RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 143. Mahal


__ADS_3

Kebingungan Restu berakhir pada keputusannya yang sudah bulat. Dia tinggal mencari waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan Aleesa.


Rindra yang mendengar sebuah keputusan Restu sangat terkejut. Dia menatap putranya dengan tak percaya. Selama ini sang putra menyembunyikan semuanya dari dirinya. Hanya Aleesa yang tahu. Rindra menggelengkan kepala.


"Lalu bagaimana dengan tawaran Papih?" Restu menggerus punggung rokok ke atas asbak beling.


"Belum juga sebulan aku kerja 'kan, Pih. Aku males dengar ocehan para karyawan Papih itu." Rindra malah tertawa. Putranya kali ini sangat sabar menghadapi karyawan yang bekerja di perusahaannya.


"Papih tinggal bilang kalau kamu anak Papih. Beres kan?" Restu menggeleng.


"Aku belum punya ilmu, Pih. Biarkan aku belajar dulu." Inilah yang Rindra suka dari Restu. Dipaksa sekuat apapun dia akan pada prinsip awalnya.


.


Di lain tempat, Aleesa sedang bersama sang paman, Iyan. Mereka duduk di bawah pohon mangga di mana teman-teman tak kasat mata mereka pun hadir di sana. Aleesa bersandar di bahu sang paman.


"Aku kira aku akan tetap bersama Sensen, tapi Tuhan malah membelokkan semuanya." Aleesa berkata dengan senyum tipis. Jika, duduk di bawah pohon mangga mengingatkannya pada Yansen.


"Jodoh itu tidak ada yang tahu, Sa." Aleesa pun mengangguk. "Kita hanya bisa mencintai, tapi Tuhan yang melabuhkan cinta kita kepada seseorang yang sudah Tuhan takdirkan untuk menjadi jodoh kita."


"Kalau kamu gak mau si ganteng buat Anteu Pocita aja." Semua teman dan Iyan pun menatap tajam ke arah hantu bungkus berwajah merah itu.


"Ngaca dong ngaca!" Si kerdil sudah mengomel. "Muka merah begitu kaya ondel-ondel, mana ada manusia yang mau sama Anteu, yang ada mereka pada takut." Mereka semua pun tertawa, kecuali Anteu Pocita yang sudah memanyunkan bibirnya karena kesal.


"Tahu dirilah, situ pocong, situ setan, mana mau Restu sama situ, kecuali buat pesugihan." Om Uwo sudah membuka suara.


Baik Iyan maupun Aleesa tertawa bersama sahabat-sahabat mereka. Mereka seakan tengah temu kangen. Semakin Aleesa dan Iyan beranjak dewasa hubungan dengan para makhluk tak kasat mata semakin menjauh. Mereka merindukan momen ini, momen yang belum tentu setahun sekali terulang. Beda halnya ketika Iyan dan Aleesa kecil. Mereka akan berkumpul seperti ini dihiasi tawa ataupun ocehan dari Aleesa dan Iyan.


"Sudah lama ya, kita tidak seperti ini."


.


Di tempatnya magang, semua karyawan sedang asyik membicarakan gaji yang sudah masuk ke dalam rekening. Semua mata tertuju pada Restu sekarang. Menatap remeh Restu yang sedari tadi asyik pada layar segiempatnya. Tak menggubris obrolan mereka yang sedikit menyindir dirinya.


"Gajian paling gede lima juta udah berlagak kayak orang kaya."


Restu masih anteng dengan pekerjaannya. Hingga para karyawan lain mulai riuh karena hadirnya petinggi penting di sana. Mereka bersikap sopan pada pria yang baru saja datang dengan pemilik perusahaan. Restu masih acuh hingga tepukan di pundaknya membuat Restu menoleh.

__ADS_1


"Gimana? Betah?" Aska sudah tersenyum ke arahnya dan dijawab senyuman juga oleh Restu. Itu tak luput dari pandangan karyawan di sana.


"Betah gak betah kudu dibetah-betahin." Rindra yang sedang bersama Aska pun tertawa mendengar jawaban dari Restu. Itu juga membuat mereka semua saling pandang dan menaruh rasa penasaran yang luar biasa.


"Kenapa seberani itu Restu pada dua pria berpengaruh itu? Wajahnya pun nampak santai," bisik salah satu karyawan dengan karyawan lainnya.


"Ahjussi!" Bukan hanya Restu yang menoleh, para karyawan lain pun ikut menoleh. Mereka semakin mengerutkan dahi ketika melihat anak laki-laki mendekat ke arah dua pengusaha ternama juga Restu. Anak itu sangat tampan dan senyumnya menawan.


