
Aleesa memeluk tubuh Restu ketika konferensi pers selesai. Ada rasa lega di hati Aleesa.
"Percayalah, aku mengungkapkan kebaikan. Maka, yang akan aku dapatkan kebaikan pula."
Aleesa mengangguk dan dia tak mau melepaskan pelukannya. Dia ingin terlepas dari semua masalah ini. Ponsel Restu berdering, salah satu anak buah Restu mengatakan bahwa Ratu dan Kalfa sudah melakukan tes DNA. Hasilnya akan keluar dua Minggu ke depan.
.
Keesokan paginya Satria dikejutkan akan kedatangan dua orang polisi ke rumahnya. Belum juga Satria membuka suara, dua petugas itu sudah menangkapnya tanpa suara.
"Apa salah saya?" Satria berteriak. Wajahnya masih penuh dengan luka memar.
"Jelaskan di kantor polisi saja."
Tibanya di kantor polisi, Satria semakin terpojokkan karena melihat ada Raja dan Rifal di sana. Tatapan keponakannya sangat-sangat datar. Namun, terlihat kegeraman yang luar biasa yang sorot matanya tunjukkan.
"Silahkan duduk!" Petugas di sana mempersilahkan.
Rifal berdiri tanpa ada kata yang keluar dari mulutnya sedikit pun. Raja sudah menatapnya dengan sangat tajam.
__ADS_1
Pihak kepolisian sudah menjelaskan semuanya hingga Satria tidak bisa berbuat apa-apa. Dia benar-benar mati langkah. Ternyata Raja dan Rifal sudah melaporkan Satria dengan tindakan pidana kejahatan.
Raja melaporkan atas tindakan rencana pembunuhan, dan Rifal perihal penipuan penggelapan uang. Mereka tidak janjian. Baik Rifal maupun Raja bertemu di kantor polisi dengan tujuan mereka yang sama dengan kasus yang berbeda.
"Silahkan siapkan pengacara dan kita bertemu di persidangan." Raja berkata dengan sangat tegas. Sedangkan Rifal masih terdiam. Dia belum membuka suara.
"Ipang kira Om orang baik, ternyata hanya tikus pengerat harta." Rifal berkata sangat menyakitkan.
.
Kalfa Putra Satria, dia tahu ayahnya dibawa ke kantor polisi. Namun, dia tidak sama sekali ingin membela ayahnya. Dia memilih untuk pergi ke tempat di mana dia dulu tinggal.
Dia bertemu dengan warga setempat. Walaupun dia sudah melakukan tes DNA dengan Ratu, dia masih belum percaya sepenuhnya. Kalfa menemui orang yang dekat dengan keluarganya dulu. Dia langsung menanyakan tanpa basa-basi.
Terlihat wajah Kalfa sudah sangat frustasi. Dia ingin tahu yang sebenarnya. Dia tidak ingin berada dalam kegamangan seperti ini.
"Mungkin sudah saatnya kamu tahu," papar si bapak yang sudah Kalfa anggap seperti saudaranya.
"Saya tidak mau membohongi kamu walaupun ada orang yang mengimingi uang besar kepada saya. Saya tidak mau seumur hidup saya dilanda rasa bersalah. Lebih baik saya jujur apa adanya."
__ADS_1
Kalfa sudah bisa menebak siapa yang mau menutup mulut si bapak di depannya. Dia sangat yakin jika itu adalah papihnya. Satria adalah orang yang akan melakukan segala cara untuk menutupi aibnya.
"Mumpung kamu bertanya, saya akan menjawab." Si bapak itu menjeda ucapannya. "Kamu hanyalah anak angkat."
Kalfa tersenyum mendengarnya. Ternyata apa yang dia curigai memang benar. Sepasang pemulung itu bukanlah orang tua kandungnya.
"Mereka menemukan kamu. Kebetulan mereka belum memiliki anak. Maka dari itu, mereka sangat bahagia ketika menemukan kamu."
Semuanya Bapak itu ceritakan hingga Kalfa tak kuasa menahan air matanya. Dia sedih jika mengingat kedua orang tua angkatnya. Banyak kenangan yang mereka ukirkan. Kasih sayang tulus yang mereka berikan.
"Mereka orang baik. Kamu sangat beruntung bisa bertemu dengan mereka."
"Kenapa keluarga angkatku begitu baik sedangkan kekaurga asliku penuh kebohongan? Kenapa, Tuhan?"
Kalfa mengendarai motor tak tentu arah. Sudah tiga hari dia tidak pulang ke rumah. Hatinya sakit dan hancur.
"Apa ini karma untukku?"
Dia teringat akan sikapnya kepada Aleena hingga menyebabkan perempuan itu pergi dari Singapura. Kini, dia merasakan sendiri.
__ADS_1
"Aku lelah, Tuhan "
.