RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 138. Kuamplet


__ADS_3

Suara gaduh akan selalu terdengar di hari-hari biasa, kecuali weekend. Rumah besar itu akan seperti hutan di mana empat penghuni kecil akan berteriak sesuka hati mereka.


"Bunda, kaos kaki Apang mana?" Anak bungsu laki-laki yang seperti anak berusia lima tahun. Apa-apa harus disiapkan oleh ibundanya.


"Cari di lemari kamu dong, Pang."


"Gak ada." Jingga akan menghela napas kasar ketika mendengar jawaban itu dari sang putra.


"Serius gak ada?" Apang pun mengangguk.


"Udah Apang cari." Wajah anak itu pun penuh keseriusan. Jingga menyuruh asisten rumah tangga untuk melanjutkan masak.


Ketika masuk ke dalam kamar, Jingga menggelengkan kepala di mana semuanya sudah berantakan. Arfan tidur dengan Abdalla karena dia tidak bisa tidur sendiri.


"Kenapa kamu berantakin?" Sang ibu sudah mulai emosi.


"Nanti Mas yang beresin, Bun." Putra pertama yang baru saja keluar dari kamar mandi membuka suara.


"Enggak, Mas." Sang ibu melarang. "Jangan terus-terusan belain Apang kalau Apang salah. Bunda ngajarin semua anak-anak Bunda untuk tanggung jawab dan mandiri." Abdalla pun mengangguk. Dia melihat ke Arah sang adik yang memasang wajah menyedihkan..Abdalla tidak tega, tapi ini perintah dari sang bunda..


Jingga sudah membawa sepasang kaos kaki dan memperlihatkan kepada Apang.."Ini Bunda yang cari ada..Kenapa kata kamu gak ada, Hah?" Arfan pun terdiam.


"Pokoknya setelah pakai kaos kaki kamu bersin semuanya dan jangan minta bantuan dari orang lain." Begitu tegas ucapan dari Jingga.


"Bun, nanti Apang telat." Dia mencoba merengek..


"Gak akan. Bunda jamin." Apang pun menggembungkan pipinya bertanda dia kesal setelah sang bunda keluar dari kamar.



Ketika yang lain sarapan hanya Apang yang belum turun. Aska menanyakan keberadaan Apang.


"Lagi bunda hukum biar nggak terlalu manja." Jingga menyahuti sang suami.


"Kenapa lagi?" Apang selalu saja membuat sang Bunda naik darah di pagi hari.


"Seperti biasa cari kaos kaki dan semuanya sudah berada di lantai dan di tempat tidur." Aska malah tertawa.

__ADS_1


Di dalam kamar Apang terus saja mendumal kesal karena disuruh membereskan baju yang berserakan di lantai dan juga di tempat tidur. Padahal itu ulahnya, tapi dia merasa tidak terima.


Ketika semua orang sudah selesai sarapan Apang baru turun dari lantai dua di mana kamarnya berada.


Dia melewatkan sarapan, tetapi sang Bunda membawakannya bekal makanan.


"Bunda tuh sayang Apang. Makanya Bunda mengajarkan Apang untuk mandiri tidak bergantung sama Mas atau sama Abang terus," jelas Jingga. Namun, tetap saja wajah Abang masih ditekuk.


Kegiatan pagi hari akan sangat menguras tenaga dan emosi. Ingin rasanya Jingga tidak menemukan yang namanya pagi hari. Langsung ke siang dan malam. Jika, seperti itu sudah pasti kepalanya akan baik-baik saja. Keempat anak Aska dan Jingga memiliki karakter yang berbeda-beda. Maka dari itu, dia sana Aksa harus memiliki kesabaran yang benar-benar ekstra untuk menghadapi mereka berempat. Hanya Abdalla yang mudah diatur dan juga mandiri sendiri kecil. Dia tidak pernah mau dibantu oleh kedua orang tuanya jika tengah mengerjakan sesuatu.


Tibanya di sekolah ,kedatangan Abdullah membuat para murid perempuan haistris. Bagaimana tidak, Abddlla memiliki tampan yang sangat rupawan.


"Pacar gua!" teriak siswa perempuan.


Namun, sayang Andalla adalah titisan kulkas 4 pintu. Dia tidak akanmenggubris teriakan tersebut. Dia berjalan menuju kelasnya dengan santai. Tak peduli para siswa wanita memperhatikannya bak seorang bintang.


