
"Kalian harus secepatnya dinikahkan."
Kalimat yang membuat Aleesa melebarkan mata dan secepat kilat menegakkan kepala. Sang ayah sudah menatap tajam ke arahnya. Sedetik kemudian, dia menoleh ke sebelahnya. Di mana sang tunangan malah bersikap santai dan senyum-senyum bagai orang kegirangan.
"Bie--"
Mata Aleesa sudah berembun. Dia menatap penuh harap kepada Restu. Genggaman tangan Restu membuat rasa cemas Aleesa sedikit menghilang.
"Aku siap menikahi kamu."
Ucapan itu membuat jantung Aleesa hampir terlepas dari tempatnya. Dia membelalakkan mata. Menggeleng dengan pelan, tapi Restu malah turun dan bersimpuh di hadapannya.
"Siapkah kamu menikah denganku?"
Oh Tuhan, kejutan di pagi hari yang membuat kepala Aleesa berputar bak komedi putar. Keluarga Aleesa dan Restu bukannya marah malah mengulum senyum indah. Inilah yang mereka harapkan. Sejatinya mereka pun was-was akan hubungan Restu dan Aleesa. Bukannya mereka tidak tahu bagaimana bar-barnya Restu kepada Aleesa. Bagaimana bucinnya seorang Restu Ranendra kepada Aleesa Addhitama.
"Siap gak siap harus siap."
Sang ibu dari Aleesa yang menjawab. Itu membuat Aleesa semakin dirundung rasa bersalah. Genggaman tangan Restu pun tak mampu membuat hati Aleesa tenang kali ini.
"Siapkan semua persyaratan pernikahan hari ini. Serta apa yang dibutuhkan Aleesa untuk seserahan nanti." Rindra sudah angkat bicara. Tubuh Aleesa pun mulai lemah tak berdaya.
Aleesa memukul-mukul pundak Restu ketika kedua orang tua mereka Sudah pergi. Aleesa kesal, Aleesa merasa bersalah kepada kedua orang tuanya.
"Ini semua salah kamu, Bie!"
Restu hanya tersenyum. Dia pun mencoba untuk memeluk Aleesa, tapi Aleesa menepisnya. Bukan Restu namanya jika dia tidak bisa meraih apa yang dia inginkan. Aleesa pun menangis di dalam pelukannya.
"Aku merasa bersalah banget, Bie. Aku gak mau Baba dan Bubu berprasangka buruk kepada kita. Padahal kita gak ngapa-ngapain." Suara lirih terdengar. Restu hanya tersenyum. Tangannya membelai rambut Aleesa.
"Sekarang kamu mandi, terus minta maaf sama Bubu dan Baba. Aku juga akan mendampingi kamu."
Semarah apapun Aleesa akan tetap luluh pada sikap Restu. Dia pun mengangguk dan membuat Restu tersenyum. Lalu, mengecup dalam kening Aleesa.
"Terima kasih, Tuhan. Engkau telah mengabulkan doaku."
Di lantai bawah kedua orang tua Restu dan Aleesa sudah tertawa. Mereka sangat puas melihat wajah Aleesa yang pias.
__ADS_1
"Si brandal mah bakalan seneng banget diciduk begitu. Gak bakalan nolak juga, duit buat ngelamar ada. Gak bakalan dia tunda-tunda." Rio berucap sembari mengunyah roti bakar.
Empat orang dewasa itu tertawa mendengarnya. Mereka dapat melihat bagaimana wajah Restu ketika mereka tangkap basah. Malah seperti orang tak memiliki dosa.
Orang yang mereka bicarakan sudah bergabung di meja makan. Itu membuat Rindra menggelengkan kepala begitu juga dengan Nesha.
"Kamu tuh, ya." Tangan Nesha tak segan menarik telinga Restu hingga dia mengaduh.
"Yang kenceng, Mih."
Kedua orang tua Aleesa malah tertawa melihat Restu selalu diperlakukan bagai anak kecil oleh Nesha. Radit dan Echa belajar banyak dari kakak dan kakak ipar mereka tersebut. Jika, kasih sayang dan cinta tulus itu tak selalu diberikan kepada mereka yang memiliki ikatan darah saja. Buktinya kepada Restu, mereka berdua memperlakukan Restu seperti anak kandung mereka. Mereka tak pernah membandingkan Rio dan Restu. Kasih sayang dan cinta mereka berikan dengan sangat adil kepada kedua anak itu.
"Aku ijin dulu kalau gitu, Pih." Restu sudah membuka suara sambil menuang air putih ke dalam gelas.
"Baru juga gua mau liat lu kerja, malah ijin pan." Rio terus saja mengejek Restu.
