RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 192. Jangan Buat Kesal


__ADS_3

Ponsel Restu dan Aleesa berdering bergantian. Namun, dua insan manusia itu membiarkan. Mereka tengah menyelami lautan kenikmatan yang tiada Tara. Mie instan yang Aleesa inginkan menjadi penonton pergelutan mereka berdua.


"Jangan buat aku kesal, Lovely Sayang. Aku gak akan pernah buat kamu berhenti menjerit." Bisikan Restu membuat darah Aleesa semakin mengalir deras.


"Bie!"


Untuk kesekian kalinya Restu membuat Aleesa melayang hingga ke awang-awang. Keringatnya sudah bercucuran, tapi Restu tak ingin membuat istrinya diam.


"Bie, udah lemes banget, Bie."


Aleesa sudah mencapai puncak lebih dari tiga kali. Suaminya benar-benar membuatnya gila.


"Aku ingin mendengar jeritan kamu lagi, Lovely." Restu semakin membuat Aleesa bagai cacing kepanasan.


"Aduh, Bie."


Untuk kesekian kalinya Aleesa menjerit karena ulah Restu yang benar-benar keterlaluan. Kini, suaminya malah asyik meminum susu dari sumbernya ketika tubuh Aleesa sudah tak berdaya.


"Jangan merangsang aku lagi, Bie. Aku benar-benar lemas." Restu malah tertawa dan dia menggigit choco chips yang ada di atas sumber asi hingga Aleesa mengerang lagi.


"Sekali lagi ya, Lovely. Kita keluarkan bersama."

__ADS_1


Jeritan kecil, the Sahan manja keluar dari mulut mereka berdua. Restu memacu belalainya lebih cepat dan membuat Aleesa semakin kewalahan. Kedutan nikmat mulai muncul di keduanya dan mereka pun menjerit bersamaan.


Restu mencium kening Aleesa dengan sangat lembut. Dia tersenyum ke arah istrinya yang sudah lemah tak berdaya.


"Makasih, Lovely."


Aleesa tak menjawab. Tubuhnya sudah bagai ayam tulang lunak dan matanya sudah dia pejamkan. Restu membersihkan belalai bongsornya dan juga apem legit milik sang istri. Terlihat memerah lagi di sana dan tanpa perintah Aleesa Restu mengoleskan salep ampuh agar istrinya tak kesakitan.


"Bie," panggil Aleesa lemah.


"Iya, Lovely." Restu mendekat ke arah istrinya yang tak mengenakan apapun hanya menggunakan selimut.


"Hug me."


.


"Tadi aku ke apartment dulu, Bu." Restu menjelaskan setelah meletakkan tubuh Aleesa di tempat tidur.


"Apartment?" Echa sedikit bingung. Restu mengangguk pelan. Dia duduk di tepian tempat tidur dan menjelaskan semuanya kepada ibu mertuanya.


"Kalian nanti akan pergi dari sini?" Sebuah ketakutan yang keluar dari mulut Echa. "Kalian akan tinggalin Bubu dan Baba?" Restu tersenyum dan menggeleng pelan.

__ADS_1


"Aleesa sudah bilang jika dia ingin tinggal di sini. Perihal apartment memang ada yang rawat. Seminggu atau dua minggu sekali kita akan menginap di sana."


Echa pun dapat menghela napas lega. Restu mulai mendekat ke arah sang ibu mertua. Dia menggenggam tangan Echa dengan begitu erat.


"Bubu jangan khawatir. Aku akan menuruti apa kemauan istriku dan aku juga tidak akan mengambil Aleesa dari Bubu dan Baba."


Mata Echa pun berkaca-kaca. Dia memeluk tubuh sang menantu yang sudah dia anggap seperti putranya sendiri.


"Makasih, ya. Kamu selalu mengerti Aleesa dan menjaga Aleesa dengan baik." Restu pun mengangguk.


Sang menantu mulai menatap Echa. Dia pun masih menggenggam tangan ibu mertuanya yang masih sangat cantik.


"Bu, bolehkah aku meminta sesuatu?" Echa pun mengangguk.


"Tolong anggap aku seperti putra Bubu sendiri karena aku sudah menganggap Bubu seperti mamihku." Echa mengusap lembut pipi menantunya.


"Tanpa kamu minta, Bubu sudah menganggap kamu anak Bubu." Senyum pun terukir indah di wajah Restu.


"Bie," panggil Aleesa. Restu dan Echa menoleh. Aleesa sudah mencoba untuk duduk. Baru saja Restu hendak mendekat, Aleesa turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.


"Huekk!"

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen atuh ...


__ADS_2