
Aleesa sudah terlihat ketakutan melihat video konferensi pers tersebut. Dia sudah mantap dalam wajah Restu dan Restu mengecup kening Aleesa dengan sangat dalam.
"Baru mau 'kan."
Jawaban yang sangat santai keluar dari mulut Restu. Itu membuat Aleesa menggelengkan kepala.
"Bie, jangan menggampangkan semua masalah." Suara Aleesa sudah terdengar sangat berat. "Aku gak mau hal buruk terjadi kepada kamu dan rumah tangga kita. Dia menyebut nama perusahaan Madam dengan sangat tegas."
"Kamu takut miskin?" Aleesa menggeleng dengan cepat mendengar pertanyaan Restu.
"Aku mengkhawatirkan kamu, Bie."
Rio pun sudah menatap dalam wajah Restu. Dia belum mendapat jawaban atau selentingan rencana yang tengah Restu buat.
"Jangan khawatirkan gua." Jawaban yang sama dengan yang dia lontarkan kepada Aleesa. Rio hanya menghela napas kasar.
Di dalam hati Restu dia sudah menyimpan amarah yang sangat besar. Beraninya mengusik dirinya dan juga keluarga kecilnya. Sungguh memiliki nyali sangat besar.
Rindra menggelengkan kepala ketika melihat konferensi pers tersebut. Urat kemarahan sudah muncul di dahinya.
"Bapak dan anak sama saja!" geramnya.
Dia segera menghubungi Restu, tapi tak Restu jawab. Itu juga membuat Ridmra mengerang kesal.
"Angkat telepon Papih, Nak."
__ADS_1
Bukan hanya Rindra yang terlihat murka. Aksara yang tak sengaja menonton media berita online tersebut sudah mengepalkan tangannya dengan sangat keras.
"Melaporkan," gumamnya seraya tersenyum licik.
Aksa sangat tahu bagaimana Restu. Dia tidak akan mudah dikalahkan begitu saja. Namun, Aksa tetap akan memasang badan untuk sang keponakan.
"Kita lihat apa yang akan terjadi." Aksa berkata meremehkan.
.
Kalfa sudah tersenyum penuh kemenangan. Dia juga sudah menyewa pengacara yang super bagus untuk membantunya melawan Restu. Dia juga melihat belum ada perlawanan dari kubu Restu. Dia sangat percaya diri akan menang.
Kalfa pun meminta bantuan kepada Aleeya untuk terus memantau situasi di rumahnya dan memberikan kabar jika ada pergerakan dari Restu.
"Baguslah kalau begitu," sahut Satria. "Anak itu harus dimasukkan ke dalam jeruji besi dulu agar jera dan gak sombong."
Kalfa sudah berunding dengan pengacara ternama. Mereka sudah mengatur strategi untuk menumbangkan Restu Ranendra. Kabar Restu pun sudah sampai ke perusahaan milik ibunya di Zurich. Sahamnya mulai menurun dan tidak ada pembelaan dari sang CEO.
"Dia sudah merasa kalah." Satria sudah tertawa puas. Tak sia-sia dia mengorbankan tangannya untuk Restu patahkan demi melihat Restu masuk ke dalam penjara.
Di lain tempat, Aleesa tidak mau jauh dari Restu. Dia benar-benar takut. Dia merasa tidak tenang. Keberangkatan ke Zurich pun harus dia undur.
"Mau ke mana?"
Walaupun matanya terpejam, tapi dia bisa merasakan ada pergerakan dari tempat tidur. Restu menoleh dan tersenyum ke arah sang istri.
__ADS_1
"Aku mau ngerokok di balkon."
Aleesa mulai mendudukkan tubuhnya dan mulai turun dari tempat tidur. Restu menghela napas kasar. Dia masih melihat ketakutan di wajah Aleesa.
Mereke berdua duduk di balkon. Restu sudah mengeluarkan rokok yang biasa dia hisap. Sedangkan Aleesa sudah memakai masker tiga lapis.
"Bie, aku takut." Keluhan untuk kesekian kali keluar dari mulut Aleesa. Restu hanya bisa menggenggam tangan Aleesa.
"Kamu besok ikut ke Zurich." Terkejut sekali Aleesa mendengar kalimat dari Restu.
"Aku gak mau kamu dikejar paparazi ketika aku gak ada." Aleesa mendongak menatap wajah sang suami yang tengah menghisap rokok yang sudah ada di tangannya.
"Walaupun nanti ada paparazi, setidaknya aku ada di samping kamu." Manis sekali ucapan dari Restu.
"Kamu mau diam aja?" tanya Aleesa dengan wajah yang belum tenang.
Setelah membuang asap rokok ke udara, Restu menatap wajah sang istri dengan senyum yang mengembang. Wajah Restu terlihat sangat tenang sekali.
"Bie, jawab aku!" Aleesa sudah sedikit panik.
"Aku gak perlu banyak bicara seperti mereka. Kita buktikan dengan tindakan."
...***To Be Continue***...
Komen atuh...
__ADS_1