RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 71. Berubah


__ADS_3

"Bicarakan hubungan kalian baik-baik. Kalian berawal dari sahabat, berakhir pun harus menjadi sahabat kembali."


Sebuah petuah yang Radit berikan kepada Yansen. Dia juga berterima kasih kepada Grace karena ulahnya sang putri bisa menemukan cinta yang sesungguhnya. Bukan Yansen, melainkan orang yang Yansen pun kenal. Grace juga tahu karena dia melihat jelas gambar ketika Aleesa bermesraan dengan seorang pria. Permintaan maaf yang Radit berikan itu seperti sentilan telak untuk Grace. Dia hanya bisa menunduk dalam.


Pagi ini, Yansen sudah menunggu Aleesa di parkiran kampus. Dia ingin berbicara empat mata dengan Aleesa perihal hubungan mereka. Baru saja wajahnya berbinar melihat mobil Radit datang, Nathalie menghampirinya dan langsung menggandeng tangan Yansen.


"Apa sih, Nath? Lepas!" Yansen merasa risih. Namun, Nathalie tidak menggubrisnya.


"Aku gak mau, Kak. Lagi pula semua orang sudah tahu 'kan kalau kita bertunangan."


Aleesa yang memang sudah melihat Yansen dan Nathalie hanya menghembuskan napas kasar. Radit sudah melirik ke arah putrinya. Namun, Aleesa nampak biasa saja.


"Hadapi, jangan dihindari." Aleesa menoleh ke arah sang ayah setelah mobil yang ditumpanginya berhenti. Radit hanya tersenyum.


Untung saja Restu menghubunginya, Aleesa pamit kepada sang ayah dan segera menjawab panggilan dari kekasihnya itu. Radit hanya tertawa melihat putrinya.


"Tuh calon mantu memang gesit," puji Radit kelas Restu. Radit tahu pasti ada yang memberikan laporan kepada Restu perihal Yansen. Bohong jika anaknya tidak mendapat pengawalan dari Restu.


Nathalie tahu jika Yansen ingin mendekati Aleesa. Maka dari itu, dia mengekang Yansen. Yansen terdiam ketika mendengar Aleesa memanggil seseorang dengan panggilan sayang.


"Iya, Bie."


Hatinya tiba-tiba sakit. Ucapan itu teramat manis dan wajah Aleesa pun teramat ceria.


"Kenapa kamu begitu mudah melupakanku?" batin Yansen lagi.


Aleesa terus berbincang via sambungan telepon. Kemala dan Raina yang sedari tadi berada di belakang Aleesa pun hanya saling pandang ketika mendengar Aleesa berucap begitu lembut dengan seseorang.


"Ehem!" Deheman dari dua orang membuat Aleesa menoleh. Dia mendapat lirikan tajam dari kedua temannya.


"Apa ini alsan lu kenapa nampak biasa ketika tahu Yansen tunangan?" Aleesa menghela napas kasar. Baru saja dia ingin membuka suara, seseorang sudah menimpali ucapan Aleesa.


"Ya iyalah, orang dia udah selingkuh lebih dulu dari Yansen makanya dia gak kaget." Mulut Nathalie sangatlah lancang.


"Apa sih, Nath?" Yansen sudah membentak Nathalie.


"Kok kamu masih membela dia? Apa yang aku ucapkan bener 'kan. Hubungan dia dengan selingkuhannya udah jauh banget sampe rela dichipok."


Mata Aleesa melebar mendengarnya. Nathalie sudah sangat keterlaluan dan untuk kedua kalinya Yansen membentak Nathalie hingga mahasiswa yang sedang lewat pun berhenti karena terkejut. Kemala dan Raina pun terkejut.


"Emang benar 'kan, Kak. Apa perlu semua orang tahu kelakuan perempuan yang katanya baik-baik itu." Nathalie sudah memutar video di mana Aleesa tengah berciuman dengan Restu. Mata Kemala dan Raina pun melebar melihatnya.


"Sekarang kalian tahu 'kan gimana sikap asli dari sahabat kalian itu. Seperti wanita jalank!"


"Jaga mulut kamu, Nathalie!" Yansen sangat murka mendengarnya. Dia menggibaskan tangan Nathalie dengan cukup keras hingga rangkulan di lengan Yansen terlepas.


Tanpa Aleesa sangka Yansen menarik tangan Aleesa menjauhi Nathalie dan dua teman Aleesa. Aleesa melihat ke arah tangan Yansen yang tengah menariknya.


