RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 44. Pergi


__ADS_3

Ketegangan terjadi bukan hanya di Indonesia. Di Swiss pun wajah Restu sudah sangat tegang. Itu bisa Aleesa dengan sangat jelas. Aleesa membereskan barang bawaannya. Dia juga membantu Restu membereskan apa yang dia bawa juga. Terlihat Restu tengah sibuk menelepon orang-orang.


"Kak," panggil Aleesa.


Restu yang masih menelepon pun menoleh. Dia tersenyum ke arah Aleesa yang sudah membawa dua tas kecil mereka. Melihat ketegangan wajah sang kekasih, Aleesa segera berhambur memeluk tubuh Restu. Dia tahu apa yang tengah Restu butuhkan.


Seketika hati Restu tenang karena mendapat pelukan dari Aleesa. Apalagi tangan Aleesa memeluknya dengan begitu erat.


"Jangan sedih."


Ucapan yang begitu lirih yang Aleesa katakan. Dia sudah membenamkan wajahnya di dada bidang pria yang sudah membuatnya nyaman. Restu tidak menjawab. Dia hanya mengecup ujung kepala Aleesa dengan begitu lembut.


"Aku minta Baba atau Kak Iyo jemput, ya. Aku gak mau Kakak--"


"Aku gak akan mencelakai kamu, Lovely." Jawaban yang begitu tegas. Aleesa mendongak ke arah Restu dan dibalas kecupan hangat di kening oleh pria tampan itu.


Setelah panggilan berakhir, Restu pun mengendarai mobilnya menuju rumah yang dihuni oleh Rindra dan juga orang tua Aleesa. Perjalanan cukup lumayan jauh, satu setengah jam.


Melihat Restu yang sedari tadi memasang mimik wajah khawatir, Aleesa pun meraih tangan Restu dan membuat pria itu sedikit terkejut. Aleesa hanya tersenyum dan membuat senyuman itu menular pada si brandal yang tengah merasakan manisnya jatuh cinta.


Selama perjalanan menuju kediaman sang ayah angkat, Aleesa terus menggenggam tangan Restu. Dia tak melepaskan barang sedetik pun. inilah yang Restu butuhkan.


Tibanya di rumah, mereka disambut oleh Rindra. Pria paruh baya itu seperti cenayang karena tahu bahwa Restu akan pulang. Ditambah raut wajah Rindra pun nampak berbeda.


"Kalian mempercepat liburannya?" Aleesa hanya mengangguk. Dia menoleh sebentar ke arah belakang di mana Restu baru masuk ke rumah yang dia huni.


"Iya, Pih. Aku harus ke Jerman sekarang." Aleesa masih menatap ke arah Restu. Kemudian, Restu tersenyum kepadanya.


"Aku antar Aleesa ke dalam dulu, ya. Aku 'kan udah bawa Aleesa atas ijin kedua orang tuanya. Sekarang, aku juga harus mengembalikan Aleesa kepada kedua orang tuanya untuk memastikan putrinya baik-baik saja." Rindra tersenyum dan menepuk lembut pundak Restu.


"Gentle man." Restu membalasnya dengan sebuah senyuman.


Restu mengikuti langkah Aleesa dari belakang. Dia malah menarik tangan Aleesa hingga langkah Aleesa terhenti. Perempuan itupun menoleh kepada Restu.


"Kenapa canggung begitu sih di depan Papih? Biarkan semua keluarga kamu tahu bahwa kita pacaran."


"Tapi--"

__ADS_1


"Apa kamu lupa, semua keluarga kamu tidak merestui hubungan kamu dengannya. Siapa tahu dengan kamu bersama aku mereka akan merestui."


Perkataan yang penuh percaya diri itu membuat Aleesa tertawa. Dia mencubit gemas perut Restu hingga dia mengaduh.


"Lebay," cibir Aleesa.


Radit dan Echa yang baru saja masuk dari halaman belakang menghentikan langkah mereka ketika melihat Aleesa tertawa begitu lepas bersama Restu. Ada kebahagiaan yang tak bisa mereka utarakan ketika melihat Aleesa kembali ceria.


"Ba--" Echa tidak bisa berucap. Radit pun merangkul pundak sang istri tercinta.


"Itulah alasan kenapa Baba percaya sama anak itu. Jangan dengarkan perkataan orang lain tentang dia karena yang tahu dia adalah keluarga Baba. Terutama almarhum Papih." Echa pun mengangguk.


Kemesraan yang dibalut candaan antara Restu dan Aleesa harus berakhir ketika Radit berdehem. Seketika tangan Aleesa yang tengah Restu genggam digibaskan oleh Aleesa dengan cukup kencang dan membuat Restu menukikkan kedua alisnya dengan begitu tajam. Gelengan kecil Aleesa membuat Restu harus mengerti.


