RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 33. Dua Pilihan


__ADS_3

Aksara malah tertawa ketika mendengar laporan Iyan kepadanya. Iyan meminta kakak iparnya tersebut untuk bertemu. Pria yang sangat sibuk itupun akhirnya mau menemuinya. Iyan juga menyuruh Askara untuk ke kedai kopi yang sudah sangat terkenal. Kini, mereka bertiga ada di sana..


"Mentang-mentang nama aku inisialnya R malah suudzon."


"Be go aja tuh bocah," tambah Askara.


"Aleesa itu sebenarnya punya bodyguard yang tak terlihat, tapi bisa dia rasakan." Aska dan Iyan tidak mengerti. Mereka berdua hanya saling tatap.


"Hantu maksudnya?" tebak Askara.


"Ck." Iyan berdecak kesal.


"Pawang setan marah tuh," kelakar Aksa. Aska pun ikut tertawa dan membuat Iyan menatap mereka berdua dengan tatapan sebal.


"Atuhlah, Bang. Seriusan ini." Iyan mulai merengek.


"Siapa sih bodyguard Aleesa? Si Bandit gak bilang apa-apa," tambah Askara yang juga bingung.


Aksa hanya tersenyum. Tangannya mulai mengambil secangkir kopi yang masih panas. Lalu, menyesapnya.


"Nanti juga kalian tahu."


Paling malas jika berurusan dengan Aksara, selalu saja banyak misteri. Iyan teringat sesuatu. Dia kini menatap Aksa dengan begitu tajam.


"Apa Abang yang melakukannya?" Tatapan intimidasi bukan hanya ditunjukkan oleh Iyan. Aska pun menatapnya dengan tatapan serupa.


"Kurang kerjaan gua neror. Gua bukan orang yang senang berbasa-basi. Lebih baik langsung gua habisi."


"Iya juga, ya. Terus siapa?" tanya Iyan yang masih kebingungan.


"Lu 'kan punya teman medi, tanya sama mereka."


"Justru mereka gak tahu, Kak. Mereka gak kenal sama orangnya."


Aksa hanya tersenyum tipis. Dia tahu siapa yang melakukan teror tersebut. Hanya saja orang itu berada di belakang layar.


Suara ponsel Iyan membuat Aksa dan Aska menatap ke arah anak bungsu Rion Juanda tersebut. Iyan yang sudah menggenggam ponselnya pun mengerutkan dahi. Nomor yang tidak diketahui dan nomor luar negeri.


"Kenapa gak diangkat?" tanya Aska. Iyan memperlihatkan ponselnya. Aska dan Aksa memicingkan mata mereka dan mendadak pikiran jelek berkelana.


"Angkat!" titah Aksa.


"Itu takut Aleesa, Yan." Aska menambahkan.


"Loudspeaker!" lanjut Aksa.


Iyan mengikuti perintah dari dua pria kembar itu. Melihat kepanikan mereka membuat dada Iyan berdegup juga.


"Halo."


"Om, ini Restu."

__ADS_1


Ketiga pria dewasa itu dapat bernapas lega. Mereka mengira jika itu kelurga dari Raditya. Ternyata Restu.


"Ada apa?" Iyan masih me-loudspeaker panggilan Restu.


"Om, kalau Sasa ngelarang buat aku pergi, itu bertanda apa ya, Om?"


"Maksudnya?" Restu pun menceritakan semuanya dan Iyan menghela napas kasar.


"Kamu tahu perihal kelebihan Aleesa?" Restu pun menjawab iya dan dia mengatakan bahwa dia pernah didatangi hantu bungkus permen karena sudah membuat Aleesa menangis ketika Aleesa SD.


"Itu juga salah satu kelebihan Aleesa."


"Maksudnya?"


"Kalau Aleesa bilang jangan, coba ikuti dulu. Biasanya larangan Aleesa itu adalah alarm karena akan terjadi sesuatu hal." Restu pun terdiam.


.


Ketika sudah menghubungi Iyan, Restu masuk ke kamar Aleesa. Mereka sudah sampai di sebuah penginapan di area pantai yang indah di Kota Zurich. Namun, Restu langsung membawa Aleesa ke resort agar dia beristirahat. Sedari tadi Aleesa terus terdiam dan membuat Restu bingung harus berbuat apa. Di berada di antara dua pilihan yang sulit. Pekerjaan atau orang yang dia sayang.


#Flashback on.


"Jangan pergi. Aku gak mau kehilangan Kakak."


Tangan Aleesa terus memeluk erat tubuh Restu. Tidak dia pedulikan madam Zenith menatapnya aneh.


"Kamu kenapa, Lovely?"


Madam Zenith menatap ke arah Restu seakan bertanya. Namun, Restu menggeleng pelan.


"Minum dulu, ya." Madam Zenith memberikan air putih kepada Restu agar diminumkan kepada Aleesa.


