
Aleesa tengah berdiri di depan jendela kamarnya. Dia tengah merenungi apa yang dikatakan oleh Yansen siang tadi. Perkataannya terdengar aneh.
"Ada apa dengan Yansen?" Begitulah batinnya.
Tengah asyik memandang lurus ke depan, sepasang tangan melingkar di perutnya. Aleesa terlonjak, tapi ketika melihat jari manis dari tangan tersebut dia malah tersenyum. Ditambah aroma parfum yang sangat familiar untuk Aleesa.
"Miss you so much." Aleesa tersenyum dan menggenggam tangan yang melingkar di perutnya.
"Kenapa pulang ke sini? Nanti Aunty mami nyariin loh." Aleesa sudah menoleh ke arah kirinya di mana Restu sudah meletakkan dagunya di pundak Aleesa.
"Aku udah bilang kok. Cuma ujungnya dimarahin." Restu malah tertawa.
Aleesa membalikan tubuhnya. Dia menatap dalam wajah sang tunangan yang terlihat lelah. Dia tersenyum dan senyum itu menular kepada Restu.
"Mending cepat nikah yuk! Biar aku nggak kesiksa." Ajakan yang membuat alisha tertawa.
Restu sudah meninggalkan jas juga dasi yang seharian ini dia pakai. Dia sudah mengambil posisi tiduran di atas sofa. Aleesa yang baru masuk dan membawakan Restu secangkir kopi panas tersenyum melihat penampilan sang tunangan yang sudah amburadul.
Aleesa menghampiri Restu dan menyerahkan secangkir kopi kepada calon suaminya tersebut. Restu merubah posisinya. Dia pun kembali duduk.
"Makasih, Lovely." Aleesa pun tersenyum. Dia ikut duduk di samping Restu dan sudah bergelayut manja di lengan sang tunangan. Restu mengecup samping kepala Aleesa sebelum menyesap kopi.
banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Aleesa kepada Restu perihal hari pertama dia kerja. Ada rasa takut di hatinya jika Restu akan berpaling darinya karena sudah pasti karyawan di kantor sang paman cantik dan seksi. Dia merasa insecure sendiri.
"Bagaimana dengan para karyawan di sana?"
"Seperti karyawan pada umumnya aja." Restu menjawab apa adanya. Padahal tujuan Aleesa bertanya seperti itu bukan menanyakan itu. Dia menanyakan karyawan wanita. Namun, dia sendiri malas mengungkapkannya.
"Karyawan ceweknya pasti cantik dan seksi 'kan?" Mendengar pertanyaan itu membuat Restu menoleh ke arah Aleesa. Meletakkan cangkir kopi di atas meja. Tangannya sudah menyentuh bahu Aleesa agar wanita yang dia sayangi itu menatap dirinya.
"Kamu cemburu?" Aleesa hanya melirik tajam Restu dan ingin memalingkan wajahnya dari laki-laki yang amat dia sayangi itu. Namun, Restu menahan dagu Aleesa agar dia tidak berpaling menatapnya.
"Cantik itu relatif. Bagaimana kira memandangnya aja," jawab Restu. "Bagiku, kamu adalah wanita yang paling cantik yang pernah aku temui di muka bumi ini." Aleesa masih terdiam.
"Jangan menaruh cemburu karena aku tak melakukan apapun," tutur Restu yang sudah menggenggam tangan Aleesa.
"Intinya, perselingkuhan itu akan terjadi jika si wanita gatal menggoda laki-laki yang gatal juga. Kalau laki-lakinya biasa aja mah gak akan terjadi apapun, Lovely. Lagi pula di mata, hati dan pikiranku hanya ada kamu." Restu berkata dengan begitu jujur.
"Apa aku harus percaya dengan ucapan kamu itu?" Terlihat jelas raut takut dari seorang Aleesa Addhitama..
__ADS_1
"Kepercayaan itu adalah modal utama dalam sebuah hubunganm Jangan mencurigai apa yang tidak pernah aku lakukan. Jangan berpikir jelek tentang diriku karena aku tidak akan mungkin mengkhianati kamu. Tetap berpositf thinking agar hubungan yang kita jalani pun tetap sehat." Restu menjelaskan
Restu mulai merebahkan tubuhnya di pangkuan Aleesa. Membenamkan wajahnya di perut Aleesa dan melingkarkan tangannya di punggung sang wanita kesayangan.
"Makanya kita percepat pernikahan kita supaya kamu bebas miliki aku."
Plak!
Aleesa memukul punggung Restu dengan cukup keras hingga dia mengaduh. Mata Aleesa melebar ketika dia teringat jika di bagian punggung banyak luka.
"Maaf, Bie." Restu pun memundurkan wajahnya dari perut Aleesa. Dia tersenyum ke arah Aleesa dan menunjuk ke arah keningnya.
"Biar rasa sakitnya hilang." Aleesa malah tertaaa. Dia memajukan bibirnya dan mengecup kening Restu dengan begitu dalam.
"I love you." Aleesa pun tersenyum dan membalasnya, "love you too."
Restu kembalu membenamkan wajahnya di depan perut Aleesa. Dia merasakan kenyamanan ketika wajahnya menyentuh perut Aleesa. Perlahan dia mencium perut Aleesa yang terbalut kaos yang dia gunakan.
"Kenapa, Bie?"
