RESTU (Untukmu, Aleesa)

RESTU (Untukmu, Aleesa)
Bab 170. Kata Sah Terdengar


__ADS_3

Rombongan Restu sudah bertolak ke kediaman Aleesa. Tidak tahu kenapa tangan Restu mendadak seperti es, dingin sekali. Nesha tersenyum dan mengusap lembut pundak sang putra.


"Wajar, Nak. Namanya juga mau menikah." Senyuman sang ibu membuat hatinya menghangat. Hatinya mulai sedikit tenang apalagi Nesha memeluk tubuh tinggi sang putra. Hembusan napas kasar dapet Nesha dengar.


"Makasih, Mih. Sedikit lebih baik sekarang." Nesha tersenyum lagi. Dia mengusap punggung sang putra.


"Jangan lepaskan tangan aku, Mih."


Sebuah permintaan yang tak pernah Nesha dengar selama dia mengurus Restu. Mendengar ini semua hatinya terenyuh. Hatinya menangis bahagia.


"Genggaman tangan Mamih yang bisa membuat aku tenang di hari penting aku. Jangan pernah lepaskan tangan aku, Mih. Aku mohon."


Ingun rasanya Nesha berteriak kencang. Di hari penting Restu bukan hanya sang putra yang bahagia. Dia juga sangat bahagia karena ungkapan kasih sayang yang begitu tulus yang keluar dari mulut Restu yang biasanya tak banyak bicara.


Ah, sungguh Nesha tak bisa membendung air mata. Sungguh kalimat yang begitu manis. Kalimat yang langsung menusuk hati seorang ibu. Sungguh hatinya sangat sangat bahagumia tak terkira.


"Mamih akan terus menggenggam tangan kamu. Kamu jangan takut." Restu tersenyum.


Rindra dan Rio yang melihat itu semua hanya saling pandang. Rindra mengusap lembut pundak Rio dan dibalas senyuman manis oleh sang putra kandung.


"Iyo ngerti, Pih. Iyo gak pernah cemburu sama Restu karena Iyo tahu kasih sayang Papih dan Mamih itu sama. Mau ke Iyo ataupun Restu itu sama. Papih dan Mamih gak pernah membedakan." Rindra mengangguk setuju. Dia juga sangat bangga kepada Rio yang tak pernah egois ketika Restu masuk ke dalam keluarga kecilnya. Malah, Rio yang merangkul Restu dan menerima Restu dengan sangat bahagia.


"Makasih ya, Pih." Rindra menoleh kepada sang putra. Rio menatapnya dengan begitu dalam.


"Makasih sudah menghadirkan Restu di hidup Iyo. Iyo bisa merasakan bagaimana punya saudara sesungguhnya. Kesendirian Iyo hilang semenjak Restu datang. Walaupun sampai sekarang dia sangat menyebalkan." Rindra terkekeh mendengar ucapan terakhir sang putra. Pasti ada saja kalimat yang mengocok perut.


Rio belum pernah mengatakan hal ini sebelumnya. Rindra sedikit terkejut sekaligus bahagia. Dia hanya tersenyum dengan mata yang nanar.


"Makasih juga, Pih. Sudah membuat Restu menjadi manusia sesungguhnya tidak seperti zombie." Rindra tergelak. Putranya akan merubah suasana haru dalam sejenak.


Restu duduk di belakang bersama sang ibu. Tangan Nesha terus menggenggam tangan sang putra sulung. M. Mulut Restu terus berkomat-kamit menghafal ijab kabul. Takut dia salah sebut dan sudah pasti itu akan menjadi bahan Bullyan seumur hidupnya.


"Ini lu gak salah mas kawinnya beginian?" Rio mulai membuka suara. Dia menatap ke arah belakang di mana Restu dan sang ibu berada. Sang kakak hanya mengangguk.


"Dikit amat, buat beli telur gulung doang juga abis ini mah." Disela rasa nervous yang Restu rasakan Rio malah membuat Restu murka. Dia menggeplak kepala Rio dengan cukup kencang.


