RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 133. Terlalu Manis Cenderung Lebay


__ADS_3

Sesuai dengan ucapan Restu semalam, hari ini hari pertama dia magang di perusahaan sang ayah. Dia tidak menginginkan jabatan tinggi. Dia ingin berusaha seperti karyawan lainnya. Nesha menggelengkan kepala ketika Restu belum bersiap padahal waktu sudah menunjukkan pukul enam lewat sepermpat.


"Kamu masuk kerja jam tujuh tiga puluh, Nak." Sang ibu memberitahu.


"Aku tahu, Mih. Makanya aku mau ke rumah Aleesa dulu." dahi Nesha mengkerut ketika mendengar ucapan dari sang putra.


"Mau ngapain?" Nesha pun bingung.


"Minta oekein kemeja sama Sasa." Mulut Nesha menganga mendengarnya. Sejak kapan pria garang ini berubah manja.


Nesha melihat penampilan sang putra yang memang masih memakai pakaian kebesrannya di rumah. Dia hanya bisa menggelengkan kepala. Terlalu manis atau terlalu lebay. Nesha pun tidak mengerti dengan jalan pikiran sang putra.


"Rumah Sasa kejauhan biar Mamih aja yang pakein kemeja." Nesha tahu di dalam goodie bag itu pasti ada kemeja kerja juga celana kerja milik sang putra.


"Enggak mau!" Restu pun menyembunyikan goodie bag tersebut agar tidak diambil oleh sang ibu.


"Lagi pada ngapain sih?" Sang ayah sudah memasuki area ruang makan dengan pakaian yang sangat rapi. Mata Rindea memicing dan memperhatikan penampilan dari sang putra.


"Hari ini kamu jadi ke kantor?" Rindra sudah memulai percakapan..


"Jadi. Ini mau berangkat." Kedua alis Rindra menukik dengan begitu tajam.


"Dengan pakaian itu?" Rindra sudah menunjuk ke arah tubuh Restu..


"Enggaklah, Pih. Ini aku mau ke rumah Aleesa."


"Mau apa?" Bukan hanya Nesha yang bingung. Rindra pun tidak mengerti.


"Minta pakein baju sama calon istri." Ingun rasnya Rindra mencekik Restu. Semakin hari kelebayannya semakin bertambah. Itu membuat Rindra ingin cepat-cepat Restu mencari tanggal.yang bagus untuk menikah.


"Mending kamu cari gedung gih. Bahaya kalau dibiarin begini aja mah." Restu malah tertaaa mendengar ketakutan sang ayah. Di telinganya itu seperti lelucon yang menggelitik perut.


"Jangan cepat-cepat lah, Pih. Menikmati masa tunangan dulu." Radit dan Nesha hanya saling pandang. Dia tidak menyangka anak gang dia kira kalem nyatanya tidak seperti itu.


.

__ADS_1


Radit menggelengkan kepala ketika melihat Restu datang dengan senyum penuh arti. Dia melihat penampilan Restu yang sungguh membuatnya mengelus dada.


"Kamu ke kantor mau pake ini?" Restu menggeleng.


"Boleh gak aku ke kamar Aleesa? Biar Aleesa yang make over aku." Modus seksi ucapan dari seorang Restu Ranendra ini. Sedangkan Aleeya yang sudah terbangun dan belum mandi menggelengkan kepala.


"Bisaan modusnya." Semua orang pun tertawa..


"Aleesa di kamar."


Restu bergegas menuju kamar Aleesa. Dia tidak mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun, bibirnya melengkung dengan sempurna ketika melihat Aleesa yang tengah mengeringkan rambutnya.


Restu berjalan dengan perlahan dan Aleesa terkejut ketika sepasang tangan melingkar di pinggangnya. Namun, tak lama kemudian dia tahu siapa pemilik tangan itu dan memukul punggung tangan Restu dengan cukup kencang.


"Ih, kamu mah," rengek Restu tanpa melepaskan pelukannya. "Pagi-pagi bukan dapat morning kiss malah dianiaya." Aleesa pun berdecak kesal.


Aleesa terkejut ketika sang tunangan belum rapi dengan pakaian kerjanya. Mata Aleesa pun memicing. Restu yang seakan peka menunjukkan goodie bag yang dia bawa.


"Pakein." Aleesa malah tertawa melihat gampang imut sang kekasih hati.


