
"Apa sih Bandit sudah tahu?" Aksa sedang berbicara dengan seseorang yang sengaja dia suruh untuk mencari tahu perihal kejadian yang menimpa Restu. Dia tidak akan tinggal diam walaupun Restu baru bakal calon keponakannya. Meskipun begitu dia akan tetap melindungi Restu karena dia sudah terlanjur jatuh cinta kepada laki-laki yang hebat itu.
"Kenapa dia diam?" Aksa sedikit emosi karena dia dan Radit sangat bertolak belakang. Radit yang selalu berpikir dampak kedepannya sedangkan Aksa yang tidak akan pernah berpikir dampak kedepannya. Mau baik atau buruk tidak akan pernah dia pikirkan karena yang terpenting masalah sekarang selesai esok adalah urusan nanti
Hembusan Nafas kasar keluar dari mulut Aksa. Dia memijat kepalanya yang tidak pusing. Ternyata keluarga Addhitama sedang tidak baik-baik saja. Namun, tidak pernah ada selentingan perihal tidak harmonisnya keluarga besan dari ayah Aksa itu. Radit sama sekali tidak membongkarnya. Dia seakan menutup mulutnya dengan rapat karena tidak ingin semua orang tahu akan kondisi keluarga besarnya sesungguhnya. Radit bersikap biasa saja seolah semuanya baik-baik saja
"Pak Radit bukanlah tipe orang yang mudah terpancing. Dia akan menelaah setiap masalah. Dia akan berpikir secara logis sebelum dia bertindak. Walaupun Harus ada korban, tapi dia yakin pengorbanannya tidak akan pernah sia-sia karena akan ada pembelajaran dari pengorbanannya tersebut." Cara berpikir Radit memang luar biasa. Namun, di mata Aksa Radit sangatlah lamban. Dia paling benci dengan sikap Radit itu.
"Hanya Karena sebuah perusahaan yang masih dibilang belum pesat dan belum maju." Aksa menggelengkan kepala dan meremehkan. "Apa yang dia harapkan?" Pola pikir pria tua Bangka itu tak masuk akal pikiran Aksa.
"Ya, perusahaan itu memang perusahaan kecil. Almarhum Addhitama sengaja memberikan itu kepada Restu supaya ke depannya bisa dikelola dengan baik oleh Restu. Beliau menilai jika Restu mampu mensukseskan perusahaan itu. Ada bakat terpendam yang Restu miliki dan hanya diketahui oleh almarhum Addhitama. Beliau juga sangat yakin jika perusahaan itu akan berdiri kokoh di tangan Restu," papar orang kepercayaan Aksara. Aksa pun tersenyum mendengarnya. Dia semakin bangga pada Restu setelah mendengarnya.
"Bukannya Satria juga mendapat hak yang sama?" Setahu Aksa semuanya sudah dibagi rata. Orang suruhannya pun mengangguk.
"Dia tamak." Aksa menggelengkan kepala ketika mendengar jawaban itu. "Dia ingin menguasai semuanya karena dia tahu Radit tidak akan pernah menerima warisan dari ayahnya. Jadi, warisan yang Radit miliki ingin semuanya dia kuasai karena dia sudah punya niatan untuk menjodohkan putra angkatnya dengan salah seorang putri dari Raditya. Sedangkan almarhum Addhitama tidak percaya kepada adiknya itu. Mengurus satu perusahaan saja bisa kolaps, apalagi mengurus banyak perusahaan." Pria itu menjelaskan secara detail.
"Beliau lebih mempercayai anak-anaknya ketimbang adiknya, ditambah Addhitama masih marah kepada Satria perihal perilakunya di masa lalu dengan mantan istri dari sang besan. Rasa malu dan marahnya belu hilang sampai dia meninggal."
Aksara mengangguk mengerti. Dia bisa menyimpulkan semuanya. Inti permasalahan ada pada Satria. Ada yang tidak ingin tersingkirkan karena kehadiran Restu. Semenjak Restu hadir dia seperti diabaikan, Restu lah yang diutamakan oleh sang kakak
"Apa kondisi Restu sudah baik-baik saja?" Aksa sengaja tidak menampakkan diri. Dia tahu bagaimana watak Restu, dia juga tahu bagaimana Aleesa. Sepasang manusia itu seakan tengah menyembunyikan semuanya. Tidak boleh ada yang tahu, mengorek kepada Rangga pun Aksa tidak bisa. Rangga hanya memberikan info yang sedikit-sedikit saja. Dia sangat yakin Rangga tahu hal yang sesungguhnya, tapi dilarang speak up oleh Restu.