Rindra dan Nesha tidak akan melerai mereka berdua. Biarkanlah dua anak mereka seperti ini. Bisa menghilangkan kegugupan yang tengah dirasakan oleh Restu. Apalagi sekarang adu mulut sudah tak bisa terelakkan.


Di kediaman Aleesa, sang mempelai wanita sudah berganti kebaya lagi. Juga di touch up karena riasannya sedikit luntur akibat tangisan tadi. Selama di touch up pikirannya berkelana ke sana ke mari. Hingga tangannya digenggam oleh seseorang dan membuat Aleesa menoleh. Sang paman sudah ada di sampingnya. Menatap Aleesa tanpa bicara.


Pria jangkung yang sangat tampan itu mulai merendahkan tubuhnya dan kini berlutut di hadapan Aleesa.


"Om--" Iyan hanya tersenyum.

__ADS_1


"Genggam dan peluk tubuh Om nanti." Dahi Aleesa mengkerut mendengarnya. Dia tidak mengerti sama sekali.


"Kamu sudah cantik. Kamu akan dipinang oleh orang yang tepat. Jangan buat dia menunggu lama. Jangan buat dia kecewa nantinya. Di dunia ini seimbang, ada suka pasti ada duka."


Lagi-lagi Aleesa tak mengerti maksud dari sang paman itu apa. Dia masih menatap Iyan dengan raut penasaran. Namun, Iyan kini sudah berdiri dan mengusap lembut ujung kepala Aleesa.


"Kamu kuat. Om percaya itu."


Aleesa terdiam ketika sang paman pergi begitu saja. Sungguh dia tidak mengerti. Ada apa? Kenapa Om tampannya itu hanya meninggalkan clue.


Ponsel Aleesa berdengung. Dia segera meraih ponselnya. Ternyata dari Yansen. Dia mengirimkan foto dengan masih memakai baju groomsmen.


"Aku terbang, Sa. Bye."


Aleesa tersenyum dan melihat betapa tampannya Seorang Yansen Geremy mengenakan baju itu.


"Safe flight, Sen."


Sayangnya, pesan yang dia kirim hanya ceklis satu. Aleesa tahu Yansen pasti sudah berada di dalam pesawat.


"Makasih udah datang, Sen." Dia pun mengirimkan pesan yang lain.


Echa masuk ke dalam ruangan rias dan tersenyum hangat ke arah sang putri. Dia melihat betapa cantiknya Aleesa hari ini. Aleesa membalas senyum sang ibu dengan senyum yang tak kalah manis.


"Gugup?" Aleesa mengangguk.


"Lebih gugup lagi nanti malam pertama." Wajah Aleesa memerah dan itu membuat Echa dan para perias yang ada di sana tertawa.


Kemala dan Raina mereka masih menunggu sosok pangeran berkuda putih yang sangat tampan. Mereka ingin melihat Restu memakai baju yang senada dengan Aleesa. Namun, mereka terkadang sedikit oleng akan ketampanan Agha dan juga Rangga. Sayangnya, dua laki-laki itu selalu digandeng oleh remaja putri yang juga teramat cantik, tapi posesif.


"Gua gak nyangka ternyata Aleesa anak beneran kaya. Semua paman dan tantenya berdamage semua." Raina setuju dengan ucapan Kemala.


Dilihat dari penampilan mereka semua pun sudah tidak bisa dielakkan oleh mata. Barang yang mereka gunakan pun bukan barang murahan. Mereka terus terpana kepada salah seorang dari pria dewasa kembar. Salah satu di antaranya terlihat sangat garang dan sangat berwibawa. Namun, terlihat juga pria itu sangat menyayangi istrinya yang seperti idol Korea.


"Gua gak bisa berkta, Rai." Kemala speechless. Raina pun ikut mengangguk.


"Gua gak ngerti ini keluarga apaan? Visualnya bikin gua insecure." Kini, Kemala yang mengangguk.


Suara deru mesin mobil sudah memasuki halaman. Bukan Restu, melainkan Satria yang datang bersama Kalfa. Namun, salah seorang pengawal menghadang tubuh Kalfa dan membuat Satria naik pitam. Pengawal itu menunjukan id card-nya. Ternyata bukan pengawal biasa. Pria yang memakai jas hitam itu adalah anggota polisi. Satria dan Kalfa pun tak bisa berkutik.


