RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 165. Puasa Bertemu


__ADS_3

Dari H-3 akad nikah, Restu dan Aleesa tidak diperbolehkan bertemu. Itu membuat Restu mengerang kesal. Semenjak menjadi direktur utama dia sangatlah sibuk. Bertemu Aleesa pun hanya ketika malam. Itu juga hanya satu sampai dua jam.


Sudah dua hari Restu berpuasa bertemu dengan Aleesa. Walaupun masih bisa saling menatap melalui sambungan video, tetap saja rasanya berbeda.


"Kenapa harus ada peraturan ini?" Restu mengerang kesal sambil menjambak rambutnya. Di H-2 akad pun dia masih harus bekerja dan besok barulah dia cuti sampai dua Minggu ke depan.


Aleesa pun merasa sangat rindu kepada calon suaminya. Biasanya setiap pagi datang ke rumah, sudah dua hari ini dia tidak ada. Aleesa pun tidak bisa sembarangan mengirimkan pesan. Dia harus tahu batasan karena Restu pasti tengah sibuk dengan pekerjaan.


Di H-1, Aleesa merasa bosan. Menghubungi calon suaminya pun tidak dijawab. Sudah pasti dia masih tertidur karena semalam pun dia bekerja sampai jam dua pagi.


Merasa bosan, Aleesa turun ke lantai bawah di mana semua orang tengah sibuk mempersiapkan acara untuk besok. Dia memeluk sang ibu dari belakang yang tengah memperhatikan orang-orang yang mendekor halaman samping.


"Udah jadi seorang istri mah jangan bangun siang." Petuah yang Echa berikan kepada Aleesa. Sang putri hanya mengangguk.


"Gak kerasa ya kamu udah mau nikah aja," ujar Echa dengan suara lemah.


"Sasa hanya menikah, Bu. Sasa akan terus menjadi anak Bubu. Sekarang, Baba punya saingan." Aleesa mencoba untuk bercanda. Echa pun tertawa.

__ADS_1


Di lubuk hatinya terdalam dia juga merasa bersalah karena menikah terlalu cepat. Dia takut mengecewakan kedua orang tuanya.


"Apa Bubu kecewa?" Echa mengerutkan dahi ketika mendengar ucapan dari Aleesa. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap sang putri dengan tatapan lekat.


"Kenapa kamu bicara seperti itu?" Wajah Aleesa nampak sendu dan mulutnya kelu. Echa menggenggam tangan Aleesa seraya memberikan kehangatan.


"Dengar ya, Sa. Tidak ada rasa kecewa di hati Bubu dan Baba. Kami berdua malah sangat bahagia karena kamu sudah tidak sedih lagi. Sebagai orang tua kami hanya bisa mendukung keputusan kamu. Kalau kamu bahagia, kami juga ikut bahagia."


Aleesa sangat terharu mendengar penuturan dari sang ibunda tercinta. Dia memeluk tubuh Echa dengan begitu erat.


"Makasih, Bu."


"Aku baru bangun." Restu bagai anak kecil yang tengah mengadu kepada ibunya.


"Sampai jam berapa semalam?"


"Jam enam pagi baru beres karena hari ini aku gak mau ke kantor makanya dikebut. Restu menghembuskan napas kasar dan masih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Ya ampun, kasihan banget calon suamiku." Aleesa mencoba untuk menghibur.


"Jangan dikasihani. Aku butuh ciuman panas biar badan aku gak lemas."


Paling menyebalkan jika Restu sudah di mode seperti ini. Pikiran kotorannya akan dia keluarkan tanpa malu. Apalagi hari ini H-1 hari pernikahan mereka.


"Apa sih, Bie!" Terlihat Aleesa kesal kepada calon suaminya. Restu malah tertawa.


"Gak sabar buat besok malam." Dahi Aleesa mengkerut. Akad nikah mereka diadakan besok pagi.


"Akadnya pagi, Bie."


"Bukan perihal akad, tapi malam pertama."


Oh Tuhan, sungguh pikiran Restu sudah sangat kotor. Ingin sekali Aleesa memasukkan kepala Restu ke dalam mesin cuci agar bersih kembali.


"Gegayaan ngomongin malam pertama. Ijab kabul aja lu belum apal."

__ADS_1


...***To Be Continue***...


Komen dulu dong ...


__ADS_2