__ADS_1
"Baiklah, kita mulai permainannya sekarang." Senyum penuh arti Aksa tunjukkan.
.
Gagal menemui Radit, kini Satria menemui Rifal. Anak kedua dari mendiang Addhitama itu terkejut. Tidak biasanya sang paman datang kepadanya.
"Pang." Satria sudah menunjukkan mimik serius.
"Kenapa kalian diam saja ketika Restu melamar Aleesa?" Dahi Rifal mengkerut mendengarnya. Kedua alisnya pun sudah menukik dengan begitu tajam.
"Kalian tahu bagaimana bobroknya sikap Restu. Ditambah keluarganya pun penjahat kelas kakap semua."
"Itu bukan ranah Ipang, Om. Lagi pula Restu udah jadi anaknya Abang, attitude-nya pun sudah sangat berubah. Tidak ada alasan untuk Ipang menolak atau melarang. Ingat, Om ... perasaan itu tidak bisa dilarang." Rifal berkata apa adanya.
"Tapi, tetap dia turunan keluarga penjahat." Rifal menghela napas kasar. Dia tahu arah dari omongan Satria akan ke mana.
"Kenapa Om malah protes ke Ipang? Ipang bukan bapaknya Aleesa." Rifal berkata dengan penuh penekanan.
"Harusnya kamu bisa melarang." Satria masih bersikukuh.
"Lah ... apa bisa begitu? Cinta datang tanpa diundang. Kayak gak kerasa sama Om aja," sindir Rifal. Mata Satria pun melebar mendengar penuturan dari keponakannya.
__ADS_1
"Om aja mencintai istri orang? Apa itu bisa dilarang?" Diskakmat oleh keponakan sendiri.
Rifal pun menghela napas kasar. Dia sudah menurunkan salah satu kakinya dan menatap tajam ke arah sang paman.
"Om, kalau Om gak suka sama Restu, jangan ajak orang lain untuk tidak menyukainya juga. Sejatinya, setiap orang memiliki pandangan yang berbeda perihal Restu. Contohnya Bang Rindra. Bagi orang yang membenci Abang, pasti mengira jika Abang dan Restu satu paket lengkap di mana para manusia jahat bersatu, tapi jika orang yang memandang positif mereka tidak berkata seperti itu. Justru mereka melihat perubahan yang mencolok dari seorang Rindra Addhitama setelah memiliki Restu. So, jangan sama ratakan penilaian orang lain dengan penilaian Om. Boleh saja menilai Restu buruk, itu hak Om. Sama halnya dengan orang lain yang berhak menilai Restu dari sisi baiknya."
Sedari masuknya Restu ke rumah sang ayah memang terlihat jelas jika sang paman sangat tidak menyukai Restu. Ayahnya pun tahu akan hal itu, tapi dia tidak pernah mempermasalahkan. Semua orang lain berhak untuk menyukai dan membenci. Itulah yang dikatakan sang ayah.
"Kamu itu sama saja kayak Radit!" Sang paman mulai murka. Rifal pun tersenyum kecil sembari menggeleng.
"Oh ... Om sudah memarahi Radit terlebih dahulu sebelum ke Ipang?" tanya Rifal dengan sedikit menyindir. "Setelah dari sini ... berani dong nyamperin Abang." Ada sebuah senyum kecil penuh ejekan yang tersungging di bibir Rifal.
Satria terdiam, dia tidak bisa menjawab. Rifal mengulum senyum karena dia tahu jika sang paman tidak berani menghadap kepada Rindra. Dia masih ingat jelas apa yang dilakukan Rindra ketika sang paman menyuruh Rindra untuk mengembalikan Restu kepada keluarganya. Kurang dari satu jam saham perusahaan satu-satunya Satria anjlok hingga mengalami kerugian hampir seratus milyar dalam waktu empat puluh menit.
"Gimana ya kalau Abang tahu ... kalau Om ngajak aku untuk menolak pertunangan Restu?" Rifal berlagak berpikir.
"Apakah momen pada waktu itu terulang lagi? Di mana orang lebih tua bersujud hingga mencium ujung kaki orang yang lebih muda sambil mengeluarkan air mata buaya?"
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1