"Ada hubungan apa sih si anak magang itu sama Pak Rindra dan Pak Aska?" bisik salah seorang karyawan. Sungguh rasa penasaran sudah membuncah.


"Titip Apang, ya." Restu malah menganga tak percaya dan menatap ke arah sepupu Aleesa tampan yang sudah menyunggingkan senyum.


"Jangan bandel!" Mulut ketus Restu tak membuat Apang takut. Anak itu malah merengek ingin membeli choco ice di kedai kopi ternama.


"Pesan online aja." Restu menjawab tanpa menoleh. "Aku masih banyak kerjaan."


"Apang mau dua boleh?"


"Jangan dipalakin, Dek. Kasihan gajinya buat bayar angsuran motor aja gak cukup." Salah seorang karyawan yang masih sinis kepada Restu menjawab dengan sangat jahat.


"Kamu mau pesan apa?" Restu sudah mengeluarkan ponselnya. Para karyawan lainnya pun kepo ingin tahu ponsel apa yang Restu gunakan.


Restu menatap tajam ke arah mereka semua sehingga mereka kembali fokus pada pekerjaan mereka. Tatapan Restu begitu tajam dan membuat nyali mereka ciut.


"Dua, ya." Restu mengangguk.


Restu adalah karyawan yang sangat misterius. Dia benar-benar tertutup akan kehidupannya. Apang malah asyik memperhatikan Restu bekerja.


"Ahjussi," panggil Apang. Restu hanya berdehem.


"Gak jadi deh." Restu melirik tajam ke arah Apang dan dijawab dengan senyuman oleh anak itu. Tidak ada takut-takutnya Apang pada mantan bodyguard tersebut.


"Restu, dipanggil Pak Rindra." Sekretaris sang ayah menghampiri meja Restu, dia pun mengangguk dan mulai berdiri. Namun, tangannya dicekal oleh Apang ketika dia hendak pergi.


"Minuman yang tadi udah dibayar belum?"


"Udah. Tinggal ambil aja nanti." Apang pun mengangguk.

__ADS_1


"Diem di sini!" Lagi-lagi Apang mengangguk.


Anak laki-laki itu tengah asyik membaca apa yang ada di layar laptop sang Ahjussi. Namun, suara hus has hus hus mengganggunya dan dia mulai menatap tajam ke arah para karyawan yang sudah ada di dekat meja kerja Restu.


"Kamu siapanya Restu?" Bukannya menjawab, Apang malah semakin mengerungkan matanya.


"Kenapa kamu manggil dia Ahjussi," tambah yang lain.


"Kamu anaknya Pak Askara 'kan?"


Apang pun menghembuskan napas kasar. Kemudian dia berdiri dengan berkacak pinggang. Menatap satu per satu ke arah mereka yang bertanya.


"Manusia kepo!" Tajam dan berbisa sekali ucapan dari Apang ini. Mereka bukannya menyudahi acara ingin tahu malah semakin menjadi. Terus bertanya dengan rasa penasaran yang membuncah.


"Ck," decakan kesal pun keluar dari mulut Apang.


"Om-om ini punya apa sih? Beraninya nanya-nanya ke aku? Jawaban yang keluar dari mulut aku ini MAHAL." Padahal bukan turunan mendiang Rion Juanda, tapi kata-katanya amat mematikan.


"Emangnya tadi Restu beliin kamu apa? Om bisa beliin lebih mahal dari itu."


"Eleh," sahut Apang meremehkan. "Yang ada besok Om gak bisa makan selama seminggu." Anak itu malah mengejek karyawan yang bekerja di kantor Rindra.


Tak lama berselang, minuman Apang datang. Anak itu nampak gembira karena dia dibelikan minuman paling mahal oleh Ahjussi-nya.


"Nih." Apang menyerahkan bon total dua minuman yang dibelikan Restu dan mata mereka melebar ketika melihat totalnya.


"Hampir dua ratus lima puluh ribu untuk sua minuman itu doang." Apang mengangguk.


"Sanggup gak bayar jawaban aku dengan mahal?" Apang menantang para karyawan yang baru saja gajian.


...***To Be Continue***...


Hiburan dulu dikit, ya. Siapa tahu ada yang kangen sama si kuamplet. Jangan lupa komen ...


Oh iya, yang udah ke planet F tapi belum Nemu Aleena dan Rangga bisa cari nama aku, ya. fieThaa.


Aku tunggu kalian di sana. Kita mengudara di sana tanpa meninggalkan yang di sini. 😊

__ADS_1


__ADS_2