"My big baby." Aleesa mencubit gemas pipi Restu. Memandang wajah Aleesa di pagi hari membuat mood Restu sangat bagus.


"Kamu kenapa senyum-senyum nggak jelas?" sergah Restu.


Aleesa menghampiri Restu dan membenarkan kemeja yang digunakan dengan bibir yang masing menyunggingkan senyum. Pagi ini dia seperti dengan menjalankan.eoran sebagi seorang istri sungguhan


"Kamu begitu tampan. Aku terpesona," ucapnya seraya menatap wajah Restu yang lebih tinggi darinya. Restu ikut tersenyum dan dia meras bahagia pagi ini karena Aleesa benar-benar mengurusnya dengan baik.


"Kayaknya apa yang diucapkan Papi benar deh." Aleesa bingung dengan ucapan sang tunangan. Dia sama sekali tidak mengerti. Dia juga tidak tahu apa yang diucapkan oleh sang Paman kepada tunangannya itu.


"Emang Uncle Papih bilang apa?" tanya Aleesa serius dan penasaran.


"Aku disuruh cepat-cepat cari gedung untuk acara pernikahan kita." Restu berbicara jujur. Namun, Aleesa sudah menatapnya dengan serius.


"Ya enggak secepat itu juga 'kan, Bie?" Restu tahu Aleesa belum siap. Dia ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu barulah menikah dan fokus pada keluarga.

__ADS_1


"Enggak Lah tunggu tiga sampai enam bulan baru kita cari tanggal yang bagus." Aleesa setuju. Setidaknya dia dan Restu harus melakukan pendekatan terlebih dahulu sebelum ke jenjang yang lebih serius dan sakral. Waktu pacaran mereka terlalu singkat. Mereka belum mengenal masing-masing di antara mereka dengan baik. Biarkan merek mengenal baik dan buruknya pasangan agar tidak tejadi hal yang tidak diinginkan.


Aleesa sudah memasangkan dasi di kerah baju Restu. Senyum terus terukir di wajah Aleesa karena di matanya kali ini Restu sangat berwibawa dan berkharisma. Ketampanannya berlipat ganda.


"Perfect," ucapnya setelah merubah penampilan sang kekasih hati.



"Boleh aku bercermin?" Restu bagai anak kecil sekarang. Apapun yang akan dia lakukan pasti laporan kepada Aleesa. Dia sangat penasaran dengan penampilannya karena sedari tadi senyum tidak pernah hilang di wajah Aleesa.


"Tentu," jawab Aleesa.


Restu pun tersenyum dan merasa dirinya sangat tampan pagi ini karena dandanan dari sang tunangan yang mampu membuatnya lebih tampan dan gagah.


"Jangan nakal di sana." Aleesa sudah melingkarkan tangannya di perut Restu. Dia memeluk Restu dari belakang.


"Emang di kantor ada apaan?"


"Pasti banyak cewek cantik dan seksi lah," sahut Aleesa. Restu pun tersenyum dan dia membalikkan tubuhnya. Menatap dalam kepada Aleesa.


"Di mata aku cuma kamu yang paling cantik. Tidak ada yang lain." Aleesa mencebikkan bibirnya.


"Sekarang bilang begini, tapi pas nanti dikasih ikan mah pasti dimakan juga." Aleesa tengah berpikiran negatif.


"Aku nggak akan pernah berpaling dari kamu, Lovely. Hati aku udah dikunci oleh sosok wanita yang aku cintai, yaitu kamu."


Aleesa pun mulai menatap ke arah Restu. Sorot matanya mengatakan hal lain..


"Jangan buat aku kecewa. Kamu tahu kecewanya aku itu bisa membuat kamu gila." Ancaman yang begitu manis yang Restu dengar hingga membuatnya tertawa. Restu mengusap lembut pipi Aleesa. Kemudian menggenggam erat tangan sang wanita yang amat dia cintai.


"Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri jika aku tidak akan mengecewakan kamu. Tidak akan membuat kamu sedih. Apalagi sampai membuat kamu menitikan air mata. Itu tidak akan pernah aku lakukan. Aku akan selalu membuat kamu bahagia ketika kamu berada di samping aku."


Mereka berdua pun saling pandang dan wajah Restu sudah semakin mendekat. Perlahan mata Aleesa sudah terpejam dan hembusan napas Restu sudah teras di wajah Aleesa.


"Masih pagi woiy!!"

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


__ADS_2