"Sen." Pada akhirnya Aleesa membuka suara. Langkah Yansen pun terhenti. Dia menatap dalam wajah Aleesa dengan mata yang sendu.


"Aku merindukan kamu, Sa." Mata Yansen sudah berkaca-kaca dan tanpa ijin dia memeluk tubuh Aleesa. Air mata Aleesa pun menetes begitu saja ketika Yansen memeluk tubuhnya.


"Kenapa aku sesedih ini? Kenapa ada bendera kuning?"


Air mata semakin deras mengalir. Bukan karena dia ikut terbawa suasana pada pelukan Yansen, tapi karena dia melihat udara, air, dan taburan bunga. Juga teriakan dari orang-orang.


"Ada apa ini?"


Teguran dari salah seorang dosen membuat pelukan Yansen terlepas. Yansen mengusap lembut air mata Aleesa dan dia mengira Aleesa merasakan hal yang sama dengan dirinya.


"Aku masih mencintai kamu, Sa. Sangat mencintai kamu." Aleesa tidak bisa menjawab. Tangan Yansen yang masih menggenggam tangan Aleesa membuat Aleesa jauh melihat ke depan hingga pada akhirnya dia tak sadarkan diri.


"My Sasa!"


Di klinik kampus, Yansen masih setia menunggu Aleesa sadar. Dia terus menggenggam tangan Aleesa. Menatap wajah Aleesa yang terlihat pucat.


"Maafkan aku, Sa."


Kemala dan Raina datang dan segera menarik tubuh Yansen. "Lu apain Aleesa?" Kemala sudah berubah menjadi preman.


Suara Kemala membuat Aleesa mulai mengerjapkan mata. Dia tersenyum ke arah Kemala dan Raina.


"Lu gak apa-apa?" Aleesa menggeleng.


"Sa!" Yansen dilarang mendekat oleh dua teman Aleesa.


"Udahlah, Sen. Jauhi Aleesa," titah Raina. "Mending urus aja tuh tunangan lu!"


Aleesa hanya menghela napas kasar. Dia mencoba untuk duduk dan meraih ponsel miliknya.


"Lu mau pulang?" Aleesa menggeleng. Namun, dia masih mencari sebuah kontak di ponselnya.

__ADS_1


"Om, jemput Sasa jam setengah satu bisa?"


Kemala dan Raina saling pandang. Mereka tidak mengerti siapa yang dihubungi oleh Aleesa. Yansen sudah bisa menebak, Iyan atau Aska yang Aleesa hubungi.


Mata Yansen masih tertuju pada Aleesa. Namun, Aleesa enggan menatapnya dan memilih untuk pergi dari klinik meminta bantuan kepada Kemala dan Raina.


Dua jam berlalu kelas mereka pun selesai. Aleesa sudah mendapat kabar jika dokter yang menangani Restu sudah datang dan sang kekasih pun tangan beristirahat.


"Sa," panggil Kemala. Aleesa yang tengah fokus pada benda pipihnya pun menoleh.


"Apa benar yang dikatakan oleh Nathalie?" Temannya itu mulai penasaran.


"Lu selingkuh dari Yansen?" Aleesa hanya tersenyum mendengarnya.


"Gua gak akan menjawab hal itu. Biarkan dia berkata apapun tentang gua. Kalau dia udah capek, pasti dia berhenti berkoar." Inilah Aleesa. Dia tidak suka membela diri. Baginya semakin seseorang membela diri semakin terlihat bahwa orang itu memang salah.


Kemala dan Raina tidak bisa memaksa. Sedari dulu Aleesa bukanlah orang yang mudah untuk membuka perihal isi hatinya dan juga kehidupan pribadinya. Mereka juga tidak tahu di mana rumah Aleesa. Aleesa tidak pernah mengajak mereka main ke rumahnya. Sedangkan dia sering main ke rumah Kemala dan Raina. Aleesa hanya tidak ingin pertemanan mereka yang tulus berubah menjadi saling memanfaatkan.


Sedang asyik berbincang, Nathalie tiba-tiba datang dan menarik rambut Aleesa. Kepala Aleesa pun tertarik ke belakang.


"Apa-apaan lu?" Raina malah balik menarik rambut Nathalie. Hingga dia juga mengaduh.


"Lepasin gak rambut teman gua." Mereka bagai anak kecil dan suara seorang pria membuat tingkah mereka terhenti. Pria memakai kemeja putih itu menatap tajam ke arah Nathalie.


"Hentikan!"