Kedatangan Ahlam membuat siswa perempuan memanggil-manggil namanya. Dari kakak kelas pun banyak yang meminta Ahlam mendekat pada mereka.


"Man" Ahlam sudah ditodong sama mereka.


"Ada barang ada uang." Ahlam berkata dengan santai. Padahal dia dengan berbicara dengan kakak kelas.


"Ya iyalah. Tidak ada yang gratis di negara ini. Chma. kentut doang sama mimpi yang gratis . Kencing aja bayar dua debu berakk bayar goceng."


Ahlam mengumpulkan uang dari kakak kelas nya yang ingin menginginkan sesuatu darinya. Dia mengambil satu persatu Uang pecahan sepuluh riibu yang sudah kakak-kakak kelasnya bawa. Kemudian, Ahlam mengambil satu per satu ponsel mereka dan mengetikkan dua bela digin angka di ponsel mereka.


"Ini bukan nomor palsu kan?" Ahlam pun berdecak kesal.


"Aku jual yang ori. No kw kW." Ketika tugasnya sudah beres dia tertawa bahagia karena banyak uang yang dia dapat.


"Lama-lama gua bisa kalahin Mas Agha si bandar dollar," gumamnya.


Plak!


Seorang remaja tampan memakai seragam SMA memukul kepalanya. Tatapannya sangat tajam. Dia pun nyengir kuda.


"Bandar togel," ejek Agha. Ahlam pun berdecak kesal.

__ADS_1


"Sembarangamn kalau ngomong!" Ahlam tidak terima. Agha hanya tersenyum tipis dan berlalu meninggalkan Ahlam.


"Mas, mau ke mana?" tanya Ahlam ketika melihat Agha sudah menjauh darinya.


Di dalam kelas Abdalla menghembuskan napas kasar ketika di kolong mejanya sudah banyak makanan. Dari Snack gurin hingga cokelat mahal.


"Salam kenal Abdalla."


"Gak ngerti deh setiap kali ketemu kamu pengennya jalan ke utara. Pengen mengutarakan cintaku padamu."


"Kalau jalan tolong munduran dikit ya. Soalnya ganteng kamu kelewatan."


Jangan ditanya bagaimana reaksi Abdalla. Dia hanya memasang wajah datar. Tak.ada ekspresi sama sekali.


"Mas, dapat banyak makanan gak?" Apang sudah mendekat sang kakak. Abdalla melirik ke bawah meja dan membuat Apang bersorak gembira.


"Buat para pengagum rahasia Mas Dalla, sering-sering ya ngasih beginian." Abdalla menatap tajam Arfan hingga dia menutup rapat mulutnya.


Balqis, dia tenga sibuk dengan teman rasa pacar. Di mana dia tengah asyik mengobrol dengan siswa populer di sekolah itu. Wajah Balqis berseri setiap kali diajak berbincang olah siswa tersebut. Namun, sayang dia memiliki bodyguard luar biasa galaknya, yakni Ahlam atau dipanggil Mail oleh Agha.


Ahlam sudah menarik.rambut Balqis untuk masuk ke dalam kelas hingga dia mengaduh.."Sakit!"


"Masuk!"


Apang yang asyik makan cokelat pun menoleh. Begitu juga dengan Abdalla yang tengah membaca buku ikut menoleh.


"Lenjeh bener sih! Masih kecil jangan pacaran!" Sang Abang sudah mengomel. Kini, Balqis menerima tatapan tajam dari Abdalla hingga membuatnya menunduk dalam. Kakak yang paling dia takutkan adalah Abdalla. Biasanya orang yang jarang bicara itu jika marah akan sangat menyeramkan.


.


Pulang sekolah Ahlam asyik menghitung uang hasil menjual nomor ponsel sang kakak. Ketika istirahat banyak siswi yang lain yang ingin membelinya. Itu membuat pundi-pundi yang masuk semakin banyak.


"Buset ... omset hari ini tiga ratus ribu." Ahlam menggelengkan kepala merasa bahagia. "Lama-lama jadi sultan cebanan gua." Ahlam pun mencium.uang sepuluh ribuan yang rata-rata jelek. Namun, dia tidak peduli. Hingga sudah seseorang berteriak memekik gendang telinga.


"Ahlam!!!" Ya. Itu suara sang kakak. Ahlam pun harus siap untuk kabur.


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2