"Hanya Bapak ini yang boleh masuk." Pengawal itu menarik mundur Kalfa.


"Siapa yang menyuruh?" Kalfa masih berani bertanya.

__ADS_1


"Restu Ranendra." Kalfa pun terkejut. Sebesar apa kekuasaan Restu hingga dia bisa menyuruh polisi? Begitulah pikiran yang ada di benaknya.


Kalfa pun tak bisa bergerak. Dia mulai pasrah. Tak berselang lama, deretan mobil mahal memasuki rumah Raditya Addhitama. Kalfa sangat tahu mobil siapa itu. Benar dugaannya, sang mempelai pria sudah turun dari mobil uang didampingi oleh ibu angkatnya. Mereka terlihat begitu dekat dan saling menyayangi. Ada rasa iri di hati Kalfa. Restu sangat beruntung karena memiliki orang tua angkat yang lengkap. Sedangkan dia? Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulutnya.


Restu menatap ke arah Kalfa sekilas dengan tatapan tajam hingga mantan kekasih Aleena itu berdecih. Rombongan pengantin pria sudah memasuki rumah Aleesa. Mereka disambut hangat oleh Raditya. Ayah dari Aleesa pun memeluk tubuh sang kakak yang nantinya akan menjadi besannya.


"Ahjussi keren!"


Teriakan dari para sepupu kecil Aleesa membuat senyum Restu melengkung. Dia memang sering mengatakan jika sepupu Aleesa sangat menyebalkan. Namun, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia menyayangi si kuartet juga Ghea dan Agha. Dia memang tidak banyak bicara. Namun, dari sikapnya saja bisa menunjukkan semuanya. Apapun yang mereka inginkan pasti akan Restu berikan.


Mata Restu seperti mencari seseorang hingga sang calon ibu mertua berbisik kepadanya, "calon istri kamu tidak diperbolehkan keluar sebelum kata sah diucapkan."


Restu tersenyum malu. Dia bagai orang yang tengah terciduk. Radit menggelengkan kepala dan Aska sudah memukul calon keponakannya ini.


Rangga menghela napas berat ketika melihat seserahan yang dibawa Restu untuk Aleesa. Dia mengukur dirinya sendiri. Apa dia akan bisa seperti Restu nantinya? Membawakan seserahan dengan nominal fantastis.


Agha yang peka mulai mengusap lembut pundak Rangga. Dia mengerti dengan apa yang tengah dipikirkan oleh sang kakak.


"Kakak pasti bisa. Tidak ada kerja keras yang mengkhianati hasil." Rangga tersenyum. Adiknya ini memang selalu menjadi penghibur untuknya.


Di saat dia kecewa karena Aleena tidak ada, Agha lah yang mencoba menghilangkan rasa rindu yang tengah Rangga rasakan. Juga Ghea yang selalu membuatnya gemas dan tertawa.


Bisa saja Agha membocorkan di mana Aleena berada. Namun, dia sudah terikat janji pada Aleena. Dia juga sangat yakin jika nanti sang kakak bisa bertemu dengan Aleena.


Para saksi sudah hadir. Para tamu pun sudah duduk dengan begitu manis. Acara pun akan segera dimulai. Aleesa yang didampingi Aleeya, Kemala dan Raina nampak sangat nervous.


"Ganteng banget loh calon suami lu." Kemala sudah membuka suara. Dia mencoba untuk menenangkan Aleesa.


Aleesa hanya tersenyum dengan dada yang bergemuruh hebat. Dia memejamkan matanya sejenak dan bayang wajah Yansen yang menari di pikirannya.


"My Sasa ... aku pergi ...."


Lambaian tangan Yansen berikan.


"Jangan khawatir, aku gak sendiri. Aku pergi bersama mereka semua. Aku gak akan kesepian."


Aleesa membuka matanya dan dadanya bergemuruh hebat. Tepat di saat itu kata sah sudah terdengar.


"Sensen."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2