
Setengah jam sebelum penerbangan ....
Yansen sengaja berfoto dengan menggunakan pakaian groomsmen dan sengaja tak mengganti pakaiannya. Dia mengirimkan foto itu kepada Aleesa dan mengucapkan selamat tinggal kepada mantan kekasihnya yang masih sangat dia sayangi.
"Selamat tinggal, Sa."
Yansen tersenyum dan dia mulai masuk ke dalam pesawat. Suasana di sana terasa sangat dingin dan dia tersenyum ketika melihat semua penumpang berwajah pucat. Dia melihat banyak orang berbaju hitam di dalam pesawat.
"Tuhan, aku tidak tahu bagaimana caranya aku pergi. Aku mohon satu hal Tuhan, biarkan aku pergi tanpa meninggalkan kesedihan yang lebih dalam. Jangan tinggalkan jejak karena mereka pasti akan lebih sakit. Biarkan air laut yang akan menjadi pengobat rindu mereka."
Yansen sudah duduk manis di kursinya. Dia mulai memasang air pod untuk mendengarkan sebuah lagu rohani.
Betapa kumencintai
Segala yang tlah terjadi
Tak pernah sendiri jalani hidup ini
Selalu menyertai
Hati Yansen sangat damai mendengarnya. Dia memejamkan mata. Tak peduli dengan apa yang diberitahukan oleh pramugari. Hatinya teramat damai. Pikirannya sudah terlalu tenang.
Betapa kumenyadari
Di dalam hidupku ini
Kau slalu memberi rancangan terbaik
Oleh karena kasih
Yansen tersenyum mendengar lirik lagu tersebut. Dia menghela napas kasar. Dia sering kali menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi pada dirinya. Padahal, smua sudah dituliskan oleh Tuhan dalam buku harian Tuhan tentang lika-liku hidupnya.
Bapa sentuh hatiku
Ubah hidupku menjadi yang baru
Bagai emas yang murni
Kau membentuk bejana hatiku
"Kini aku berpasrah pada-Mu, Bapa. Aku serahkan hidup dan matiku kepada-Mu. Aku tahu Engkau adalah pemilik semua rencana yang ada di dunia ini."
Refleks tangan Yansen menyentuh kalung salib yang ada di lehernya. Dia tersenyum dengan mata yang masih terpejam. Pesawat pun mulai lepas landas dan Yansen masih asyik dengan lagu yang dia dengarkan.
Bapa ajarku mengerti
Sebuah kasih yang selalu memberi
Bagai air mengalir
Yang tiada pernah berhenti
Kini, bayang sang ibunda yang hadir. Sang ibu tersenyum ke arahnya dan mengulurkan tangan.
"Mamih kangen kamu, Sen. Sudah waktunya kita hidup damai berdua."
Yansen tersenyum dengan mata yang masih terpejam. Namun, bulir bening menetes di ujung matanya.
__ADS_1
"Apa sekarang waktunya, Tuhan?"
Yansen membuka mata secara perlahan. Dia melihat di dalam pesawat itu sangat tenang. Dia tersenyum dengan hati yang sudah siap jika sewaktu-waktu akan terjadi hal yang tidak diinginkan. Dia melanjutkan mendengarkan lagu rohani yang sekarang menjadi lagu favoritnya.
Bapa sentuh hatiku
Ubah hidupku menjadi yang baru
Bagai emas yang murni
Kau membentuk bejana hatiku
Yansen merasakan ada guncangan hingga dia membuka mata dan melepas salah satu air pod yang terpasang di telinganya. Orang-orang berteriak dengan menyebut Tuhan mereka masing-maisng.
"Jangan panik." Itulah yang dikatakan oleh pramugari. "Semuanya akan baik-baik saja."
Guncangan sudah hilang dan ketenangan pun mulai hadir kembali, dan Yansen sekarang ini melanjutkan mendengarkan lagu rohani Sentuh Hatiku kembali.
Bapa ajarku mengerti
Sebuah kasih yang selalu memberi
Bagai air mengalir
Yang tiada pernah berhenti
Bagai air mengalir
Yang tiada pernah berhenti
Yansen mulai membuka kalungnya. Dia kini menggenggam Kalung tersebut di tangan kanannya. Dia menatap dalam kalung berlambangkan salib yang di belakangnya ada namanya, Yansen Geremy.
Tangan Yansen diguncang oleh penumpang yang duduk di sampingnya. Yansen menoleh dan ternyata semua orang sudah panik. Mereka sudah mengenakan pelampung.
"Cepat, Nak!".
Pria di sampingnya itu beragama sama dengannya. Dia malah memeluk Al kitab dengan raut penuh ketakutan.
"Kenapa harus takut akan kematian?" Yansen sudah mengambil pelampung, juga memakainya. "Bukankah kematian itu pasti akan tejadi."
Si bapak itu menoleh ke arah Yansen. Pemuda itu nampak biasa dan sangat tenang.