Perlahan, Restu bisa menenangkan Aleesa. Akan tetapi, tangan wanita yang dia cintai itu masih melingkar erat di pinggangnya.


"Jangan nangis terus. Aku gak suka." Restu mengusap lembut wajah Aleesa yang memang sudah cantik walaupun tanpa make up.


"Jangan pergi." Mata Aleesa nampak sendu. Sorot matanya penuh dengan permohonan. Restu belum bisa menjawab.


"Kami hanya satu hari di sana. Esoknya kami akan kembali ke Kota ini." Madam Zenith mencoba untuk membujuk Aleesa. Dia mengira jika Aleesa tengah dilanda virus Bucin jadi tidak membolehkan Restu untuk pergi.


"Satu hari, Lovely." Lagi-lagi Aleesa menggeleng. Mulutnya tak bisa menyampaikan apa yang dia lihat ketika madam Zenith mengatakan akan pergi ke Jerman.


Aleesa masih bersikeras dengan penolakannya. Restu pun belum bisa memberikan jawaban kepada sang madam. Dia dilema antara harus memilih pekerjaan atau wanita yang tengah dia perjuangkan.


Di sepanjang perjalanan menuju tempat indah, Aleesa hanya terdiam. Mulutnya terbungkam dan pandangannya terus ke jalan.


"Sa," panggil Restu. Tangannya sudah mulai menggenggam erat tangan Aleesa.


"Jangan marah dong." Aleesa hanya terdiam. Dia hanya tengah membayangkan jika penglihatannya benar terjadi, bagaimana hidupnya? Dia masih terluka dan harus menerima luka yang lebih dalam lagi. Apakah dia sanggup?


"Sekali lagi, aku mohon jangan pergi," ucapnya dengan nada begitu lemah.

__ADS_1


"Ini adalah pekerjaanku, Sa." Restu mencoba untuk meyakinkan lagi. Namun, mata Aleesa terlihat nanar.


"Sekarang, aku kasih pilihan sama kamu. Pergi dan lupakan aku, atau tetap di sini mencintai aku."


Jleb.


Tak Restu sangka Aleesa akan memberikan pilihan yang sulit untuknya. Apalagi Aleesa sudah melepaskan genggaman tangan Restu.


Dia ingin beradu pendapat dengan Aleesa. Namun, Restu sangat melihat kekhawatiran juga kecemasan yang ada di wajah wanita yang dia cintai.


Tibanya di sebuah resort nyaman, Aleesa tidak mengeluarkan ekspresi sama sekali. Restu segera menggenggam tangan Aleesa dan membawanya ke dalam. Sebelumnya Restu sudah meresevasi kamar untuknya dan juga Aleesa.


"Lebih baik kamu istirahat." Restu sudah membuka pintu kamar untuk Aleesa.


Aleesa yang terus saja diam membuat Restu gemas dan memeluk tubuhnya dengan begitu erat. Tidak ada balasan dari Aleesa. Kejadian yang dia lihat seakan membawanya masuk semakin dalam dan dia tengah mencoba menguatkan hati jika pria yang tengah memeluknya ini keras kepala dan tak mau mendengar.


"Aku mau istirahat."


Aleesa mencoba untuk melepaskan pelukan Restu dan dia menuju tempat tidur. Restu hanya bisa menatap Aleesa dengan raut gamang. Diamnya Aleesa membuat Restu serba salah.


Restu pun mulai mencari tahu kepada Rio. Namun, Rio menyuruhnya untuk menghubungi Iyan. Perihal ini, Iyan yang lebih tahu tentang Aleesa.


#Flashback off


Restu menekan gagang pintu dan masuk ke kamar Aleesa. Wanita yang dia sayangi ternyata tidak tidur. Dia tengah terduduk di atas tempat tidur dengan wajah yang masih sama.


"Kamu gak istirahat!?" Aleesa hanya terdiam.


Restu sudah duduk di tepian tempat tidur. Mengusap lengan Aleesa dengan begitu lembut.


"Setiap pekerjaan pasti memiliki risiko."


Aleesa mulai menatap ke arah Restu. Sang pria sudah menatap serius ke arahnya.


"Apalagi pekerjaanku memang menjaga nyawa orang lain," tukasnya.


"Menjaga nyawa dengan mengorbankan nyawa kamu? Apa bayaranmu lebih berharga dibanding nyawamu sendiri? Apa kamu ingin membuat semua orang yang menyayangi kamu bersedih?"


Bulir bening menetes begitu saja. Ditinggal tunangan oleh Yansen tidak sesakit dengan apa yang mata batinnya lihat.


"Sa."


Restu memeluk erat tubuh Aleesa untuk kesekian kali. Dia mengusap lembut punggung perempuan yang belum menjawab ungkapan hatinya.


"Jangan buat aku bersedih seumur hidup aku, Kak. Aku sayang Kakak."


Deg.


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2