Sang kakak hanya melirik tajam ke arah Rio. Bukan Rio namanya jika dia takut kepada Restu, kakak sekaligus sahabatnya.
"Biar Rio yang gantiin kamu." Begitulah kata sang ayah.
"Kamu gak takut emang sama Om?" Radit sudah membuka suara.
"Om menciduk kamu tadi." Radit mulai menjelaskan.
"Oh."
Jawaban yang singkat dan padat dari Restu Ranendra. Semua mata pun memicing tajam ke arah Restu.
"Aku malah makasih banget, Om." Radit terkejut. Sedangkan Rindra sudah tertawa.
"Aku memang gak ingin menunda terlalu lama nikah dengan Aleesa. Cuma aku ragu, pasti Aleesa akan nolak. Umurnya pun baru dua puluh tahun 'kan." Restu menjelaskan.
"Kalau aku nunggu dua atau tiga tahun lagi akunya malah keburu tua. Aku takut dia yang berpaling dari aku. Nyari yang lebih muda." Alasan yang membuat semua orang tertawa. Hanya karena Aleesa, percaya diri Restu menghilang.
"Ya, kan kalau Om udah nyuruh mah mau langsung aku gaskeun." Lagi-lagi mereka pun tertawa.
"Sasa pasti nangis kan." Echa mulai menatap ke arah Restu. Sang calon menantu pun mengangguk.
__ADS_1
"Dia takut Kalau Om dan Tante berburuk sangka kepadanya. Padahal dia dan aku cuma tidur bareng doang, gak ngelakuin apa-apa." Echa menghela napas kasar.
"Om dan Tante bisa liat 'kan di cctv." Radit melebarkan mata ketika Restu mengetahui cctv yang dia pasang di kamar putrinya. "Apa aku melakukan sesuatu?"
"Ya, karena lu tahu di sana ada cctv makanya lu gak berani ngapa-ngapain. Kalau gak ada mah ... beuh--"
Tak segan Restu melempar sendok ke arah tubuh Rio. Adiknya malah tergelak. Suara langkah kaki membuat mereka menoleh. Di sana sudah ada Aleesa dengan wajah muramnya. Restu sudah bangkit dan menghampiri Aleesa. Dia merangkul pundak Aleesa dan menganggukkan kepalanya pelan. Mereka berdua menghampiri Radit dan Echa. Tanpa semua orang sangka Aleesa bersimpuh di hadapan sang ibu.
"Maafkan Sasa, Bu."
Rasa takut Aleesa membuatnya seperti ini. Dia meletakkan kepalanya di pangkuan sang ibu.
"Sasa gak melakukan apapun. Sasa hanya tidur saja bersama Kak Restu."
Radit mengusap lembut rambut Aleesa. Dia meraih pundak Aleesa agar putrinya itu menegakkan kepala menatap mereka berdua. Tangan Radit menghapus air mata Aleesa dengan begitu lembut.
"Sasa tidak melakukan apapun, Ba. Tidak." Lirih sekali ucapannya.
"Baba tahu itu," sahut Radit.
"Bubu juga tahu." Kini, Aleesa menatap bingung ke arah kedua orang tuanya.
"Kenapa--"
"Justru karena kalian sudah sangat dekat, Baba dan Bubu tidak ingin kalian melakukan hal negatif. Makanya, Bubu dan Baba memutuskan untuk menikahkan kalian dalam waktu dekat."
"Bagaimana dengan kuliah Sasa, Ba?"
"Aku tidak akan melarang kamu untuk menggapai mimpi kamu. Aku tidak akan melarang kamu untuk memilki pendidikan yang tinggi. Aku akan terus mendukung kamu juga membiayai kuliah kamu hingga selesai." Radit dan Echa tersenyum mendengarnya.
Aleesa menatap ke arah Restu masih dengan tatapan nanar. Restu mendekat dan terus meyakinkan.
"Semuanya tetap sama, tidak akan ada yang berubah. Hanya saja status kita nantinya yang berbeda. Juga, kita yang bisa tidur satu kamar tanpa ada yang melarang."
...***To Be Continue***...
Komen atuh ...
__ADS_1
Yang udah ikut ke planet F makasih banyak, ya. Semoga kalian suka sama ceritanya. Ada yang bilang kalau di planet F itu lebih sedikit katanya, padahal di sana itu 1000 kata semua gak boleh di bawah 1000. Sedangkan di NT seringnya aku nulis di bawah 1000 kata. Sekali lagi makasih banyak, aku usahakan akan up rutin di sana dan di sini. Kalau bisa di sana bacanya sampai tamat, ya. Biar Rangga bisa jadi miliarder di sana 😆