"Kok pulangnya cepat?" Echa sudah membuka suara.


"Iya, Tante. Aku ada kerjaan mendadak yang gak bisa aku tinggalin." Restu berucap dengan begitu sopan.


"Kenapa masih di sini?" tanya Radit bingung.


"Dia kira aku barang," gumamnya dalam hati. Restu mengulum senyum ketika melihat wajah Aleesa yang mulai ditekuk.


"Makasih, ya," ucap Radit dengan begitu tulus.


"Sama-sama, Om. Aku yang harusnya makasih karena udah diijinin bawa anak gadis Om ke luar rumah."


"Sesekali gak apa-apa. Asal jangan keseringan," ujar Radit. "Nanti langsung Om seret ke pelaminan." Radit bergurau dan membuat Aleesa melebarkan mata.


"Aku gak bakal nolak, Om. Apalagi diseretnya bareng sama putri Om ini," lirik Restu kepada Aleesa. Wajah Aleesa bersemu dan dengan sengaja dia menginjak kaki Restu hingga Restu mengaduh. Radit dan Echa hanya mengulum senyum. Tom dan Jerry kembali lagi.


"Kebiasaan deh," tegur Echa kepada Aleesa.


"Sasa capek, Bu. Sasa mau istirahat." Tanpa pamit kepada Restu, Aleesa meninggalakannya begitu saja. Restu sedikit menghela napas kecewa.


"Begitulah Aleesa," ujar Radit. "Jangan kapok, ya." Restu hanya tersenyum dan berpamitan kepada kedua orang tua Aleesa.


Sebenarnya Aleesa masih ingin berlama-lama bersama Restu. Terlebih Restu belum mengatakan sampai kapan dia berada di Jerman. Aleesa membuka pintu balkon kamar dan terlihat Rindra dan Restu tengah berbincang serius. Sang paman terlihat menepuk pundak Restu dan Restu pun seakan menurut pada perkataan paman dari Aleesa tersebut.

__ADS_1


Sebelum masuk ke dalam mobil, Restu melihat ke arah balkon kamar Aleesa dan ternyata ada kekasihnya di sana yang tengah menatap ke arahnya. Restu tersenyum ke arah Aleesa dan hanya dibalas dengan raut wajah sedih oleh Aleesa.


Satu jam sudah Aleesa terduduk di atas tempat tidur dengan menggenggam ponsel miliknya. Berkali-kali dia melihat aplikasi pesan singkat, tetapi tidak ada pesan dari kekasihnya. Sedangkan pesan dari Yansen sudah sangat banyak. Dia tak berniat untuk membukanya.


"Apa kamu sudah berangkat? Kenapa kamu tidak memberi kabar?" Aleesa menundukkan kepalanya dengan begitu dalam seraya menghembuskan napas kasar.


Suara ketukan kaca terdengar. Aleesa terdiam sejenak. Suara ketukan kedua kali membuat Aleesa menoleh. Dia pun memalingkan wajahnya ke arah pintu kaca yang tersambung dengan balkon. Seseorang dengan kemeja putih yang dibalut jas berwarna hitam juga celana bahan berwarna hitam sudah berdiri di balik pintu kaca.



Aleesa segera turun dari tempat tidur dan berlari menuju pintu penghubung kamarnya dengan balkon. Tangannya pun dengan cepat membuka pintu balkon dan berhambur memeluk tubuh Restu.



"Aku berangkat, ya." Aleesa semakin erat melingkarkan tangannya pada tubuh Restu. Untuk kali ini Aleesa mengijinkan.


"Pulanglah cepat dan selamat. Aku menunggu kamu di sini." Lirih dan penuh permohonan yang dapat Restu dengar dari ucapan Aleesa kali ini.


"Ya. Aku janji."


Aleesa enggan melepaskan pelukannya begitu juga dengan Restu. Namun, pria itu diburu waktu dan mulai memundurkan pelukannya. Menatap wajah sendu Aleesa dengan raut wajah yang berat untuk meninggalaan.


"Jaga diri kamu baik-baik ketika aku di Jerman. Aku akan menghubungi kamu ketika semuanya selesai. Jangan hubungi aku, tapi tunggulah kabar dari aku." Aleesa pun mengangguk.


"Aku pergi." Restu mengecup kening Aleesa sebelum dia pergi meninggalkan wanita yang dia cintai.


Baru beberapa langkah pergi, Aleesa memanggil Restu dan membuat pria itu membalikkan tubuhnya. Tak dia sangka, Aleesa berhambur memeluknya kembali.



"Love you." Tubuh Restu pun membeku mendengarnya.


...***To Be Continue***...


Komen dong ...


Aku lagi semangat nih nulis my Restu.

__ADS_1


__ADS_2