RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 175. Menolak Haknya


__ADS_3

Grace, dia didampingi pihak kepolisian sudah berada di posko korban untuk melakukan beberapa tes. Nama Yansen memang ada di daftar penumpang. Hati Grace sangat remuk dan dia sudah tak berniat untuk hidup.


"Ini kami simpan untuk penyamaan test DNA korban." Grace hanya mengangguk. Dia sudah teramat lemah. Baru saja keluar dari tempat pengumpulan tes DNA, sidik jari dan lain sebagainya. Berita terkini membuat dirinya membeku.


"Yansen Geremy."


Tubuh Grace ambruk seketika. Dunianya sudah hancur dan semuanya sudah gelap.


"Tuhan, bawa aku pergi juga bersama adikku."


.


"Yansen Geremy."


Tubuh Aleesa terkulai lemas dan untungnya Restu sigap menahan tubuh sang istri. Semua orang pun panik. Mata Aleesa benar-benar kosong. Restu membawa Aleesa ke sofa panjang dan membaringkannya di sana. Sang ibu sudah menghubungi dokter untuk berjaga-jaga.


"Aku salah dengar 'kan, Bie." Kalimat lirih yang terucap dengan sorot mata yang penuh kepiluan. Restu tak menjawab, tapi tangannya terus menggenggam tangan Aleesa.


"Om, itu bukan Sensen 'kan." Kini, Aleesa menatap Iyan dengan penuh kepiluan. Iyan pun membisu.


Aksa dan Aska tak tega melihat keponakannya. Takdir Tuhan kaki terlalu kejam. Menghadirkan suka dan duka secara bersamaan.


"Ngga," panggilan sang ayah sudah dapat Rangga mengerti. Dia pun mengangguk.


Rangga dan Aksa serta Aska pergi keluar. Dua saudara kembar itu mulai menginterogasi Rangga.


"Kemungikan untuk korban yang selamat itu tidak ada." Kalimat yang membuat Aksa dan Aska saling pandang.


"Bagaimana dengan baju dan kalung Yansen?" Aska masih penasaran.


"Terlalu tragis," sahutnya.


Aksa dan Aska pun menghela napas berat secara bersamaan. Hingga sebuah kalimat terlontar dari mulut Aksara.


"Ngga, resign-lah dari pilot. Daddy gak mau kejadian ini menimpa kamu juga."


.


Jangan tanya bagaimana hancurnya Aleesa. Restu sudah menggenggam tangannya dan menghapus air mata sang istri. Sakit hati Restu ketika melihat istrinya menangisi pria lain. Namun, dia harus mengerti. Pria itu adalah sahabat sekaligus cinta pertama Aleesa, tapi cinta terakhir Aleesa tertuju padanya. Dialah yang kini menjadi pemenangnya. Jadi, harusnya dia tidak perlu khawatir.

__ADS_1


"Bie--"


"Besok kita ke posko pencarian biar lebih jelas." Semua orang terkejut mendengar Restu. Sama halnya dengan Aleesa.


"Bie--*


Restu tersenyum. Dia tidak ingin menjadi manusia egois. Berkat Yansen pula dia bisa bersama Aleesa.


Malam pertama yang harusnya dinikmati dengan adegan menggairahkan, tapi beda halnya dengan Restu juga Aleesa. Restu hanya bisa mencium Aleesa serta memandangnya. Mereka memang sudah bisa tidur dalam satu kamar yang sama, tapi Restu tidak tega untuk meminta haknya di saat sang istri membutuhkan pelukan hangat untuknya melepaskan sedih. Sedari tadi Aleesa tak mau lepas dari Restu.


"Bie, apa kamu mau memintanya sekarang?" Aleesa dengan wajah sendu menatap ke arah Restu yang sudah memiringkan tubuh menghadapnya.


"Aku ingin melakukannya dengan pikiran kamu yang tertuju padaku. Aku juga ingin kamu menikmati itu dengan rasa bahagia."


"Maaf--" Restu menggeleng.


"Ini ujian untuk aku dan kamu. Walaupun berat terutama untukku karena ... istriku malah memikirkan pria lain, tapi aku juga harus mengerti."


Aleesa memeluk tubuh Restu. Dia membenamkan wajahnya di dada bidang Restu. Dia terus meminta maaf.


"Kita lewati bersama-sama, ya." Aleesa pun mengangguk.


Aleesa mendongakkan wajahnya, dia menatap ke arah Restu dengan begitu dalam hingga Restu tak tahan untuk mencium bibir manis sang istri dengan begitu lembut. Memberikan buaian mesra hingga Aleesa terbawa suasana dan melupakan sejenak tentang sedihnya.


"Bie--"


Suara Aleesa benar-benar sudah parau, nafsu sudah membuncah. Namun, Restu menggeleng.