"Saya belum siap."
"Siap tidak siap ketika Tuhan sudah bilang harus pulang ya kita harus pulang. Tidak ada yang perlu ditakuti. Kita akan tenang ketika kita berada di samping Bapa."
Baru selesai mengatakan itu, semua penumpang berteriak karena ada ledakan di sayap pesawat. Semuanya panik hingga terasa pesawat mulai tak seimbang dan miring. Wajah bapak di sampingnya sudah pucat dan ada air mata yang jatuh di sana. Dia menggenggam tangan si bapak dan berkata, "Tuhan terlalu sayang kepada kita."
.
Suara dentuman keras terdengar di telinga Aleesa dan membuat dia terbangun dari tidurnya.
"Lovely!" Restu terkejut. Dia yang tengah bersandar di sofa menegakkan tubuhnya dengan tangan yang masuk memeluk tubuh sang istri.
"Kenapa?"
"B-bie--" Air matanya tak tertahan. Restu semakin bingung. "Dentuman keras di air." Sebuah clue yang belum bisa Aleesa pecahkan.
__ADS_1
Restu teringat dengan kematian Philip karena harus menggantikannya. Dia tidak boleh pergi karena Aleesa memiliki firasat buruk.
"Lovely." Restu menenangkan sang istri. Sungguh wajah Aleesa sangat ketakutan dan sedih.
"Bie, pikiranku tertuju pada Sensen." Restu terdiam. Ada rasa cemburu di hatinya hingga tangannya yang tengah memeluk Aleesa mulai melonggar. Di hari bahagianya Aleesa malah menyebut nama mantan kekasihnya.
Namun, Aleesa semakin memeluk erat tubuh Restu. Dia menatap Restu dengan begitu lekat.
"Aku takut ... terjadi sesuatu kepada Sensen. Aku takut ... bayangan putih itu akan membawa Sensen."
Aleesa berkata apa adanya. Dia mulai menitikan air mata dan membuat Restu tidak tega.
"Aku gak ingin merusak momen bahagia kita, Bie. Perasaan dan hati aku ... yang dari tadi terus-terusan merasakan kesedihan dan kepedihan yang aku sendiri gak tahu kenapa."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Restu. Dia ingin marah, tapi melihat seperti ini dia tidak tega. Dia teringat dengan apa yang dipesankan oleh Aleena.
"Kak Restu harus mengerti Aleesa. Dia memiliki kelebihan yang hanya Om Iyan mengerti. Aku harap juga Kak Restu mengerti bagaimana hubungan Sasa dan Yansen. Jangan cemburu berlebihan karena aku sangat yakin Sasa hanya mencintai Kak Restu, dan Yansen adalah sahabat terbaiknya."
.
Ponsel Rangga berdering, dahinya mengkerut ketika menerima telepon dari temannya. Rangga mencoba untuk menjauh dari keluarga untuk menjawab telepon tersebut.
"Pesawat tujuan Samarinda hilang kontak di perairan pulau seribu. Baru tujuh belas menit mengudara." Rangga terkejut. Rangga terdiam sejenak. Dia teringat akan kota tujuan tersebut.
"Samarinda?" Rangga mengulangnya.
"Iya."
Hati Rangga mulai tak karuhan. Dia menghampiri Echa karena dia melihat ibu dari Aleesa berbincang banyak dengan Yansen sebelum akad di mulai.
"Tan," panggil Rangga. Kebetulan Echa sedang bersama sang mommy.
"Kenapa, Ngga?"
"Yansen pergi ke Samarinda 'kan." Echa mengangguk. Namun, dahinya mengkerut ketika melihat mimik wajah Rangga. "Kenapa?"
"Aku baru diberi kabar jika pesawat tujuan Samarinda hilang kontak di perairan pulau seribu. Baru tujuh belas menit mengudara padahal."
Echa dan Riana saling pandang. Mereka berdua satu pemikiran.
"Apa pesawat itu yang ditumpangi Yansen?"
Rangga menggeleng. Sejujurnya dia belum tahu. Mendengar nama Yansen disebut, Kemala dan Raina mendekat.
"Kenapa dengan Yansen?" tanya mereka berdua secara berbarengan.
"Apa kalian tahu nomor penerbangan pesawat Yansen?"
Raina mulai mengecek ponselnya. Siapa tahu Yansen membuat status perihal penerbangannya. Ya, Kemala menemukannya.
"Ini!" Kemala memperlihatkan kepada Rangga. Rangga mulai mengambil gambar dan segera menanyakannya kepada sang rekan kerja. Mimik wajah Rangga berubah seketika.
"Ngga," panggil Echa. Rangga menatap ke arah Echa dan juga yang lainnya.
"Sama." Begitu lemah ucapan Rangga. Semua orang pun terkejut.
"Apanya yang sama?" Suara Aleesa terdengar. "Ada apa ini? Kenapa wajah kalian terlihat sedih?"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...