal.


Ucapan lembut di pundak Radit membuat hatinya mulai melembut. pacar selalu bertugas untuk menjaga emosi Raditya Addhitama yang sekarang sekarang ini sering meletup-letup. Baru saja Radit hendak membuka suara pintu ruang ICU terbuka salah satu perawat mulai panik dan berlari Tak lama berselang dokter pun ikut berlari.


"Doakan pasien, ya." Tubuh mereka bertiga pun menegang.


...***To Be Continue*** ...

__ADS_1


Komen dong ..


__ADS_2