"Kamu masih memikirkan dia. Aku tidak akan melakukannya sampai kamu meletakan sedihmu dan hanya aku yang kamu tuju."


Bukannya Restu tidak normal, sesuatu di bawah sana pun sudah memaksa ingin keluar. Namun, dia ingin menikmati malam pertama dengan khusyuk dan tentunya dengan penuh kenikmatan yang dihiasi jeritan-jeritan manja juga peraduan napas yang membuat sensasi semakin berbeda.


Wajah Aleesa seketika sendu. Restu mengusap rambut Aleesa dan tangannya mulai memasuki baju tidur yang Aleesa gunakan.


"Bie--" Restu menatap Aleesa dengan mata yang layu. Dia tersenyum dan memulai pagutan kembali dengan tangan yang sudah tak mau diam. Itu membuat Aleesa menggeliat keenakan.


The Sahan manja keluar dari mulut Aleesa dan membuat Restu semakin menjadi. Dia hanya akan melakukan pemanasan. Bibirnya mulai turun ke leher putih Aleesa dan meninggalkan dua jejak di sana. Restu tersenyum ketika melihat tanda merah semu hitam yang dia buat.


"Kamu milikku, Lovely."

__ADS_1


Restu terus bermain di dua teletubbies milik Aleesa. Dia pun tak segan membuka kancing piyama sang istri dan terlihat betapa putih dan menggodanya. Tanpa ijin dia melahapnya hingga keluar jeritan kecil.


Ketika pagi datang, bibir Restu masih menempel di sumber susu dan membuat Aleesa tersenyum. Dadanya yang putih, kini berubah merah. Tangannya refleks membelai bayi besar yang dia miliki. Walaupun terasa sakit, ketika melihat suaminya senang dia tidak akan mempermasalahkan.


Sudah lima belas menit Aleesa membuka mata dengan tangan yang mengusap lembut rambut Restu, suaminya pun mulai mengerjapkan matanya perlahan.


"Udah bangun bayi besarnya Mamih." Restu malah tertawa. Dia memandang wajah Aleesa dengan begitu dalam.


"Boleh nambah susu." Aleesa malah tertawa dan itu membuat Restu tersenyum bahagia. Benar kata sang ayah mertua, dia adalah penawar sedih untuk Aleesa walaupun hanya sesaat.


"Ini aku udah merah loh, Bie." Aleesa mulai mengeluh. "Phu tingnya juga lecet karena hisapan kamu yang kata vacum cleaner."


Restu malah tergelak dan dia sudah mengusap lembut pipi sang istri. Dia masih melihat ada kesedihan di sana dan dia harus mengusir kesedihan itu agar bisa memberikan kenikmatan juga kebahagiaan untuk istri tercinta.


Morning kiss yang begitu ganas diberikan oleh Restu. Aleesa tak bisa menghindar karena apapun yang diperbuat oleh Restu seperti menghipnotisnya untuk tidak bisa menghindar, apalagi mengelak.


.


Restu sudah memeluk tubuh Aleesa dari belakang yang baru saja berganti pakaian setelah membersihkan tubuh.


"Mandi dulu gih, Bie." Bukannya mandi, Restu malah meninggalkan satu buah jejak lagi di bagian leher Aleesa yang lain.


"Bie!" Restu malah tertawa dan masuk ke kamar mandi.


Aleesa tersenyum seraya menghembuskan napas kasar. Dia merasa bersalah kepada suaminya. Harusnya sang suami mendapatkan haknya. Namun, suaminya menolak karena dia sendiri masih memikirkan pria lain.


"Maafkan aku, Bie."


Aleesa berdiri di depan cermin. Dia menatap dirinya yang begitu sendu di sana. Dia menghembuskan napas kasar, tapi ketika melihat tanda merah di kiri dan kanan lehernya dia tersenyum. Itu seperti menjadi hal lucu yang mampu menghiburnya dan melupakan sejenak tentang seseorang yang belum tahu bagaimana nasibnya.


Mata Aleesa melebar ketika dia melihat orang yang dia tangisi di cermin. Orang itu tersenyum dan melambaikan tangan.


"Jangan tangisi aku. Mereka sudah menemukanku. Jadi, jangan pernah cari aku lagi. Aku sudah ketemu, tapi Tuhan menyembunyikan aku di belakang punggung-Nya. Jangan buang air mata kamu karena aku sudah dipeluk oleh Tuhan dalam keadaan senang."


"Bahagia selalu, Sa. Aku menepati ucapanku untuk menjadikan kamu cinta pertama dan terkahir aku. Sekarang, cintaku ini aku bawa sampai aku mati. Aku sudah bahagia, kamu juga harus bahagia, ya."


...***To Be Continue***...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2