"Aku berharap setelah menikah kita langsung dititipkan anak oleh Tuhan. Aleesa tersenyum dan mengusap lembut rambut Restu.
.
Aleena dan juga Rangga menoleh. Kedua alis Rangga menukik dengan begitu tajam. Ternyata itu Kalfa. Aleena sudah menghela napas kasar. Kalfa berlari menghampiri Aleena dan juga Rangga. Dia menatap tajam.ke arah Rangga.
"Dia itu gak tulus sama kamu, Na." Kalfa sudah angkat suara terlebih dahulu. "Dia itu hanya ingin mempermainkan kamu."
Rangga lun berdecih. Ingin rasanya dia menghajar laki-laki di depannya ini, tapi ini negeri orang. Tidak akan ada yang membela dia. Rangga hanya bisa menahan emosinya. Aleena menatap ke arah Rangga. Berjaga-jaga jika Rangga emosi kepada Kalfa.
Akan tetapi, Rangga masih bersikap biasa. Tidak menunjukkan amarah yang besar. Aleena pun mendekat ke arah Rangga. Mereka berdua saling pandang untuk beberapa detik dan semuanya harus berakhir ketika Kalfa menarik tangan Aleena agar menjadi dari Rangga.
"Jangan main kasar sama cewek!" Akhirnya emosi Rangga keluar.
"Gak usah mengkambing hitamkan gua dan ngatain gua gak tulus. Harusnya lu ngaca!" Rangga sudah menunjuk wajah Kalfa. "Apa lu tulus sama Aleena?"
Kalfa pun terpancing. Mereka berdua adu mulut dan pada akhirnya Kalfa memberikan Bogeman mentah kepada Rangga dengan sekuat tenaga hingga Rangga tersungkur. Ujung bibirnya mengeluarkan darah dan membuat Aleena berteriak. Dia menggibaskan tangan Kalfa dan menghampiri Rangga yang sudah terduduk di atas jalan.
"Kamu gak apa-apa?" Aleena membantu Rangga untuk bangun. Sedangkan Rangga tengah menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.
__ADS_1
Aleena pun ikut membantu Rangga menyeka darah yang masih keluar di sudut bibirnya. Namun, tangan mereka malah saling bersentuhan dan membuat mereka saling pandang. Erangan Kalfa menyadarkan mereka dan Aleena mulai membuka suara.
"Kita ke klinik," ajak Aleena. "Luka itu lumayan parah."
Rangga tidak bisa menolak karena tangannya sudah ditarik oleh Aleena. Baru beberapa langkah saja, Kalfa sudah menghentikan langkah Aleena dengan menarik tangan Aleena.
"Aku cinta kamu, Na. Sangat mencintai kamu." Tubuh Rangga menegang ketika mendengar apa yang diucapkan oleh Kalfa. "Aku sungguh mencintai kamu, Na. Kalau aku tidak cinta untuk apa aku menyusul kamu ke sini."
Rangga kini menatap ke arah Aleena. Sudah pasti Aleena akan luluh. Dia hanya bagaimama perasaan Aleena kepada Kalfa. Ini seperti de Javu untuk Rangga. Dia lun menghela napas kasar.
"Maaf, Kalfa. Berikanlah cintamu pada wanita yang memang benar-benar mencintai kamu karena perasaan cinta yang aku miliki kepada kamu sudah aku kubur dalam-dalam." Hati Kalfa hancur seketika.
Aleena menarik tangan Rangga menuju klinik yang tak jauh dari sana. Meninggalkan Kalfa begitu saja. Tibanya di sana, luka Rangga diobati. Terkihat wajah Aleena yang cemas.
Ketika dokter yang menangani Rangga pergi untuk mengambil obat, Rangga memberanikan diri untuk menggenggam tangan Aleena yang ada di depannya.
"Aku butuh jawaban kamu agar aku bisa tidur dengan tenang." Rangga menatap serius wajah Aleena.
"Maaf, Rangga. Hatiku sudah tertutup rapat untuk siapapun. Aku belum ingin membuka hati lagi."
"Sampai kapan? Aku akan tetap menunggu kamu," balas Rangga tanpa ragu. Aleena pun terhenyak.
"Mungkin selamanya." Rangga terkejut. "Berikanlah cinta kamu untuk wanita yang beruntung di luaran sana. Aku tidak menerima cinta siapapun, kecuali keluargaku sendiri."
Rangga tersenyum. Dia mengangguk. Dia tidak akan memaksa.
"Baiklah." Begitu lemah jawaban Rangga membuat Aleena sangat tidak enak hati. Dokter sudah masuk kembali ke ruangan tersebut dan memberikan obat kepada Rangga.
Setalah urusan di klinik selesai, Rangga menghentikan langkahnya. Aleena pun ikut berhenti.
"Makasih, sudah mau menjawab perasaanku." Rengga mencoba untuk tersenyum. "Aku pamit, Na." Aleena nampak terkejut.
"Kamu mau kembali ke Jakarta sekarang?" Rangga mengangguk.
"Semoga kita bisa bertemu lagi, dan aku janji aku akan mencoba membuka hati kamu untuk menerima aku." Mata mereka pun saling terkunci.
"Itu tidak akan terjadi, Ngga. Aku akan pergi jauh dari kalian dan kemungkianan besar aku tidak akan kembali ke sana."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...