Aleesa segera menoleh dan dia mengusap kepalanya yang terasa sakit. Pria itu mendekat dan ikut mengusap lembut rambut Aleesa.


"Sakit?" Aleesa menggeleng. Suara langkah kaki terdengar dan ternyata Yansen yang tengah berlari ke arah meja Aleesa. Langkahnya terhenti ketika dia melihat seseorang yang ada di sana.


Pria itu melirik ke arah Nathalie. Kemudian, kembali menatap Aleesa dan anggukan kecil yang menjadi jawaban Aleesa.


"Udah selesai belum?" Aleesa pun mengangguk.


"Sasa Bayar dulu, Om." Namun, pria itu melarang. Dia mengeluarkan dompetnya dan meletakkan lima lembar uang kertas berwarna merah di atas meja yang ditempati Aleesa beserta temannya.


"Buat bayar makanan yang kalian pesan." Suara dingin yang keluar dari mulut sang om. Kini, dia menatap ke arah Nathalie dengan tatapan dingin. "Saya juga bisa membeli harga diri kamu."


Kemala dan Raina terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh pria yang dipanggil om oleh Aleesa. Pria itu tidak ada takutnya padahal Nathalie yang notabene adalah anak seorang pengusaha terkenal.


Aleesa dan sang paman pun meninggalkan kantin. Kemala dan Raina masih syok dengan ucapan pria itu. Mereka berdua sangat yakin jika Aleesa bukanlah dari kalangan sembarangan.


.


"Kenapa?" Iyan sudah memberikan air mineral botolan untuk Aleesa.


"Apa Om melihat hal yang sama seperti apa yang Sasa lihat?"


Iyan terdiam mendengar pertanyaan Aleesa. Dia bingung harus jawab apa.


"Maksudnya?"


"Sensen." Aleesa kini terdiam. Dia menatap lurus ke depan..


"Memangnya apa yang kamu lihat?" Iyan ingin menyamakan dengan penglihatannya.


"Udara, air, bunga, bendera kuning dan tangisan." Aleesa mulai menatap kembali wajah sang paman. "Itu tidak mungkin--"


"Ingatlah pesan dari baba kamu, Sa. Kita bukan Tuhan. Maut, rejeki dan jodoh itu hanya Tuhan yang tahu. Kita hanya pelakon," tutur Iyan.


"Tapi, terkadang apa yang Sasa lihat itu jadi kenyataan, Om."


"Itu hanya kebetulan saja, Sa." Iyan sudah duduk di samping sang keponakan. Mengusap lembut rambut Aleesa yang hari ini digerai.


"Buktinya, ketika penembakan Restu kamu tidak memiliki firasat apapun 'kan." Aleesa pun mengangguk.


"Itu namanya kebetulan aja, Sa. Jangan dijadikan pikiran yang berlebihan. Ingat, kamu belum sembuh total. Jangan buat kedua orang tua kamu bersedih lagi."


Sebisa mungkin Iyan harus meredam keingintahuan Aleesa. Dia tidak ingin Aritmia Aleesa kambuh kembali. Dia tidak ingin kedua kakaknya bersedih lagi.


Ketika dia kembali ke rumah sakit, tatapan nyalang Restu berikan. Tangannya sudah dia lipat di depan dada. Sedangkan Rio sudah siap menjadi penonton setia. Dia juga sudah janjian dengan Agha yang akan ikut serta menonton drama Korea yang akan disuguhkan.


"Bie, kamu kenapa?" Aleesa hendak memegang tangan Restu, tapi Restu menghindar.


"Jangan sentuh aku!"


"Wih, kayaknya ketinggalan nih." Remaja tampan datang dengan gaya yang keren.


"Sini!" ajak Rio. "Baru dimulai kok."

__ADS_1


Sungguh sepupu kurang ajar. Baik Rio maupun Agha. Dua anak manusia ini malah asyik menonton dirinya dan Restu yang tengah bertengkar.


"Gak jelas!" sungut Aleesa kepada kedua sepupunya.


"Bie, kamu kenapa?" Lagi-lagi Restu menolak disentuh oleh Aleesa.


"Kamu kenapa sih, Bie?" Aleesa sudah mulai geram sendiri. Dia hendak marah, tapi Restu sudah menunjukkan sebuah video yang membuat mulut Aleesa terkatup rapat.


"Kamu lupa aku pernah bilang apa?" Terlihat Restu sudah mulai marah. "Mata-mata aku banyak, Aleesa!" Aleesa hanya terdiam.


"Gimana rasanya? Nyaman? Hangat?" Si manusia posesif sudah marah.


"Gha, kenapa gak bawa kuwaci? Kurang lengkap nih nonton beginian tanpa ada cemilan."


"Lupa, Kak."


Dua laki-laki berbeda umur itu malah membahas perihal cemilan. Sedangkan dia insan manusia itu tengah bertengkar.


"Dia yang meluk aku, Bie." Aleesa mencoba untuk menjelaskan. "Di situ 'kan aku gak ngebales." Restu semakin menatap tajam ke arah Aleesa.


"Kenapa kamu gak ngehindar? Malah menangis ketika dipeluk dia." Restu benar-benar emosi kali ini. Aleesa ingin menjelaskan, tapi di sana ada Rio dan juga Agha. "Apa perasaan itu muncul lagi? Dan benar kamu belum bisa lupain dia."


"Maaf," ucap Aleesa. Restu hanya terdiam dan menatap lurus ke depan. Dia merasa dikhianati oleh seseorang yang sangat dia cintai.


"Bie." Lagi-lagi Restu tidak ingin disentuh. Tubuhnya mulai terasa enak, tapi hatinya kini malah sakit.


Diamnya Restu berlanjut hingga malam hari. Dia tidak berkata apapun kepada Aleesa. Tidak juga berpura-pura di depan keluarga mereka. Di sana ada Rindra dan Nesha.


"Loh, tumben amat kayak musuhan," celetuk Nesha.


"Lagi berantem, Mih," jawab Rio. Nesha dan Rio hanya ber-oh ria. Mereka tengah menunggu dokter Rocki yang akan memeriksa Restu sambil melihat perkembangan dari lukanya.


Tak lama berselang, dokter Rocki datang dan mulai memeriksa Restu. Ada kebahagiaan yang wajahnya tunjukkan.


"Sakit gak?"


"Gak terlalu." Senyum pun melengkung di wajahnya.


"Kamu memang pantas dijuluki kucing, memiliki sembilan nyawa." Restu malah tertawa.


Sedari tadi ponsel Aleesa bergetar dan membuat Restu mulai geram. Ketika dokter Rocki pergi, tangan Restu dengan cekatan meraih ponsel Aleesa yang tengah Aleesa pegang. Wajah Aleesa nampak terkejut.


Tanpa aba Restu segera menggeser gambar gagang telepon ke warna hijau dan suara seseorang terdengar dari sana.


"Sa, aku ingin ketemu kamu sekarang."


Seketika Restu meletakkan ponsel milik sang kekasih di atas ranjang pesakitan. Dia tidak berbicara dan mulai memiringkan tubuhnya.


"Jangan sok-sok-an, cuma jadi pacar bayangan doang. Gimana, sakit hati gak liatnya?"


Kalimat itulah yang masih memutari kepalanya. Sebuah kalimat ejekan dari seseorang yang dia kenali.


"Lu masih kekasih bayangan, Res. Hubungan mereka belum berakhir." Begitulah batin Restu.


Nesha dan Rindra saling pandang. Dia mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Restu. Status Aleesa masih menjadi pacar sah dari Yansen.


"Aku ingin bicara empat mata dengan kamu, Sa."


Rio segera meraih ponsel yang tergelak di atas ranjang Restu. Dia memutus sambungan telepon itu.


"Pergilah!"


Suara yang begitu lemah keluar dari mulut Restu. Dia sama sekali tidak menatap ke arah Aleesa.


"Bie--"


"Dia kekasih sungguhan kamu, dan aku hanya--"


"Kamu calon suami aku, Bie." Aleesa sudah memutari ranjang pesakitan Restu. Dia memeluk tubuh Restu yang miring ke arah kiri.


"Kamu kenapa, Bie? Ke mana kepercayaan diri kamu? Kenapa kamu menjadi lemah seperti ini?" Aleesa sudah mengusap lembut wajah Restu.


Rindra yang melihat perubahan sikap Restu mulai mencari tahu dan urat-urat kemarahannya pun mulai keluar ketika sebuah lapora dia terima.


.


Di dalam jeruji besi, seorang Jordan tengah dipukuli oleh para narapidana dengan membabi-buta. Mereka memukuli Jordan dengan penuh amarah. Ada salah satu penghuni lapas yang sudah sangat lama berdiam di sana dan baru tahu bahwa Jordan adalah ayah dari anak yang hampir mati bagai ikan yang terdampar di daratan.


"Gua akan buat lu kaya ikan mati sama yang lu lakuin ke anak lu dulu."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2